
Seminggu kemudian,
Keken begitu kesal karena sudah satu minggu Farah absen dari pekerjaannya. Farah tidak sekalipun mengirimkan pesan padanya dan alasan kenapa dia tidak masuk kerja.
Setiap Keken mengirimkan pesan permintaan maaf dan memintanya untuk datang ke apartemen, pesannya tidak pernah dibaca. Panggilannya pun selalu tidak diangkat oleh Farah.
"Kurang ajar si Farah, dia berani menolak teleponku." Keken yang sedang duduk di kursi kerjanya kini tampak mengeratkan rahangnya sembari meremas lembaran kertas berbentuk bola dan membuangnya ke tempat sampah.
Keken tidak bisa konsentrasi beberapa hari ini, jadwal makan pun kacau karena tidak ada Farah yang memasak di apartemen. Tak lama berselang ponsel Keken berdering dengan keras.
"Gimana?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Oke, baiklah. Kirimkan sekarang alamatnya dan Amin sekarang kamu aku bebas tugaskan hari ini. Beristirahatlah." ucap Keken sembari memutuskan sambungan telepon.
"Tring... Tring..." ponsel Keken berdering kembali, terlihat pesan dari Amin.
Keken membaca dan tersenyum licik setelah mendapatkan informasi dari Amin. Ia bersiul dengan gembira karena berhasil mendapatkan alamat dimana Farah bekerja. Kemarin Keken menyuruh Amin untuk mencari tahu alamatnya dan dengan catatan bahwa mommy Imelda tidak boleh tahu tentang hal ini, Ia mengiyakan karena Keken memberikan banyak uang dan barang untuknya.
Selain asisten rumah tangga, Amin selalu dipercaya menjadi tangan kanan Keken. Amin selalu diandalkan untuk membantu semua kebutuhan Keken.
Dan setelah mendapatkan alamat tempat Farah bekerja, Keken mulai mengatur strategi agar Farah mau kembali bekerja di apartemennya lagi.
" Sayang..." suara wanita membuyarkan pikiran Keken tentang Farah. Keken terkejut saat Michelle datang ke perusahaannya.
"Sayang, kau kesini, ada apa?" Keken berdiri menyambut Michelle, memeluk dan mencium keningnya.
"Kau lupa? Hari ini kita akan pergi melihat Coffe Shop, pengerjaannya sudah sembilan puluh persen, sebentar lagi akan grand opening.
" Aku lupa. "Keken mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Keken begitu bingung kapan dia berjanji pada Michelle untuk melihat renovasi Coffe Shop yang akan di launcing bulan ini. Karena terlalu banyak wanita di sekitar Keken, ia selalu lupa dengan siapa dia berjanji.
Keken melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya kini menunjukan pukul empat lebih tiga puluh menit. " Ayo kita pulang, aku akan membereskan berkasku besok."
"Tapi Ken, sebaiknya kamu selesaikan dulu pekerjaanmu, aku akan disini menunggumu. Selesaikan dulu, mana tahu itu pekerjaan penting." Michelle berbeda dengan pacar Keken yang lainnya, ia lebih dewasa dan mengerti status Keken di perusahaan yang selalu sibuk. Michelle ingin Keken menjadi orang yang bertanggung jawab pada perusahaannya.
" Kamu tenang saja, aku Keken salah satu pemilik perusahaan ini jadi suka-suka aku mau pulang jam berapa." sifat sombong Keken kembali lagi, ia yang selalu membanggakan diri dan bersikap sesuka hati.
" Jadilah pria yang bertanggung jawab! Jangan menganggap sepele pekerjaan. Kau tahu, perusahaan Direc Corporation itu bangkrut karena anaknya tidak becus dalam mengelola perusahaan. Dia selalu menyombongkan diri karena perusahaan Ayahnya, tapi Tuhan berkata lain semuanya hancur dalam sekejap, nilai sahamnya anjog karena skandal si brengs*k itu dan lihat sekarang habis tidak tersisa. " Michelle mencoba memperingatkan Keken agar tidak mudah menyepelekan pekerjaan dan berhati-hati dalam perbuatan nya yang bisa saja menghancurkan perusahaan.
