
Farah menyusuri gang kecil menuju kontrakannya dan seperti biasa disaat sore hari banyak anak-anak yang bermain dan berlari kesana kemari bersama teman-temannya.
Beberapa ibu-ibu juga duduk sembari mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan tapi saat Farah melewati mereka,ia menyapa nya.
"Permisi ibu - ibu."
"Eh, neng Farah dan bang Keken baru datang. Mampir neng." ucap salah seorang wanita paruh baya.
"Iya bu terima kasih."
"Neng, itu beneran bang Keken amnesia? Teteh liat diberita."
" Iya teh, tapi Alhamdulillah sekarang sudah mendingan."
"Cepat sembuh ya Bang Keken, kami selalu mendoakan bang Keken. "ucap ibu-ibu lainnya
" Iya. "Keken pun hanya tersenyum, entah mereka siapa, yang terpenting mereka bukan orang berbahaya.
" Bang Keken....!! "teriak salah seorang gadis. Ternyata dia tidak sendirian tetapi membawa beberapa wanita, fans berat Keken yang rumahnya tak jauh dari gang senggol.
" Kami kangen bang Keken. "ucap seorang gadis yang biasanya bercanda dengan Keken.
" Iya kami rindu, bang. "ucap lain nya
" Aku kira abang tidak akan kembali, tapi nyatanya abang sehat dan masih saja tampan. "
" Abang jangan pergi lagi ya bang, karena tidak ada yang bisa kita godain selain abang. "ucap lain nya
" Iya bang, cuma abang yang paling tampan disini dan ikonik jadi maskot kita bang, maskot gang senggol yang paling uhuyyy dan terkenal karena adanya bang Keken. Kami fans berat abang, kita berdoa semoga abang selalu sehat dan menjadi super Daddy yang paling keren, hot dan makyos. "
Farah tergelak tawa, ia sama sekali tidak cemburu dengan para wanita yang selalu menggoda suaminya karena Farah tahu para gadis ini memang pemuja kaum pria tampan dan sebagai fans Keken.
" Kalian ini ada - ada saja. Keken tidak mengenal kalian karena amnesia." Farah
"Jadi beneran yang diberita itu kalau abang amnesia?"
Keken menganggukan kepala.
" Sayang sekali bang Keken tidak mengenal kita lagi padahal kita kan soulmate bang."
"Semoga abang cepat sembuh ya bang, kita bisa ngobrol - ngobrol lagi."
"Bang kira-kira aku bisa jadi kandidat istri kedua tidak bang? Pumpung abang lagi anemia jadi bisalah aku jadi cadangan." ucap gadis lain nya.
" Amnesia bod*h bukan anemia!" Gadis lain nya menoyor kepala gadis itu
"Kalau anemia kurang darah."
"Kalau kurang duit apa?"
"Bokek alias kere!" Mereka mendominasi obrolan sedangkan Keken hanya diam.
"Sudah... sudah jangan bertengkar, pergi sana gadis - gadis alay!" seru ibu paruh baya.
"Tanpa disuruh pun kita bakal pergi, dasar ibu-ibu tukang gosip, bye!" Mereka pergi dengan sendirinya.
"Emang ya anak sekarang kurang ajar, tidak punya sopan santun sama orangtua!" gerutu ibu-ibu
Farah hanya menghela nafas panjangnya,ia ingin segera pergi dari tempat itu.
" Neng Farah, mereka siapa? " Bu Joko melihat enam orang berpakaian rapi dan berjas hitam mengikuti Farah
" Mereka keluarga kami bu. Yaudah kami permisi bu. " Farah. Dan seperti biasa ibu-ibu mulai mengobrol sembari berbisik tentang Farah.
Ia membuka pintu kontrakan dan hawa udara terasa pengap. Farah membuka jendela agar sirkulasi udara menjadi baik.
__ADS_1
"Aku sapu rumah dulu."
"Jangan, biarkan pengawal saja." Keken memerintahkan semua pengawalnya untuk membersihkan kontrakan Farah.
Wanita hamil itu melolong karena pengawal Keken kerja dengan begitu cepat,bersih dan tidak membutuhkan waktu lama.
"Ken, mereka pengawal atau pesulap hitam." Kelakar Farah, ia tersenyum puas melihat kinerja pengawal Keken
"Mereka pengawal yang sangat profesional, gaji mereka juga tinggi."
"Wah, kalau aku punya satu pengawal seperti ini maka aku tidak perlu repot-repot membersihkan rumah." ujarnya
"Mereka itu pengawal bukan asisten rumah tangga." Keken masuk ke dalam rumah kecil itu dan melihat ke setiap bagian. Mengingat kembali setiap kenangan di rumah ini.
"Farah, aku beneran pernah tinggal disini?" tanyanya
"Iya sayang, kamu pernah tinggal disini bersamaku, jika kau tidak percaya lihat lemari ini." Farah menggandeng suaminya dan membuka lemari yang berisi pakaian Keken.
"Ini semua pakaianmu."
Keken mengambil sebuah kemeja dan melihat merk yang tertera di bagian leher, dan benar itu merk kemeja kesukaan Keken. "Benar , ini semua milikku."
"Masih tidak percaya?" Farah
"Lihatlah di depan televisi ini, kamu selalu menaruh bungkus rokok disini." Farah menunjukkan bungkus rokok Keken yang masih tersisa.
