
Inha menuju dapur dengan wajah ditekuk. Saat dirinya memejamkan mata ingin tidur siang terdengar ketukan keras dari luar pintu yang membuat dirinya tersadar kembali. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Hanin si kakak ipar yang cerewet dan rese. Dengan dalih calon bayinya menyidam kue buatan Farah, Hanin memaksa Inha untuk turun ke dapur melihat cara kerja Farah dan hasil karyanya.
Inha tidak bisa menolak permintaan kakak iparnya karena ia pernah berjanji akan menuruti permintaan Hanin yang sedang mengandung.
Dulu ia pernah menolak permintaan Hanin yang nyidam strawberry cake buatan nya. Dan pada saat itu si ibu hamil meminta disaat yang tidak tepat, Inha pulang dengan wajah kesal dan perasaan yang sedang kacau karena seorang pria hingga akhirnya tanpa sengaja dia berkata kasar pada Hanin. Mereka bertengkar hingga akhirnya mama Navysah turun tangan dan sudah pasti Fafa meminta adiknya untuk mengalah dan meminta maaf.
"Demi mas." ucap Fafa saat itu, " Cari aman saja yang penting Hanin senang, mas sudah pusing dengan pekerjaan kantor."
Hingga akhirnya Inha meminta maaf dan memang saat itu dia memang bersalah karena sudah membentak kakak iparnya.
Dan Fafa sudah pasti memberi imbalan untuk adiknya agar menuruti semua keinginan istrinya. Fafa begitu luar biasa, terlalu sayang dan cinta dengan Hanin. Dan Inha masih ingat saat itu, cake strawberry buatannya tersaji begitu indah dengan beberapa irisan buah strawberry segar diatasnya. Namun satu kalimat yang bikin dia kesal, saat Hanin mengatakan bahwa Cake strawberry buatannya asam seperti wajah Inha. Bagaimana tidak asam, Hanin hanya makan irisan buah strawberry saja tanpa memakan cake nya. Bikin kesal karena usahanya sia-sia.
" Farah pasti capek, biar aku saja yang bikin tapi beneran dimakan ya, jangan cuma di cicipin dikit terus dibuang. Aku tidak suka ada makanan mubazir." Inha berkata dengan tegas sembari melirik ibu hamil yang kini mengunyah cemilan kacang kulit dan beberapa toples biskuit yang tersaji di depannya. Hanin sengaja duduk dan ingin melihat proses pembuatan cake sembari makan cemilan.
" Aku tidak capek non, aku malah senang bisa memasak di dapur yang sebagus dan sebesar ini." Farah begitu terpukau dengan keindahan dapur milik keluarga Navysah, dapur dengan nuansa warna gold kombinasi putih. Dapur yang bersih dan sangat besar baginya.
" Iya, biar Farah yang memasak. Inha duduk disini saja sama aku. " Hanin masih dalam mode cemberut sembari menyeret tangan adik iparnya agar duduk.
"Kalau mba Hanin lagi nggak hamil, gue pasti udah lari dari sini,ogah gue nungguin orang bikin cake buang-buang waktu ku saja." gumam Inha dalam hati, wajahnya ditekuk dengan jelas.
"Senyum dulu Ha, biar itu muka nggak kaya kuburan." Hanin mengatakan tanpa melirik adik iparnya. Namun sesaat kemudian ia terkekeh.
Dan mau tak mau Inha tersenyum dengan terpaksa,memperlihatkan baris giginya yang rapi.
"Nah, gitu kan adem lihatnya. Kalau yang tadi angker." Hanin terkekeh kembali.
"Oh ya ampun, kenapa aku punya ipar seperti mba Hanin, sih!" gumam Inha dalam hati.
"Lagi ngapain ini?" Fafa yang telah selesai rapat kini mencium kening istrinya seraya mengambil kacang di toples milik istrinya, namun sebuah tangan memukulnya dengan pelan.
"Kebiasaan, suka ambil jatah cemilanku." Hanin segera mendekap semua toples makanannya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Bagi dikit yang." pinta Fafa
"Nggak, ini jatahku dan si kembar. Aa beli saja sendiri."
Fafa hanya tersenyum simpul melihat istrinya yang sedikit rakus dengan makanan.
"Kamu sedang bikin kue?" tanya Fafa pada Farah
"Iya, ini aku buat bolu sederhana permintaan dari mba Hanin. " ucap Farah sembari menata dan menimbang tepung dan gula.
Keken, Khaffi, Antoni masuk ke dalam dapur. Antoni hanya sekilas melirik Farah dan mengambil air minum di kulkas. Ia sudah terbiasa datang dan pergi di rumah tante Navysah jadi seluk beluk bagian dari rumah Navysah sudah ia pahami.
