Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 144 ( Bertemu Hilman lagi)


__ADS_3

Farah akhirnya bisa bernafas lega karena bisa keluar dari pintu belakang sebelum acara selesai. Si pemilik rumah pun membantu Farah agar melewati jalan tikus yang berada tak jauh dari rumahnya. Gang sempit itu keluar menuju jalan raya dan Farah sangat berterima kasih pada si pemilik rumah.


Ia melihat jam tangan nya dan pasti bang Hilman sudah menunggu lama. Setelah dua puluh menit perjalanan, ia sampai di Cafe seperti biasa.


"Maaf bang, aku telat." Farah menyeka keringatnya, ia sedikit berlari hingga nafasnya tersenggal. Menghindari pengawal Imelda cukup sulit karena mereka orang terlatih dan selalu siaga.


Hilman dengan sigap memberinya satu botol air mineral. Ia tahu Farah pasti haus dan kelelahan.


"Kenapa lari, kamu tidak perlu gugup karena aku akan setia menunggumu."


" Tenangkan dahulu ingat kamu sedang hamil, aku tidak mau kamu kenapa-napa." Hilman mengambil tisu dan ikut menyeka keringat Farah yang masih mengucur deras.


"Maaf bang,aku memang selalu ceroboh dan tergesa-gesa."


"Aku tadi sibuk beberes dan lupa kalau hari ini ada janji denganmu." bohongnya


"Jadi pria itu menyuruhmu untuk bersih-bersih rumah, kurang ajar!" geram Hilman. "Kamu sedang hamil seharusnya kamu jangan kelelahan seperti ini."


" Eh, ti... tidak bang. Keken tidak memaksaku untuk membersihkan rumah kok bang." bela nya. Ia tidak mungkin berkata jujur kalau pengawalnya yang membuat dia berlari.


"Kamu sudah mulai membelanya." Hilman tersenyum sinis.


"Bang..." Farah menundukkan kepala.


"Sudahlah jangan membahas pria itu, membuatku kesal saja!"


"Apa kamu bahagia?" satu pertanyaan dari Hilman membuat Farah bingung untuk menjawabnya hingga membuat gadis itu diam seribu bahasa.


" Farah, aku sedang bertanya padamu?"


"Mmm... Keken baik dan selalu perhatian denganku." jawabnya singkat


"Itu bukan jawaban, yang aku tanya apa kamu bahagia?" tanyanya sekali lagi.


Farah enggan menjawab, bingung. Itulah yang ia rasakan. Dan beberapa detik kemudian perutnya terasa sakit,namun ia tahan.


"Oke, aku tahu jawabanmu." Hilman menghela nafas panjangnya, sepertinya Farah mulai terbiasa dan menyukai pria itu,pikirnya.


"Aku suka dengan penampilanmu sekarang, kamu lebih cantik menggunakan jilbab." Hilman mengulas senyum.


"Aku membayangkan jika nanti kita menikah, kamu dan anak-anak kita akan memakai jilbab dan menjadi keluarga yang samawa. Kamu mau kan?" Hilman masih saja berharap Farah mau bersamanya nanti.


Namun tiba-tiba Farah teringat perkataan suaminya.


" Aku sudah bersusah payah dan bekerja siang malam untukmu tapi nyatanya kamu berniat untuk ketemuan dengan mantanmu itu. "

__ADS_1


" Aku sering kamu marahi bahkan tidak boleh menyentuhmu sedangkan dia dengan mudah mengusap pipimu."


"Aku suamimu tapi nyatanya kamu tidak menghargai kerja kerasku, selalu marah dan memaki."


Dan Farah menggulum senyum saat mengingat wajah Keken yang cemberut saat itu.


Hilman yang melihat Farah melamun dan tersenyum kini merasa ada yang aneh. "Sepertinya Farah mulai ada perasaan dengan pria itu." gumamnya dalam hati. Ia mengepalkan tangannya karena kesal.


"Farah, apa kau mau menerima diriku?"


"Aku akan menunggumu." lanjutnya


Farah terkesiap, ia meneguk kembali air mineralnya hingga habis.


"Abang, aku kesini karena ingin mengembalikan cincin ini padamu." Farah menyodorkan dua box cincin pada Hilman, yang pertama cincin Pertunangan mereka dulu dan yang kedua cincin pernikahan yang sempat mereka beli namun belum sempat disematkan karena gagal nikah.


" Waktu itu abang bilang, cincin ini sebagai jawaban jika aku memakainya maka kita akan menikah setelah aku melahirkan tapi bang ini terlalu sulit untukku, aku tidak mau kamu menungguku. Aku sadar bukan gadis yang baik. Aku tidak pantas untukmu bang."


