
Dua minggu berlalu,
Keadaan Keken mulai ada perubahan setelah menjalani terapi kesehatan, ingatan nya tidak sepenuhnya kembali tapi Keken mulai bisa mengingat suatu kejadian lebih kuat dari sebelumnya, anggota tubuh nya mengalami perkembangan yang cukup baik. Gerakan kaki dan otot-otot syaraf mulai kembali normal namun masih harus menjalani terapi lagi ke sesi berikutnya.
Imelda kemarin baru saja menjalani operasi pemasangan ring jantung dan Davian pun ikut menjaganya. Imelda baru bisa menjalani operasi karena harus mendahulukan Keken yang terapi terlebih dahulu. Sejak datang ke ME hospital ia pun mengikuti beberapa medical check up dan pemeriksaan tekanan darah dan akhirnya kemarin saat yang tepat untuk dilakukan operasi.
Keken masih sibuk mengurus ibunya, bahkan sekarang ponselnya sengaja tidak diaktifkan. Memang ada papih dan Om nya yang menjaga mommy nya tapi tetap saja Keken adalah Keken yang belum bisa tenang saat melihat ibunya sakit, seperti saat dirinya terbaring di rumah sakit mommy selalu menjaga nya dan sekarang gilirannya untuk menjaga mommy.
" Ken, pulanglah ke apartemen. Biarkan papih dan Om Davian yang menjaga mommy. "Feri mengusir halus anaknya karena Keken masih saja tidak beranjak dari tempat duduknya.
" Keken masih ingin disini pih. "ujarnya
" Tapi kamu perlu mandi, makan dan menelepon istrimu. " Feri
"Farah pasti akan mengerti, aku menjaga ibuku bukan berselingkuh. "
"Iya tapi istrimu pasti menunggu kabarmu, memangnya kau tidak kangen dengan Ghani? " Kali ini suara dari Davian. Ia melihat Keken belum makan sejak siang hari hanya karena menunggu Imelda yang masih tertidur.
"Ghani?? " Keken teringat sesuatu, calon anaknya pasti merindukan suara nya.
"Om benar, Ghani pasti menungguku. Aku akan pulang istirahat dan menelepon nya. "
Feri hanya bisa menghela nafas panjang nya saat melihat anaknya pergi.
"Hei Fer, kenapa aku merasa setelah kejadian itu Keken sedikit bodoh ya? " Davian
"Benar, anakku sekarang lemot dalam berpikir tapi sekarang Keken lebih tenang tidak pecililan dan selera humor nya berkurang. " Feri menyadari beberapa hal pada anak nya yang sekarang memiliki plus dan minus setelah kejadian naas itu
" Mahendra sudah mendekam di penjara dan kudengar berita sekarang istrinya menggugat cerai. "
"Benarkah, wah posisi janda bertambah lagi. Bolehlah kenalan dengan nya." kelakar Feri
" Kau itu sudah tua, kalau mau nambah istri dan mengkhianati kakakku ku potong lato-latomu! "ancam Davian
" Hei men, santai saja. Aku cuma ingin kenalan bukan nambah bini. Jika kawin lagi yang ada gue ditendang kakak lu dari Mansion, "Feri terkekeh, Davian masih saja menanggapi ucapan nya dengan serius dan ketus.
***
__ADS_1
Farah menunggu telepon dari Keken karena pria itu berjanji akan menelepon nya.Sudah dua hari keken tidak memberinya kabar dan seolah menghilang bahkan saat Farah mengirimkan pesan keken hanya membalas bahwa sedang sibuk mengurus keperluan mommy yang akan segera operasi.
"Kenapa dia belum telepon ya padahal ini sudah sore dan pesanku tidak dibalas. " Farah bergumam sembari menata pakaian di lemari nya. Dan sesaat kemudian ponselnya berdering.
"Itu pasti Keken. " Farah tersenyum dan yakin bahwa yang menghubungi nya adalah Keken. Setelah membaca nama si pemanggil, Farah langsung lemas ternyata bukan Keken melainkan Khaffi.