Farah merasa canggung karena sesekali Antoni meliriknya tanpa ekspresi, wajahnya yang datar tanpa senyuman hingga membuat Farah gugup,bukan karena ada perasaan padanya namun Farah gugup dan takut jika Antoni melaporkan dirinya pada Hilman, calon suaminya.
Farah menghembus nafas panjangnya sebelum mulai membuat kue. "Bismillah."
"Pertama - tama bahan nya tepung terigu pakai yang segitoga warna biru bukan warna merah ya, kalau segitiga merah itu celan* d*lam superman, takut ketuker." kelakarnya sembari memperlihatkan produk tepung khusus kue.
"Wah ngelawak ini, gue suka nih." Khaffi dengan cepat duduk di samping Hanin dan melihat Farah memasak, sedangkan Keken mengekori Khaffi duduk di sampingnya juga. Antoni masih berdiri di samping kulkas untuk melihat eksperimen Farah.
"Lalu gula, yang manis seperti aku ya." Farah menggulum senyum
"Iya, kamu memang manis si gadis bunuh diri, manis banget malah." goda Khaffi dan ia mendapat ijakan kaki dari Keken yang kesal
__ADS_1
"Cih! Nggak usah cemburu, dia bukan milikmu." bisik Khaffi dengan tersenyum sinis.
Keken hanya diam, Khaffi memang benar Farah bukan miliknya.
"Tolonglah jangan panggil aku seperti itu, panggil aku Farah ya Fi." pintanya
"Oke deh, aku panggil kamu Farah. Khaffi dan Farah cocok dah, siapa tahu jodoh di masa yang akan datang." Khaffi semakin membuat panas hati Keken. Dengan raut wajah yang tajam Keken meliriknya namun Khaffi selalu pura-pura tidak tahu. Khaffi memang selalu menyebalkan.
"Berisik lu! Gombalan recehmu tidak mempan, kamu pikir Farah seperti gadis - gadismu yang bisa kamu rayu." ketus Inha, ia begitu kesal karena di dapur terlalu banyak orang dan berisik, Inha ingin bangkit namun tangannya ditahan Hanin.
"Nggak boleh pergi, aku mau ditemenin kamu Inha." pinta Hanin dengan sedikit memaksa.
Inha hanya pasrah dan duduk kembali. Kakinya menginjak kaki Fafa agar mau melepaskan dirinya dari permintaan Hanin namun kakaknya pura-pura bodoh dan tidak tahu.
"Ya ampun, kenapa suami istri ini selalu merepotkanku." gumam Inha dalam hati. Ia masih melirik kakak dan iparnya.
"Lalu ada telor ayam." suara Farah kembali terdengar. " Ingat ya telor ayam negeri bukan ayam kampus." ia kembali berkelakar
"Ah, daripada telor ayam negeri mendingan telor ayam Kenzi." celetuk Keken, " Lebih huhhhhhaahhh mantap..." ia mengulum tersenyum
Khaffi dan Fafa tergelak tawa, ia tahu arah pembicaraan Keken kemana.
"Gendeng!" Inha mendengus kesal
"Bener tuh enakan telor Kenzi, aku boleh nyicipin nggak?" Hanin memancing keributan dengan suaminya.
" Memangnya masih kurang diriku hingga kamu mau si Kenzi! Lihat dalam sekali tembak langsung dapat dua." sahut Fafa dengan kesal
"Bercanda A, canda!" Hanin memeluk suaminya dari samping.
"Tunggu, ini apaan sih! Kok ujung-ujungnya telor si Kenzi. Emangnya dia bisa bertelor? " Dengan polosnya Farah bertanya dengan wajah datarnya.
"Bukan nya dia__" Farah melirik bagian bawah Keken.
Satu detik, dua detik, semuanya terdiam. Namun hitungan ketiga semua orang tertawa terbahak kecuali Farah dan Antoni.
Inha yang tidak terbiasa tertawa keras kini hanya bisa memijit wajahnya yang terasa kram karena tertawa kencang.
"Sekarang gue tahu Ken, kenapa lu bisa su__." Fafa tidak melanjutkan ucapannya setelah Keken melotot memberi kode agar diam karena ada Antoni.
" Farah nikah sama aku yuk, agar kamu tahu mana telor yang asli dan mana telor yang palsu." kelakar Khaffi, ia kembali mendapat ijakan kaki dari Keken dengan sangat keras.
" Ayo lanjutkan kembali." Farah menundukan kepala, otaknya mulai berpikir, ucapan Khaffi mulai menjurus kearah yang me sum. Ini gara-gara si telor.
