
"Farah, kau lihat wanita yang berbaju pink itu? Aku pernah melihat nya namun lupa namanya. " Keken melihat kearah luar foodcourt
Farah melihat kearah dimana perempuan itu berada. "Dini, dia temanku. " Namun Farah melihat sahabat nya jalan dengan seorang pria dan Dini terlihat malu-malu.
"Dini..!!! " teriak Farah sembari melambaikan tangan.
Dini terkejut karena ketahuan jalan oleh Farah dan pasti wanita itu akan banyak bertanya. "Aduh ketemu Farah lagi. " gumamnya
"Siapa Din? " Tanya Alvin
"Dia Farah temanku dan Vania, wanita yang pernah aku ceritakan. "
"Farah yang hamil dan suaminya amnesia itu? "
"Iya, dia Farah. " Dini
"Baguslah kalau begitu jadi aku bisa kenalan dengan nya dan meminta restu. " Ucap nya sembari tersenyum
"Maksudnya? " Dini tidak mengerti dengan ucapan Alvin yang ambigu
Mereka mendekati meja Farah dan wanita itu masih saja melirik tajam.
"Bagus ya, sudah berani main kucing-kucingan sama emak dan tidak pamit jalan dengan pria lain. " Farah layaknya emak-emak yang mengomel karena anaknya tidak ijin pacaran.
"Maaf mak, lupa mak aye. Maafkan anakmu yang durhaka ini. " Dini mulai berakting drama sebagai anak durhaka. Alvin kian terkekeh melihat gadis pujaan nya yang semakin gila saat bercanda dengan Farah.
"Kamu siapa? " Tanya Farah
"Saya Alvin teman Dini. " Alvin berjabat tangan dengan semua orang yang berada disitu termasuk Khaffi.
Ia berinisiatif mengambil dua kursi kosong dan menyuruh Dini untuk duduk.
"So sweet... " Farah melihat Alvin yang begitu peduli dengan Dini hingga gadis itu tersipu malu.
"Yaelah ngambilin kursi dianggap dibilang so sweet! " Celetuk Khaffi
Dini menatap pria itu sembari tersenyum mengejek. "Ternyata ada si kutu kupret. " ejeknya
Khaffi menatap malas
"Aku teman dekat Dini, kau siapanya? " Farah mulai menginterogasi.
"Sayang.... " Keken tidak suka jika istrinya banyak bertanya dan ikut campur dengan urusan teman nya.
"Apaan sih, Ken! Ini urusan serius dan penting sudah diam saja sih!" Farah tidak suka dicegah. Di kepalanya banyak pertanyaan untuk teman Dini karena ia tidak ingin temannya salah dalam memilih pacar.
" Aku teman Dini sekaligus ingin serius dengan nya. "Jawab Alvin
Dini dan Farah melolong tapi tidak dengan Khaffi yang tergelak tawa.
__ADS_1
" Hahahaha... "
" Emang ada yang lucu? "Dini mendelik padanya
" Apa, orang aku ingin ketawa kok dilarang. Kau memang gadis aneh! " Ucap Khaffi sembari menahan tawanya
Alvin menatap penampilan Khaffi lalu dia terkekeh.
"Apa, kenapa kau tersenyum begitu padaku? " Khaffi melihat teman dini seolah tersenyum mengejek padanya
"Apa, aku hanya tersenyum. Kenapa kamu marah. " Alvin membalas ucapan Khaffi
Dini tersenyum puas karena Alvin dengan berani membalas Khaffi walaupun dengan cara halus.
Khaffi menatap tajam. "Sial!! Berani juga dia melawanku" batin nya
"Aku menyukai Dini dan dia pernah berkata kalau kamu salah satu sahabat terbaik nya selain Vania. Semoga kamu bisa merestui kami untuk pacaran.
" Kau, a.. Apa yang kau katakan?" Dini terkejut karena Alvin meminta ijin untuk memacarinya.
"Aku serius Dini. " Alvin menatap dengan penuh cinta
"Aku meleleh. " Farah melihat pacaran cinta dari Alvin pada Dini
"Farah, kau jangan terlalu berlebihan. " Keken hanya menghela nafas panjangnya
Fafa hanya tersenyum saat melihat tingkah Khaffi yang aneh cenderung cemburu.