" Kamu bicara apa Farah, aku menunggumu, aku mencintaimu sampai detik ini cuma kamu Farah!" seru Hilman seolah tidak terima. Wanita yang ia tunggu ternyata mengembalikan kedua cincin nya.


" Aku tidak suka jika kamu seperti ini. "


" Susah payah aku menunggumu dan ini jawabanmu! "


" Tapi bang, aku sudah menikah dan kita memang tidak bisa bersama lagi." jawab Farah


Hilman sengaja merekam suara Farah saat ini.


" Sampai detik ini cuma abang yang aku cintai. "


" Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi sulit ini. "


" Dan masih aku belum yakin dengan perasaanku sendiri. Keken juga baik dan perhatian, aku bingung bang."


Farah menutup wajahnya. Disatu sisi ia mencintai Hilman dan disatu sisi Keken begitu baik dengan nya. Ia tidak mengerti perasaannya saat ini. Bimbang.


" Simpanlah cincin ini lagi. "Hilman menyodorkan kembali dua box cincin kearah Farah.


" Mantapkan hatimu untuk memilihku. "


" Jika kamu sudah yakin pakailah cincin dan kembalilah padaku. " sambung Hilman lagi.


" Kita akan bersama selamanya. "


" Tapi bang, ini tidak benar. "

__ADS_1


" Apa yang tidak benar, kamu milikku Farah. Aku mencintaimu dan itu kenyataannya. " Hilman


" Percaya padaku, hanya aku yang mencintaimu. " Hilman selalu meyakinkan Farah bahwa hanya ada dirinya bukan orang lain.


Farah menganggukkan kepala.


" Dan satu lagi, aku masih dendam dengan pria itu. Aku akan buat perhitungan dengan nya."


"Bang, janganlah seperti itu. Keken pria yang baik. Aku tidak mau abang ada masalah lagi." Namun saat ini perutnya kembali nyeri.


"Aku sudah tidak peduli dengan hidupku, dia yang pertama kali membuat masalah denganku. Dan aku mohon kamu jangan terus membelanya karena aku tidak suka, aku cemburu, Farah!" Namun saat ini matanya menelisik wajah Farah yang terlihat pucat, sesekali wanita itu meringis seolah menahan rasa sakit.


" Kamu kenapa? Apa ada yang sakit? " Hilman khawatir karena Farah berkeringat lagi dan meringis kesakitan.


" Bang, perutku nyeri sekali." ucapnya, "Rasanya sakit bang."


"Tidak usah, aku akan pulang saja dan beristirahat." Namun saat Farah beranjak dari tempat duduknya tubuhnya lemas seolah tak bertenaga.


"Farah, kau tidak apa-apa?!" Hilman sedikit panik karena wanita itu limbung.


"Ayo kita ke rumah sakit." Hilman sedikit panik lalu membopong Farah menuju rumah sakit.


Rumah sakit,


Ia berlari dan membawa Farah ke ruang IGD. Setelah mendaftar administrasi, Hilman diminta membawanya ke ruang obgyn. Farah tak lupa mengirimkan pesan pada suaminya bahwa sekarang dia berada di rumah sakit bersama Hilman.


"Mohon diperhatikan pak, istri Anda jangan sampai kelelahan atau bekerja terlalu keras."


"Kehamilan nya memasuki usia dua puluh dua minggu dan ini akan berpengaruh dengan aktivitas sang ibu yang lebih cepat lelah."


"Tapi dok, dia __" Farah ingin menjelaskan bahwa Hilman bukan suaminya namun keburu pria itu memotong pembicaraannya.


"Saya sebagai suaminya akan menjaga istriku dengan baik. Anak kami berjenis ke lamin apa dok?"


"Sang dokter kembali menatap monitor sembari tangan nya menekan perut Farah dengan menggunakan alat.


" Anak bapak laki-laki. Saya melihat di monitor, ini seperti ujung antena. "jelasnya sembari tersenyum. Namun sepertinya si bayi malu-malu saat dilihat dari sini."


" Alhamdulillah, terima kasih dok. " Hilman


Farah pun berbahagia, ia tidak menyangka anaknya laki-laki." Keken pasti bahagia mendengar kabar ini. "gumamnya dalam hati. Namun sesaat kemudian senyumnya luntur tatkala mengingat Keken yang akan murka saat tahu Hilman lah yang mengantarnya ke dokter.


" Aku harus bagaimana? "tanyanya dalam hati


" Farah, ayo kita keluar. Pemeriksaanmu sudah cukup dan ini resep vitamin nya. "Suara Hilman kembali menyadarkan nya. Ternyata ia sempat melamun tentang Keken.

__ADS_1


" Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin mereka berkelahi lagi. "gumamnya dalam hati.


__ADS_2