" Margarin yang sudah dilemesin alias yang sudah dicairkan." ucap Farah lagi
"Ada pengembang,ada vanili seikhlasnya, su su bubuk putih."
"Adanya su su cap nona." kelakar Keken sembari melirik Inha, " Eh, tapi percuma saja, yang ini nih produksi skala kecil. Kecil banget malah, nggak ada tongolan nya sama sekali."
Inha mendelik tajam kearah Keken sembari menjambak rambutnya. "Biar begini masih original, emangnya cewek - cewek mas Keken yang, ah sudahlah." Inha malas melanjutkan ucapan nya.
"Ayo kita lanjut, sudah jangan bertengkar." Farah
" Caranya, masukin gula, telor, pengembang jadi satu biar akur di mixer sampai putih berjejak. " Farah menggunakan alat mixer untuk mencampurkan semua adonan hingga mengembang.
__ADS_1
" Masukan tepung terigu dan su su bubuk. Hempaskan, hus hus sana. "Farah bersuara dengan mendesah manja.
" Yah, stres juga dia. " Fafa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Farah. Ia melirik istrinya yang begitu antusias dan senang melihat Farah mendemokan masak dengan gaya nyeleneh.
" Udah ngembang gini kan. Siap masukan ke loyang. Jangan lupa sebelum itu bedakin dulu loyangnya sama tepung biar cantik lalu masukan margarin seperti ini."
"Kalau sudah, panaskan oven di suhu seratus delapan puluh derajat jangan sampai kepanasan bisa-bisa minum paracetamol ini oven . Di oven selama empat puluh menit ya."
Dan terdengar gelak tawa kembali dari mereka.
"Itu oven bukan manusia, Farah." Inha begitu gemas dengan candaan receh Farah. Namun ia suka karena lucu dan menghibur.
" Hihihi... bercanda non. Hidup jangan terlalu kaku, kita butuh hiburan agar tetap waras menjalani hidup." Farah terkekeh
Setelah empat puluh menit. Farah mengeluarkan kue itu dari dalam oven. Terlihat mengembang sempurna dan sangat menarik. "Tara...., jadi deh."
"Wow... kue nya habis perawatan bisa glowing begitu." ucap Khaffi saat pertama kali melihat kue keluar dari oven.
"Aku mau.. aku mau... aku mau." Hanin begitu tidak sabar ingin mencicipi kue buatan Farah.
" Tunggu sebentar, aku iris dulu biar Hanin bisa makan dengan nyaman."
Farah menyodorkan kue buatannya setelah diiris menjadi beberapa bagian.
"Enak."
"Iya enak." ucap lainnya
"Bagaimana non Inha, enak tidak?" Farah ingin tahu jawaban dari Inha yang mengerti dengan dunia kuliner.
"Ini enak." tanpa babibu, Inha bangkit dari kursinya sembari menyomot tiga potong kue lagi.
"Inha, itu kue milikku !"Hanin begitu kesal saat makanan nya diambil adik iparnya.
" Itu masih banyak, jangan pelit! "ketusnya sembari berlari agar Hanin tidak merengek dan meminta kue nya dikembalikan.
" Aa..., itu kue aku" Hanin merengek kearah suaminya.
" Nanti bikin lagi, Farah masih ada disini jangan nangis ya. " Fafa yang tahu Hanin akan menangis dengan cepat membujuknya.
" Ini lagi comat - comot seenaknya." Hanin memukul tangan Khaffi dan Keken yang mengambil cake kesukaannya. Menarik piring kue agar tidak diambil dua pria itu. .
" Enak Nin, bagi ngapa Nin." pinta Khaffi
" Kagak!! " Hanin mendekap kue beserta piringnya dan pergi dari dapur. Mengamankan makanan nya.
"Dih, si rakus medit amat!" umpat Khaffi
"Woi! Dia bini gue, berani lu mengejeknya." Fafa mendelik tidak terima.
Khaffi langsung berlari menghindari amukan Fafa karena pria itu sangat sensitif jika menyangkut Hanin.
Keken menatap Farah tanpa berkedip sekali pun. Sedangkan Farah tidak tahu kalau Keken sedang mengamatinya karena saat ini Farah sedang membersihkan dapur bekas dia memasak. Sisa tepung yang berceceran dengan cepat ia bersihkan agar ia bisa cepat - cepat pulang ke rumah.
Antoni yang sedang melihat Keken kini hanya bisa berdehem hingga akhirnya Keken tahu bahwa sejak tadi ada dia yang mengamati gerak - geriknya. Ia ketahuan.
__ADS_1
"Kak Antoni, bisa kita bicara?" pinta Farah setelah membersihkan dapur.