
Imelda bertemu dengan pak Sam di rumahnya. Ia datang dengan pengawal dengan membawa makanan dan banyak hadiah.
"Saya ingin memberikan ini sebagai tanda terima kasih karena anda sudah membantu anak kami." Imelda menyodorkan sebuah amplop coklat.
"Saya ikhlas membantu Slamet nyonya, ini atas dasar kemanusiaan."
"Saya tahu tapi anda mengeluarkan banyak uang untuk anak saya maka dari itu kami ingin mengembalikan uang anda walaupun ini sedikit."
Pak Sam mau tak mau menerima amplop itu karena istrinya memberi kode untuk mengambilnya.
"Maafkan saya nyonya." Sam merasa tidak enak hati karena menerima uang dari Imelda.
" Tidak perlu meminta maaf, saya justru berhutang budi dengan anda." Imelda mulai berkaca-kaca lagi. "Terima kasih sudah menolong anak saya."
"Aku harap Slamet bisa cepat sadar dan sehat kembali."
"Kita berdoa bersama ya pak. Saya tidak bisa berlama-lama karena Keken menungguku."
"Baik bu, semoga kita bisa bertemu lagi."
"Iya."
"Dan kau anak muda, aku tunggu empat tahun lagi untuk bergabung di perusahaan." Imelda melirik anak pak Sam
"Baik nyonya, aku pasti akan datang memenuhi janjiku." Eki
"Ada hadiah untukmu disana." ucap Imelda
"Benarkah nyonya." Eki dengan cepat mencari hadiah miliknya.
Ia membukanya dengan cepat.
"Ini laptop, nyonya. Terima kasih banyak." Eki berjingkrak kegirangan mendapatkan laptop keluaran terbaru.
" Eki, ada apa kau dengan nyonya Imelda?" tanya pak Sam setelah Imelda pergi
"Aku diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan nyonya Imelda. Setelah aku lulus kuliah, aku akan ke Jekardah. Ayah doakan aku agar lulus dan sukses."
"Tentu saja ayah akan mendoakanmu, nak."
"Aku ingin belajar bisnis dan kerja di Jekardah agar ayah dan mama nantinya bisa hidup nyaman dan tenang. Aku sedih usaha angkot ayah sedang menurun beberapa tahun ini.
Pak Sam membuang wajahnya kearah lain, ia tidak menyangka kalau selama ini anaknya begitu memperhatikan dirinya, memang saat ini kondisi bisnisnya sedang tidak baik karena persaingan bisnis begitu besar apalagi sekarang serba modern dan serba online.
" Ayah akan berusaha agar kamu bisa kuliah dan ayah kini sedang berpikir bagaimana kebun kita menghasilkan banyak buah yang banyak. Doakan ya Nak."
__ADS_1
Eki menganggukan kepala.
"Ayah.. ayah..." Bu Siti buru - buru menghampiri suaminya dan Eki.
" Lihat, cek ini. Nilai uangnya banyak sekali."
Saat Pak Sam menerima amplop kecil itu ia langsung memberikan pada istrinya. Dan Bu Siti juga tidak langsung membukanya karena tidak tertarik. Amplop itu begitu tipis seperti surat, ia mengira isinya hanya sedikit.
" Du... Dua milyar... " Sam membelalakan matanya, menghitung berapa jumlah nol yang tertera di cek. itu.
"Iya, ayah ini memang dua milyar. Sungguh kita sangat beruntung mendapatkan uang sebanyak ini."
"Kembalikan cek ini pada nyonya itu." Sam tidak mau menerima uang sebanyak itu karena untuk merawat Keken di rumah sakit tidak sebanyak itu.
"Kenapa harus dikembalikan, ini rejeki kita ayah." Bu Siti
"Tapi ini terlalu banyak bu, kita tidak berhak. Jangan mengambil kesempatan disaat orang sedang kesusahan."
"Telepon Chris sekarang, dia pasti tahu nomor telepon nyonya itu." Sam menatap tajam pada istrinya dan itu pertanda tidak ada penolakan.
Mau tak mau istrinya menelepon Chris dan menanyakan nomor telepon nya.
"Nyonya itu sudah terbang ke Jekardah dengan privat jet."
" Tulang tidak perlu mengembalikan cek itu karena tadi nyonya bilang uang itu sebagai tanda terima kasih dan tidak sepatutnya dikembalikan. Dia akan tersinggung jika uang itu dikembalikan."