" Apa? "serunya dengan nada sedikit meninggi
" Makanan dari Modosa, keluarlah. Aku di ada di depan rumah. "
Farah berjalan dengan malas, setiap tiga hari sekali Khaffi pasti datang dengan membawa banyak makanan. Dan ini perintah dari suaminya
"Aku kan sudah punya bibi dan pengawal. Disini pun banyak makanan dan jika aku mau sesuatu maka akan membelinya jadi kenapa kau repot-repot kemari. " Farah
Mereka duduk di teras karena Khaffi suka tempat itu, bisa memandang tanaman milik keluarga Farah.
"Modosa bilang agar aku menjagamu, mana tahu kamu mulas ingin melahirkan jadi aku harus siap siaga. "
"Fafa repot, tidak bisa diandalkan karena dua anaknya yang masih kecil maka dari itu Modosa meminta bantuan padaku. "
*Tidak usah tersenyum begitu karena ini semua tidak gratis, aku akan meminta gaji pada Modosa karena sudah membuang waktuku sia-sia. Aku akn minta mobil pada nya. " Khaffi
"Dasar Pangeran Medit! " umpatnya. Khaffi hanya terkekeh
" Makanlah. "Khaffi menyerahkan plastik hitam itu.
" Terima kasih. "
" Far, aku mau tanya. " Namun Khaffi ragu-ragu takut jika diejek Farah karena dia ingin menanyakan tentang Dini
"Apa? "
"Eh, tidak jadi. Aku lupa mau tanya apa. " Khaffi akhirnya mengurungkan niatnya namun si ibu hamil itu masih menatapnya dengan curiga.
"Kamu ingin bertanya tentang Dini?" tebaknya
" Tidak! "
__ADS_1
" Kalau bohong, kau akan bisulan di bagian lato-lato! "
"Ya ampun tega sekali nyumpahin aku bisulan dibagian itu. " dengus Khaffi
"Aku sudah meminta maaf pada Dini tapi tidak direspon, nomor ponselku di blok dan dia tidak membalas pesanmu saat aku menggunakan nomor lain" sambungnya lagi sembari mengeluh
" Syukurin, siapa suruh kau buat masalah dengan nya. "
"Aku hanya menasehati nya."
"Kau bukan menasehati tetapi lebih kearah cemburu, mengejek bahkan nyumpahin dia. " jelas Farah
" Siapa juga yang cemburu, tidak akan! "
"Kau tahu selama ini Dini sudah bekerja keras demi keluarga nya bahkan dia bersifat matre pun untuk keluarganya, jadi saat ada pria baik dan sopan yang kini menyukai dia maka wajar saja dia sangat senang dan bahagia. Dan perlu kamu tahu, Dini sedang memantaskan diri agar dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, lebih baik itupun untuk kesejahteraan keluarga nya. Walaupun dia terlihat judes, dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, dia tidak egois sepertimu. "
"Kenapa membandingkan nya dengan aku! " Khaffi tidak terima bahkan terdengar kesal
"Lalu aku harus membandingkannya dengan siapa? Si blacki, noh dia sedang rebahan di bawah meja. " Farah menunjuk kucing hitam milik tetangga nya yang suka tiduran di teras rumahnya. Kucing itu suka ke rumah Farah karena Ais suka memberinya makan.
"Dasar kucing pemalas dan egois! " Khaffi menginjak ekor kucing itu hingga si kucing meong -meong dan pergi.
"Dih! PE'A , Lu yang salah kucing yang dijadikan pelampiasan. " gerutu Farah
"Terserahlah yang penting aku sudah minta maaf, jika dia tidak menerima permintaan maafku ya sudah. Emang gue pikirin. "
" Baguslah, lebih baik kalian tidak bertemu selama nya karena Dini pun sudah tidak mau menatap wajahmu. " Farah mengcopy ucapan Dini saat dia menelepon.
"Jadi beneran si kerempeng dan jelek itu tidak mau berteman lagi denganku? "
"Kau pikir Dini main-main saat berkata seperti itu dan ku minta kau jangan lagi menghina nya." Kali ini Farah sedikit tersulut emosi, Khaffi selalu mengejek fisik temannya.
" Ya sudah terserah jika dia ingin seperti itu, toh temanku juga banyak dan cantik-cantik!"
Farah mensengus kesal karena Khaffi masih saja sombong.
Dan saat mereka saling diam terlihat adik Farah yang datang dengan sepedanya. Wajahnya ditekuk dan muram bahkan saat memakirkan kendaraan terkesan kasar . Fadil berjalan menunduk dengan wajah sedihnya.
__ADS_1