
Hubungan mereka semakin membaik meskipun Keken masih tidak diijinkan untuk menyentuh istrinya, cekcok pun mulai jarang terjadi. Keken tidak masalah karena memang Farah butuh waktu untuk bisa menerima dan mencintai nya. Dan Keken tidak pernah pulang tengah malam lagi karena ia tidak ingin Farah sendirian di rumah.
Hari ini mereka akan pergi ke rumah Dini didaerah Depok,karena saat ini orangtua Dini mengadakan acara khitanan untuk adik lelaki Dini, Arman.
"Sudah siap." Farah melihat Keken yang terlihat rapi dengan batik lengan panjangnya. Corak batik berwarna coklat tua yang menambah ketampanan seorang Keken. Farah tidak pernah melihat suaminya memakai batik dan saat ini ia terkesima karena Keken benar-benar tampan dan terlihat sangat berbeda.
"Jangan dilihatin terus nanti jatuh cinta." Keken melirik istrinya dari cermin lemari, Farah tidak berkedip saat melihatnya.
"Siapa juga yang akan jatuh cinta denganmu!" hardik Farah, ia yang tertangkap basah kini memalingkan wajah, malu itu yang kini ia rasakan.
Ia memasukkan beberapa barang kedalam tas dan tak lupa ponselnya. "Jangan lupa kado untuk adiknya Dini." ucap Keken
"Iya iya, aku ingat, Aku juga sudah mengisi amplop nya" Farah memasukkan kado itu ke dalam paperbag. Kado berisi baju koko dan sarung untuk adik Dini serta amplop untuk orangtua.
" Mana si Khaffi kok belum datang?" gerutu Keken. Entah mengapa saat tahu keluarga Dini menggelar hajatan Khaffi ingin ikut datang dan Dini memperbolehkannya, syukur - syukur dapat amplop tebal, pikir Dini.
Akhirnya setelah lima belas menit menunggu, Khaffi datang dengan membawa mobil. Mereka bertiga langsung pergi ke rumah Dini .
Siang hari, terlihat banyak tamu yang datang dan mencicipi makanan prasmanan yang tersedia. Farah mencium takzim ibu Dini dan memberikan bingkisan pada Arman.
"Semoga cepat sembuh dan menjadi anak soleh."
"Terima kasih kak." Arman begitu senang saat Farah datang, memang mereka jarang bertemu namun sesekali mereka mengobrol saat Dini menelepon keluarga nya.
" Kakak di luar dulu, di sini pengap." Dan itu juga yang membuat dirinya sedikit pusing. Farah tidak kuat melihat banyak tamu yang masuk ke dalam rumah Dini. Ia bergegas keluar dan duduk tak jauh dari tempat prasmanan.
"Nak Farah, ini suamimu ya." Emak Rida melihat dua orang laki-laki namun yang satunya terlihat menonjol karena memakai batik, sedangkan yang satunya memakai kaos.
"Iya mak, ini Keken suami Farah." ujarnya
"Akhirnya kamu mengakui juga kalau aku suamimu." bisiknya di telinga Farah dan dengan cepat ia mendapat cubitan dari istrinya.
"Hi bu, saya Keken." ia mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh wanita itu.
"Panggil saja saya emak, mak Rida." pintanya
"Iya mak."
"Ini siapa?" tanyanya pada seorang pria berbaju kaos yang terlihat santai dan casual, terlihat kalem dan pendiam.
"Saya Khaffi mak." ia pun sama mengulurkan tangan dan dibalas oleh ibunya Dini.
"Kamu teman nya Dini?"
"Iya."
"Bukan." Khaffi dan Dini menjawab secara bersamaan namun tidak sama hingga membuat emak semakin bingung.
" Apa jangan - jalan kamu pacarnya Dini?" tanya emak
"Tidak!" kali ini mereka kompak dalam menjawab hingga terdengar gelak tawa dari Keken dan Farah.
__ADS_1
"Ya sudah terserah kalian mau pacaran atau tidak, emak permisi dulu masih banyak tamu. Dan kamu Farah, makan sepuasnya jangan sampai cucu emak kelaparan." ia mengusap perut Farah yang terlihat membesar.
"Iya mak." Farah
" Nak Keken, tolong jaga anak emak yang satu ini. Farah sudah seperti anak emak sendiri. "pintanya
" Iya mak! " Keken
" Farah, suamimu tampan sekali. Lihat, beberapa wanita terpesona dengan Nak Keken, mereka melihat kearah sini. " Emak tanpa sengaja melihat ponakan dan beberapa tetangga wanita mencuri pandang pada suami Farah.
" Emak sambut tamu dulu, ayo kalian makanlah. "
" Iya mak, terimakasih. " Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya, memang benar kata emak beberapa dari tamu yang sebagian wanita melirik kearahnya dan tentu saja melihat Keken, karena penampilan suami nya itu terlihat menonjol dari yang lainnya. Keken masih terlihat anak orang kaya, aura nya masih ada walaupun dia dimiskinkan oleh sang mommy.
" Lihat, bahkan ibunya si Dini memuji ketampananku sedangkan istriku sendiri tidak pernah memujiku." bisiknya sembari menggulum senyum
"Diamlah!" ketusnya
"Kamu cemburu tidak, semua wanita melihat kearahku?" Keken sengaja tersenyum agar para wanita meleleh padanya.
"Mana ada seperti itu, siapa juga yang cemburu!" Farah kesal karena Keken bicara melantur dan omong kosong apalagi sekarang dia sedang tebar pesona dengan para wanita.
