Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 215


__ADS_3

Farah meminta ijin untuk membawa Keken keluar dan tentu saja dengan pengawalan ketat.


"Mau kemana?" Imelda melihat anak dan menantunya terlihat rapi.


"Aku mau ajak Keken jalan-jalan mih ke rumah Vania dan kontrakan mini. Aku berharap Keken akan ingat walaupun hanya sedikit. Boleh kan mih?"


"Apa kau ingin pergi, Ken?" Imelda bertanya dulu pada anaknya.


"Iya mom, seminggu ini Farah meminta waktu agar selalu menemaninya sebelum berangkat ke Singapura."


"Baiklah jika kalian ingin pergi, tapi mommy tidak bisa ikut karena tidak enak badan." ucapnya


"Mommy sakit apa? Mau aku panggilkan dokter? Atau mommy ingin istirahat, aku akan mengantarkan ke kamar." Farah dengan sigap menyentuh lengan Imelda dan benar saja badan wanita paruh baya itu sedikit panas.


"Mommy demam."


"Kau itu cerewet sekali." Namun Imelda menggulum senyum, hatinya menghangat karena menantunya begitu khawatir tentang kesehatannya. Ia bahagia karena Keken mendapatkan istri yang tepat seperti Farah.


"Mommy hanya lelah dan demam sedikit nanti setelah minum obat pasti sehat lagi. Kalian pergilah."


"Tapi mom." Kini Farah yang ragu untuk pergi meninggalkan ibunya


" Tidak apa-apa sayang."


Akhirnya Keken dan Farah pergi ke rumah Vania di daerah Utara. Mereka disambut keluarga Vania dengan hangat.


"Nak Keken masih ingat tante?" tanya ibunda Vania, mommy Alin.


"Lupa."


"Tidak apa-apa, jangan mengingat sesuatu jika kamu tidak ingin mengingatnya." Alin


"Maksud tante?" Keken tidak mengerti arah pembicaraan ibu Vania


"Sejauh apapun kamu berobat dan dengan dokter profesional pun tapi jika kamu tidak mau berusaha sendiri untuk mengingat sesuatu maka hasilnya akan sama saja bohong."


" Ingatlah pelan-pelan mulai dari diri sendiri, dari hatimu. Niatkan dalam hati bahwa kamu bisa mengingat semuanya, sugesti kan dalam diri bahwa kamu mampu melewati ini semua, percayalah bahwa Tuhan akan mempermudah jalanmu itu. Dia akan memberkati disetiap usahamu. Yakinlah akan pertolongan nya. " Mommy Alin menasehati sesuai keyakinan nya.


" Berarti aku harus yakin dengan diriku sendiri tan. " Keken


" Tentu saja kau harus yakin dengan dirimu sendiri, yakin bahwa kau bisa sembuh dan hidup bahagia dengan istrimu. Farah sangat mencintaimu, Ken. "


Keken hanya diam namun matanya melirik Farah yang kini berada di dapur bersama Vania.


" Ada apa ini, serius sekali aku lihat dari dapur. "Kini Farah mendekat pada suaminya dan duduk berdampingan sembari membawa se stoples kacang kulit.


" Hanya mengobrol biasa dengan tante. " Keken


" Farah, kau jangan banyak makan kacang nanti jerawatan dan tubuhmu akan semakin melar. " Vania datang dengan cake almond yang begitu harum, baru saja matang dari oven


"Tidak akan jerawatan karena aku selalu membersihkan wajahku sebelum tidur." Farah masih mengunyah kacang itu lalu menyomot sepotong kue.


"Istrimu tambah gembul Ken, makan terus." Vania melihat Farah yang selalu makan sejak tadi dan sesekali wanita hamil itu tersenyum. Ia ikut bahagia karena Farah sudah kembali seperti semula.

__ADS_1


" Iya Farah memang suka makan dan gendut tapi ini semua untuk kesehatan anakku juga. "Keken membelanya


" Kamu selalu membuat aku tersipu malu. " Farah


" Tersapu malu sih iya. " cibir Vania


" Mulai... mulai... ledek aja terus. "Farah


" Mommy permisi dulu ya, mau ke tempat catering karena ada pesanan. "pamitnya


" Iya mom. " jawab mereka bersamaan


" Ken, kau ingat tidak saat pertama kali bertemu Farah disini? "tanya Vania


" Tidak ingat, benarkah disini. "


Akhirnya Vania menceritakan awal mula bertemu Farah dan Keken, lalu pria itu meminta ijin untuk ke teras. Keken mencoba mengingat setiap momen bersama Farah. Mengingat dan terus mengingat hingga ia akhirnya tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum?" Vania melihat Keken yang terlihat senyum bahagia


"Tidak apa-apa."


