
Keken pergi dari kantor dengan ojek pangkalan karena itu akan menghemat waktu, sepanjang perjalanan ia selalu melamun memikirkan ucapan Khaffi yang begitu menamparnya.
"Apa kamu yakin jika bersama gadis itu, kamu akan insyaf, tidak bermain wanita lagi dan hanya dia satu-satunya?"
Keken selalu terniang dengan kalimat itu.
" Apa aku bisa setia dengan satu wanita? "tanyanya bermonolog
" Iya pak, bapak bertanya pada saya? "tukang ojek itu bertanya karena ia mendengar Keken bergumam.
" Tidak! Aku sedang bicara sendiri. "ucap Keken
" Bapak waras kan ya pak, kok bicara sendiri. " tukang ojek itu tertawa renyah sembari fokus mengendarai motornya
" Aku sedang tidak waras pak, semuanya terasa sangat sulit. " ucap Keken sembarangan
" Kalau semua terasa sulit berdo'a saja pak minta yang terbaik. Jangan lupa bersyukur, agar hati senantiasa damai dan tenang. Jika bapak merasa kesulitan, lihat berapa orang yang lebih menderita dari bapak itu banyak sekali."
Keken hanya tersenyum kecut, ia malas menanggapi cerita dari abang ojek karena saat ini yang ada dipikiran nya hanya Farah.
" Yakinkan diri kalau bapak bisa menghadapi semua ujian ini, allah tidak akan memberikan ujian melampaui batas kemampuan manusia. "
Keken mengenyitkan dahi, baru kali ini ia mendapat siraman rohani dari seorang tukang ojek. Biasanya tante Navysah yang selalu mengingatkan dirinya agar menjauhi hal-hal yang dilarang agama terutama s*x bebas. Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya karena sudah lama dia jauh dari agama.
Setelah sampai di kontrakan Farah, Keken membayar lebih uang jasa ojek,karena sepanjang perjalanan tukang ojek itu selalu mengobrol dan memberi nasihat kebaikan pada Keken.
" Terima kasih pak, semoga allah membalas kebaikan bapak." Dengan mata berbinar tukang ojek itu mengucapkan syukur atas pemberian Keken yang menurutnya cukup banyak.
"Hmm... Tanpa basa-basi Keken mengetuk pintu kontrakan Farah berulang kali.
Dan Farah yang merasa terganggu akhirnya membukakan pintu. Ia sengaja ijin pulang untuk beristirahat karena kepalanya terasa sangat pusing.
" Kau kenapa? "Keken pura-pura tidak mengetahui masalah Farah, ia melihat Farah yang berwajah bengkak karena menangis.
" Tidak apa-apa, kau ada apa kesini? "
" Aku hanya ingin melihat kamu, entah mengapa perasaanku tidak enak. "bohongnya
" Farah hanya mengenyitkan dahi, bergumam dalam hati " Benarkah Keken datang karena ada hal yang mengganjal di hatinya dan itu tentang aku. "
"Keken aku mohon pulanglah, suasana hatiku sedang buruk hari ini." pinta Farah
"Apa kau punya masalah? Katakan padaku? Menangislah jika kau ingin menangis."
Farah kembali berkaca-kaca mengingat kejadian siang tadi yang membuatnya seperti tersambar petir di siang bolong.
"Tidak a.. ada apa - apa." Farah mengatakannya dengan suara serak, airmatanya hampir menetes di sudut matanya.
Dengan tanpa basa-basi Keken menarik tangan Farah hingga membentur dadanya yang bidang,memeluknya dengan erat. " Menangislah, aku tidak akan memaksamu untuk bertanya kenapa, Menangislah jika itu membuat hatimu tenang."
"Huaa... Hua.... Huhuhu..." Airmata Farah tumpah hingga mengenai kemeja yang Keken gunakan.
"A... aku... A... aku..." Farah terbata tak kuasa berkata apa-apa, dadanya terasa sangat sesak hingga mencekik di tenggorokan. Terlalu sakit untuk diucapkan.
"Kamu tidak perlu bicara apapun, menangislah."
Keken sudah tidak peduli jika beberapa pengawal menangkap dirinya karena kabur dari perusahaan. Keken siap menerima hukuman dari mommy Imelda yang begitu tegas dan tidak mengijinkan dirinya bertemu Farah.