" Aku juga mendapatkan cek dari nyonya itu, lima ratus juta. Dia juga menitipkan cek untuk pak Tono yang nilainya sama denganku. Tulang, aku tidak menyangka mendapatkan uang sebanyak ini, ternyata si Slamet anak orang kaya. "
Sam menutup telepon nya, ia sangat bersyukur karena mendapat uang yang bisa ia pergunakan untuk tambahan modal mengurus perkebunan apel.
" Alhamdulillah.... "Bu Siti tersenyum lebar sedangkan Eki kembali berjingkrak kegirangan. Setidaknya uang jajan nya bertambah,pikirnya.
* **
Imelda langsung membawa Keken ke rumah sakit terbaik di Jakarta. Ia membereskan beberapa dokumen Keken dari rumah sakit sebelumnya. Feri pun terlihat sibuk menelepon beberapa koleganya untuk mengurus permasalahan di Malang.
"Aku sudah siapkan Keken kamar dan dokter terbaik." Davian dan Navysah sudah menunggu kedatangan mereka sejak pagi untuk mengurus segalanya.
"Terima kasih." Imelda memeluk Navysah dengan erat, masih berkaca-kaca melihat anaknya koma.
"Semuanya akan baik-baik saja mba, tenanglah. Sekarang mba pulang dan istirahatlah biar aku yang mengurus administrasi Keken."
Imelda mengiyakan karena memang beberapa hari ini kesehatan nya terganggu. Ia demam.
"Aku ingin istirahat sehari di rumah, tolong jaga Keken, Nav."
__ADS_1
"Baik."
"Bagaimana dengan tua bangka itu Fer?" Davian
" Aku mendengar dia sudah dijadikan tersangka dan besok rekonstruksi kejadian di P Rafting. Aku meminta agar dia bisa dihukum mati!" Feri berkata dengan penuh kebencian.
" Jika kau butuh sesuatu katakan padaku, Fer. "
" Fer, Fer aja lu dari dulu tidak pernah berubah. Gue kakak ipar lu panggil gue abang atau kakak!"
" Cuih! Untung saja aku setuju menikahkanmu, jika tidak selamanya lu bakal jadi bujang lapuk!" ketus Davian. Seperti biasa mereka seperti Tom and Jerry saat bertemu. Walaupun Feri sudah menjadi kakak iparnya, Davian ogah menyebut Feri kakak.
Feri tergelak tawa.
Kini Navysah menunggu Keken di ruang ICU, ia menyentuh tangan ponakan nya dengan lembut dan berkali-kali mencium tangannya. Tubuh Keken begitu dingin, tak bisa bergerak sama sekali tapi Navysah yakin Keken bisa mendengar ucapan nya.
"Sakit sekali hati ini melihat kamu seperti ini, Ken."
"Tante akan berdo'a untuk kesembuhanmu."
" Cepatlah sadar, kami semua menunggumu terutama Farah. Dia menunggu dan merindukanmu, Ken." ucap Navysah di telinga Keken. Tak lupa Ia membacakan ayat suci alquran agar Keken segera membaik.
"Besok, Keken akan dioperasi karena setelah di CT scan masih ada pengumpalan di bagian kepala, ini sangat beresiko untuknya. Cidera di kepalanya cukup parah."
" Tapi Keken pasti akan sembuh kan mas?" tanyanya pada Davian
"Do'akan saja." Davian tidak ingin istrinya khawatir dengan kondisi Keken sekarang.
Navysah kian menangisi Keken, walaupun ponakan nya itu selalu membuat masalah namun Keken pria baik.
Ia menginap di rumah sakit selama dua hari karena Imelda tidak bisa datang karena sakit dan hari ini Keken akan menjalani operasi.
" Tidak usah khawatir, Keken pasti baik-baik saja." Kali ini suara dari Feri. Ia sengaja mengosongkan jadwal untuk menunggu Keken.
"Aku takut sesuatu terjadi pada Keken mas." Navysah
"Kau tenanglah. Lebih baik kau istirahat di rumah, lihat matamu bengkak karena menangis setiap hari."
"Aku tidak mau pulang karena Farah pasti akan bertanya lagi saat aku pergi lagi." Ia mengingat saat pergi, Farah begitu cerewet dan ingin ikut pergi dengan nya. Wanita itu seolah curiga karena Navysah diam-diam selalu menelepon seseorang.
"Menantuku itu memang cerewet dan suka makan." Feri tersenyum saat mengingat Farah
"Iya, dia juga selalu menanyakan Keken. Aku jadi bingung mau jawab apa dan selalu berbohong." Navysah
Mereka menunggu Keken keluar dari ruang operasi sembari berdoa untuk kelancaran operasinya.
__ADS_1