
Farah melakukan rutinitas seperti biasanya, bekerja sebagai chef di restoran masakan nusantara yang terletak di Utara. Sedangkan Dini sebagai waitres yang mengurusi tamu di bagian depan.
Saat siang dan sore tiba, suasana restoran begitu sibuk. Banyak para pengunjung datang untuk menikmati hidangan dan sekedar bersantai bersama keluarga.
Sejak kecil, Farah memang suka memasak. Dulu saat ibunya masih hidup ia selalu membantu ibunya di dapur walaupun hanya sekedar memetik sayuran. Dan saat dia dititipkan pada tante Erika, Farah pun sangat antusias membantunya untuk masak di dapur.
Ayahnya yang kurang peduli dengannya, membuat Farah mau tak mau belajar mandiri.
Sejak dari sekolah menengah pertama, Farah membantu tetangga yang mempunyai warung makan. Dia membantu mencuci piring dan membantu mencuci sayuran dengan begitu dia bisa mendapatkan uang jajan dan makanan.
Saat itu Farah sangat bersyukur karena dikelilingi orang baik dan dia bisa survive dari keadaan yang terpuruk.
"Farah, jangan lupa pesanan meja nomer tujuh." ucap Riri, kepala restoran itu.
"Eh, iya mbak." Farah yang sedikit melamun kini tersadar karena panggilan dari mbak Riri.
"Jangan melamun, ingat! Fokus, fokus fokus. Masak yang terbaik, berikan pelayanan dan cita rasa terbaik agar mereka datang kembali ke tempat ini. Ingat! bonus akhir bulan menantimu" Riri memberikan semangat seperti biasanya, ia menyukai Farah yang selalu semangat dalam bekerja.
"Iya mbak, semangat!" Farah menaikan tangannya ke atas, jiwanya kembali bergelora saat mendengar kata bonus.
"Kalau denger kata bonus, langsung deh semangat." sindir Dini yang baru saja masuk dengan membawa nampan berisikan piring kotor.
" Kalau lu denger gratisan, langsung deh gerak cepat ." sindir Farah kearah Dini, mereka sudah terbiasa saling sindir menyindir.
" Sudah, sudah pending dulu berantemmya. Ini pelanggan masih bejibun, cepetan gas pol kerjanya." Riri
" Somay bisa kali ah." celetuk Dini, ia selalu memalak mba Riri setiap hari. Jika restoran sedang ramai, mba Riri tidak segan - segan untuk mentraktir karyawannya walaupun hanya sekedar makan somay dan es capucinno yang berjualan di pinggir jalan.
" Dasar preman pasar, malak mulu ini bocah!" sewot mba Riri, " Iya nanti beli somay, cepetan kerja dulu."
"Siap bos." Dini cengar cengir dan keluar kembali menjamu para pelanggan.
Suasana kekeluargaan yang kental membuat para karyawan betah untuk bekerja di restoran ini. Walaupun terkadang tidak mencapai target dan restoran terkadang sepi, mereka akan memikirkan bersama bagaimana caranya untuk meningkatkan profit restoran kembali. Mereka akan membagi tugas untuk promo dan memberikan diskon untuk pengunjung.
Dini meskipun terlihat galak dan ucapannya pedas, namun itu tidak berlaku saat dia bekerja di restoran. Ia akan dengan mudah merubah ekspresi wajahnya yang selalu tersenyum dan terlihat ceria.
__ADS_1
"Gue pulang duluan Din." Farah yang sudah membereskan slingbagnya kini memakai masker dan helm. Jam kerjanya telah selesai dan akan berganti dengan karyawan yang masuk di shift dua.
"Jangan kemaleman pulangnya, aku takut sendirian."
"Oke." Farah hanya mengacungkan jempolnya.
***
Farah sampai di apartemen Keken bertepatan dengan adzan magrib dan ia meminta waktu untuk melakukan ibadah solat sebelum tugasnya dimulai.
Pak Amin mengizinkan Farah untuk beristirahat terlebih dahulu.
Pak Amin mulai mengajari Farah di dapur. Makanan apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh sang majikan.
