
Keesokan harinya,
Feri mengatakan bahwa kasus pembunuhan berencana terhadap anaknya kini akan disidangkan dan ia sepenuhnya mempercayakan pada pengacara. Semua tersangka sudah ditangkap termasuk wanita dan pengawas Rafting itu. Dan Club milik Mahendra pun kini disegel polisi karena tidak hanya menjual minuman keras namun terindikasi perjudian dan transaksi narkoba. Dan semua akan diusut tuntas oleh polisi.
Feri yakin semuanya akan mendapatkan hukuman setimpal. Ia sangat berharap pria itu diganjar hukuman seumur hidup bahkan kalau bisa hukuman mati.
"Kamu pulanglah, kami yang akan menjaga Keken." ucap Imelda. Kondisi nya mulai membaik setelah istirahat di rumah selama dua hari. Wanita paruh baya itu terlihat segar dan bersemangat lagi untuk menjaga anaknya.
"Baik mba, aku pulang dulu, besok aku kesini lagi."
Imelda menganggukan kepala. Ia memang bisa saja menyuruh asisten rumah tangga untuk menjaga Keken namun tidak ia lakukan karena dengan kejadian ini, ia ingin merawat anaknya lagi.
"Mba, sepertinya Farah sudah tahu." Navysah mendapatkan kabar dari Inka bahwa Farah meminjam ponsel untuk meneleponnya namun wanita hamil itu juga membuka sosial media dan menemukan berita tentang Keken yang telah temukan.
"Sudah saatnya dia diberitahu, lusa ajak dia kemari."
"Baik mba.."
Dan benar saja, baru saja Navysah menginjakkan kakinya di rumah dengan cepat Farah turun dari kamarnya dan mulai bertanya tentang keadaan Keken.
"Tante, Keken dimana tan? Bagaimana keadaan dia? Aku kangen ." Mata Farah mulai berkabut khawatir tentang suaminya
"Keken di rumah sakit, dia koma. Lusa kita kesana ya."
"Keken...." Tubuh Farah hampir limbung saat mendengar suaminya koma. Ia begitu lemas.
"Farah tenanglah, kamu harus kuat." Navysah membawa gadis itu untuk duduk dan memberinya segelas air minum.
"A.. aku ingin bertemu Keken tan, huhuhu..., aku ingin kesana dan melihatnya."
"Lusa, jangan sekarang karena Keken harus beristirahat." ucap Navysah, " Tante janji lusa kita lihat Keken."
Mau tak mau Farah harus menurut walaupun dalam hatinya ingin sekali melihat Keken dengan cepat.
Dan benar saja Navysah mengajak Farah untuk menemui Keken hari ini. Ia meminta Farah untuk tenang karena ia sedang hamil.
Namun saat ia akan membuka pintu, ia mendengar mommy nya bicara dengan Keken.
"Mommy sayang Keken, cepatlah bangun Nak!"
" Kau ingat, dulu kau sangat malas untuk mandi. Dan setelah mandi kau selalu berlari dan tidak memakai handuk hingga lantai menjadi basah dan mommy marah karena kamu begitu keras kepala tidak bisa di nasehati secara lembut. "
Mommy selalu sibuk saat kau kecil, maafkan mommy mu ini yang punya banyak kekurangan. Sebagai orangtua mommy lalai hingga kamu biasa hidup dengan tante Navysah. Maafkan mommy Nak."
"Bangunlah Nak, mommy akan menerima hukuman mu itu."
"Andai saja mommy tidak menyuruhmu pergi ke luar kota pasti kejadian ini tidak akan terjadi."
"Farah dan calon anakmu sudah menunggumu, bangunlah sayang." Imelda selalu mengajak ngobrol Keken walaupun pria itu tidak meresponnya.
"Kau tahu Farah selalu memberinya makanan yang baik, mommy yakin anakmu akan sehat. Apa kau tidak ingin melihat putramu?"
"Kau tahu Inha selalu menangis saat datang kesini, hatinya begitu hancur saat melihatmu . Kau tahu kan Inha jarang sekali menangis tapi saat melihatmu seperti ini dia begitu cengeng dan lusa dia akan kesini lagi untuk melihatmu."
