
Beberapa hari ini Keken tidak enak badan, dia merasa pusing dengan segudang aktifitas kantor yang setiap hari ia kerjakan.
Kini Antoni yang melihat Keken lebih serius dalam pekerjaan kini sedikit lega karena tugasnya mulai berkurang. Keken tidak lagi mengandalkan dirinya untuk setiap pekerjaan, Keken yang sekarang lebih bertanggung jawab, disiplin dan mau mengikuti beberapa rapat penting perusahaan. Otaknya yang encer sering kali membuat keputusan yang tepat dan beberapa orang kagum dengan kepintarannya dalam berbisnis.
"Antoni, apa jadwal untukku hari ini ?" Keken menarik dasinya yang terasa sangat mencekik leher. Rapat barusan membuat kepalanya semakin pusing tak terkendali.
Keken membuka laci meja kerja dan meminum obat sakit kepala, Antoni yang melihat Keken kelelahan hanya bisa iba karena kesibukan yang Keken lakukan saat ini memang sudah direncanakan oleh ibunya, mommy Imelda. Beberapa hari yang lalu Antoni mendapatkan perintah untuk selalu mengawasi Keken agar selalu sibuk di perusahaan dan melupakan gadis itu.
Mommy Imelda yang tahu persis sifat dan karakter anaknya tidak akan tinggal diam melihat Keken yang selalu berusaha mencari kesempatan untuk menggoda gadis itu hingga akhirnya sang ibu harus membuat anaknya sibuk dengan pekerjaan dan berupaya mengirimnya pergi untuk mengelola perusahaan properti di Malang.
"Antoni, apa kau tuli?! Apa jadwalku hari ini." sentak Keken, ia begitu tidak sabar mendengar rentetan jadwal yang harus dia kerjakan hari ini.
" Siang ini ada rapat dengan perusahaan Adi Cipta, sore ada acara makan bersama dengan beberapa investor tuan dan malam ini anda diundang dalam acara pernikahan Sonia dan Hafizh." Antoni membacakan jadwal Keken
"Pernikahan Sofia dan Hafizh, siapa mereka?" tanyanya
" Sofia anak dari direktur perusahaan telekomunikasi dan Hafizh seorang anak mantan pejabat daerah."
"Jam berapa?"
" Acara jam delapan malam tuan."
Keken mulai berpikir bagaimana dia bisa keluar dari perusahaan ini dan pergi bersenang-senang. Ia teringat kembali pada Farah, gadis yang selama ini ia rindukan namun selalu mengabaikan dirinya. Keken tersenyum menyeringai setelah mendapatkan ide untuk keluar bersama Farah.
" Tuan, apa yang sedang anda pikirkan?" Antoni melihat gelagat aneh dari Keken
"Tidak ada."
"Apa perusahaan Hara Animation diundang?"
"Tentu tuan. Raffa juga akan datang malam ini, eh maksud saya tuan Raffa." Antoni yang terbiasa bicara santai dengan Raffa kini sedikit lupa bahwa saat ini dirinya berada di perusahaan harus berbicara dan menyapa dengan bahasa formal.
"Oke, mari kita kerjakan jadwal ini satu persatu." Keken tersenyum lebar seolah bahagia bahwa hari ini dia punya alasan untuk bertemu dengan Farah.
* **
Waktu sudah menunjukan pukul empat namun seseorang yang Keken tunggu belum juga menampakan batang hidungnya. Keken mulai gelisah karena sebentar lagi tamu investor akan datang ke restoran tempat mereka bertemu.
Keken melirik jam tangannya beberapa kali dan terlihat gusar, Antoni yang melihatnya kini hanya mengenyitkan dahi.
"Tuan, apa anda memerlukan sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak!" Keken membuang wajahnya, ia sedikit kesal dengan Antoni karena seminggu terakhir, ia selalu menempel padanya. Proyek di Utara yang seharusnya Keken tangani kini dipindah tugaskan pada orang kepercayaan sang mommy. Beberapa kali Keken memohon pada ibunya, namun Imelda tidak mengizinkan Keken untuk mengurus proyek itu. Keken tahu ini perbuatan sang ibu untuk menjauhkan dirinya dengan Farah. Namun, semakin Keken dicegah maka ia akan semakin melawan.
"Apa kau tidak punya pacar hingga saat malam minggu seperti ini masih bekerja?" sindir Keken
Antoni tidak menjawab, ia tidak ingin ada orang lain yang bertanya masalah pribadinya.
" Kau memang benar-benar menyebalkan." Keken menatap jengah, karena Antoni selalu diam saat ditanya tentang hal pribadi
" Kulkas berjalan apa kau akan selalu mengikutiku!" sindir Keken pada Antoni. " Aku rasa Ratu Medusa yang memintamu untuk selalu membatasi ruang gerakku, jangan salahkan aku berbuat sesuatu di luar dugaan kalian!" ancam Keken
Antoni masih tidak bergeming, ia terlihat datar dan pura-pura tidak mendengar.
