Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 22 ( Drama yang tidak lucu)


__ADS_3

Seminggu lebih Farah bekerja di apartemen Keken dan besok adalah hari dimana dirinya bertemu sang kekasih.


Keken yang sedang menerima telepon di balkon kini terlihat sumringah. Entah apa yang dia bicarakan, namun yang jelas itu kabar bahagia.


Farah yang sejak tadi berada di dapur hanya bisa mencuri - curi pandang ke arah Keken, bukan karena suka melainkan waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sudah tiga puluh menit Farah menunggu Keken untuk meminta ijin pulang, namun ia tahu diri karena saat ini sang majikan sedang bertelepon ria. Farah takut menganggu nya.


"Pak Amin sudah pulang, ini kapan kelarnya, sih dia telepon! " Farah selalu melirik jam tangannya. Ia tidak ingin kemalaman di jalan karena di daerah Jekardah rawan tindak kriminal. Ia ingin cepat - cepat pulang dan tidur karena besok dia sudah berjanji akan pergi ke Bandung untuk liburan bersama Hilman.


Farah sudah membereskan pantry dan bersiap untuk pulang. Terlihat seulas senyum dari Farah saat Keken selesai bertelepon ria.


" Permisi Den, saya ingin pulang." pamit Farah


Keken mengenyitkan dahi, "Memangnya ini jam berapa, kok sudah mau pulang?"


"Jam sepuluh lebih."


"Ah! Masih sore , kamu temenin aku makan dulu." kilahnya,


" Ini malam minggu, malamnya anak muda." timpal Keken lagi. Semenjak ada Farah di rumah, Keken tidak merasa kesepian. Farah yang selalu ceria membuat suasana bertambah hidup. Keken merasa ada teman yang bisa dia jahili. Walaupun terkadang Farah ngambek karena Keken selalu meminta dia membersihkan tempat yang sudah dibersihkan berulang kali.


Ingin rasanya Farah meremas rambut Keken dengan gemas. Waktu hampir tengah malam dan dia bilang ini masih sore. Walaupun malam minggu, Farah tidak terlalu suka dengan keramaian. Dia akan pulang tepat waktu seperti biasanya.


"Takut kemalaman Den."


"Jangan panggil aden, panggil aku Keken!" Keken seolah tidak peduli dengan keinginan Farah untuk pulang. Ia duduk dan makan dengan santai mencicipi pizza buatan Farah.


" Ken, Keken..." lirih Farah dari arah pantry, ia tidak berani mendekat karena hanya ada mereka berdua di dalam apartemen.


Keken pura-pura bodoh dan tidak mendengar.


" Ken.. Keken..!!" Farah menaikan nada suaranya. Dan Keken masih saja pura-pura tidak mendengar padahal jarak pantry ke tempat Keken makan tidak terlalu jauh.


"Ken... Tut... Ken... Tut... Ken... Tut!" panggil Farah kembali dengan cekikikan.


"Si*lan!! kamu panggil aku apa!" Mata Keken menatap tajam Farah yang terlihat sedang tertawa.

__ADS_1


"Habis kamu rese! Pura-pura budeg, nanti kalo budeg beneran, syukur!"


"Wah... Wah... luar biasa, ada yang berani ngata - ngatain majikan. Aku ini Keken, crazy rich Jekardah!" Keken selalu menegaskan bahwa dirinya orang kaya yang punya banyak uang.


"Terserah lu Ken, mau crazy rich kek. Crazy beneran kek, bodo amat! Yang penting sekarang gue mau pulang." Farah begitu kesal, tenaganya sudah hampir habis karena pekerjaan,lelah begitu mendera dan sekarang Farah hanya ingin pulang dan tidur dengan lelap.


"Sebentar lagi." Keken kembali duduk di kursinya.


"Besok kamu kesini ya, lembur. Ada pekerjaan yang harus kamu lakukan." perintah Keken


"What...!!! Sorry gue kagak bisa!" tolak Farah


"Harus! Gue tidak menerima penolakan." tegas Keken


"Sekali aku tidak bisa ya tidak! Besok aku ada janji dengan tunanganku pergi ke Bandung."


"Ngapain kesana?"


Farah mengenyitkan dahi, pertanyaan Keken terlalu pribadi untuknya.


