
Malam hari,
Setelah perdebatan dengan sang mommy, Keken pergi entah kemana dan Farah pun tidak peduli. Ia tidak pernah menanyakan kemana Keken pergi. Namun ada satu yang kini ia pikirkan tentang Keken, pria itu berusaha melindunginya dari pihak luar yang kini sedang menjadi bahan gosip di media sosial.
Flashback On
" Pernikahan dari anak pengusaha Feriansyah kini menikah karena hamil diluar nikah"
" Gadis dari kalangan biasa menikah dengan Kendrew Putra Feriansyah dilakukan secara meriah"
" Pernikahan mewah dari keluarga Feriansyah untuk menutupi aib sang putra mahkota"
Sederet potongan berita yang Dini dan Vania yang kirimkan pada Farah, begitu dahsyat gosip miring yang beredar di awal pernikahan nya.
Farah akhirnya bervideo call dengan para sahabatnya.
" Farah, kau sudah membaca pesanku? Aku harap kamu tahu tentang hal ini." Dini
"Farah, kau baik-baik saja kan?Aku menghubungimu sejak semalam tapi ponselmu tidak aktif." Vania begitu khawatir dengan kondisi Farah yang tidak ada kabar sejak semalam.
"Aku baik-baik saja." sahut Farah. Ia menceritakan pada sahabatnya bahwa ponselnya disita Keken. Dan saat ini Farah baru tahu tentang gosip itu.
" Posesif juga si brengs*k itu!" ucap Dini
" Dia yang terbaik, buktinya dia tidak ingin Farah tahu berita ini. Aku yakin Keken tidak mau Farah banyak pikiran." bela Vania
"Kok kamu belain dia!" Dengan nada tinggi Dini berteriak diujung telepon
"Aku tidak membelanya tapi ini kenyataan kalau dia pria baik dan bisa diandalkan untuk menjaga Farah."
"Terserah lu Van, tapi gue masih tetap tidak percaya dengan dia." ucap Dini
"Lu mah curigaan mulu makanya jomblo karatan!" goda Vania
"Eh, gue emang jomblo tapi bukan karatan, emang gue besi!"
" Lu tuh yang kecepetan move on, baru putus langsung dapat deketin chef Ardi." seru Dini. Ia beberapa kali menergoki Vania jalan bareng chef Ardi.
"Beneran Van." Farah menutup mulutnya, "Lu jadian sama chef Ardi?" Farah tidak mengkhawatirkan dirinya yang saat ini sedang menjadi bahan pembicaraan, ia malah lebih tertarik dengan nasib percintaan sahabatnya.
" Gue nggak jadian sama dia, kita cuma temen." Namun terlihat rona merah di wajah Vania
"Ah bohong lu! Bilang saja naksir duda keren itu, ngaku lu!" Dini semakin mengintimidasi Vania.
"Sudahlah jangan bertengkar terus, aku malah tambah pusing." Farah lalu bercerita tentang rencananya untuk tinggal bersama Keken di kontrakan, ia menceritakan perjanjian Keken dan ibunya. Namun sepanjang Farah bercerita Dini malah tergelak tawa.
"Apaan sih Din, kok lu ketawa begitu." dengus Farah dengan kesal
"Crazy rich sekarang dimiskinkan, ya ampun Farah aku kira setelah kamu menikah kamu bakal hidup enak. Aku setuju kamu menikah dengannya agar kamu hidup lebih baik dan nyaman tidak perlu susah payah bekerja lagi. Aku tidak mau kamu bekerja seumur hidup makanya aku yes saat lu nikah sama dia nyatanya Keken kere. "
__ADS_1
" Aku juga berpikiran seperti itu Farah,selain tentang nasib si bayi aku juga tidak mau melihatmu kesusahan lagi masalah keuangan tapi nyatanya pria itu sekarang miskin. Kesel banget gue dengernya, lu kagak jadi orang kaya dong. " timpal Vania
" Ternyata kalian berdua sama saja! Sama-sama matre. "ketus Farah. Ia tidak pernah sekalipun berpikiran untuk hidup enak bergelimang harta bersama Keken, ia tidak silau dengan kekayaan orangtua Keken. Satu - satunya alasan Farah mau menikah dengannya karena Hilman, ia tidak mau melihat pria yang dicintainya masuk penjara.
"Kita harus realistis, hidup perlu duit bukan daun!"
"Benar, aku pun setuju kali ini sama si judes. Hidup perlu duit, kagak ada duit pusing Farah karena sekarang serba pake duit!" timpal Vania
"Terserahlah apa kata kalian, aku ingin istirahat dulu. Assalamualaikum."
"Walaikumm salam."