Keken meremas jari tangannya, orang yang Keken tunggu belum menampakan batang hidungnya. Ia harap-harap cemas.
" Drt... Drt... " suara dering telepon Keken berbunyi
" Lu dimana?" tanya Keken dengan tidak sabar
" Maunya dimana?" goda seseorang di ujung telepon dengan suara menggoda
"Najis! Suara lu nggak usah begitu bikin gue geli aja." Keken bergedik geli
"Bangs*t!!" umpat Keken dengan kesal
Dan seseorang itu tergelak tawa dibelakang tubuh Keken. Ia terlihat begitu keren dengan setelan kaos merah yang dipadupadankan dengan jas hitam dan sepatu kets.
"Kelamaan lu!" sembur Keken pada Fafa yang masih saja tersenyum cengengesan.
" Nggak usah marah - marah, muka lu udah tua entar tambah keriput." kelakar Fafa
"Gue Keken, selalu tampan tiada tara. Mana ada wajah tua dan keriput, cuih..!" seperti biasanya jargon Keken yang selalu ia lontarkan.
"Kok lama, sih! Pasti si flora fauna rewel ya?"
"Nama anak gue Raya dan Rain bukan flora fauna, enak saja ganti-ganti nama anak gue sembarangan." Fafa menoyor kepala Keken
"Sama ajalah..."
" Bedalah, awas saja kalo salah panggil anak gue lagi, gue nggak bakalan ngikutin kemauan lu!" ancam
"Terserah, yang terpenting sekarang gue pergi dulu." Keken menyeringai seolah mengejek Antoni
__ADS_1
" Hei kulkas berjalan, jangan menempel padaku karena aku tidak suka dan hari ini aku akan bersenang-senang." Keken memperingatkan Antoni agar menjaga jarak dengannya.
Dengan cepat Keken berlari menuju mobilnya, sedangkan Antoni menelepon nyonya Imelda memberikan informasi tentang Keken.
Flashback On
Di toilet kantor Keken menelepon Fafa, karena di tempat inilah dia merasa aman dari gerak-gerik Antoni.
"Apa!!" satu teriakan yang keluar dari ujung telepon
"Wow.. Wow.. Wow... santai men, kenapa marah begitu. Ah, pasti tidak ada jatah dari si Janin. Kasihan..." Keken cekikikan di ujung telepon
" Nggak usah ngledek, ini lagi riweh sama si kembar apalagi ini si Janin lagi mewek nggak tau apa yang ditangisi."
" Minta bantuan emak lu aja, kan dia Queen of kembar, pasti sudah paham mengurus bayi. "
" Iya, mama Navysah sebentar lagi kesini. Lu ada apa telepon gue?"
"Fa,lu musti bantuin gue kali ini gantiin meet dan great."
Keken menceritakan semuanya dan ia berniat datang ke pesta pernikahan itu bersama Farah
"Lu jangan macem - macem, gue nggak mau urusan dengan ratu medusa. Bisa-bisa dicekik leher gue." Fafa bergedik membayangkan tante Imel yang melotot kearahnya sembari mencekik.
"Gue nggak mau tahu pokoknya lu harus mau, kalau lu nggak mau jangan harap gue ke Malang apalagi ngurusin perusahaan ini, ogah. Mending gue traveling ke Jepang cari Miyabi KW yang bisa gue celupin."
"Emang ****** lu! Gue nggak bisa keluar, si Janin pasti ngambek. Dia lagi cengeng banget."
" Dia cengeng karena belum empat puluh hari, nanti kalau buka puasa pasti dia sumringah ketemuan sama si singkong ajaib." kelakar Keken
"Otak lu emang mesum nggak jauh-jauh dari sel*ngkangan."
" Nah, itu tahu."
" Buruan kesini, gue tunggu sampe jam empat. Kalau lu gak dateng persaudaraan kita putus." ancam Keken
" Dasar pangeran modosa, tiap permintaannya harus dituruti. Lu emang bener - bener keturunan dari sang ratu medusa. Plek ketiplek."
Fafa tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan Keken untuk datang. Ia tidak ingin Keken membuat kacau perusahaan yang sudah berjalan stabil saat dipegang oleh Keken.
Terkadang Fafa merasa iba dengan Keken, baru kali ini ia melihat Keken begitu serius dengan seorang gadis dan itu yang membuat Keken sekarang lebih disiplin dan bekerja keras. Namun di satu sisi, gadis itu akan menikah. Cinta Keken kali ini terasa lebih sulit berkali-kali lipat karena sang ibu juga tidak mendukungnya.
__ADS_1