Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 153


__ADS_3

Farah menangis terisak bahkan dia tidak mau melihat wajah Keken saat pria itu merayunya. Sepanjang perjalanan ia hanya menatap kearah luar kaca mobil tanpa mau mendengarkan ucapan Keken. Hari ini hatinya begitu sakit setelah seharian bertemu dengan Wina.


Wanita itu dengan sengaja menempel pada Keken layaknya suami sendiri, sedangkan dia hanya bisa diam melihat semuanya. Dan sekarang yang membuat Farah tidak habis pikir, Keken tidak pernah mengucapkan kata maaf tentang kejadian itu. Menyebalkan.


" Kamu lapar lagi, kok marah begitu?"


"Nanti aku beli makanan yang banyak agar kamu kenyang."


" Kenapa menangis begitu, apa aku punya salah? "


Farah menatapnya tajam karena Keken tidak berhenti bicara. Dan lagi, lagi ia hanya menjanjikan dirinya tentang makanan bukan permintaan maafnya.


" Apa aku begitu rakus hingga kamu menawarkan aku makanan terus!!" sentak Farah dengan nada tinggi dan pengawal itu sedikit terkejut karena suara Farah begitu keras . Ia tidak pernah mendengar tuan Keken disentak oleh kedua orangtua seperti itu.


" Pelankan suaramu. "pinta Keken, ia merasa sedikit malu dengan pengawalnya.


" Tega kamu ya buat aku seperti ini, mesra - mesraan dengan wanita lain di depan mataku. "Farah menahan nafas nya yang naik turun karena kesal.


" Memang aku salah apa? Wina hanya ingin bersamaku untuk yang terakhir kali toh dia tidak macam-macam denganku. Apa kamu cemburu? "Keken bicara dengan mudahnya hingga wajah Farah kian memerah.


" Mana ada cemburu seperti itu! Aku hanya tidak suka karena dia bersikap berlebihan denganmu. "


" Kamu bilang salah apa? kamu tidak merasa salah? Keken, aku istrimu seharusnya kamu jaga perasaanku. Kamu bisa menolak saat dia mencium dan menempel padamu, tapi sepertinya kamu menikmati sentuhan nya! "


Keken tergelak tawa." Farah, kau lucu sekali.Kau bilang harus menjaga perasaanku tapi kamu juga menikmati saat disentuh Hilman saat itu. Aku melihat semuanya tapi kau juga masih saja membela pria itu. " jawab Keken dengan santai.


Deg, Hati Farah merasa tersindir dengan perkataan Keken. Memang benar, ia pernah bertemu Hilman dan sempat kontak fisik dengan mantannya itu.


"Tapi aku tidak semesra dirimu dan Wina." protesnya


"Ya mana ku tahu, Wina yang sentuh masa aku nolak." Dan Keken kembali mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Emang gitu laki-laki kalau sudah ketemu mantan maunya cari kesempatan!"


"Iya sama sepertimu, pria itu juga cari kesempatan denganmu." ucap Keken tak mau kalah.


"Bang Hilman pria baik, tidak sepertimu!"


"Oh jadi aku pria buruk!" Keken sedikit terpancing emosi karena Farah selalu memuji mantan nya dan membandingkan dirinya dengan Hilman.


"Iya! Kamu buruk sekali!" Farah tidak peduli saat ini perkataan nya melukai hati Keken karena ia juga sedang emosi. Sang pengawal hanya bisa menghela nafas panjangnya karena di mobil begitu berisik dengan pertengkaran mereka dan saling sahut menyahut.


"Drt... Drt..." Keken lebih memilih membaca pesan di ponselnya daripada bertengkar dengan Farah.


"Lihat kan, ponselnya lebih penting daripada aku." sindir Farah lagi. Keken masih saja sibuk dengan benda pipih itu dan malah membalas pesan entah dari siapa.


"Keken lihat aku!" teriak Farah dengan keras, ia merasa tidak dipedulikan oleh suaminya.


"Apaan sih, Far! Berisik!" Ia masih saja fokus membalas pesan di ponselnya.

