Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 121


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Walaikumm salam."


Kedua princess datang secara bersamaan dengan membawa beberapa tas jinjingan, sepertinya mereka habis berbelanja. Dan di susul dengan pak Ari yang membawa beberapa paperbag, pastinya milik kedua princess.


" Bapak taruh disini ya non. "ucap pak Ari. Ia menaruh barang - barang kedua nona besar di dekat meja makan." Bapak pulang dulu bu, non dan semuanya. " sapanya dengan hormat pada semua orang di ruangan itu.


" Makasih pak. "ucap kedua princess.


" Hati-hati bapak Ari kesayangan kami." seperti biasa Inka selalu melambaikan tangan dengan semangat dan ramah lalu tidak lupa memberinya finger love sebagai tanda cinta. Sedangkan Pak Ari hanya membalasnya dengan senyuman.


" Itu pak Ari kenapa tidak pensiun tan, kan sudah tua? "tanya Keken. Ia tahu Pak Ari sudah bekerja saat princess masih sekolah dasar dan hingga kini ia masih mengabdi pada keluarga Navysah.


" Dia tidak mau, tante sudah menawarkan pensiun dan uang pesangon tapi dia tetap tidak mau. Katanya masih kuat nyupir dan selalu ingin dekat dengan si princess kembar."


" Si Rio sudah tajir dan menjadi salah satu pimpinan perusahaan,anak kedua sekolah di luar negeri dan yang kecil masih sekolah SMA. Memang ya nasib tidak ada yang tahu, dulu keluarga pak Ari sangat sederhana dan sekarang luar biasa. Makanya jangan menghina orang yang tidak punya apa-apa karena kita tidak akan tahu masa depan mereka akan seperti apa. "ucap Navysah lagi.


" Roda berputar, kita tidak tahu esok akan menjadi apa dan bagaimana. Tetap kerja keras diiringi do'a, jangan lupa minta pada Allah bukan yang lainnya. " ucapnya lagi


" Tuh dengerin kalau hajjah Navysah ceramah, satu hari satu malam nggak bakalan kelar-kelar. "celetuk Inka sembari cengengesan. Dengan cepat Navysah melempar buah timun yang tersaji di meja. Ia melempar tepat diwajah anaknya.


" Ampun, ampun emak! putri salju tidak akan melawan. "kelakarnya dengan cengengesan


" Ah, dasar lu cimol goreng! "Keken yang kesal akhirnya ikut melempari Inka dengan sayur kol


" Dia bukan cimol goreng tapi buah kesemek! " celetuk Inha. Ia menggulum senyum membayangkan saat bedak Rain yang tumpah dan mengenai wajah Inka hingga terlihat seperti buah kesemek yang putih tidak beraturan.


"Inha, awas kamu ya!" teriak Inka dengan kesal.


" Ingat, kartu kreditmu masih di aku." ancamnya


Inha terlihat muram dan kesal sedangkan si Inka terlihat begitu bahagia. Ia berjingkrak - jingkrak seperti biasanya tidak bisa diam karena begitu bahagia kartu kredit Inha berada di dompetnya.


"Aku beli tas buat mama." Inka mengeluarkan paperbag dan memperlihatkan sebuah tas mewah berwarna putih dari brand Cuci.

__ADS_1


" Kenapa beli tas semahal ini." Pekik Navysah, ia yang sudah memiliki banyak tas mewah kini tidak tertarik memiliki tas lagi.


"Tumben mama tidak suka, padahal ini bagus dan mahal lho." Inka cemberut, niatnya ingin memberi surprise untuk ibunya tidak sesuai rencana. Kecewa.


" Mama bukannya tidak senang, tapi kamu harus belajar menabung jangan terlalu boros untuk membeli sesuatu yang tidak penting. Gunakan uang sesuai kebutuhan Ka. " Navysah hanya menghela nafas panjangnya, anaknya yang satu ini memang hobi belanja dan dengan mudah menghamburkan uang, bahkan ia tidak segan-segan menyewa satu Cafe hanya untuk mentraktir teman- temannya. Karakternya mirip dengan Fafa, sangat loyal dengan teman-teman.


"Mama jangan khawatir, itu uang Inha." Inka tergelak tawa sedangkan kembarannya masih memasang wajah jutek. Inha lebih tertarik dengan masakan yang kini tersaji di meja. Dengan cepat ia menyendok nasi dan mengambil beberapa lauk. Perutnya terasa lapar karena hari ini ia harus berkeliling mall menemani kembarannya dan harus membayar semua tagihan belanja Inka. Mereka bertaruh jika Inka bisa memasak kari ayam, bolu sifon, sate padang dengan enak dan sesuai lidah chef Frans maka Inha akan membelikan apapun yang Inka butuhkan. Tidak mudah karena chef Frans adalah kepala chef di restoran D & R yang terkenal selektif dalam menerima makanan. Ia tidak akan bermain - main jika masakannya tidak sesuai dengan citarasanya pasti akan ditolak. Inka belajar tiga bulan untuk bisa memasak tantangan itu. Inha tahu kembarannya sangat payah dalam urusan perdapuran. Ia lebih tertarik dengan fashion styles dan perniagaan.