"Ini memang merk rokok kesukaanku." ujarnya
" Tapi disini tidak ada pendingin udara, apa kau yakin aku tidur disini?" Keken tahu dirinya tidak bisa tidur tanpa pendingin udara jadi bagaimana mungkin dia tidur di rumah kecil dan pengap ini.
"Kamu itu kalau tidur selalu buka baju dan kita selalu polos." bisik Farah di telinga suaminya. Dengan menggoda Keken Farah mengerlingkan matanya.
" Apaan sih! Keken bergidik geli lalu ia keluar menghindari wanita hamil itu yang bisa saja memperk*sanya.
Farah terkekeh melihat Keken yang naif dan ia dengan senang hati menggodanya lagi." Tunggu pembalasanku. "gumam Farah dalam hati
"Kalian makan lah."
Semua pengawal saling memandang karena baru pertama kalinya Farah mengizinkan mereka makan bersama.
" Ayo, jangan malu-malu. Makan baso dan martabak nya."
Keken menganggukan kepala, sebagai tanda mengijinkan mereka.
"Kenapa diam saja? Apa kalian tidak suka baso?" ujarnya sembari menuang baso Keken ke dalam mangkok
"Tidak nona, kami suka." Lalu mereka makan dengan cepat dan menghabiskan nya.
"Kalian itu tidak perlu makan terburu - buru. Aku tidak akan mengambil jatah kalian karena aku sudah menyisihkan dua porsi untukku, hihihi."
Keken hanya menatap malas, Farah begitu lahap saat makan,tidak anggun sama sekali.
"Benarkah, dia istriku " lirihnya
"Kau bicara denganku, Ken?"
"Tidak!" Keken sangat heran kenapa pendengaran Farah begitu tajam.
"Ken, suapi aku." pintanya
"Kenapa harus aku! Kau punya tangan maka makanlah sendiri." Keken mulai kesal karena Farah banyak permintaan, apalagi sekarang minta disuapi. Aneh.
" Tapi aku beneran ingin disuapi kamu Ken, sekali saja." Farah memasang wajah memelas bahkan hampir menangis.
Keken masih saja diam.
__ADS_1
" Tuan, nona ingin disuapi olehmu." lirih salah satu pengawal
"Kamu saja sana." ketus Keken
"Tuan, nona Farah istrimu bukan istriku. Dia mengandung anakmu bukan anakku."
Keken mendelik dengan pengawal itu, kenapa dia membela Farah segitunya.
"Kalian semua keluarlah, jaga di mobil saja. Disini sudah sempit, pengap dan banyak orang. Aku sulit bernafas." perintah Keken, namun sebenarnya ia tidak mau para pengawal melihat nya menyuapi Farah. Malu.
Mereka keluar sesuai perintah tuan nya. Dan mau tak mau ia harus menyuapi Farah dengan sabar.
"Kau senang?" tanyanya karena melihat Farah selalu menggulum senyum
"Tentu saja karena Ghani kesampaian disuapi oleh ayahnya."
"Maksudnya?"
"Anak kita senang saat disuapi ayahnya, dulu Keken selalu menyuapiku saat aku malas makan, terkadang juga Dini. Lihatlah perutku." Tanpa malu Farah membuka baju dan memperlihatkan perut buncitnya yang polos.
"Kau, apa - apaan sih!" Namun mata Keken tertuju dengan perut Farah yang bergerak sendiri.
"Kok bisa seperti itu, dia bergerak." Keken langsung antusias karena ini pertama kalinya ia melihat perut aneh.
"Anak kita sedang berputar, tadi kepala Ghani disisi kanan lalu kini ke sisi kiri. Anak kita sangat aktif."
"Ini beneran dia yang gerak sendiri, kok bisa?" pertanyaan bod*h dari Keken karena ia benar-benar baru melihat perut yang bergerak seperti ini.
"Eh! Dia gerak lagi, sebelah sini lebih besar." Keken masih saja tidak percaya bahwa perut Farah bisa meliuk-liuk begitu.
"Ini kepalanya." Farah menuntun tangan Keken agar menyentuh perutnya.
"Woww... amazing.Ini sangat lucu." Keken terkekeh
" Ishhh..." desis Farah, sembari menggigit bibirnya.
"Kenapa? Apa ada yang sakit?"
" Ghani menendang ku."
"Benarkah."
"Hai boy, jangan nakal. Kasihan mommy Farah. Daddy mohon kamu nurut sama mommy." ucap Keken lagi
"Mommy dan Daddy?" Farah mengernyitkan dahi, " Bukan nya dulu kau lebih suka panggilan mama dan Ayah."
"Benarkah? Terserah kau saja aku tidak masalah jika dipanggil ayah, itu panggilan yang bagus." Keken tersenyum memperlihatkan baris giginya.
Berdekatan dengan Keken seperti ini membuat Farah berdesir apalagi saat melihat senyuman nya, Farah meleleh.
"Ken..." panggil Farah
"Ya..."
"Ken..."
"Iya, ada apa?"
"Aku mau." lirih Farah sembari tersipu
"Mau apa? Kalau kau ingin makan sesuatu katakan padaku."
"Aku mau itu."
"Iya mau apa? Yang jelas Farah, aku tidak mengerti kamu mau apa!" Keken sedikit kesal karena jawaban Farah begitu ambigu.
__ADS_1
"Aku mau Kenzi."
"HAH....!!"