Setengah jam berlalu Farah mulai tenang dan mengurai pelukannya. "Terima kasih." ucap Farah, " Aku merasa lebih tenang." ucapnya sembari mengusap jejak airmatanya.
"Semuanya akan baik-baik saja, kamu tenanglah."
" Memangnya kamu tahu aku kenapa?"
__ADS_1
"Tidak!" Keken masih saja dalam modus berbohong.
Farah pun enggan untuk bercerita pada Keken tentang jati diri yang sebenarnya. Farah begitu takut seandainya dia bicara jujur maka banyak orang yang mencemohnya dan dia tidak ingin berkata jujur pada orang lain walaupun itu termasuk Keken ataupun Hilman.
Sejak pulang dari restoran ia selalu menangis dan menangis membayangkan seandainya Hilman tahu yang sebenarnya dan Farah takut rencana pernikahannya akan gagal. Orang tua Hilman kemungkinan tidak akan setuju jika mereka tahu bahwa Farah bukanlah anak dari ayahnya, mengingat keluarga Hilman yang terhormat dan dia adalah anak tunggal.
"Farah, aku harus pulang. Kamu jangan lupa makan, aku sudah memesan beberapa makanan online untukmu." Keken mengusap rambut Farah dengan lembut.
"Ken, apa yang kau lakukan. Kenapa kamu begitu baik padaku." Farah merasa risih saat Keken mengusap lembut rambutnya. Ini seperti perlakuan Hilman padanya.
" Tidak ada apa-apa." Keken tersenyum kecut, ia memang pecundang yang tidak berani mengungkapkan isi hatinya karena Keken tahu Farah tidak punya hati padanya. Dan salah satu alasan terbesar selama hidupnya Keken tidak pernah ditolak seorang wanita. Jika ia mengutarakan perasaannya, Keken pasti ditolak.
"Aku pergi dulu." Keken dengan cepat pergi dari rumah Farah karena dia tidak ingin bertemu dengan para pengawal ibunya yang sebentar lagi akan datang.
"Dia itu kenapa? datang seperti ninja pulang seperti angin, cepat sekali dia pergi." Farah bermonolog
"Eh bukan, dia seperti jalangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar." sambungnya lagi
Dan benar saja saat Farah hendak menutup pintu, beberapa orang berpakaian hitam dan rapi datang di depan kontrakannya.
"Keken sudah pulang, baru saja." ujarnya saat ditanya salah satu pengawal
"Ada apa ya?" tanyanya penasaran
"Tidak ada apa-apa nona, kami permisi dulu."
Sekitar enam orang pengawal itu pergi meninggalkan kediaman Farah hingga punggung mereka menghilang Farah masih bertanya-tanya ada apa gerangan, kenapa mereka mencari Keken.
* **
Esok hari, Farah datang ke Bogor untuk menemui tantenya. Namun ia tidak datang ke rumahnya karena takut bertemu Hilman dan ibunya. Farah meminta sang tante untuk bertemu di hotel, tempat Farah menginap. Ia begitu penasaran ingin mengetahui tentang kebenaran ucapan dari ibu tirinya, Tami.
"Tante..." Farah memeluk tantenya dengan erat, sudah beberapa bulan ini mereka tidak bertemu dan Farah merasa kangen.
Mereka duduk di tepi ranjang, Tante eri selalu memegang tangan Farah dan beberapa kali ia menciumnya.
" Tami benar, kamu bukan anak kandung Ilham ." Eri menghembuskan nafas kasarnya.
"Tante tidak bisa jujur padamu karena saat itu Ilham bilang ini rahasia, dia yang akan menceritakan nya padamu."
Farah menutup wajah dengan kedua tangannya, pikirannya mulai menerawang jauh mengingat betapa tidak pedulinya sang ayah padanya.
"Kamu ingat saat ibumu meninggal, tante ingin membawamu ke Bogor tapi ayahmu menolak dengan alasan karena hanya kamu satu-satunya miliknya. Wajahmu yang begitu mirip dengan ibumu membuat Ilham merasa hidup bersama ibumu."
"Tapi selama ini ayah tidak pernah peduli denganku tante."
"Tante tahu, dia merasa kehilangan istrinya karena kamu. Seandainya ibumu tidak masuk kedalam bara api yang membakar rumah itu pasti dia yang selamat, bukan kamu."
