
Saat Farah berkemas, ia menerima seorang tamu, pria paruh baya yang terlihat kuyu dan kelelahan.
"Farah..." sapanya
Gadis itu menoleh dan Keken yang sedang duduk di sofa ikut melihat siapa tamu yang datang.
"Bapak." panggil Farah
"Bapak dengar kamu sakit, Vania menghubungi bapak." lanjutnya lagi
"Bagaimana kabarmu Nak?" matanya berkaca-kaca saat melihat Farah yang semakin kurus.
"Baik." Namun matanya menunduk malu.
"Permisi pak, saya Keken." ia mengulurkan tangan ingin menjabat tangan orangtua Farah
"Oh, jadi kamu yang namanya Keken. Kamu yang merusak anak saya." mata bapak menyalang kearah Keken
"Bugh...!!" satu pukulan mendarat di sudut bibir Keken dengan cepat.
" Bapak...!!!" Farah terkejut saat ayahnya memukul Keken
" Gara-gara kamu, anak saya gagal menikah dan sekarang hamil! Kamu harus bertanggung jawab!" teriak Bapak
"Maaf." ucap Keken, ia yang tersungkur kini mencoba bangkit
"Lepas Farah! Lepaskan bapak! Pria ini harus diberi pelajaran." Farah mencoba menahan tangan bapaknya agar tidak memukul Keken lagi, ia tidak ingin bapaknya masuk penjara karena kasus penganiayaan
"Bapak..!!" teriak Farah, "Perut Farah sakit." ia meringis kesakitan, entah kenapa perutnya berdenyut nyeri
"Farah, mana yang sakit?" bapak menggendong Farah dan membaringkanya di tempat tidur.
"Aku akan panggil dokter." Keken sedikit panik dan menekan tombol darurat.
"Aku tidak apa-apa,sudahlah." Farah menghirup nafas panjangnya dan membuangnya perlahan-lahan.
Beberapa menit kemudian dokter datang dan mengecek keadaan Farah, dan Farah dinyatakan baik-baik saja. Farah tidak boleh tertekan ataupun stress karena itu sangat berpengaruh pada kehamilannya.
"Aku sudah bilang, aku baik-baik saja." ucap Farah kembali, " Aku hanya kaget bapak datang kemari dan berkelahi dengan Keken." Namun matanya melihat ke wajah Keken yang terlihat biru di sudut bibirnya, bekas pukulan bapak.
"Jika bapak ingin memukulku kembali aku persilakan, jika itu bisa membuat bapak lega. Tapi, perlu bapak tahu. Aku akan bertanggung jawab dan menikahi Farah, itu janjiku pak." ucap Keken
Bapak menelisik wajah Keken dari dekat mencari kebohongan dari matanya, namun tidak ada." Pria ini benar-benar ingin bertanggung jawab. " gumam bapak dalam hati
" Beri kami waktu untuk bicara. "pinta bapak. Dan Keken mengangguk patuh dan keluar dari ruangan.
" Maafkan bapak. " ia duduk di sisi Farah dan mengenggam tangan anaknya.
" Bapak lalai padamu hingga kamu seperti ini. " Bapak menitihkan airmata, namun Farah merasa aneh. Ia yang tidak terlalu dekat dengan bapaknya kini baru menyadari bahwa ayahnya bisa menangis, tidak seperti biasanya yang terlihat dingin dan tidak peduli.
__ADS_1
"Hilman menelepon bapak dan menceritakan semuanya. Ini semua salah bapak karena tidak menjagamu, hingga kamu menderita sepanjang waktu."
" Kenapa bapak baru sadar sekarang! Kenapa dulu bapak tidak peduli padaku? Kenapa bapak tidak sayang padaku? Apa salahku pak, apa karena aku bukan anak bapak? " Farah menangis keras seolah menumpahkan beban yang menghimpitnya selama ini.
" Maafkan bapak. "
" Sudah terlambat pak, terlambat! "Farah membuang wajahnya kearah lain. Tak ingin melihat wajah bapaknya yang selama ini membuatnya menderita
" Apa kau mau mendengarkan cerita bapak, cerita yang sebenarnya. Setelah kamu mendengar kenyataan itu, terserah kamu jika mau membenci bapak. "
Farah menoleh kembali kearah bapaknya.
"Dulu bapak memang mencintai ibumu tapi ternyata ibumu mencintai pria lain. Ibumu dan ibu tirimu teman dekat. Layaknya seorang teman mereka bermain dan belajar bersama, dan ternyata ibu tirimu mencintai bapak.
" Saat bapak mengatakan cinta pada ibumu, saat itu juga bapak tahu ternyata ibumu telah berpacaran dengan ayah kandungmu, Faisal. Hancur rasanya, dunia seakan berhenti berputar.
Ibumu yang cantik membuat bapak tidak bisa melupakannya dan hingga akhirnya Tami datang pada bapak dan mengutarakan perasaannya, namun bapak tolak. Dia marah dan tidak terima.