Keken mengepalkan tangannya, dia pun merasa bingung kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


"Kenapa aku penasaran dengan apa yang dilakukannya." gumam Keken dalam hati.


Ia tidak berani menatap kearah Farah, Keken kembali menyuap pizza buatan Farah yang menurutnya enak. Ia tersenyum licik dan ingin mengerjai Farah.


"Arghhhh... perutku sakit!" teriak Keken sembari memegangi perutnya.


"Ken, kau kenapa?" Farah mendengar Keken menjerit kesakitan hingga akhirnya Farah mendekat ke arah Keken. " Apa yang sakit?"


"Perutku, setelah makan pizza ini perutku sakit. Dadaku terasa sesak seperti ingin mati." Keken mulai meringis kesakitan.


"Aku tidak menambahkan udang ataupun bebek. Apa kau alergi sesuatu yang lain?" tanya Farah. Keken diam membisu, ia tetap berakting kesakitan yang amat sangat.


"Ayo kita ke rumah sakit. Kamu perlu perawatan segera." Farah begitu panik, ia membawa tas slingbagnya dan berjalan menuntun Keken.

__ADS_1


Saat memapah Keken, aroma sampo Farah tercium dari indera penciuman Keken. Tubuh Keken yang lebih tinggi dari Farah membuat nya kerepotan saat memapah nya.


" Wangi juga rambutnya, ini seperti wangi buah lemon." gumam Keken dalam hati, saat rambut Farah menerpa wajahnya Keken, ia dengan sengaja menghirupnya dalam - dalam.


"Ini bagaimana yah, aku harus pergi ke rumah sakit mana? Aku harus memberi kabar keluargamu, o iya nona Inha, aku tahu nomer ponselnya." Farah bermonolog, bingung, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.


" Hahahaha... "Keken tergelak tawa saat melihat wajah Farah yang terlihat panik dan lucu menurutnya.


" Kamu ini lucu sekali disaat seperti ini , aku jadi tidak tega untuk lebih mengerjaimu. "


Farah menepiskan tangan Keken dari bahunya, raut wajahnya berubah merah padam karena marah. Ia tidak menyangka Keken mengerjainya seperti ini.


"Jadi kamu ngerjain aku?!" Mata Farah menatap tajam.


"Kamu pikir ini lucu?! HAH..." sentak Farah dengan nada tinggi dan Keken cukup terkejut.


"Aku pikir kamu beneran keracunan makananku dan aku panik karena takut kamu kenapa - napa!"


"Kamu pikir ini lucu!!" teriak Farah lagi, namun kali ini airmatanya tumpah.


"Jika kamu ingin bercanda seperti ini jangan denganku, aku tidak bisa melihat seseorang meninggal lagi karenaku, cukup ibu saja , cukup ibu saja yang yang meninggal karena aku." Farah kembali mengulangi perkataannya sampai histeris. Airmatanya begitu deras mengalir di pipinya.


" Seharusnya aku saja yang mati saat itu bukan ibu, aku saja yang mati jangan ibu, aku sudah lelah dengan semua ini bu, Huhuhu...." Farah kembali meracau, rasa trauma kehilangan seorang ibu membuat dirinya terduduk lemas diatas lantai.


"Hei... maaf aku tidak tahu kamu akan seperti ini." Keken begitu menyesal dengan tindakannya kali ini, niat hati ingin bercanda dan mengerjai Farah, namun tanpa diduga respon gadis itu begitu histeris.


"Jangan menyentuhku!" Farah kembali menepis tangan Keken yang ingin menyentuh bahunya.


"Maaf.. Maaf.. Maaf..." ucap Keken lagi, ia benar-benar menyesal, ini pertama kalinya dia melihat seorang gadis begitu menyedihkan. Gadis yang terlihat ceria dan mandiri namun nyatanya dia memiliki luka batin yang begitu dalam tentang kematian ibunya.


" Farah aku benar-benar minta maaf." Ini pertama kalinya seorang Keken mengucapkan maaf berulang kali.


"Far___"belum sempat Keken bicara, Farah tergeletak tak sadarkan diri.


" Farah...!! Far.. Farah... " teriak Keken, ia memukul - mukul pipi Farah agar tersadar namun sang gadis sudah tidak berdaya, pingsan di pelukan Keken.

__ADS_1


__ADS_2