Navysah meminta Farah masuk sedangkan dia berada di luar, tidak sanggup mendengar suara Imelda yang menghiba meminta pengampunan anaknya.
" Mommy.... "sapa Farah. Ia mendekat kearah Keken. Melihat wajah suaminya yang pucat dan tak bergerak. Ia memeluk sembari mencium pipi Keken.
__ADS_1
" Keken..... A.. aku merindukanmu... " bahkan suaranya tercekat di tenggorokan,begitu sakit melihat suaminya hanya diam tak bergerak.
"Keken... bangun sayang..." Farah menciumi tangan Keken secara bertubi-tubi, bahkan tubuhnya terasa lemas tidak bertenaga dan dengan sigap Imelda meminta Farah untuk duduk di kursi.
"Sabar sayang... mommy yakin Keken akan bangun."
" Berdoalah agar Keken segera sadar dan kita bisa berkumpul bersama."
"Iya mom, Farah tidak kuat melihat Keken seperti ini."
"Kamu harus kuat, Keken sedang berjuang dari sakitnya dan dia butuh suport kita sayang."
"Iya mah.,Farah akan menjaga Keken dan menunggunya disini. Farah yakin dia akan sadar."
Farah pun meminta ibu mertuanya untuk pulang karena ada ia dan tante Navysah yang menunggu Keken. Imelda pun mengiyakan karena tubuh renta nya juga tidak bisa dibohongi, ia perlu istirahat lagi.
Farah dengan telaten membersihkan tubuh Keken sembari mengobrol seperti yang diajarkan mommy Imelda, ini bertujuan agar Keken merespon perkataan nya. Selama dua minggu ini Farah selalu keluar masuk rumah sakit untuk menjaga suaminya walaupun tubuhnya sedikit kelelahan.
" Kamu pulanglah." Imelda kini datang kembali dan berjaga seperti biasa bergantian dengan Farah dan Navysah.
"Tapi mom, aku masih ingin bersama Keken." Farah menolak untuk pulang
"Mommy mohon." satu kalimat yang membuat Farah mau tak mau harus menurutinya. Ia juga harus menjaga kesehatan calon anaknya.
"Iya mom."
Farah pulang ke rumah tante Navysah, Imelda memang meminta Farah untuk tinggal di rumah Navysah karena ia harus bolak-balik ke rumah sakit. Jika Farah di Navysah maka setidaknya wanita hamil itu tidak kesepian.
"Makanlah yang benar, jangan terlalu memikirkan Keken." Alif melihat Farah yang malas makan dan cenderung melamun.
"Aku ingin menunggu Keken lagi, aku kangen dengan nya."
Farah menggelengkan kepala. "Aku akan makan banyak agar Ghani sehat."
"Ghani?!" Alif mengerutkan dahinya,bingung.
" Ghani nama anak kami, sebelum musibah itu terjadi, Keken memberi nama anak ini Ghani.
" Oh. "
" Alif, kau dokter kan, kapan Keken akan sadar. Aku ingin sebelum melahirkan Ghani, Keken bisa bersamaku, menemaniku saat melahirkan bayi ini. " Farah penuh harap Keken akan segera sadar dari komanya
" Aku memang dokter tapi aku bukan tuhan. Yang terpenting kamu harus selalu mengajaknya mengobrol, walaupun tidak ada balasan darinya. Ini tidak mudah Farah karena saat Keken sadar pun dia harus menjalani banyak rangkaian kesehatan termasuk fisioterapi dan itu membutuhkan waktu yang lumayan lama,kamu harus kuat secara fisik, tenaga dan waktu. Keken bisa selamat saja sudah bersyukur dan aku yakin suatu saat dia akan sadar dari koma nya."
" Aku akan selalu berdoa agar Keken sehat dan bisa segera bangun. Dan aku akan berjuang untuk kesembuhan Keken. "
Alif menggulum senyum, pantas saja Keken memilih gadis ini selain manis Farah tidak mudah menyerah dengan keadaan. Ia selalu bersemangat.
Esok hari Farah datang kembali ke rumah sakit namun kali ini diantar oleh pak Ari karena Alif dan si kembar memiliki kesibukan masing-masing.
"Pak Ari pulang saja, bukankah akan menjemput Inha. Terima kasih ya sudah mengantar ku."