" Kau kerja dengan Vania kan? " Farah
"Iya kami satu kantor. "
"Semoga kalian cocok dan langgeng. Kalau bisa jangan lama-lama pacaran karena itu tidak baik, Dini sudah seperti saudara bagiku semoga kamu bisa menjaganya. "
"Tentu saja aku akan menjaga gadis cantik ini karena dia satu-satunya wanita terbaik. "
"Uhuk... Uhuk... " Saat Khaffi minum ia tersedak saat mendengar kata cantik dan terbaik.
" Sepertinya kau harus pakai kacamata kuda! " Sindir nya
"Kau melihat Dini dari cerobong asap atau dari atas monas! " Ejeknya. "Masa modelnya begini disebut cantik! "
" Kalau tidak suka denganku lebih baik kau diam! "Sembur Dini pada Khaffi yang menyebalkan
"Dini memang cantik apalagi dia baik. " bela Alvin. Dini hanya mengulas senyum karena Alvin benar-benar membelanya dan menyukai nya. Ini seperti anugerah.
" Alvin, apa benar apa yang kau katakan tadi. Kau suka denganku dan ingin serius? " Dini benar-benar mendapat kejutan dari Alvin, pria yang hampir satu bulan dikenalnya. Dini tidak menyangka dengan pengakuan cinta Alvin
" Aku suka denganmu Dini dan ingin serius, apa kau tidak percaya, jika tidak maka aku akan meminta ijin pada ibumu langsung. "
__ADS_1
Farah dan Dini saling menatap lalu tersenyum puas.
"Laku juga lu Din, alhamdulillah. " Farah bersyukur akhirnya ada yang mau dengan temannya yang ketus
"Sialan lu! Emang aku barang apa! " Umpat Dini ,namun ia tersenyum bahagia akhirnya ada pria yang mau menerima apa adanya.
"Selamat ya Din aku turut bahagia. " Farah memeluknya
"Terima kasih. "
" Ahhh..,akhirnya si judes laku juga aku kira dia akan expired."celetuk Khaffi.Dini mendekatinya lalu mencubit lengan saking gemasnya
"Awww...Sakit Dini! " Khaffi mengaduh kesakitan. Lengan nya memerah akibat cubitan gadis itu
"Bodoamat , ngeselin sih kamu. " Dini
"Sudah sudah ayo kita makan, kau pasti lapar. " Farah menengahi mereka
"Kami sudah makan dan sepertinya kita harus pergi terlebih dahulu. " Alvin
"Iya Farah kami sudah makan di restoran ayam tadi. "
"Yaelah, makan ayam saja sombongnya begitu! " celetuk Khaffi
"Apaan sih kamu, dih nyamber saja kaya petasan! " sembur Dini sembari menatap tidak suka.
" Sudah jangan diladeni,Khaffi memang begitu, kapan-kapan kita ketemu lagi dan cerita ya Din. "Farah kembali memeluk sahabat nya
" Iya. Telepon aku jangan lupa. "Dini
Mereka pamit dengan Farah dan teman-temannya, lalu Alvin menggandeng tangan Dini di depan mereka.
" Oh, ya ampun. Mereka pasangan serasi, Dini cantik dan Alvin manis. " Farah
" Manis emang gula, pahit kali dia, lihat mukanya aja asem dah kayak ketek Fafa! " Ejek Khaffi
Fafa menatap malas pada sahabatnya. "Kalau cemburu bilang saja masih ada waktu buat nikung sebelum janur kuning melengkung. "
"Dih! Najis,siapa juga yang cemburu.Mana ada seperti itu! " Elaknya
"Eh kampret, eh maksud ku Khaffi perlu kamu tahu ya memang wajah Alvin tidak setampan kamu tapi dia manis dan peduli dengan Dini, sikapnya juga baik dan santun jadi aku sih yes aja kalau Dini dengan nya daripada Dini dengan mu. " Farah
"Eh Farah gendut, siapa juga yang naksir Dini. Mata gue masih normal dan tidak katarak, sorry aja kalau setampan gue dapat si Dini yang model nya begitu."
"Sudah lah, diam semua! Kalian membuat kepala ku pusing. Khaffi, daripada lu ngoceh kagak jelas mending lu diem daripada lato-lato lu gue sentil! " Keken menatap kearah senjata pusaka milik Khaffi
Khaffi langsung terdiam daripada keken benar-benar menendang milik pribadinya yang berharga.
"Farah, ayo kita pulang! " ujarnya
__ADS_1