
Farah mampir ke dalam sebuah minimarket tak jauh dari rumah sakit. Ia membeli beberapa minuman dan roti sebagai pengganjal perut. Saking panik ya Farah lupa sarapan karena terburu - buru menemui Hilman.
Dan kini Ia duduk di teras kaca minimarket sembari menangis keras, menumpahkan segala rasa sakitnya hingga beberapa orang melirik dan iba dengannya.
"Maafkan aku bang, aku harus melakukan ini semua. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu." lirih Farah, ia menghembuskan nafas panjangnya, rasa sesaknya sedikit berkurang saat ia meneguk minuman dingin.
Ia menghubungi seseorang dan tak lama kemudian sambungan telepon terhubung.
" Ada apa? "tanya Keken diujung telepon.
" Jemput aku sekarang. "pinta Farah.
Keken mengenyitkan dahinya dan melihat nama yang tertera di telepon." Benar kok, ini Farah. " gumamnya dalam hati.
" Kok diam! "seru Farah. Ia tidak mendapat sahutan dari Keken
" Tidak! Maksud A__" belum sempat Keken melanjutkan perkataannya terdengar perintah dari ujung telepon
"Jemput aku sekarang! Aku tunggu dua puluh menit di minimarket rumah sakit Mitra Kita kalau kamu terlambat semenitpun aku akan membatalkan pernikahan kita!" ancamnya
"Tut.. Tut.. Tut..." sambungan telepon terputus darinya
"A... Apa maksudnya?" Keken mencerna perkataan Farah,sedetik kemudian ia mulai paham. " Farah mau menikah denganku." ia benar-benar terkesiap tidak percaya.
"Apa aku mimpi?" tanyanya bermonolog sembari mencubit pipinya dengan keras. "Awww... sakit, ternyata ini kenyataan." Keken tersenyum lebar. Ia teringat kembali ancaman Farah dan dengan terburu-buru ia mengambil jas kerjanya dan keluar ruangan.
Ia sempat bercermin dan melihat beberapa luka memar di wajah dan sudut bibirnya, tidak terlalu parah karena Keken pintar melawan Hilman saat bertarung tadi malam.
"Aku masih terlihat tampan,let's go." ucapnya sembari tersenyum lebar, hari ini ia terlihat bahagia.
"Maaf pak, sebentar lagi kita akan rapat." Antoni melihat Keken yang terburu-buru.
"Kamu saja yang handle, ada yang lebih penting dari sekedar rapat!"
"Tapi pak." Namun Antoni ditatap tajam olehnya.
Dengan nafas tersegal Keken datang ke minimarket dengan tepat waktu dan menemui Farah.
" Good, sisa dua menit." Farah melihat jam yang melingkar di pergelangannya. Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya. Ia merasa lemas dan akhirnya merebahkan kepalanya di meja itu.
Ia tidak habis pikir kenapa Farah mengerjai dirinya. Jarak antara kantor dan minimarket rumah sakit cukup jauh, namun entah kekuatan darimana Keken bisa hadir tepat waktu. Untung saja jalanan tidak terlalu padat hingga ia bisa meluncur dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli beberapa kali menerobos lampu merah dan terdengar umpatan dari para pengguna jalan. Saat di kantor pun ia tidak peduli dengan sapaan dari beberapa pegawai yang berpapasan dengannya, baginya saat ini harus bisa bertemu dengan Farah tepat waktu.
__ADS_1
"Jangan seperti ini lagi ya, aku hampir saja kehilangan nyawa karena begitu ngebut." ucap Keken, keringatnya membasahi dahi dan nafasnya masih tersegal - segal.
Farah melirik pria itu dari dekat, ingin rasanya meminta maaf namun ia masih gengsi. Wajah Keken terlihat memar di beberapa bagian namun masih sedikit beruntung dibandingkan Hilman.
"Ayo kita pulang." Farah berjalan keluar minimarket dan Keken mengekorinya dari belakang. Mereka menuju taman kota yang sepi agar bisa bicara empat mata.
Dalam mobil mereka terdiam, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Dan Keken hanya bisa melirik Farah dari kaca spion dalam.
"Ayo kita menikah." ajaknya
" Demi anak ini, aku akan menikah denganmu dan dalam satu minggu ini kita harus menikah." ucap Farah lagi
" What!! Kenapa cepat sekali." Keken terkesiap dengan permintaan Farah yang mendadak ingin menikah dengannya. Bagi Keken ini terlalu cepat karena ia belum melakukan persiapan apapun.
" Farah ini pernikahan bukan kereta expres yang langsung sampai tujuan."
