
Navysah membawa Farah naik ke lantai tiga, di ruangan kecil tempat untuk bersantai. Disana terlihat meja bar beserta kelengkapannya. Sofa berwarna merah dan sebuah televisi. Beberapa tanaman hias pun melengkapi ruangan itu, karpet yang berwarna nude memberi kesan natural dan terlihat epic.
"Ini tempat anak-anak nongkrong dan bersenda gurau." ucap Navysah. Farah begitu terpukau karena ruangan itu benar-benar terasa nyaman.
"Dulu saat mereka anak-anak, tempat ini ruang bermain mereka makanya alas karpet selalu terbentang lebar agar siapapun yang ingin bersantai akan rebahan di karpet ini dan dengan sendirinya mereka akan tertidur karena ruangan ini memang di buat untuk kenyamanan mereka.
"Salah satunya Keken, ia sangat suka tempat ini. Tempat dimana dia berkeluh kesah dan tempat persembunyian dia disaat mommy Imelda marah padanya." Navysah membuka pintu balkon hingga terlihat hamparan kebun dan tanaman yang Navysah rawat. Begitu sejuk dan menenangkan.
Farah menghirup udara kuat-kuat dan menghembuskannya dengan kasar seolah beban beratnya sedikit terangkat.
" Keken lebih sering tinggal disini daripada dirumahnya maka dari itu walaupun Keken bukan anak kandung tante, tetapi dia tetap bagian dari rumah ini."
"Keken tidak suka menyendiri, dia lebih suka tempat ramai dan banyak orang. Ia tidak suka banyak aturan dan bertindak semaunya sendiri. Tante harap kamu bisa membimbingnya."
" Farah, tante tidak ingin ikut campur dengan rumah tanggamu. Hanya saja tante minta kamu bersabar, Keken butuh penyesuaian denganmu. Ia terbiasa hidup enak dan ini tidak mudah baginya. Demi kamu dia rela berkorban dan keluar dari mansion nya. Tante minta tolonglah berbaik hati padanya walaupun saat ini kamu tidak mencintainya. "
Farah hanya menundukkan kepala.
" Bukankah ada perjanjian Keken dan mommy, jika dia menghamili gadis maka Keken wajib keluar dari rumahnya. Jadi bukan karena aku tan, Keken keluar mansion. "
" Tante tahu, maksud tante. Keken keluar dari mansion karena dia benar-benar mencintaimu Far." Navysah berkata sembari mengulas senyum." Dia benar-benar mencintaimu. "
" Benarkah. " Farah seolah tidak percaya karena selama ini Keken memang tidak pernah mengucapkan kata cinta padanya dan menurut pemikirannya, Keken menikahinya karena harus bertanggung jawab atas bayi ini bukan karena mencintai dirinya.
" Apa kamu tidak bisa melihat cinta Keken yang begitu besar untukmu?" tanyanya
Farah hanya menundukkan kepala. Tak bisa menjawab.
"Tante melihat Keken yang sekarang lebih bertanggung jawab dan lebih dewasa, tidak seperti dulu yang hanya bersenang-senang."
" Mungkin karena Keken sekarang sudah tidak memiliki banyak uang jadi dia tidak bisa foya-foya tan." Farah masih kekeh dengan pendapatnya, karena Keken memang sekarang sudah dimiskinkan oleh mommynya bukan berubah karena dia.
__ADS_1
" Kamu salah Far, jika Keken mau bisa saja dia meminta uang pada tante atau pada Fafa untuk bersenang-senang tetapi tidak dia lakukan. Dan kamu pikir mommy Imelda akan diam saja saat Keken keluar dari mansion dan hidup sederhana? Keken anak tunggal dan pewaris dari keluarga Feriansyah, mommy Imelda tidak akan sembarangan menendang anaknya keluar rumah, kau tahu kenapa? Karena mommy Imelda percaya kamu bisa mendampingi Keken hingga akhir. "
Farah terlihat sendu bahkan matanya berkaca-kaca karena mengingat ucapan mommy Imelda dulu.
" Tolong jaga Keken. "
" Tante yakin kamu akan bersama Keken selamanya. "
" Keken biasa makan rumahan, tolong selalu masak untuknya. "
" Pernikahan ini memang tidak mudah untukmu dan mungkin saat ini hatimu masih milik pria itu, tidak masalah jalani saja karena tante yakin dengan seiring berjalannya waktu kalian akan saling mencintai. "
" Tante. " lirih Farah, kini airmatanya sudah tak terbendung. Ia menangis karena disatu sisi merasa bersalah karena belum bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti yang lainnya dan disatu sisi bayang - bayang Hilman masih ada di hatinya.