Flashback Off
Farah hanya menerima pesan dari Keken bahwa dia akan pulang larut malam dan Farah tidak perlu menunggunya. Namun bukan itu yang membuat Farah kesal, tapi nama dalam kontak teleponnya yang kini tinggal beberapa saja apalagi saat melihat nama kontak dari Suamiku sayang.
"Geli banget bacanya." gerutu Farah, ia menghapus nama itu dan mengganti dengan nama pria sinting. "Nah, kalau begini kan baru bener." ia tersenyum dan menaruh ponselnya di nakas. Dan seperti biasa Farah bergulang guling merasakan kenyamanan tempat tidur Keken yang begitu besar dan empuk.
"Ah... Ini nyaman sekali. Andai saja dirumah ada ranjang seperti ini, aku pasti tidak mau bangun dari tempat tidur. Ini sangat nyaman, kira - kira berapa ya harganya. " gumam Farah pada dirinya sendiri.
Ia membersihkan wajah dan menarik selimut namun saat ia memejamkan matanya lagi, Farah tidak bisa tidur.
" Kebiasaan deh adek, nggak mau bobo kalau belum cium parfum ayah. " gerutu Farah, ia bangkit dan mencari parfum Keken yang biasa ia pakai sebelum tidur. Entah kenapa semenjak hamil, Farah wajib mencium aroma parfum yang biasa Keken pakai agar tertidur lelap.
" Kok tidak ada sih! " gerutu Farah. Ia mencari parfum Keken di dekat kaca. Tempat dimana semua parfum Keken tersimpan. Bentuk parfum Keken yang unik dan mencolok dengan warna merah sehingga bisa langsung dikenali.
"Iya, beneran nggak ada ini, gimana dong!" kesalnya.
Namun sesaat kemudian ia memiliki ide seperti saat di hotel. Farah yang lupa membawa parfum itu langsung berpikiran mencari pakaian Keken di lemari dan benar saja ada bekas aroma maskulin itu yang membuatnya nyaman untuk tidur.
Sekarang, ia pun berpikiran sama untuk mencari pakaian Keken di lemarinya. "Ini kalau aku buka lemari ketahuan tidak ya?" tanyanya pada diri sendiri
"Nanti dikira aku mencuri lagi." Ia begitu khawatir, ia melihat jam dinding dan menunjukkan pukul sembilan malam. Keken pun tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.
"Andai saja parfum itu dijual bebas di minimarket, aku pasti akan membelinya." Namun ia dengan cepat membuka online shop dan mencari jenis parfum Keken, berharap ada yang menjualnya di area terdekat.
"Ya ampun..." Ia menggigit jarinya karena terkejut melihat harga parfum itu.
"Sepuluh juta hanya untuk parfum dan itu hanya berisi lima puluh mili, keterlaluan!" Farah menggelengkan kepala. Ternyata parfum yang Keken gunakan produk dari luar negeri. Limited edition.
Mau tak mau Farah membuka lemari milik suaminya dan ia mulai terkesiap saat melihat begitu banyak baju yang tertata rapi.
" Dia benar-benar kaya raya." Farah mengambil beberapa kemeja Keken dan melihat merk yang tertera di bagian kerah baju.
" Ini merk terkenal, kira - kira Keken punya baju murah tidak ya atau kaos seharga lima puluh ribuan." tanyanya bermonolog.
Dan ia mulai mencium satu persatu baju di lemari namun tidak satupun ia mendapatkan wangi seperti parfum itu.
"Ini bagaimana, sih! Kok tidak ada yang wangi soft maskulin ini sih!" gerutunya. Ia mulai lelah dan duduk di ranjang kembali. Namun matanya melihat satu ruangan yang tertutup, ia begitu penasaran dan mencoba masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Ya ampun...!" Farah kembali terkesiap melihat ruangan walk in closet Keken. Ini baru pertama kalinya ia melihat ruangan yang tertata rapi dengan berbagai macam aksesoris pria di dalamnya.
"Sepatu, jam tangan, dasi, jaket, sabuk." Farah mengabsen satu persatu barang milik Keken. Semuanya terlihat rapi dan bermerk. Luar biasa.
"Bagaimana dia bisa hidup sederhana denganku sedangkan semua miliknya sangat berharga dan mahal. Aku jadi tidak yakin dia bisa hidup susah." gumamnya dalam hati. Membayangkan Keken tinggal di rumah petak dan sempit membuat hati Farah merasa kasihan dengan Keken. Ia yakin Keken tidak akan betah di kontrakan yang panas dan pengap.
Farah cepat - cepat keluar dari ruangan itu, ia takut ada barang yang hilang dan harus mengantinya. Tabungannya tidak akan cukup untuk membayar barang itu, pikirnya.
Namun ia enggan menutup mata padahal ia merasa ngantuk. Perutnya pun sudah terisi penuh saat makan malam bersama ibu mertuanya.