"Mana uang sumbangan nya?" Dini menadahkan tangan tepat di wajah Khaffi. Ia tanpa malu meminta amplop hajatan.
"Siapa juga yang mau ngamplop, aku kesini untuk mencari gratisan." ucap Khaffi
" Dasar pelit! Apa kau tidak pernah kondangan di rakyat biasa? Kalau kondangan disini wajib buka amplop dan memperlihatkan nominal sumbangan dan itu akan dicatat di dalam buku. "
"Ini beneran Fi."
"Ya sudah aku sumbang segini saja, aku kan kesini ingin makan gratis kenapa malah harus bayar." Khaffi membuka dompetnya dan memberi satu lembar uang sepuluh ribuan.
"Apa-apaan ini!" Dini mendelik saat menerima satu lembar uang berwarna ungu. " Ini mah cuma buat jajan somay."
" Lah, emang aku baru ngambil somay doang satu piring jadi pantas dihargai segitu." Khaffi menggulum senyum sengaja membuat Dini kesal.
"Dasar pelit, medit, koret!" umpat Dini
" Kalian itu sama saja, sama-sama pelit!" Kali ini Keken dan Farah kompak bicara. Mereka saling pandang kemudian Farah membuang wajahnya kearah lain.
" Aku tidak pelit!!" Kali ini Dini dan Khaffi yang berkata secara bersamaan. Mereka saling pandang dan tergelak tawa.
Namun saat mereka bercanda, Vania datang bersama chef Ardi. Mereka terlihat kompak dengan seragam batik dengan motif dan warna yang sama.
" Farah!! Aku kangen." teriak Vania, ia buru-buru memeluk Farah dengan erat hingga Keken sedikit kesal karena akan melukai anaknya.
"Pelan-pelan peluk nya, kamu akan menyakiti anakku. Jangan sampai perut Farah ditekan." omel Keken
"Dih! si paling perhatian, aku memeluk Farah dan tidak akan melukai calon anakmu!" Vania mendelik kesal karena sikap Keken terlalu berlebihan.
"Bang Ardi." Farah melirik chef Ardi yang kini menggulum senyum, malu karena ia memacari Vania yang notabene teman Farah.
__ADS_1
"Sudah go public ini, sampai - sampai batik saja samaan" sindir Dini kearah mereka
"Chef Ardi, kau tampan sekali. pantas saja si Vanila tergila-gila denganmu." Dini menaik turunkan alisnya, menggoda Ardi
"Berisik lu Din!" sembur Vania,ia melirik Khaffi yang kini sedang merokok seolah tidak peduli dengan kehadiran mereka.
"Din, lu pacaran sama dia?!" lirih Vania sembari melirik kearah Khaffi
" Tidak!"
"Baguslah, jangan pacaran pria yang modelnya beginian ntar lu sakit hati karena dia pasti mirip sebelas dua belas sama si onoh!" lirihnya lagi, kemudian melirik kearah Keken
"Aku bisa mendengar ucapanmu, Vania!!" kali ini Keken dan Khaffi yang kompak. Mereka mendengar Vania sedang membicarakan mereka
"Tuh, liat kan mereka kompak dalam menjawab." Vania berkata lagi.
"Kenapa Farah punya teman yang sama gilanya." gerutu Keken
"Dan kamu juga sama gilanya dengan si Khaffi!" seru Farah dengan cemberut
"Ayo kita masuk dulu, hari ini mendung sepertinya akan hujan." Dini meminta para sahabatnya untuk masuk ke dalam rumah karena cuaca mulai mendung dengan awan menghitam.
" Lu nggak lemparin celana d*lam keatas atap Din, itu kan penangkal hujan." Vania
" Lupa."
" Memangnya ada apa dengan celana d*lam, kok bisa sebagai penangkal hujan?" tanya Khaffi
" Jadi begini, mitos nya kalau mau hajatan itu kita harus lempar tuh celana d*lam pera wan keatas atap agar acaranya berjalan lancar dan tidak hujan. " jelas Vania
" Mitos yang aneh, apa hubungannya celana d*lam dengan hujan, memangnya hujan tahu mana celana yang masih pera wan dan mana yang janda. " Khaffi menggelengkan kepala, aneh memang hidup di masyarakat yang masih memegang kepercayaan mitos.
" Kalau aku lebih suka isi celana d*lam nya. "kelakar Keken
" Ya sudah Din, ayo cepetan lemparin keatas atap sebelum hujan , apa perlu pakai celana dalamku. "Farah menggulum senyum
" Kamu sudah tidak pera wan sayang, lihat perutmu membesar seperti ini."Keken menatap malas pada istrinya yang lupa bahwa dirinya sedang hamil.
Farah menampakkan baris giginya yang rapi.
" Punyaku saja, aku akan mengambilnya di lemari. "Dini
" Kayak masih pera wan saja. " celetuk Khaffi sembari menghembuskan nafas ke udara hingga terlihat kepulan asap.
" Eh, ******! Biarpun gue judes begini, gue selalu menjaga mahkota gue! Nantinya cuma suamiku saja yang menikmatinya bukan yang lain!"sembur Dini, ia mendelik kesal karena Khaffi meragukan kepera wanan nya. Ia masuk ke rumah dengan hati kesal .
" Lu sih cari perkara! " Vania menyalahkan Khaffi atas kejadian ini.
" Udah tahu Dini sensitif masih aja lu pancing. " Vania lagi
" Entar juga dia balikkan lagi, lu tenang aja." Dengan santai nya Khaffi menghisap rokoknya lagi tanpa memperdulikan omelan Vania yang kesal dengan nya.
__ADS_1