
Sepanjang perjalanan mereka bertiga hanya diam tidak ada yang mencoba untuk membuka percakapan.
Keken yang masih fokus menyetir, Farah yang duduk di kursi penumpang depan dan Imelda yang berada di kursi tengah yang kini membaca majalah tanpa melihat kearah anaknya.
Beberapa kali Farah sempat melirik kearah belakang, melirik nyonya Imelda. Ia begitu tidak nyaman satu mobil dengan orangtua Keken apalagi sejak nyonya besar bertanya tentang mimpi besarnya dan hidupnya di masa yang akan datang. Aneh.
"Masih lama Ken?" tanya Farah, hampir satu jam mereka berada di mobil dan terjebak dengan kemacetan yang selalu melanda kota Jekardah.
"Sebentar lagi, ini kan weekend jadi banyak orang yang liburan. Daerah Puncak rame ini." ujarnya,
" Kamu pernah ke puncak?" tanya Keken sembari melirik Farah
"Pernah, dulu sama teman - teman dan juga abang." jawabnya, " Kalau kamu Ken?"
" Seringlah seminggu tiga kali ke puncak." Keken menggulum senyum.
" Ah, yang benar saja! Kalau kamu sering ke puncak, kapan kerjanya kan Jekardah Bogor dua jam lebih itu kalau tidak macet. "
" Siapa bilang gue ke puncak Bogor, gue itu seringnya ke puncak kenikm*tan dan puncak D*da, cepu cepu gitu hahahaha..." kelakar Keken sembari tertawa renyah.
"Apaan sih! Aku tanya beneran jawabannya me sum. Dasar stress!" tanpa disadari Farah menjambak rambut Keken dengan keras, ia lupa bahwa di belakang kursinya, si nyonya besar sedang melihat interaksi mereka.
"Eh, maaf nyonya. Saya lupa bahwa ada nyonya, maaf tidak sengaja menarik rambut Keken." Farah menundukan kepala, melihat wajah nyonya Imelda yang datar dan tidak terbaca membuat dirinya ketakutan karena dengan berani melukai putra kesayangannya.
"Omelin Mih, omelin! Masa putra mahkota dijambak kayak gini, sakit mih sampai rontok begini." adu nya pada sang ibu dengan pura-pura kesakitan.
__ADS_1
" Jambak terus nggak papa Far, biar saraf otak dia yang kusut bisa jadi lempeng. Mommy juga kesel kalau ngomong sama dia." Imelda malah membela Farah.
Farah yang mendapatkan pembelaan dari nyonya besar kini tersenyum sembari menjulurkan lidahnya pada Keken. Ada perasaan lega karena Farah sempat deg-degan takut dengan nyonya besar.
" Ya ampun, itu cewek gendeng pake julurin lidah segala, bikin gue tambah gemes aja. Ketar ketir ini si Kenzi ngamuk lagi. "gumam Keken dalam hati. Ia menghela nafas.
" Ken, tadi kamu bilang Cepu. Cepu apaan, sih? tanya Farah penasaran
"Ehem... Ehem..." Mommy Imel berdehem seolah memberi tanda pada anaknya agar tidak memberi tahu arti dari cepu itu.
"Bukan apa-apa, nanti akan ada waktunya kamu tahu." Keken menggulum senyum.
"Kenapa tidak katakan sekarang, aku kan penasaran." lirih Farah, namun masih bisa di dengar Keken dan Imelda
" Nanti kalau di rumah tante Navysah jangan kaget kalau disana berisik, karena ada keluarga Tarzan yang sedang menginap. "ucap Keken, ia mengalihkan topik pembicaraan.
" Sudah pokoknya lihat saja nanti, kalau ada orang yang paling berisik dan tidak mau diem berarti dialah keluarga tarzan. "
" Kalau kita keluarga apa ya?" Keken mencoba memberi kode untuk Farah bahwa dirinya menginginkan gadis itu.
" Ah, keluarga sakinah, mawwadah, warrohmah." Keken menjawab pertanyaannta sendiri. Namun yang diberi kode hanya mengenyitkan dahi. Bingung.
" Apaan sih, nggak jelas. " Farah membuang wajahnya keluar jendela seperti biasanya. Sedangkan Keken melirik ibunya dari kaca spion dalam, yang kini sedang menatap tajam kearah dirinya.
