
Mata Farah begitu bengkak karena semalaman menangis, Dini merasa iba melihat Farah begitu menyedihkan. Namun dia pun bersyukur karena Hilman mengirim pesan dan masih mau melanjutkan pernikahan dengan Farah walaupun saat ini belum ada komunikasi lagi diantara mereka.
" Beneran kamu ingin berangkat kerja? matamu bengkak begitu." ucap Dini
"Aku harus bekerja, tidak masalah mataku bengkak kan aku di dapur. Aku masih bisa profesional dalam bekerja."
"Ya sudah jika itu yang kamu inginkan, sini biar aku yang bawa motornya.kamu bonceng aja di belakang." Dini mengambil kunci motor Farah dan mengendarai sampai ke tempat kerja mereka.Dan ini sesuatu yang langka karena selama ini Dini tidak mau mengendarai motor, ia lebih suka duduk manis di belakang.
" Apa aku harus punya masalah dulu dan terlihat menyedihkan, hingga aku bisa nebeng kamu, Din." gerutu Farah
" Nggak usah rese! Jangan cerewet, ini sebagai balas budi karena aku sering nebeng kamu. Kamu bisa lihat kan kalau aku masih payah dalam berkendara."
Memang saat Dini yang mengendarai motornya, terlihat jelas Dini begitu gugup dan kaku. Terkadang lampu lalu lintas tidak ia hiraukan.
" Aku tahu dan ini yang terakhir aku bonceng kamu. Aku tidak ingin mati sia-sia. Aku masih ingin menikah dan ingin punya anak." ucap Farah
"Duh, yang kebelet kawin tapi calon nya lagi nggak mau komunikasi. Sabar-sabar dua bulan lagi nikah, untung saja si Hilman masih mau lanjutin. Kalau tidak, kelar hidup lu Far."
Farah hanya tersenyum kecut, memang benar apa yang dikatakan Dini. Hilman masih mau melanjutkan pernikahannya dengan memberinya beberapa contoh surat undangan yang akan segera dicetak. Farah setidaknya masih bernafas lega dan bersyukur untuk itu.
" Ayo kerja, siapin semua bahan makanan jangan ngobrol aja!" teriak mba Riri, namun ia sempat melirik Farah yang matanya terlihat bengkak.
" Pasti masalah percintaan, matamu seperti panda begitu." Riri melihat lingkaran hitam di kedua mata Farah
"Sudah jangan dipikiri, ini saatnya fokus kerja. Semua masalah tinggalkan, jangan membawa masalah kalian ke tempat kerja. Aku tidak mau ada komplenan lagi." Riri begitu tegas saat mengatakannya. Ia dikenal profesional hingga bisa menduduki sebagai kepala penanggung jawab restoran.
" Yes, mom.. "ucap Dini sembari cengengesan, ia tahu Riri tidak suka dipanggil mommy karena itu terlihat tua baginya.
" Gue bukan emak lu! Jangan panggil aku mommy karena gue masih muda, halus, mulus kaya usus. " kelakarnya
__ADS_1
" Jeroan dong. " sahut Farah sembari tersenyum
"Pantesan bikin darah tinggi." sahut Dini
"Nah gitu dong senyum Farah, udah nggak usah sedih lagi lelaki mah begitu. Pokoknya lu harus fokus bikin masakan yang enak." Riri sengaja bercanda agar suasana hati karyawannya membaik. Jika tidak itu akan beresiko pada rasa masakannya.
"Siap mak!"
"Farah...! Jangan panggil gue emak!!" teriak Riri
Dan hingga sore hati Farah tidak menerima satu pesan pun dari Hilman. Namun ia melihat rentetan pesan dan panggilan dari satu nama yang selalu ingin dia hindari, Keken.
Disaat yang bersamaan Keken kembali menelepon, namun Farah tetap tidak peduli. Ia membiarkan telepon berdering berkali-kali.
Dan di sisi lain, Keken begitu murka karena Farah tidak mengangkat telepon darinya atau sekedar membalas pesannya. Keken kembali uring - uringan karena hari ini dia belum juga mendengarkan suara Farah.