"Iya non, tapi setelah mengantar nona ke ruang ICU." ujarnya
"Tidak perlu pak, aku bisa kesana sendiri. Pulanglah.."
"Tapi non."
__ADS_1
"Beneran pak, aku bisa sendiri kok. Ruang ICU dekat dari sini jadi tidak usah diantar." Farah
" Baik non."
Farah berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan masuk ke dalam kamar Keken namun ia cukup terkejut saat melihat pria yang ia kenal kini mengobrol dengan mommy Imelda.
" A... abang..,ke..kenapa kau disini? "tanyanya
" Aku menjenguk Keken, sebenarnya aku tidak diijinkan masuk tapi ibu mertuamu ingin bicara denganku. "
" Hilman baru saja datang, ia ingin menjenguk Keken. "jawab Imelda
" Aku melihat berita bahwa Keken koma dan aku ingin meminta maaf padanya. "
" Aku sangat egois walaupun Keken sudah meminta maaf dengan tulus namun aku masih saja keras kepala tidak mau memaafkan nya malah aku memberinya obat perangsang. "
" Terakhir saat di Bali dia memintaku untuk menjagamu saat dia tidak ada, aku tidak mengerti akan ucapan nya dan ternyata seperti ini. "
" Oh jadi ini karena obat yang abang kasih padanya. Aku ingat saat datang ke hotel , Keken menyentuhku dengan sedikit kasar namun dia tidak pernah sedikitpun menjelekan dan menyalahkanmu bahkan aku selalu membelamu karena abang baik ternyata aku salah, suamikulah yang baik. Dia menutupi kejahatan abang. "
Maaf, aku menyesal."
"Sudahlah, tidak usah diperpanjang. Tante yakin Keken akan memaafkanmu Hilman. Ia pria baik." Imelda
Farah mencium pipi dan tangan suaminya seperti biasa lalu ia menuntun tangan Keken untuk mengusap perut besarnya. "Ghani kangen sama ayah."
"Ken,apa kau bisa merasakan gerakan anak kita. Lihat dia sangat aktif kesana kemari." Setelah disentuh Keken, calon bayinya begitu aktif di dalam perut.
" Kami merindukanmu, sadarlah sayang." Farah berkaca-kaca seperti biasanya.
" Kau selalu bilang, aku harus menjaganya dan sekarang aku meminta mu untuk menjaga Ghani juga. Aku tidak sanggup jika harus sendirian. Bangun sayang...." Farah mulai menghiba dan menangis seperti biasa.
" Ken,..." Namun mata Farah melihat sedikit pergerakan dari tangan Keken. Ia tidak menyangka suaminya akan merespon ucapan nya.
" Mommy, lihatlah tangan Keken. "
Imelda mendekat dan melihat memang ada respon dari tangan Keken, lalu ia memanggil tenaga medis agar melihat keadaan anaknya.
Dokter dan perawat datang dan mengecek pupil mata Keken, "Tuan, apa anda mendengar suara kami?"
"Jika anda mendengar maka gerakan mata anda." ucap dokter
Keken mengedipkan matanya lalu dia membuka matanya secara perlahan. Mereka mengecek semua anggota tubuh Keken dengan teliti.
"Nyonya. Ini sungguh keajaiban karena tuan Keken sadar lebih awal dari perkiraan kami."
"Walaupun anggota tubuhnya belum semuanya pulih dan harus menjalani beberapa rangkaian cek kesehatan tapi ini sebuah keajaiban Tuhan."
"Oke, terserah dokter saja yang terpenting anakku sehat." Imelda menangis haru karena Keken sadar dengan cepat, sedangkan Farah dengan cepat memeluk suaminya sembari menangis tak kuasa menahan rasa bahagia.
Hilman pun ikut senang karena Keken sudah sadar walaupun wajah pria itu masih terlihat pucat dan tatapan kosong.
"Keken, ini mommy Nak" Imelda mengelus rambut anaknya dengan lembut lalu mencium keningnya.
"Keken... akhirnya kamu bangun. Aku rindu kamu sayang." Farah memeluk Keken dengan erat namun pria itu mengurai pelukan Farah.
"Ka.. kamu siapa?" tanya Keken
__ADS_1
" HAH....!!" Farah mololong karena Keken tidak mengenalnya.