" Hujan lebih baik kamu masuk daripada kedinginan."


Cuaca akhir - akhir ini memang tidak bersahabat, disaat siang hari pun hujan deras dan sesekali kilat menyambar.


" Aku ingin disini, dan hujan nya tidak terlalu deras." Keken


" Biarkan saja, mereka tidak akan mundur walaupun hujan angin. mereka akan tetap setia menjagaku."


"Ken, hujan masuklah." Kali ini suara Farah yang terdengar dari dalam rumah. "Masuklah, nanti kamu kedinginan."


"Iya nanti, Farah." Keken masih belum terbiasa memanggil sayang apalagi saat ini berada di rumah orang.


"Farah kau posesif sekali,jika Keken kedinginan aku punya terpal mobil, dia bisa menggunakannya untuk menahan rasa dingin." Vania


"Keken suamiku bukan mobil bututmu!"


"Oh, sekarang sudah pintar mengejekku setelah kau menikah dengan Modosa PE'A ini! Sudah jadi tuan putri dan nona muda di istana jadi berani menghinaku." Vania pura-pura marah dan kesal pada Farah


"Canda Van, canda. Gitu saja marah, sensitif amat." Farah merengkuh sahabatnya lalu seperti biasa ia memeluk Vania


" Kalian sehat kan ya, masa cewek peluk cewek." Keken melihat dua wanita itu begitu dekat


" Aku masih normal Modosa! Kau pikir aku apa." Vania memberenggut. Sedangkan Keken terkekeh


Namun Farah dan Vania saling menatap satu sama lain, mereka merasa Keken kembali seperti semula, ceria dan mau banyak bicara.


" Setelah ini kau akan kemana?" tanya Vania


"Ke restoran D&R, aku mau kesana." Kali ini Keken yang menjawab hingga kedua wanita itu melirik kearahnya


"Mau apa kesana?" Farah

__ADS_1


" Aku ingin makan disana, memangnya kenapa?"


"Oh, aku kira__" Vania mengira bahwa Keken sudah pulih ingatan nya ternyata dia kesana hanya ingin makan.


" Tapi setelah kita mampir ke kontrakan ya." pinta Farah. Ingin sekali Farah mengunjungi rumah kecilnya itu, ia begitu rindu dengan suasana ramai perkampungan


" Oke."


Farah pamit pada Vania dan melajukan mobilnya kearah perkampungan. Suasana begitu ramai karena ini sore hari dan banyak anak-anak bermain serta penjual kaki lima menjajakan makanan.


" Mampir dulu ke perempatan jalan itu, pak." pinta Farah


Tempat tinggal mereka tak jauh dari perempatan, Farah membeli beberapa bungkus baso dan somay.


"Eh, neng Farah baru keliatan." ucap salah seorang penjual baso dan mie ayam


"Bapak ikut sedih neng saat melihat suami neng Farah hilang, semoga allah segera mengembalikan ingatan mas Keken."


"Aamiin pak, terimakasih."


Lalu Keken terlihat keluar dari mobil karena Farah terlalu lama membeli makanan.


"Apa ada lagi yang mau dibeli? tanyanya


" Aku ingin membeli jus, kau ingin membeli apa? "


Keken memang melihat di sepanjang jalan itu mereka menjajakan banyak makanan. Keken pun merasa tidak asing dengan tempat itu.


" Jika kau menginginkan sesuatu katakan, disini surganya makanan."


"Aku mau es kuwut dan martabak manis." ucap Keken. Sejak tadi dia memperhatikan penjual martabak dan es yang selalu didatangi pembeli.


"Oke, kamu disini saja." Farah berjalan mendekati penjual itu, namun ia harus menyeberang jalan terlebih dahulu.


" Pengawal bawa ini." Keken merebut bungkus makanan yang dibawa istrinya. Ia tidak ingin Farah kelelahan.


"Eh, tapi itu __"


"Kau tenang saja, pengawal tidak akan mengambil jatah makananmu." potong Keken


"Bukan begitu, itu baso panas kenapa kau melemparnya.Untung saja tidak pecah."


"Maaf, aku lupa." Keken begitu ceroboh


Mereka menyerang jalan dan membeli sesuai keinginan Keken. Dengan cepat Keken meminum es kuwut itu dan terasa segar.


"Kau sangat haus?"


"Iya. Ini sangat menyegarkan dan__" Lagi-lagi Keken merasa memori ya kembali dan sedikit ingat dengan kejadian es kuwut namun ia masih bingung.


"Kenapa diam saja?" tanyanya


"Tidak apa-apa Farah, ayo kita pulang." Keken menggandeng istrinya dan pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2