" Seiring berjalannya waktu, ibumu hamil diluar nikah dengan pria itu, untuk menutupi aib mereka melakukan pernikahan dengan cepat namun naas sebelum pernikahan itu terjadi ayahmu meninggal karena kecelakaan. Ibumu sedih, kalut, bingung, bagaimana dia menghadapi seluruh pertanyaan dari keluarga karena gagalnya pernikahan dan saat itu juga bapak menawarkan diri untuk menggantikan calon mempelai pria. Tidak ada yang mengira kami akan menikah, bapak bahagia saat itu karena bisa menikah dengan ibumu.
Namun nyatanya ibumu masih saja mencintai pria itu, bapak dengan sabar menerimanya. Dan setelah kamu lahir, wajahmu mirip dengan ayah kandungmu itu yang membuat bapak kesal. Jujur saja saat itu bapak mencintai ibumu, bukan kamu.
Tapi beberapa bulan kemudian kamu begitu menggemaskan, lucu dan cantik. Bapak menyukainya dan dari situlah bapak mulai menerima kamu sebagai putri bapak. "matanya menerawang jauh. Bulir airmata masih tergenang di sudut matanya saat mengingat kisah lama itu.
" Saat kejadian kebakaran itu, satu hari sebelumnya bapak bertengkar hebat dengan ibumu. Bapak marah karena ibumu masih saja memimpikan pria itu. Bapak cemburu dan ibumu ingin bercerai dengan bapak. Aku menamparnya saat itu karena dia sudah keterlaluan, pengorbananku selama ini tidak pernah ada dimatanya."
" Ibumu meninggal karena menyelamatkanmu, dulu ia pernah berkata lebih baik dia yang meninggal asal jangan kamu, anak dari pria yang dia sayangi. Saat itu, emosi bapak begitu meluap karena selama ini merasa dibohongi. Ibumu tidak pernah mencintai bapak, ibumu hanya mencintai ayah kandungmu hingga akhirnya bapak membencimu. "
" Saat di pusara ibumu, tantemu meminta kamu untuk tinggal bersamanya namun bapak menolak. Bapak dengan segala cara menahanmu agar selalu berada di sisi bapak. Saat itu bapak menyalahkanmu atas kematian ibumu karena bapak ingin kamu menderita. Itu sebagai balas dendam pada ibumu yang sudah meninggal. "
" Bapak mengabaikanmu saat itu, tetapi akhirnya bapak sadar saat kamu masuk rumah sakit dan membutuhkan donor darah. Bapak tidak ingin kehilanganmu, kamu begitu berharga untuk bapak.
" Bapak pontang - panting mencari pendonor karena stok di PMI kosong saat itu dan tante Eri tidak bisa datang karena dinas di luar kota. Ia tidak bisa pulang cepat karena tugasnya belum selesai. "
" Dan saat bapak frustasi mencari darah yang sesuai denganmu, ibu tirimu datang seperti pahlawan tapi nyatanya dia meminta imbalan. Dia masih saja terobsesi pada bapak dan ingin menikah denganku, bapak bingung karena Tami juga meminta bapak untuk melepaskanmu karena kita tidak ada ikatan darah. "
" Bapak menolak saat itu, tapi kondisimu semakin kritis hingga akhirnya bapak setuju untuk menikah dengannya tapi bapak tidak menyetujui jika kamu pergi dari bapak. "
Farah hanya sesenggukan saat mendengar cerita dari bapaknya.
" Lalu kenapa bapak seolah tidak sayang padaku, bapak diam saja saat aku diusir dari rumah. "
" Itu karena bapak tidak ingin kamu selalu dicaci maki ibu tirimu, dan rumah itu milik Tami. Bapak tidak punya apa-apa selain kamu, Farah." jawabnya
"Bapak memang salah, bapak hanya ingin melindungimu dengan caraku. Kamu ingat, ibumu pernah berkata jadilah anak baik dan raihlah mimpimu. Bapak bekerja siang malam untuk kalian, tanpa sepengetahuan ibu tirimu bapak menyisihkan uang agar kita bisa bersama. Uang beasiswa yang kamu peroleh dari universitas itu sebenarnya dari bapak. Bapak menyuruh dosenmu, pak Rinto untuk memberikan kamu keringanan biaya tanpa sepengetahuanmu dan ibu. Uang yang kamu dapatkan dari pencuci piring dulu itu sebagian uang ayah yang sengaja ayah titipkan melalui pemilik warung itu,makanya saat itu upahmu sama dengan pekerja lainnya. Itu yang bisa bapak lakukan untukmu. "
" Bapak sering marah padamu saat kamu bermain dengan pria karena bapak takut terjadi apa-apa denganmu Nak, setiap teman pria mu datang bapak selalu marah karena bapak tidak mau kejadian seperti ini. Kamu satu-satunya harta yang bapak miliki dari almarhumah Melisa yang harus bapak jaga, maaf jika selama ini bapak keras dan seolah tidak peduli denganmu. "
" Tami tidak akan tinggal diam jika tahu bapak masih membantumu, karena secara garis besar memang kamu bukan darah daging bapak, tapi bapak tidak bisa membiarkanmu sendiri. Bapak selalu menengokmu di akhir pekan, melihatmu dari jauh. Saat kamu pulang kerja malam dari restoran bapak mengikutimu dari belakang dan temanmu yang satu kontrakan pernah melihat bapak dari jauh tapi bapak pura-pura tidak melihatnya. "
__ADS_1
" Lalu kenapa bapak tidak pernah sekalipun bertemu denganku secara langsung, kenapa pak? Huhuhu... "Farah menangis keras saat tahu kebenarannya.
