Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 33 ( Rumah sakit)


__ADS_3

Farah meminta Keken untuk menurunkan dirinya di halte karena dia berencana untuk pergi ke rumah sakit di sekitar kemayoran. Namun, Keken menolak dan berniat akan mengantarkan Farah ke rumah sakit tersebut.


Farah tidak ingin hubungannya dengan sang ibu tiri yang kurang baik diketahui oleh orang asing termasuk Keken. Namun, Keken adalah Keken yang selalu keras kepala dan tidak menerima penolakan.


"Adik kamu tawuran? Keren juga ya." Keken tersenyum mengingat betapa liarnya ia bersama Fafa dulu, selalu membuat masalah saat sekolah dan tawuran antar pelajar,berakhir di ruang BP ataupun kantor polisi.


Farah mendelik kearah Keken, bagaimana bisa dia mengatakan bahwa tawuran itu keren.


"Situ waras?!" Farah memiringkan jari di keningnya sebagai tanda orang gila. " Tawuran dibilang keren! Tugas pelajar ya belajar bukan tawuran." sewotnya


" Berapa banyak pelajar yang menjadi korban tawuran dan meregang nyawa. Dan saat mereka salah sasaran, orang tidak berdosa menjadi korbannya juga."


" Kalau mau jagoan, pukul-pukulan ya di ring tinju bukan di jalanan! "


" Minta uang jajan masih sama emak aja belagu, sok-sok an tawuran apa mereka tidak mikir gimana perasaan orangtuanya yang begitu khawatir saat tahu anaknya ikut tawuran bukannya belajar. " Farah berceramah tiada henti namun sang pendengar hanya menggulum senyum.


" Aku yakin Fadil tidak ikut - ikutan tawuran, dia hanya korban. Adikku bukan anak berand*lan dan dia anak yang lurus tidak suka cari masalah."


"Anak yang terlihat baik di rumah belum tentu di luar juga baik." Keken bicara sembari sesekali melirik Farah.


"Anak seusia mereka sedang mencari jati diri, mencari pengalaman yang seru walaupun beresiko. Mereka mana tahu akibatnya,tidak berpikir panjang. Yang mereka tahu kesenangan bersama teman dan sekedar mencari lawan."


"Jangan bilang kamu juga dulu suka tawuran?!" selidik Farah


"Hahahaha... Aku dulu ber*ndalan jalanan, selalu mencari masalah dan berakhir di kantor polisi." Dengan bangga Keken mengingat masa lalu yang penuh kenangan bersama Fafa, sepupunya.


"Dan sekarang juga masih berand*lan." Farah mencibir sembari melirik Keken. Farah mengingat kejadian saat menelepon Keken yang terdengar suara des*han seorang wanita dan beberapa foto wanita yang Farah temukan di bawah meja tamu. Beberapa foto wanita cantik dan sexy.


Senyum Keken memudar dan kembali serius, "Aku memang masih berand*lan karena belum menemukan wanita yang bisa menggetarkan hatiku dan membuat dirinya menjadi satu-satunya dalam hidupku."

__ADS_1


" Sok - sok an belum ketemu yang bisa menggetarkan hati padahal dia sudah pernah merasakan getaran ranjang." lirih Farah namun masih terdengar di telinga Keken


" Tidak usah bergumam, aku mendengar ucapanmu! " seru Keken


Farah hanya bisa memukul mulutnya yang selalu keceplosan dalam bicara.


" Pria itu mudah bercinta walaupun tidak ada cinta darinya, terkadang n*fsu membutakan segalanya." ucap Keken, " Beda dengan perempuan yang selalu menggunakan hatinya. "


" Kalau kepala bawah sudah senut - senut, kepala atas tidak bisa berpikir."


" Ini apaan, sih! Kok kepala atas sama kepala bawah. Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. "


" Sudahlah, kamu memang bo__" Keken tidak melanjutkan ucapanya, ia hampir menyebut bod*h pada Farah .


Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia melirik Farah yang sedang termenung kearah luar jendela mobil.


"Gadis ini sudah bertunangan tapi kenapa dia tidak mengerti ucapanku yang mesum. Dia benar-benar tidak tahu atau pura-pura bodoh." gumam Keken dalam hati.