Maka dari itu Inka sangat tertantang apalagi nilai taruhannya sangat besar. Berkali-kali ia salah dan ditolak masakannya oleh chef Frans dan akhirnya setelah sajian yang kesepuluh kali Inka berhasil mendapatkan yes dari chef. Luar biasa, perjuangan yang penuh dengan kerja keras.


"Kok bisa pakai uang Inha, kalian sedang taruhan ya." sela Keken, ia tahu persis kebiasaan si kembar yang sering taruhan dan biasanya Inha selalu menang.


" Inha kesayangannya mas Keken, kamu kalah sama Inka?!" tanya Keken, ia sudah menganggap Inha seperti adiknya sendiri karena mommy Imelda pun sayang padanya.


"Iya mas." Inha tertunduk lesu, membayangkan kartu kreditnya akan membengkak kali ini.


" Baguslah, jadi sekali - kali kamu bisa berbagi dengan si cerewet itu,uangmu kan banyak. Akhirnya ada yang bisa ngalahin si judes." Keken terkekeh saat melihat mata Inha menyalang.


Inka tergelak tawa sembari tos kearah Keken. Satu komplotan.


"Mas Keken sebenarnya sayang aku apa Inka, sih!" gerutu Inha, ia mengira Keken akan membelanya dan langsung mengomeli Inka nyatanya pria itu malah menjadi sekutu kembarannya.


" Aku sayang kamu adikku tapi hidup harus realistis, saat ini Inka lagi banyak duit bolehlah bagi sedikit. "ucapnya


Semua tergelak tawa mendengarkan ucapan Keken.


" Mama mau tidak tas ini,kalau tidak mau buat Farah saja. "ujar Inka. Farah yang disebut namanya langsung melirik tas tersebut dan hanya menelan salivanya. Membayangkan tas itu benar-benar untuknya, ah pasti sangat keren memakai tas mahal. Batinnya.


" Farah mau tas itu? "tanya Navysah, ia mengulum senyum saat melihat wajah gadis itu penuh pengharapan.


" Mau tan. "


" Jangan malu-maluin ah, nanti aku belikan tas seperti itu untukmu. "sela Keken sembari menginjakkan kakinya.


" Beneran dibeliin atau cuma janji - janji saja, kamu kan selalu begitu. "gerutu Farah dan mereka yang mendengar tergelak tawa karena kepolosannya.

__ADS_1


" Emang Keken suka janji palsu Far?"tanya Kinan


" Iya. "


" Apalagi saat meminta bantuan pasti tidak ada yang bener dan ujungnya aku sendiri yang menyelesaikan." keluh Farah


Dan dengan cepat Keken memeluknya dari samping." Maafkan aku istriku, kan aku sedang berusaha dan belajar menjadi orang sederhana. Mohon dimengerti dan dimaklumi ya. "ucapnya dengan tersenyum lebar, tatapan cinta Keken selalu ia tunjukkan walaupun tidak pernah direspon oleh istrinya.


Farah tersipu malu, pura-pura menghayati perannya sebagai seorang istri yang baik di hadapan keluarga besar Keken. Ia pun hanya membalas dengan senyuman. Dan Navysah melihat kepalsuan itu semua, mungkin mereka bisa berbohong dengan yang lain tapi tidak untuk seorang ibu.


" Tas itu untukmu Far." Navysah menyerahkan paperbag untuk Farah. " Nanti setelah ini selesai tante ingin kamu membantu tante di lantai atas." Mau kan? "


" Mau tan. "Jawabnya dengan semangat, akhirnya ia mendapatkan tas berwarna putih itu dan apapun akan Farah lakukan sebagai ucapan terima kasih.


" Kamu ngapain, Ka? " Kinan melihat adik iparnya yang tidak mau diam itu sedang memakai bedak yang baru saja dia beli.


" Ini produk bedak terbaru dari Maybele, katanya bagus aku sedang mencobanya." Inka memoles bedak itu ke wajahnya.


" Bagus tidak?" tanyanya


" Hahahaha..., kamu jelek!" Kinan langsung to the point


" Warna bedaknya terlalu putih, kamu salah beli sayang." Navysah


" Kenapa Inka terlihat seperti kue mochi. " celetuk Farah, dan semua orang melirik kearahnya.


"Eh, eh maaf keceplosan." Farah membungkam mulutnya sendiri, entah kenapa mulutnya selalu bicara tanpa rem


"Huaaaaa.... Emang bener kok kayak mochi." Hanin tergelak tawa. Dan kali ini pun Inha yang biasa diam akhirnya tertawa lepas karena mendengar celetukan Farah.


" Aku sudah bilang kalau itu terlalu terang tapi kamu tidak percaya." Inha sudah memberitahukan pada kembaran nya saat di mall bahwa bedak itu tidak sesuai dengan warna kulit Inka tapi gadis itu tetap ngeyel.


" Lebih mirip ondel - ondel. "kelakar Keken


" Kalian memang pasangan stres, masa aku dibilang kue mochi dan ondel-ondel! "seru Inka dengan tidak terima. Ia membawa beberapa paperbag dan pergi ke kamarnya sembari menggerutu.

__ADS_1


__ADS_2