__ADS_1


"Keken!!" teriak Farah lagi. Dan kali ini Keken masukkan ponselnya di saku celana.


"Kamu pulanglah dengan pengawal, aku ada keperluan."


"Keperluan apa? Ketemuan sama cewek lainnya?" Farah terus saja berpikiran negatif tentang suaminya karena ia benar-benar penasaran Keken akan pergi kemana.


"Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar. Pak, tolong berhenti di perempatan jalan depan dan nanti antarkan istriku pulang ke rumah." pintanya


"Siap tuan!"


"Kamu mau kemana?" tanya Farah


"Aku pergi sebentar nanti juga pulang." Ia tidak ingin memberitahukan kemana ia pergi karena sudah pasti Farah akan ikut.


"Mau kemana?" desaknya lagi


"Sudahlah, jangan banyak bicara aku sedang pusing. Nanti juga aku akan pulang."


"Tidak usah pulang sekalian, malas aku lihat wajahmu!" ketus Farah, kesal karena suaminya tidak memberitahukan akan pergi kemana.


"Oh jadi kamu mau aku tidak pulang, yasudah aku tidak akan pulang hari ini."


Dan mobil itu berhenti setelah perempatan jalan sesuai permintaan Keken.


"Braaakk!!!!" Ia membanting pintu mobil dengan keras karena kesal dengan sikap Farah. Dan gadis itu cukup terkejut dengan suara pintu mobil yang memekakan telinganya.


Keken pergi menggunakan taxi, entah kemana. Farah pun hanya bisa menangis setelah melihat Keken pergi.


"Keken benar-benar menjengkelkan, dia membuat aku kesal pak, huhuhu..." Farah menangis kembali, Keken pergi lagi bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh ke belakang. Farah kecewa.


* **


Rumah sakit Mitra Kita,


Keken berjalan dengan cepat dan masuk ke dalam sebuah kamar pasien. Namun ia menatap jengah saat melihat seseorang yang ia benci.


Ia datang karena Antoni masuk rumah sakit, pria itu tergeletak lemah dan tidak sadarkan diri di kantor.


"Tuan Antoni kelelahan,dia demam dan tekanan darahnya terlalu rendah." ucap Dokter saat memeriksanya.


Namun matanya menatap Fafa dan sesekali melirik Hilman yang kini sedang menjaga Antoni. Keken tidak memberitahukan pada Farah karena sudah pasti wanita itu akan ikut dan akan bertemu dengan Hilman, Keken tidak mau itu terjadi.


"Si kulkas bisa sakit juga." sindirnya, "Aku kira kamu tidak bisa sakit." Keken duduk diseberang namun matanya melirik mantan Farah dengan sinis.


Antoni hanya bisa diam, tidak menanggapi ucapan Keken karena tubuhnya benar-benar lemas.


" Aku minta kamu kesini nanti, bukan datang sekarang." dengus Fafa, ia tidak ingin Keken berkelahi dengan Hilman.


Saat siang tadi Hilman datang ke tempat kerja Antoni karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan namun nyatanya Antoni pingsan hingga akhirnya dia membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Aura begitu dingin hingga kamar itu terasa mengerikan. Keken dan Hilman saling menatap tajam tanpa ada seorang pun yang menyapa terlebih dahulu.


"Kita pergi dulu An, aku sudah hubungi ibumu untuk kesini" ucap Fafa, ia menarik tangan Keken agar keluar ruangan dan mengikutinya namun suara Hilman menghentikan nya.


"Kita perlu bicara diluar" Hilman menatap Keken dengan sengit.


"Kau pikir aku takut!" Keken menantang pria itu dan mengikutinya,sedangkan Fafa menahan tangan Keken namun pria itu melepaskan nya, ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan mantan Farah.


Fafa begitu cemas jika mereka baku hantam kembali, maka dari itu ia mengikutinya sebagai penengah.


Mereka bertiga berada di area belakang rumah sakit karena tempat itu tidak terlalu banyak orang berlalu-lalang, Mereka duduk di bangku tak jauh dari pohon mangga.