" Menikah harus ada dua orang yang saling mencintai maka akan langgeng selamanya tapi jika hanya satu orang saja yang mencintai dan kamu ingin mengakhiri dalam waktu satu tahun maka lakukanlah jika itu keinginanmu."
"Tante, a... aku..." Farah tidak mampu berkata-kata lagi, keinginannya untuk mengakhiri pernikahan dengan Keken setelah bayinya lahir kini diketahui keluarga besar Keken.
"Tante...huhuhu..."Farah memeluk Navysah dan menangis, entah apa yang dipikirannya sekarang. Bimbang.
" Sudah, jangan menangis. Tante berkata seperti ini agar kamu tahu bagaimana perasaan Keken dan kedepannya kamu tidak salah memilih keputusan. Ayo kita keluar, tante juga ada acara sebentar lagi dan pasti Om Davian sudah menunggu."
" Tante, maafkan aku dan terima kasih karena sudah menerimaku di keluarga ini " Farah menundukkan kepala, keluarga Keken benar-benar baik dan tidak memandang rendah dirinya yang berasal dari keluarga sederhana.
" Tidak perlu meminta maaf. Dan satu hal lagi,kamu istrinya Keken tidak sepantasnya menundukkan kepala. Tegakkan badanmu dan lihat, semuanya sayang kamu dan bayi ini." Navysah menepuk punggung Farah kemudian mengelus perut gadis itu dengan lembut.
"Ayo kita keluar." ajak Navysah
Farah menganggukan kepala dan beriringan pergi dari ruangan itu. Dan saat mereka keluar, Kinan meminta Farah untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Mba Kinan, ini beneran aku boleh masuk kamar?" Farah merasa tidak enak hati memasuki kamar pribadi Kinan.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, aku tidak menyimpan berlian disini. Kalau pun ada yang uang yang hilang pasti si Inka yang suka ngambilin recehan."
"Eh, masa non Inka suka recehan, itu tidak mungkin." Farah tidak percaya.
"Kamu belum tahu saja sifat dia, si Inka suka jajanan abang - abang yang lewat depan rumah, saat dia tidak punya receh, dia pasti ke kamar ini untuk mengambilnya dan akan meneleponku, meminta izin minta uang jajan yang ada diatas nakas, hihihi..." Kinan terkekeh saat mengingat adik iparnya yang suka minta uang receh untuk beli jajanan.
" Kenapa tidak dikunci mba? " Farah begitu heran kenapa di rumah sebesar ini seolah tidak memiliki pengawasan, dan orang bisa keluar masuk dengan mudahnya.
" Ini kamar sementara, karena rumah mba ada di blok belakang. Dan dirumah ini hanya ada cctv, sejak dulu tidak ada yang kehilangan barang, semua pekerjaan patuh dengan aturan dan tidak macam - macam. Mereka tidak akan berani mengambil barang yang bukan hak nya. "
" Tuh kan jadi ngobrol, padahal mba pengin beri kamu hadiah. " Kinan membuka lemarinya dan memberikan sebuah amplop serta paperbag. " Ini hadiah dari kami. "
" Bukalah... "
Farah membuka amplop tipis itu, terlihat seperti sebuah surat namun saat membacanya ia mulai tercengang.
" Se... seratus juta rupiah.. "Farah menatap heran sebuah lembaran cek bernilai ratusan juta, ia melirik kearah Kinan.
" Itu hadiah pernikahan dari kami, saat itu belum sempat kami berikan. "
Lalu Farah membuka paperbag dan melihat beberapa lingery dengan warna yang berbeda.
" Ini pakaian dinas malam, mba yakin Keken pasti akan suka." ia mengerlingkan matanya
Farah hanya bisa tersenyum kecut, bagaimana mungkin ia memakai pakaian dinas sedangkan dia belum ada perasaan cinta dengan Keken.
" Terima kasih mba." ucapnya,
"Iya, jangan lupa dipakai. Pelan-pelan jangan sampai melukai calon anakmu."
Dan Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya, ingin rasanya dia menolak baju dinas itu namun tidak enak hati karena Kinan sudah memberinya banyak uang.
__ADS_1