"Andai saja aku hari ini mengecek proyek disana pasti sudah aku samperin tuh si Farah." gerutunya. Hari ini Keken bekerja di kantor pusat karena ada beberapa rapat yang harus ia hadiri, sedangkan Antoni menghandle proyek lain.
Berhari-hari Farah masih saja tidak membalas pesannya dan ini membuat Keken kesal kembali.
"Kenapa Farah menghindari aku lagi, apa yang terjadi?" Keken begitu penasaran hingga ia frustasi membuang beberapa berkas di mejanya.
"Aku tidak mau tahu, sebelum aku pergi ke Malang, aku harus menemuinya."
Keken menelepon Wina, wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya. Dengan memikirkan Farah, hatinya terasa kesal dan ingin ia lampiaskan dengan bermain bersama wina.
Setelah pulang bekerja Keken masih mengecek ponselnya, berharap ada satu pesan dari Farah untuknya. Namun sia-sia, tidak ada satu pesan pun untuknya.
"Sayang, kau sudah datang?" Wina memeluk Keken dengan lembut dan dibalas dengan satu kecupan di kening Wina.
__ADS_1
"Kamu mabuk?" Wina mencium bau alkohol dari mulut Keken
"Sedikit."
"Apa kau menginginkanku?" Wina mengerlingkan matanya dengan menggoda
"Tentu aku menginginkanmu, sayang." Keken membuka kemeja dengan kasar dan mendorong wina masuk ke dalam ranjang. Mencium dan memanggut wina dengan liar dan kasar seolah memberikan hukuman pada seorang gadis bernama Farah.
Wina merasa Keken ada masalah hingga dalam mereka bercinta, Keken sedikit kasar dan begitu menggebu-gebu tidak seperti biasanya yang selalu lembut.
Sedangkan dalam bayangan Keken, kini seolah Farah yang kini ia cumbu bukan Wina. Keken begitu liar dan tidak peduli gadis yang kini berada di bawah kungkungannya merintih kesakitan.
Di setiap hentak*annya Keken selalu menyebut nama Farah dan ini pertama kalinya Wina mendengar Keken menyebut nama seorang wanita selama mereka bercinta. Beberapa kali makian Keken lontarkan pada gadis bernama Farah itu dan Wina hanya diam tidak berani menolak semua perlakuan Keken kali ini padanya.
Hingga mereka meniti kenikm*tan terakhir Keken masih menyebut nama gadis itu.
"Ahhhh... Farah kau begitu membuatku kesal, aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Jangan menjauh dariku Farah!! " Keken masih meracau tidak jelas, aroma alkohol masih tercium dari mulutnya. Ia terbaring lemas disisi Wina yang kini hanya berbalut selimut.
Mata Keken kini terpejam namun mulutnya masih saja memaki gadis itu. Wina hanya menghela nafas panjangnya. Baru kali ini ia melihat sisi Keken yang berbeda. Terlihat begitu frustasi dan menyedihkan.
Wina adalah gadis yang Keken pilih sebagai penghang*t malamnya, walaupun Keken seorang playboy dan cassanova, ia tidak ingin sembarangan menyentuh wanita malam.
Keken menerima tawaran Wina yang saat itu membutuhkan banyak uang untuk pengobatan ibunya. Saat itu Keken tidak meminta lebih, dia hanya kasihan melihat Wina yang seorang diri menanggung hidup ibunya disaat dia juga harus mencari uang untuk biaya kuliah,hingga akhirnya Wina menawarkan diri untuk menjadi selir malam seorang Keken, pria yang menurutnya baik yang mau menampung dia dan ibunya.
"Apa akhirnya kau jatuh cinta dengan gadis bernama Farah itu, sayang?" Wina menelisik wajah Keken, menelusuri setiap garis wajahnya yang begitu tampan.
"Apa gadis itu menggetarkan hatimu hingga kamu begitu frustasi dan kesal." Wina menelusuri bibir Keken yang begitu menggoda
"Jika dia memang perempuan baik yang bisa menggetarkan hatimu, aku akan bersiap untuk pergi sesuai perjanjian kita." ucap Wina. Dan Keken masih tertidur pulas setelah pergulatan panas. Ia tidak mendengarkan apa yang Wina katakan padanya.
__ADS_1