Hilman masih saja diliputi amarah saat berhadapan dengan Keken, karena pria itu merebut wanitanya dan membuatnya menangis. Ia masih belum terima.


"Jika kau ingin membahas Farah lebih baik lupakan saja, dia sudah bahagia bersamaku." Keken membuka obrolan karena Hilman tidak kunjung membuka mulutnya saat berhadapan dengan nya.


"Cih! Memangnya kamu yakin dia bahagia denganmu, aku rasa tidak!" Hilman menunjukkan pesan dari Farah hari ini. Wanita itu merasa sakit hati dan kecewa atas sikap Keken dan Wina.


Keken mengeraskan rahangnya, ia tidak menyangka Farah akan menceritakan kejadian ini pada Hilman.


" Ini rumah tanggaku, bukan rumah tanggamu dan kurasa kamu jangan melebihi batas." ancam Keken


"Kalau aku tidak mau bagaimana?!" Hilman melirik tajam pada Keken, ia tidak akan menyerah memperjuangkan cintanya pada Farah.


" Kau tidak tahu, dengan Farah bercerita seperti itu dan kesal dengan kami maka sudah tentu istriku cemburu, kau tahu artinya apa? Farah mulai mencintaiku,kau dengar itu." Keken berkata dengan penuh percaya diri.


"Kau memang sudah tidak waras! jangan berasumsi sendiri dan pemikiranmu itu terlalu jauh. Aku yakin Farah masih mencintaiku karena dengan mudah dia menceritakan kejadian hari ini padaku." Hilman tak kalah sengit mematahkan kepercayaan diri Keken terhadap istrinya. Pria itu benar-benar menyebalkan.


Keken kembali insecure, dia tidak tahu Farah mencintainya atau tidak karena selama ini wanita itu bersikap biasa saja.


" Jika Farah benar-benar mencintaiku, apa kau akan mundur dan tidak akan menganggu hubungan kami lagi?"


Hilman tergelak tawa, ia benar-benar tersenyum mengejek pada Keken.


"Kamu itu aneh, kamu yang menganggu hubunganku dan Farah tetapi seolah-olah aku yang menjadi penganggu nya."


" Sampai kapanpun aku akan mencintai Farah, dia milikku." sambung Hilman lagi.


" Kamu yang tidak waras, belum bisa move on dari istriku." cibir Keken


" Oke, jika Farah mencintaimu maka aku akan mundur tapi jika dia memilihku maka kamu yang harus mundur, ceraikan dia! "


" Tidak akan ada perceraian diantara kam!" Keken menatap tajam dan seolah ingin menerkam pria yang kini disampingnya. Ia begitu geram karena Hilman masih saja menginginkan istrinya.


Keken...!!" teriak Fafa, ia melihat sepupunya ingin memukul Hilman, terlihat dari tatapan sengit dan kepalan tangan pria itu.


" Hentikan, Ken! Jangan bikin ulah,ingat Farah sedang mengandung anakmu! "ucap Fafa lagi, ia menghampiri mereka agar tidak baku hantam.


" Tapi Fa, pria ini begitu menyebalkan. Aku ingin menghajarnya. " Keken kian tersulit emosi saat melihat senyuman Hilman yang seolah mengejeknya.

__ADS_1


" Ayo hajar aku lagi dan masukan ke dalam penjara. Dan kau harus tahu kenapa dulu Farah mau menikah denganmu, karena dia tidak ingin aku masuk penjara. Dia begitu mencintaiku hingga akhirnya mengorbankan diri untuk menikah denganmu. Kau dengar itu!" Hilman berteriak dengan penuh emosi.


" Dasar br*ngsek! " Keken menyerang tubuh Hilman, ia ingin memukulnya lagi namun Fafa menahan tubuhnya agar tidak terjadi perkelahian. Fafa pun sempat berteriak minta tolong pada beberapa pria agar membawa Hilman pergi dari tempat itu.


__ADS_2