" Den Keken alergi udang, kerang dan bebek, tolong perhatikan saat memasak jangan sampai membuat kesalahan." ujar Pak Amin dan Farah hanya mengangguk.
"Aden biasa dilayani jadi saat dia memanggilmu harus cepat - cepat, dia tidak suka menunggu lama." lanjutnya lagi
"Aden orangnya tidak sabaran, apa yang dia mau harus dilaksanakan dan jangan membantah."
" Ingat! jangan sekali-kali masuk ke dalam kamar Den Keken. Mengerti? " Pak Amin begitu menekankan satu perintah ini.
" Aku mengerti Pak. "
" Hari ini Aden ingin makan kue karamel dan ramen. Kamu bisa kan membuatnya?"
"HAH...!! Kue karamel dan ramen. Saya bisa membuat kue karamel tapi kalau ramen saya tidak pernah membuatnya."
"Kamu bisa lihat di internet jika bingung, semua bahan ada di lemari pendingin. Biasanya Bu Asni yang yang memasak tapi sekarang dia cuti melahirkan. Kemarin ada orang datang untuk mengantikan bu Asni tapi si Aden tidak cocok dengan masakannya."
"Maaf pak boleh saya bertanya?"
"Silakan."
"Kenapa seluruh asisten rumah tangga tidak ada yang menginap disini?" tanya Farah dengan sedikit takut, ia merasa ada yang aneh karena biasanya akan ada asisten yang menjaga majikannya selama dua puluh empat jam namun disini tidak ada sama sekali, terlihat sunyi senyap.
__ADS_1
" Den Keken suka menyendiri setelah seharian bekerja, dia anak tunggal. Maka dari itu Aden tidak suka banyak orang berada di apartemennya. Aden pria yang baik walaupun terkadang terlihat kurang sopan."
"Terus Den Keken kan tajir. Kenapa dia tidak beli makanan saja ya? Kenapa harus repot - repot masak."
"Den Keken sudah terbiasa makan makanan rumahan sejak kecil. Ibunya, nyonya Imelda sangat ketat menjaga dan memberi asupan gizi yang terbaik untuk Den Keken."
"Oh begitu, aku kira Den Keken suka makan di luar." Farah mulai mengerti sedikit tentang kebiasaan Keken
"Bapak pulang dulu Farah, jika kamu bingung, kamu bisa telepon di nomer ini." Pak Amin memberikan secarik kertas berisikan nomer teleponnya.
"Terima kasih pak."
Farah mulai searching internet bagaimana caranya membuat ramen. Ia mengeluarkan bahan - bahan yang akan dipergunakan untuk membuat bolu dan ramen.
"Lebih baik aku bikin bolu dulu yang mudah, setelah itu baru ramen."
Farah yang terbiasa memasak di dapur tidak terlalu kesulitan menggunakan peralatan modern milik Keken. Sembari menunggu bolu matang, Farah membuat ramen.
" Aku pulang jam berapa ini, pasti sampai rumah kemalaman. "Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya, badannya mulai kecapean karena sejak pagi dia harus bekerja di restoran dan pulang harus ke apartemen Keken.
" Lebih baik aku telepon pria gila itu, kapan dia akan pulang. " Farah menghubungi Keken namun handphonenya tidak diangkat. Dia kembali meneleponnya berkali-kali dan akhirnya tersambung juga.
"A.. Apa?!" teriak Keken, nafasnya sedikit tersenggal. Dan terdengar suara desah*n seorang wanita di ujung telepon.
"Sayang, tu.. tup teleponnya. Akhhh... sss... Akhhh..." ucap wanita itu dengan mendes*h.
Farah hanya melongo bingung, otaknya belum terkoneksi dengan baik. "Kenapa ada suara ah... ah... ah, kamu sedang apa?" tanyanya dengan polos.
"Beg* lu!!" teriak Keken sembari mematikan handphonenya.
"Lha, kenapa dia matiin ponselnya, memangnya aku salah apa!" gerutu Farah.
Ia mulai masak kembali, namun otaknya mengingat kembali suara desah*n wanita itu. Farah mulai berpikir dan akhirnya ia terkejut hingga menjatuhkan sendok sayur.
"Ya ampun!!, ternyata dia sedang....."
__ADS_1