Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 147


__ADS_3

Mereka sampai di rumah Navysah pada siang hari. Setelah mengantar istrinya, Keken pamit pulang untuk kembali bekerja.


" Hanin, anakmu cantik dan tampan ingin rasanya aku cubit." Farah begitu gemas saat melihat anak kembar Hanin yang kini sedang belajar merangkak. Usianya hampir tujuh bulan,mereka terlihat aktif kesana kemari.


" Gemesin ya Far, aku juga bahagia saat melihat mereka apalagi ketika pagihari saat mereka bangun tidur. Mereka selalu tersenyum dan itu kebahagian sendiri untukku, nanti kalau bayimu lahir pasti kamu akan bahagia, rasa lelahmu akan terbayar saat melihat mereka tersenyum. "


Farah hanya tersenyum kecut, ia tidak tahu pernikahan nya akan langgeng atau berhenti di tengah jalan,mengingat dulu ia ingin bercerai setelah melahirkan. Ia mengusap perutnya, entah sejak kapan ia menerima kehamilan ini dengan ikhlas dan merasa bahagia karena empat bulan lagi akan bertemu dengan bayinya.


" Perutmu kian membesar, apa jenis kel*min nya?"


"Calon anakku laki-laki Nin." jawabnya.


"Wah pasti Keken bahagia sekali, dia punya teman untuk bermain bola."


" Aku melihat Keken banyak berubah setelah menikah dan itu sepertinya karenamu." Hanin melihat Keken yang lebih sopan dan bertanggung jawab,terkadang Fafa pun bercerita bahwa Keken sudah tidak lagi pergi ke club.


" Apa Keken pernah membawa seorang wanita?"


Farah menggelengkan kepala.


" Baguslah, dia akhirnya punya pawang hebat sepertimu, hihihi." Hanin tergelak tawa. " Keken benar-benar mencintaimu,Far"


Farah pun merasakan kasih sayang Keken, walaupun pria itu tidak pernah mengungkapkannya.


" Tapi dia tidak pernah mengatakan cinta padaku? "


" Benarkah, padahal si Modosa itu sangat bermulut manis, dia selalu mengumbar kata cinta pada setiap wanita. " Hanin menggelengkan kepala, mengingat dulu kelakuan Keken yang buruk.


"Aku bersyukur kamu yang jadi istrinya Keken. Jika tidak denganmu, aku tidak tahu dia akan seperti apa." Hanin lagi-lagi menghela nafas panjangnya. Keken pria yang loyal dengan wanitanya dan tidak menutup kemungkinan mereka hanya menyukai uang Keken saja. Sedangkan Farah, ia wanita yang mandiri dan tidak pernah menuntut bahkan Keken mau hidup susah bersama istrinya. Seluruh keluarga Keken tahu, ia dibesarkan dengan banyak materi dan hidup sederhana tidak mudah untuk pria itu.


"Hanin, boleh aku bertanya?"

__ADS_1


"Hmm..Apa yang ingin kau tanyakan? "


" Aku merasa Keken berhubungan dekat dengan mantannya, namanya Michelle. Beberapa kali dia selalu berurusan dengan wanita itu padahal mereka hanya mantan. Michelle sering menghubunginya dan ada juga wanita bernama Wina yang katanya pernah menjadi selir malamnya. Apa mereka sedekat itu? "


" Apa kau cemburu pada mereka? " Hanin bertanya sembari tergelak tawa karena wajah Farah terlihat begitu serius. Lucu.


" Mana ada cemburu seperti itu, aku hanya penasaran saja. " Farah mengerucutkan bibirnya, entah pada siapa lagi ia harus bertanya selain pada Hanin karena rasa penasaran nya begitu besar pada dua wanita itu.


" Memangnya Keken tidak bilang padamu kalau dia punya bisnis dengan Michelle? "


" Pernah, tapi hanya bisnis kos-kosan yang dia ceritakan bukan yang lain. Itupun hanya sekilas karena aku dulu tidak mau tahu dan tidak ingin tahu tentang kegiatan Keken." Farah hanya bisa tersenyum kecut, ia benar-benar kurang peduli dengan suaminya sendiri.


" Mba Asa dan mba Rita, tolong tidurin si kembar dulu." Hanin memanggil dua baby sitter yang menjaga anaknya. Ia dan Farah menyerahkan si kembar agar tidur siang karena ini waktu istirahat mereka. Hanin pun tidak ingin terganggu saat bercerita serius bersama Farah.


" Siap nyonya. "


" Dari dulu Keken pria yang loyal dengan wanita termasuk Michelle dan Wina. Michelle anak orang kaya, ayahnya kini investor di perusahaan DaFe Properti. Cafe Michelle itu sebagian uang dari Keken, mereka join dan hasilnya dibagi dua bahkan rooftoop di bagian atas dibuat kos-kosan agar menambah penghasilan. "


" Saat Keken ada masalah apalagi saat media masa memberitakan gosipmu, Michelle lah yang membantunya. kakaknya pemilik stasiun televisi swasta dan ia memiliki beberapa kenalan yang cukup kuat. "


" Mereka putus karena berbeda keyakinan namun hubungan mereka tetap baik-baik saja dan Michelle selalu membantu Keken disetiap ada masalah."