Farah melirik kearah Keken, pertanyaan yang cukup pribadi menurutnya." Kenapa bertanya seperti itu? "


" Ah! tidak apa-apa, hanya ingin tahu. Kalau tidak ingin dijawab lupakan saja."


" Aku hanya pacaran dengan bang Hilman. Dia satu-satunya pacarku."


"What..!!! Hahahaha... Yang benar saja, kamu tidak punya mantan kekasih!" Keken begitu tidak percaya, di jaman sekarang masih ada perempuan yang tidak punya mantan.


"Aku tidak suka pacaran, buang - buang waktu saja. Sejak dulu aku bekerja keras untuk bertahan hidup bukan untuk pacaran yang berujung ketidak jelasan."


" Sejak dulu sudah bekerja untuk bertahan hidup, lalu bagaimana dengan keluargamu?" Keken begitu penasaran dengan kehidupan Farah. dibalik sifat Farah yang ceria, galak, tomboy seolah tersimpan suatu rahasia yang sengaja ditutup rapat olehnya dan bukan sembarang orang bisa masuk ke dalam kehidupannya.

__ADS_1


" Maaf Ken, kita sudah sampai di rumah sakit. Terima kasih sudah mengantarku." Farah tidak mau menjawab pertanyaan Keken yang terlalu pribadi. Ia menunduk hormat dan berlalu begitu saja.


Tidak disangka ternyata pergi bersama Farah seolah waktu begitu cepat hingga tidak disadari mereka telah tiba di tempat tujuan.


" Kenapa aku masih saja penasaran dengan dia. "Keken memukul setir mobilnya," Apa yang harus aku lakukan? "tanyanya bermonolog


* **


Farah dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit dan mencari ruangan dimana adiknya di rawat. Namun belum sempat dia masuk ke dalam kamar rawat inap ternyata dia berpapasan dengan ibu tirinya.


" Plak!! Dasar pembawa sial!" satu tamparan keras mendarat di pipi Farah sebelah kiri. Terasa cukup panas dipipi.


"Apa yang ibu lakukan, kenapa menamparku!" seru Farah, ia tidak siap menangkis disaat ibu tirinya menamparnya.


"Kamu masih bertanya kenapa aku menamparmu?!" sentak sang ibu


" Ini semua gara-gara kamu! Setelah kamu datang terakhir kali, anakku mulai membenciku, dia tidak penurut lagi padaku. Fadil kini ikut - ikutan tawuran hingga dia terluka seperti ini."


" Kenapa selalu aku! " Farah dengan berani menantang ibu tirinya " Kenapa aku yang selalu disalahkan sejak dulu, kenapa!, kenapa!, kenapa! "teriak Farah, ia sudah tidak peduli bahwa dirinya berada di rumah sakit.


" Aku tahu ibu tidak menyukaiku, ibu membenciku tapi aku tidak ada niat sedikitpun untuk mempengaruhi Fadil untuk membenci ibu juga! "


" Bisakah ibu sedikit saja sayang padaku? Aku tidak minta banyak, sedikit saja bu. Jangan selalu memakiku seperti itu, aku bukan anak pembawa sial! "


Beberapa orang kini melihat kearah mereka yang sedang bersitegang.


" Ibu suka uang kan? Apa dengan aku memberikan semua tabunganku, ibu bisa sayang padaku? " Farah menangis di titik terendahnya. Hatinya sudah tidak kuat menahan segala makian yang selama ini ibu tirinya lontarkan.


" Aku mencoba memahami ibu tapi sampai detik ini aku masih tidak paham kesalahanku yang mana yang selalu membuat ibu marah dan benci padaku. Aku menyayangimu, menyayangi adik-adik hingga aku mengorbankan diriku bekerja keras siang dan malam tapi sikap ibu tidak pernah hangat padaku. "

__ADS_1


" Ibu suka uang kan!? "teriak Farah lagi sembari membuka dompetnya," Ambil semua milikku ini, ambil semua tabunganku ini tapi jangan pernah memakiku dengan kata-kata kasar lagi! " Farah melempar dua atm yang berbeda ke arah wajah ibunya.


" Dasar anak kurang ajar kamu! " Sang ibu sudah mengangkat tangan dan ingin menampar Farah untuk kedua kalinya, namun seseorang menahan tangannya.


__ADS_2