" Jadi kamu tidak mau menikah denganku?" tanyanya dengan ketus
"Tentu saja aku mau, hanya saja ini terlalu cepat, pernikahan butuh persiapan dan segalanya." ucap Keken
"Aku yakin keluargamu bisa melakukan itu." sindir Farah ,
"Tapi aku minta syarat untuk pernikahan ini." ucapnya lagi
"Pertama, Cabut laporanmu di kepolisian. Aku tidak ingin bang Hilman dipenjara."
" Kedua, pernikahan kita hanya satu tahun setelah anak ini lahir dan mendapatkan surat administrasi negara, maka kita akan bercerai."
"Ketiga, kita menikah tanpa cinta jadi jangan berharap lebih dariku,jangan menyentuhku, tidak ada hubungan suami istri. Cintaku masih milik pria lain."
Keken hanya tersenyum kecut.
"Keempat, Setelah anak ini lahir. Ia akan ikut denganmu karena ini milikmu. Aku masih belum bisa menerima bayi ini."
" Kelima, kita hanya orang asing tidak boleh ikut campur dalam urusan masing-masing."
"Apa kamu mengerti, kenapa diam saja!" ketus Farah. Dan pria itu hanya menggulum senyum
"Malulah sama dealer." ucap Keken sembari tersenyum
"Maksudnya?" Farah tidak mengerti perkataan Keken.
__ADS_1
"Dealer saja kredit mobil lima tahun masa pernikahan kita hanya satu tahun." kelakarnya sembari tertawa renyah.
"Ini tidak lucu!" Farah mendelik kesal, entah kenapa saat Keken tersenyum membuat hatinya kian kesal dan emosi.
"Aku sedang serius, kenapa kamu bercanda!" semburnya lagi
"Aku juga serius Farah, kamu pikir aku bercanda." ucap Keken " Pernikahan kita untuk selamanya, tanpa batas waktu."
"Tidak usah membual, aku tidak akan percaya dengan janji manismu karena kamu playboy gila dengan banyak wanita!"
"Aku memang pembual dengan wanita lain tapi tidak denganmu. Aku janji saat menikah denganmu, aku akan setia dan tidak ada wanita selain kamu." janjinya
"Aku tidak berharap lebih dari hubungan ini, yang terpenting bayi ini lahir dengan selamat dan kita jalan masing-masing." tegas Farah
"Tapi aku berharap lebih dari hubungan ini. Mungkin saat ini kamu belum bisa mencintaiku tapi suatu saat aku yakin kamu akan jatuh cinta padaku."
"Jangan mimpi!" salak Farah, " Bahkan untuk melihatmu saja aku merasa muak!"
"Semuanya berawal dari mimpi, aku yakin kamu akan mencintaiku bukan pria itu. Aku akan membuatmu hamil setiap tahun agar tidak ada waktu untukmu mengingat dirinya." Dan Keken mendapat serangan bertubi-tubi dari Farah.
"Jangan bicara omong kosong!" salak Farah lagi, matanya menyalang pada Keken.
"Aku tidak bicara omong kosong, bahkan aku ingin memiliki anak selusin darimu." Keken masih saja dalam mode bercanda hingga membuat Farah bertambah kesal.
"Apa kamu bisa memenuhi segala syaratku?" tanyanya
"Aku bisa memenuhi semuanya. Untuk urusan cabut laporan, aku akan bicara dengan mommy Imelda karena dia yang membuat laporan bukan aku."
"Jadi bukan kamu yang lapor polisi?"
Keken menggelengkan kepala.
"Ada satu hal yang harus kamu tahu, setelah menikah maukah kau hidup denganku dari nol, kita mulai dari bawah. Aku bukan siapa-siapa setelah kita menikah nanti." Keken mengingat ancaman ibunya, saat ia merusak seorang gadis maka dia harus pergi dari apartemen maupun rumah ibunya. Tidak ada yang bisa dia bawa selain pakaian. Ia harus menerima segala konsekuensi atas perbuatan yang dilakukan olehnya.
" Aku tidak peduli, kamu miskin atau tidak. Aku masih punya tempat tinggal walaupun itu kecil. Yang terpenting kamu kerja dan bertanggung jawab dengan anakmu ini." ketusnya
Keken tersenyum dan mengelus rambut Farah dengan lembut, ingin rasanya ia memeluk namun tidak bisa karena emosi Farah saat ini sedang tidak stabil dan selalu bicara ketus padanya.
" Apaan, sih! " teriak Farah," Jangan sentuh aku. "
" Oke, maafkan aku nyonya Farah Kendrew. Kita pulang sekarang."
__ADS_1
"Kita belum menikah jadi namaku masih Farahdilla Dipta bukan Farah Kendrew!" sungutnya lagi
Keken hanya menggulum tersenyum, sesekali ia melirik Farah yang masih terlihat kesal padanya.