" Sedangkan Wina, seorang mahasiswi di perguruan negeri. Ia menjadi selir malam Keken sebagai balas budi. "


" Maksudnya?"


" Dulu Keken membantu biaya operasi jantung ibunya saat itu. Sebenarnya Keken tidak meminta imbalan, ia tulus membantunya karena saat itu wina bekerja part time sebagai office girl di kantor namun sebagai imbalan atas kebaikan Keken, gadis itu menyerahkan diri. "


" Tapi itu bukan alasan untuk dia menyerahkan diri, kenapa wanita itu tidak bekerja lebih keras lagi dan mencoba mencicil ya pada Keken, bukan dengan tubuhnya. " Farah


" Sepertinya gadis itu menyukai Keken,apalagi dengan uangnya. Jaman sekarang mencari pekerjaan sangat sulit dan bisa jadi dengan dia seperti itu akan memudahkan nya menerima transferan dana tanpa bekerja. "

__ADS_1


" Lalu? "


" Keken menerimanya, jika dia membutuhkan Wina akan datang. Dan tentu saja dengan pengaman. Keken bukan pria bodoh, ia akan selalu mengantisipasi segala tindakan nya. " ucap Hanin


" Pantas saja mereka selalu menghubungi Keken, ternyata sedekat ini. "Farah tersenyum kecut


" Mungkin bagimu Keken pria br*ngsek dan sombong, tapi perlu kamu tahu, dia sangat baik dengan semua teman, makanya saat dia susah sekarang masih saja ada teman nya yang membantu, karena mengingat dulu Keken pernah berjasa membantu mereka. Keken bisa kerja di showroom mobil teman nya dan dia dengan mudah mencari konsumen karena banyak dari teman nya yang iba dia jatuh miskin. "


" Keken pria dermawan, ia selalu memberikan uang untuk panti asuhan tanpa sepengetahuan orang lain, namun Fafa dan Khaffi yang notabene selalu bersama mereka pasti tahu kebiasaannya. Ia juga memberi pekerjaan pada para wanita malam yang ingin keluar dari dunianya. Mereka bekerja di Cafe Michelle dan tentu saja dengan perjanjian. Michelle orang yang selektif dan pintar, ia tidak akan memasukkan karyawan sembarangan. Andai saja Michelle satu keyakinan dengan Keken, aku yakin mereka pasangan yang sangat cocok. Michelle bisa mengendalikan emosi dan lebih pengertian. Eh, maksud aku seandainya Keken tidak bersamamu, jangan salah paham, Farah. " Hanin keceplosan, takut gadis itu tersinggung dengan perkataan nya.


" Tidak apa-apa Nin, aku mengerti. " Namun hatinya sedikit tercubit saat suaminya dipasangkan dengan wanita lain,sedangkan saat bersamanya Keken selalu dimaki. Ia merasa bersalah. Ternyata suaminya memiliki jiwa sosial yang tinggi.


" Saat Keken marah biarkan dia meluapkan emosinya, tidak perlu membalasnya dengan berteriak karena itu akan membuatnya lebih emosi." saran Hanin.


"Pantas saja saat dia marah dan aku pun berteriak, dia lebih menggila bahkan memecahkan cermin lemari." gumam Farah dalam hati.


" Aku berharap kamu bisa menerimanya, walaupun terasa sulit tapi aku yakin nantinya kamu akan mulai mencintainya."


Farah hanya bisa menundukkan kepala.


" Jangan dipaksa, jika hatimu masih milik pria lain. Yang terpenting berikan Keken kesempatan untuk merasakan cinta darimu, hargai kerja kerasnya. Jujur saja saat melihat Keken sekarang aku merasa bahagia, wajahnya selalu bersinar saat menatapmu." ucap Hanin


Farah kian sedih, bahkan berpikiran ia bukan istri yang baik. Ia selalu benci dan kesal dengan tingkah laku Keken, apapun itu dan selalu menyalahkan dengan semua kejadian yang menimpanya.


" Kok kamu sedih. "Hanin melihat Farah berkaca-kaca, bahkan airmata nya hampir menetes


" Sepertinya aku banyak salah dengan Keken. " Farah mengusap airmata nya.


" Yang berlalu biarkan berlalu sekarang sudah waktunya membuka diri pelan-pelan. "


" Terima kasih Nin. "Farah memeluk Hanin, perasaan nya sudah lega dan rasa penasaran nya telah hilang.

__ADS_1


" Iya. " Hanin tersenyum manis


__ADS_2