" Kau seperti mommyku, suka berceramah sampai berbusa! " dengus Keken dengan kesal, ia kembali melanjutkan pekerjaannya dengan fokus.
" Karena kami sayang denganmu, Ken." Michelle tersenyum saat melihat Keken patuh dengan perintahnya dan mau melanjutkan pekerjaannya lagi.
" Tok.. Tok.. " seseorang masuk ke dalam ruangan Keken
__ADS_1
"Permisi tuan, saya ingin mengambil berkas file tentang proyek pergudangan di Utara. Tuan Fafa sedang menunggu hasil kinerja anda." Antoni
"Tunggu sebentar." Keken mencari map di tumpukan berkas. Ia melihat file itu belum disentuhnya sama sekali.
"Kenapa aku bisa lupa kalau ada proyek ini, kesempatan aku terbuka lebar untuk pergi ke daerah Utara." gumam Keken dalam hati, ia tersenyum penuh kemenangan.
"Aku belum mengeceknya, beri aku waktu tiga puluh menit untuk mengurus ini. Bilang pada Fafa, besok aku yang akan mengecek ke lapangan, jangan dia." perintahnya
"Kacau ini, huh...." gumam Antoni dalam hati, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Helaan nafas panjang Antoni terdengar dari telinga Keken dan itu membuatnya sedikit terusik.
"Kenapa? Kau tidak percaya padaku kalau aku bisa mengawasi proyek itu!" seru Keken dengan nada keras, ia menatap tajam pada Antoni yang seolah tidak percaya dengan kemampuannya.
"Tidak tuan, bukan begitu. Hanya saja biasanya tuan Fafa yang turun ke lapangan dan menghandle semua."
"Kali ini beda, biar aku yang turun gunung, si Fafa akan sibuk mengurusi si Janin yang akan melahirkan, aku yang akan menghandle semuanya. Kau pergilah!"
"Oh iya Antoni, jangan lupa telepon mas Raffa tanyakan tentang desain yang akan menjadi contoh pergudangan kita. Aku butuh itu untuk rapat dengan para karyawan."
"Baik tuan." Antoni tidak membantah lagi, sikap Keken sebelas dua belas seperti Fafa, sesuka hati mereka ingin melakukan apa.
Michelle yang mendengar Keken memperlakukan Antoni dengan tidak sopan kini hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Tidak apa-apa nona." Antoni mengangguk hormat dan berlalu dari ruangan itu.
"Kenapa kamu meminta maaf pada Antoni, memang aku salah apa padanya!" Keken menatap Michelle dengan tatapan tidak suka.
"Kamu itu salah tapi tidak mau meminta maaf. Lihat, pekerjaanmu menumpuk seperti gunung. Kamu tahu, itu memperlambat kinerja Antoni dan yang lainnya. Cobalah untuk berpikir secara dewasa Ken, Antoni sudah begitu baik membantu kamu dan Fafa yang suka semena-mena padanya. Kalau tidak ada Antoni, entah seperti apa perusahaan ini. " Michelle mendekat kearah Keken dan memeluknya lagi.
" Jangan memperlakukan seseorang dengan rendah, dia juga manusia.Kurangi nada bicaramu yang tinggi itu, bersikaplah sopan walaupun Antoni itu asistenmu. " Michelle mengalungkan tangannya di leher Keken.
" Buat Antoni betah berada di sisimu, karena kamu membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya. Jangan memperlakukan dia seperti itu lagi ya. " pinta Michelle.
Keken termenung dengan ucapan Michelle yang selalu memperingatkan agar selalu sopan dengan orang lain walaupun dia hanya seorang asisten.
" Kenapa ucapan Michelle seperti ucapan si Farah saat aku menghardik Amin,kenapa aku selalu ingat gadis itu, apalagi saat dia tersenyum manis." gumam Keken dalam hati. Ia mengulas senyum.
Keken tersadar bahwa dirinya merindukan gadis itu dan ia segera sadar bahwa saat ini ada Michelle bukan cewek gendeng itu.
" Aku pasti sudah gila. "gumamnya dalam hati.