" Usaha mak, usaha siapa tau tuh putri duyung kepincut dengan Keken tapi nyatanya dia lempeng - lempeng saja kagak paham, kepolosan dia." gumam Keken dalam hati, namun matanya kembali melirik sang ibu yang masih menatapnya dengan tajam. Keken hanya menaik turunkan alisnya sebagai tanda santai sang ibu.
__ADS_1
" Farah, misalnya nih ya. Kalau lu punya mertua galak, apa yang bakal lu lakuin? "tanya Keken, ia ingin mendengar jawaban Farah agar di dengar langsung oleh sang ibu.
" Mmm...galak dalam hal apa dulu, setiap orang bersikap galak pasti ada alasannya. Alhamdulillah ibunya bang Hilman tidak galak, malah dia sayang banget sama aku jadi aku tidak tahu ya harus gimana kalau punya mertua galak. Tapi berkaca pada ibu tiriku, ya aku mau tidak mau harus tetap menghormatinya walaupun terkadang menyakitkan. Kalau pun ibu mertua aku galak kita wajib hormat padanya, bagaimana pun dia ibu dari suami aku yang wajib dihormati. Seperti batu, lambat laun akan terkikis dengan air jika kita selalu sayang dan peduli padanya."
"Walaupun kamu merasa tidak dihargai?" tanya Keken
" Iya, walaupun merasa tidak dihargai tetap saja sudah sepatutnya kita tetap hormat. Seburuk apapun, mereka tetap orangtua suamiku. Kalau pun menjaga jarak itu wajar agar tidak saling menyakiti, tapi jangan sampai melupakannya. Ibu tetaplah ibu, yang dulu mengandung, membesarkan kita, merawat kita tanpa lelah. Pengorbanannya begitu luar biasa dan tidak akan pernah bisa dibalas dengan apapun di dunia ini. "
" Kamu harus bersyukur Ken, masih memiliki orangtua yang lengkap dan sayang padamu,kamu masih bisa memeluknya, kamu masih bisa berkeluh kesah setiap kamu ada masalah dan mencari solusi jalan keluar. Sedangkan aku, aku hanya bisa menangis di pemakaman saat banyak masalah, hanya bisa mengobrol dengan batu nisan tanpa ada jawaban darinya,hanya bisa menangis saat aku merindukannya. " Wajah Farah kembali sedih, matanya berkaca-kaca namun Farah dengan segera mengalihkan wajahnya kearah lain agar tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa dia hampir saja menangis.
Imelda hanya menatap Farah dengan datar, tanpa ada satu orang pun yang tahu isi hatinya dan apa yang dipikirkan nya.
"Maaf Farah, aku tidak bermaksud ___" Keken melirik Farah dengan perasaan menyesal, bukan ini yang dia harapkan.
"Tidak apa-apa Ken, tidak perlu merasa bersalah." potong Farah dengan cepat.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika memiliki suami yang suka bermain wanita?" kali ini pertanyaan keluar dari mulut Imelda.
"Untuk saat ini aku merasa bang Hilman jauh dari hal seperti itu, tapi jika nantinya suamiku ketahuan selingkuh maka aku tidak akan memaafkannya. Pernikahan bukan untuk saling menyakiti dan menurut aku lebih baik sendiri daripada harus makan hati." jawab Farah
Keken hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pertanyaan mommy begitu menusuk dan tanpa basa- basi.
" Tapi bagaimana jika suamimu kaya raya, apa kamu tidak menyesal dengan keputusanmu untuk bercerai? " Imelda kembali bersuara lagi, bertanya pada Farah.
" Aku tidak akan menyesal, mungkin pada awalnya aku akan kerepotan tapi aku yakin akan rejeki Tuhan. Aku bisa memasak, aku akan bekerja lagi di restoran atau aku bisa membuka usaha kecil-kecilan daripada aku harus bersama pria brengs*k yang selalu menyakitiku. "
__ADS_1
Keken hanya bisa menelan salivanya sembari menatap sang mommy dari spion dalam mobil.
" Mommy benar-benar menjengkelkan, selalu to the point. "gumam Keken dalam hati.