"Ilham masih mengenang ibumu dan mungkin saja dia belum ikhlas."
"Tante berulang kali meminta hak asuhmu tapi selalu ditolak, Ilham benar - benar mempertahankanmu. Dan ibu tirimu begitu jahat, kau tahu kenapa?"
"Karena ibuku dulu merebut pria yang dia sukai." Jawab Farah
"Salah!" ucap Eri , " Itu hanya opininya, ibumu tidak pernah merebut siapapun, mereka yang datang secara sukarela pada Meli.
" Melisa gadis cantik dan lembut hingga banyak lelaki ingin menikahinya. Dan itu termasuk dengan Ilham dan Faisal, ayah kandungmu. " Eri menarik nafas panjangnya
" Ibu tirimu, Tami menyukai Ilham namun pria itu mencintai ibumu. Sedangkan ibumu mencintai Faisal. Cinta segiempat yang begitu rumit. " sambung Eri
" Tami merasa kesal karena pria yang dia sukai menyukai ibumu dan itu salah satu penyebabnya."
" Waktu semakin berlalu, Ilham dan Tami berpacaran dan disaat yang bersamaan ibumu ternyata hamil di luar nikah dan kamu anak dari Faisal. Mau tidak mau mereka harus melangsungkan pernikahan namun tiga hari sebelum acara itu, Faisal kecelakaan di jalan. Sempat dirawat di rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong. Ibumu histeris dan hampir gila saat melihat ayahmu meninggal. Suasana begitu mencekam karena pernikahan hampir dibatalkan. Namun saat itu Ilham datang bak pahlawan dan meminta agar dia yang menggantikan calon pengantin pria yang telah tiada. Ibumu menolak, namun karena desakan keluarga akhirnya pernikahan itu terlaksana untuk menutupi aib ibumu. " Eri berkaca-kaca saat menceritakannya, kisah kelam yang begitu menyedihkan kini harus ia ceritakan kembali.
__ADS_1
" Ilham memutuskan hubungan sepihak dengan Tami dan itu yang membuat ibu tirimu murka dan benci setengah mati.
" Tak hanya sampai disitu, ia selalu bergosip dan menyebarkan berita bahwa ibumu hamil diluar nikah hingga ibumu stress dan banyak pikiran dan hampir saja keguguran. "
" Masalahnya tidak hanya itu, dengan menikahkan mereka berdua ternyata tidak menyelesaikan masalah. Ibumu masih saja terus mencintai almarhum ayahmu, hingga Ilham begitu kesal karena pengorbanannya selama ini sia-sia dan tidak pernah dianggap. Cinta ibumu hanya milik ayahmu, Faisal. "
" Lambat laun kamu lahir dan itu suatu anugerah, kamu yang mungil dan cantik begitu mirip dengan ibumu. Dan Ilham sedikit kesal karena matamu itu mirip Faisal. Saat kamu tersenyum itu adalah senyum Faisal dan dia sangat tidak suka karena itu membuat ibumu semakin mengingatnya. "
" Berarti aku anak h*ram?! " Farah menahan getir, pikiran nya kian larut. Impian hidup bersama Hilman kian terkikis, entah pria itu akan menerimanya atau tidak jika tahu jati dirinya.
"Tidak ada yang namanya anak h*ram Farah, bayi yang terlahir di dunia itu suci dan tidak berdosa. Mereka tidak bisa memilih dari mana asal mereka, terlahir dari orang tua seperti apa dan keluarga yang bagaimana. Yang berdosa itu orangtua mereka, bukan bayinya." jelas tante Eri, ia merengkuh tubuh Farah agar kuat menghadapi kenyataan. Memang tidak mudah, tapi Eri yakin Farah gadis yang kuat dan pasti bisa menerima kenyataan ini.
" Mencintai anak yang bukan darah dagingnya itu tidak mudah, butuh keikhlasan yang lebih,apalagi melihat ibumu yang selalu tidak bisa move on dan terjebak di masa lalu dari almarhum Faisal. Sungguh sangat menyiksa bagi Ilham. "
" Hingga akhirnya tragedi kebakaran itu terjadi, Ilham semakin gila. Cintanya tak berbalas hingga ajal ibumu menjemput. Dan dia meminta kamu untuk tetap bersamanya sebagai anak kandung. "
" Perlu kamu tahu Farah, hampir delapan tahun Ilham menduda itu karena dia tidak ingin memiliki wanita lain selain ibumu. "jelas Eri lagi," Mungkin dia tidak terlalu peduli denganmu tapi sebenarnya dia melindungimu. "
Farah begitu berdesir saat mendengar kesetiaan dari ayah sambungnya.