Keken menarik tangan Michelle agar duduk di pangkuannya." Terima kasih sudah mengingatkan aku,cup." satu ciuman mendarat di bibir Michelle dan disaat yang bersamaan pintu kantor terbuka dengan kasar.
__ADS_1
"Brak...!" Fafa mendorong pintu dan melihat adegan p*ngku-pangkuan ala Keken.
"Ini kantor, bukan metromini yang penuh dengan penumpang sampai p*ngku-pangkuan seperti itu!" sindir Fafa.
"Kamu pikir Michelle itu Shifa, anak mas Raffa yang harus selalu pangku." Fafa mendelik kesal karena bukan kali pertama Keken melakukan hal seperti ini. Sudah beberapa kali Fafa melihat wanita Keken dengan posisi seperti itu dan sialnya selalu dengan wanita yang berbeda .
" Ck.. Berisik lu! Iri bilang bos... " decak Keken
" Dih ngapain iri sama lu! Gue di rumah juga pangku-pangkuan sama si Janin sampe khatam ke arah selanjutnya, lebih halal lagi."
" Gue kesini cuma mau bilang. Lu yang bener saja masa lu yang handle proyek di Utara,kayak bener aja lu kerjanya." sindir Fafa dengan kesal
" Sok - sok an turun gunung, abis bertapa dimana lu sampai turun gunung! Yang ada lu turun resleting, bukan turun gunung." sindir Fafa lagi
"
"Turun kolor, Fa!" celetuk Michelle sembari terkekeh
"Aku bertapa di gunung kemb*r Fa." sahut Keken sembari terkekeh.
"Dasar stres!" umpat Fafa
" Heran deh, kenapa sih nggak ada yang percaya dengan kemampuan gue. Gue beneran Fa, bakal maksimal kerja kali ini. "
" Ya nggak ada yang percaya orang lu modelnya begitu, sekarang gini. Mana tugas lu udah ada yang kelar belum, sini gue lihat." Fafa menadahkan tangannya.
" Belum ada yang beres kan?! " Fafa menggelengkan kepala dan kesal. Ia tahu Keken pasti belum menyelesaikan nya.
" Perlu lu tahu, proyek ini harus segera diselesaikan karena kita masih banyak proyek yang lain. Mas Raffa juga sudah mewanti - wanti dalam satu tahun semuanya harus sudah finish."
"Lah, gimana mau cepat kelar kalau lu mikirnya pake kepala bawah terus! Lu mikirin Kenzi mulu, sedangkan kepala atasmu jarang dipakai jadi tumpul. Kadang gue heran itu isi kepala ot*k manusia atau ot*k udang." sarkas Fafa. Ia begitu kesal karena beberapa kali proyek yang Keken handle tidak pernah beres. Keken lebih suka bermain ponsel dan menggombal sana sini dengan pacarnya daripada bekerja. Fisik memang di kantor namun pikiran entah berada dimana. Keken sebenarnya anak yang pintar namun dia malas untuk berpikir.
"Kali ini beneran Fa!" ucap Keken dengan sungguh-sungguh, beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
" Lu yakin?!" tanya Fafa. "Ini proyek harus finish dalam setahun, lu kan tahu mas Raffa orang yang profesional dalam bekerja. Dia bakal nembak mati gue kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Mas Raffa kalau menyangkut pekerjaan galaknya ngelebihin ayah Davian, serem!"
" Jaman sekarang banyak online shop yang membutuhkan gudang untuk menyimpan barang. Harga tanah sudah tidak terjangkau bagi mereka yang punya modal pas - pasan. Mereka lebih suka sewa, jadi proyek ini langkah awal kita untuk proyek selanjutnya, progres pembangunan proyek ini harus selalu di pantau. Lu sanggup bolak-balik ke Utara? " tanya Fafa lagi
" Sanggup! Kali ini serahkan sama gue." ucap Keken dengan sungguh-sungguh
" Oke, gue pegang janji lu! Kalau proyek ini tidak sesuai dengan harapan mas Raffa kelar hidup lu! Si Kenzi jangan harap berada pada tempatnya, gue bikin bengkok! " Ancam Fafa
Keken hanya tertawa keras mendengar ancaman Fafa sedangkan Michelle merasa bingung siapa si Kenzi itu.
__ADS_1