"Ya ampun Nak, kenapa sih nyusahin gini. Ibu ingin tidur tapi kamu mau cium parfum ayah." helaan nafas Farah terdengar begitu berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar dirinya bisa memejamkan matanya.
Farah menelepon mommy Imelda dan meminta parfum Keken yang seperti biasa, malu sudah pasti tapi dia harus melakukannya agar bisa tidur terlelap.
"Keken kemana?" Imelda masuk kedalam kamar Keken dan memberikan parfum pada menantunya seperti keinginan sang calon bayi.
"Tidak tahu, dia hanya bilang pulang malam." Farah tanpa malu meraih parfum itu dan menyemprotkan sedikit di pergelangan tangan. Hanya sedikit, karena dia khawatir parfum itu akan habis dan dia tidak mampu untuk membelinya.
"Kalau suami pergi dan kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk memintanya. Tanyakan dia pergi kemana, sama siapa, pulang jam berapa. Menikah itu perlu komunikasi Farah, jangan hanya diam apalagi pria seperti Keken yang banyak wanitanya, bisa-bisa direbut paksa oleh wanita lain. Kamu harus menjaga suamimu dan harus saling percaya apapun yang terjadi nantinya. " Imelda memberikan petuah dan nasehat.
" Kalau butuh sesuatu telepon mommy, kalau parfum ini habis minta sama Keken atau kamu bisa memeluknya secara gratis jadi tidak perlu repot-repot beli parfum lagi. " lanjutnya sembari menggoda.
Farah hanya tersenyum kecut mendengar godaan dari ibu mertuanya, bagaimana bisa dia memeluk Keken, melihat wajahnya saja terkadang membuat dirinya kesal.
" Iya mom. Maaf, Farah menganggu istirahat mommy. "ucapnya dengan menyesal
" Tidak masalah, untung saja teman mommy selalu sedia produk ini ya walaupun rumahnya jauh. "
" Kamu tidak buka hadiah kado pernikahan itu. "Imelda menunjuk gunungan kado yang berwarna ungu.
" Besok saja mom, hari ini aku merasa lelah dan ingin beristirahat. "ucapnya bohong. Farah tersenyum simpul agar mertuanya tidak curiga. Bagaimana ia bersemangat untuk membuka kado sedangkan ia tidak menginginkan pernikahan ini. Farah pun masih tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi nyonya Keken dan tinggal di mansion mewah.
" Mommy titip Keken. "Imelda mulai berbicara serius sembari menggenggam tangan menantunya. Farah hanya menatap sang ibu mertua, terlihat raut kesedihan di wajahnya.
" Keken anak yang baik, mommy percaya dia akan melindungimu. Kamu tidak perlu khawatir dengan pemberitaan diluar sana. Besok pagi, berita itu akan menguap tanpa sisa semuanya akan kembali seperti semula dan kamu tidak perlu takut untuk keluar rumah dan tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi pada orang lain. "
" Mommy hanya ingin Keken berubah agar bisa menghargai uang. Ia selalu foya-foya dan menghabiskan tabungan nya untuk hal yang tidak penting. "
"Mommy menyuruhnya untuk tinggal bersamamu bukan karena tidak menyayangi kalian, mommy hanya ingin kalian hidup rukun dan memulainya dari awal. Mommy yakin cinta akan datang dengan sendirinya.Jika kamu butuh sesuatu dan itu sulit Keken berikan, katakan pada mommy. "
"Mommy...." lirih Farah, ia meneteskan airmata. Ia merasa beruntung memiliki mertua seperti mommy Imelda. Walaupun terlihat dingin, namun hati mommy begitu hangat dan mau menerimanya dengan tangan terbuka. Farah pun tahu diri, tidak semua orang kaya bisa menerima gadis miskin seperti dirinya.
"Mommy, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk pernikahan ini." lirih Farah.
" Aku belum bisa menerima kehadiran Keken, maaf." ia menundukkan kepala
"Mommy tahu, sekarang yang terpenting bayi ini lahir dengan selamat setelah itu terserah kamu, mommy tidak akan memaksamu untuk mencintai anak mommy. Kamu berhak hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai walaupun itu bukan Keken. Bersabarlah, setelah anak ini lahir berikan pada mommy lalu lanjutkan hidupmu, mommy tidak akan ikut campur jika kamu ingin bercerai dengan Keken. "
" Mommy... " Farah sudah tidak bisa lagi mengelak, seolah Imelda tahu apa isi hatinya.
__ADS_1
" Aku sayang mommy. "Farah tanpa ragu memeluk ibu mertuanya. Terasa hangat seperti orangtuanya sendiri.
" Mommy juga menyayangimu. "