" Kau tahu, saat kamu sakit demam berdarah dan itu memerlukan donor darah secara cepat, ia tidak bisa memberikannya karena darah kalian berbeda. Dan saat itu tante sedang pergi bertugas di Lampung, tante tidak bisa datang."
"Wanita ular itu yang telah menyelamatkan kamu hingga akhirnya ayahmu menyetujui untuk menikahinya. Wanita itu masih saja berobsesi dengan Ilham, aneh tapi ini kenyataan."
" Ayahmu yang menjagamu setiap malam saat kamu sakit, tante menyaksikannya sendiri. Dia sayang padamu. Tapi wanita itu selalu mencari cara agar ayahmu membencimu. Dan sekarang lihatlah, dia sengaja membuat kerusuhan sebelum acara pernikahanmu. " geram Eri
" Apa ayah benar-benar mencintaiku karena selama ini aku tidak melihat cinta dimatanya. Yang ada kebencian dan aku terabaikan. Hanya kemarin dia memberiku atm untuk biaya pernikahanku lewat Fadil dan kini kartu itu diambil kembali oleh tante Tami . "
" Benarkah?"
"Iya tan, selama ini aku menutupi keadaan yang sebenarnya dari tante karena tidak ingin tante khawatir."
"Tapi Farah, tante merasa Ilham menyayangimu. Tante tahu sifatnya, dia pendiam dan penyayang tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Anak manis, hidupmu pasti sangat sulit. Maafkan tante karena jauh darimu." sambung Eri lagi, ia memeluk Farah dengan erat dan menciumi pucuk rambutnya.
"Benarkah ayah sayang padaku, tapi kurasa tidak!" gumamnya dalam hati.
" Tante, aku begitu bingung. Apa aku harus bicara jujur pada Hilman. Aku takut dia akan meninggalkanku tan. " ucapnya dengan sendu sembari mengurai pelukan.
" Lebih baik kamu jujur, itu yang terbaik."
"Tapi aku takut keluarganya tidak akan meneruskan pernikahan kami. Mungkin Hilman mau menerima aku apa adanya tapi mommy Nadia dan papi Surya, mereka pasti akan berpikir ulang tan."
"Aku takut pernikahanku gagal." Farah menundukkan kepala
Eri hanya menghembuskan nafas panjangnya, mengingat sang besan orang yang cukup terpandang dan terhormat,mereka selektif dalam memilih pendamping hidup anaknya, apalagi Hilman anak tunggal.
"Apa kamu yakin tidak akan menceritakannya sebelum acara pernikahan?" tanya Eri
"Aku yakin tan, aku harus egois kali ini. Maafkan aku."
"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat. Lihat wajahmu begitu jelek dengan mata bengkak seperti ini. Tante harus pergi karena sebentar lagi tante harus bekerja. Farah, Om akan dipindah tugaskan ke daerah Riau maka dari itu tante akan pindah dalam bulan ini tapi kamu tidak perlu khawatir, Om dan tante akan datang sebelum pernikahanmu. Dan kamu jangan takut masalah biaya pernikahan karena tante akan mentransfer uang untukmu, kamu satu-satunya ponakan tante, bagian dari hidup tante. Tante ingin kamu bahagia. "
"Iya tan, terima kasih banyak hanya tante satu-satunya keluargaku" Farah mencium takzim tangan nya dan setelah Eri berpamitan, Farah menutup pintu kamarnya.
"Kepalaku sakit sekali." Farah memijit kepalanya yang begitu sakit hingga bagian belakang. Sakit sekali rasanya.
Ia membuka tas dan meminum obat tidur pemberian dari Vania yang masih tersimpan di dalam tas nya.
"Aku harus tidur agar sakit kepalaku segera menghilang."
Sejak semalam Farah tidak bisa tidur, ia mengobrol dengan Dini hingga fajar tiba.
__ADS_1
Namun saat Farah berbaring dan menutup mata, ketukan keras dari luar pintu membuat dirinya kesal karena lagi-lagi ia merasa terganggu entah siapa yang menganggu nya kali ini.