" Bapak tidak bisa, bapak tidak sanggup karena bapak sudah terlalu banyak salah padamu. Bapak hanya bisa memberimu uang dari jauh dan tanpa kamu ketahui. "
" Jika kamu tidak percaya tanyakan saja pada dosenmu itu, pak Rinto. Pemilik warung nasi bu Zulekha, dan pemilik restoran tempatmu bekerja mba Riri itu. "
" HAH...!! Mbak Riri pun tahu? "tanyanya
" Iya Farah, dia tahu tapi bapak memintanya untuk diam dan tidak memberitahukan padamu. "
" Bapak.... "lirih Farah." A... aku tidak tahu mana yang harus aku percaya karena apa yang aku alami dulu sangat menyedihkan. Aku seolah hidup sendirian dan terbuang. "
" Bapak tahu, maafkan bapak. Aku tidak menyuruhmu untuk percaya ceritaku Nak, tapi jika kau ingin tahu kebenarannya bisa kau tanyakan pada orang-orang yang tadi bapak sebutkan. Coba kau cek juga cctv di sekitar rumahmu, restoran dan tempatmu kuliah dulu." ucap Bapak
Farah hanya menundukkan kepala, hatinya masih kekeh bahwa bapak tidak pernah sayang padanya. Bahkan saat ini pria paruh baya itu duduk disisinya terasa aneh, seperti orang lain.
"Tidak apa-apa Nak! Bapak mengerti keadaanmu, jika kamu marah pada bapak, aku terima."
" Maafkan bapak, maaf Nak." Airmata bapak pun mengalir deras. Rahasia yang ia tutupi bertahun-tahun kini ia ceritakan pada putrinya.
"Farah, bolehkah bapak memelukmu?" pintanya
Farah terkesiap mendengar permintaan bapaknya, sudah lama ia tidak pernah mendapat pelukan dari sang bapak. Ia menganggukan kepala.
"Ternyata anak bapak sudah besar." Pak Ilham memeluk Farah dengan lembut. "Sudah lama bapak tidak memelukmu seperti ini."
"Ya lama sekali, terakhir saat aku berumur delapan tahun."
"Maafkan bapak." kata maaf selalu meluncur dari mulut bapaknya
"Kamu masih simpan kan uang tabungan itu? Semua itu untuk biaya pernikahanmu."
"Aku sudah menyimpannya dengan baik, dulu ibu pernah datang meminta kartu itu tapi anehnya dua hari kemudian kartu itu berada di depan pintu Farah, entah siapa yang mengembalikan. Setelah aku cek saldonya masih utuh, aku pikir itu pasti bukan ibu yang mengembalikan,mungkin saja Fadil. "jawab Farah
" Yang terpenting itu masih utuh. Bapak ingin melihat kamu menikah dan pasti akan terlihat cantik seperti ibumu dulu. "
" Kamu tenang saja, masih ada Om Brama yang akan menjadi walimu. Bapak akan menelepon dia jika dibutuhkan untuk menjadi wali."
"Aku tidak mau menikah pak." Farah menundukkan kepala
"Apa! Bagaimana bisa kamu tidak mau menikah, apa jangan - jangan pria tadi tidak mau bertanggung jawab? Akan bapak hajar lagi dia jika berani macam-macam!"geramnya
"Dia mau bertanggung jawab tapi Farah yang tidak mau."
"Jangan gila kamu Farah! Bayi ini harus memiliki akta kelahiran, memangnya kamu mau anakmu lahir tanpa ayah." Farah hanya diam membisu
"Bapak berharap kamu pikirkan lagi tentang hal ini, semakin hari kandunganmu akan semakin besar. Bapak minta pikirkan dengan baik jangan emosi sesaat. Bapak pernah berada di posisi seperti ini, bapak minta mulailah hidup yang baru, belajarlah mencintai dia. Demi anakmu Nak!"
" Bapak ...." lirih Farah, semakin banyak orang yang mendesaknya untuk menikah dengan Keken, Farah semakin tidak berdaya.
__ADS_1
Dan pria yang mendengar pembicaraan orangtua dan anaknya itu kini tersenyum lega. Ia mengira akan terjadi keributan karena Farah tidak menyukai bapaknya. Keken mengusap airmatanya yang tadi sempat menetes saat mencuri dengar.
"Kenapa aku seperti mba Kinan yang cengeng, sih!" gerutunya. Ia pergi membasuh muka agar tidak terlihat seperti orang yang telah menangis.