Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 143


__ADS_3

Pagi begitu cerah, namun sepasang suami istri belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Mereka tertidur dengan pulas setelah acara peperangan tadi malam. Entah berapa kali mereka melakukan, yang mereka ingat hanya tidur menjelang subuh.


" Ishhh..." desis Farah, tubuhnya terasa pegal akibat perbuatan suaminya yang minta berkali-kali.


"Ken, bangun sudah pagi. Kau tidak kerja?" Farah melirik suaminya yang masih tertidur pulas bertelanjang dada dan hanya selimut yang menutupinya. Farah pun sama, ia tidak memakai sehelai benangpun,ia masih menutupi tubuhnya juga dengan selimut.


"Mulutnya benar-benar manis dan perayu ulung. Pintar sekali dia membuat aku terlena dan pasrah seperti ini." gerutu Farah dan Keken yang mendengar istrinya mengomel hanya bisa menggulum senyum.


"Maki lah sesukamu yang penting Kenzi sudah aman terkendali." gumamnya dalam hati. Keken menahan senyum, berkali-kali ia membuat istrinya terperdaya oleh rayuan nya.


"Ken, bangun!" Farah kembali mengguncangkan tubuh Keken. " Apa kau libur bekerja? Ini sudah pukul sembilan."


Keken terbelalak, bagaimana bisa ini pukul sembilan sedangkan baru saja dia menutup mata. Ia bangkit dan melihat jam dindingnya. " Aku kesiangan! "teriaknya sembari membuka selimut hingga ia terlihat polos dan Farah membuang wajahnya kearah lain karena malu melihat Kenzi si per kasa


"Kenapa kamu malu seperti itu." Keken melirik istrinya menundukkan kepala. " Pura-pura malu padahal mau juga, minta nambah lagi."


" Mendes*h berkali-kali hingga memanggil namaku minta dipuaskan." ucapnya lagi


"Keken!! Siapa yang mau nambah, Aku seperti ini karenamu!!" Farah tidak terima saat Keken berkata dia yang mau lagi.


Dan pria itu tertawa keras , tidak peduli saat Istrinya masih terdengar mengomel.


" Untung saja Dini tidak datang kemari, kalau tahu aku begini bisa malu aku." Farah merapikan bekas pertempuran semalam. Semua pakaian berserakan di ruang televisi dan Farah berdoa semoga tidak ada yang mendengar des*han nya semalam,mengingat dinding antar rumah yang terlalu rapat.


Beberapa lama kemudian, Keken melirik istrinya yang sudah mandi dan rapi bahkan dia memoles wajahnya dengan bedak dan terlihat cantik. Namun istrinya masih saja mengomel karena terlihat beberapa jejak kepemilikan milik Keken di lehernya. Terlihat merah.


"Kamu keterlaluan Ken!! Gara - gara kamu aku tidak jadi bertemu bang Hilman. Masa aku kesana dengan keadaan seperti ini." seru Farah, ia memperlihatkan banyak tanda merah di tubuhnya. Dan Keken hanya tertawa.


"Aku memang sengaja melakukannya sayang." gumam nya dalam hati. Keken kesal karena Farah masih saja ingin menemui mantan nya itu dan dengan cara ini, ia yakin Farah tidak akan berani keluar rumah. Dan tidak hanya itu, Keken sengaja memerintahkan pengawal nya untuk mengikuti kemana pun Farah pergi. Jika gadis itu menolak, maka ia harus meminta ijin pada Imelda. Dengan begitu Farah tidak akan berani pergi karena tahu tidak akan mendapatkan ijin oleh sang mertua.


"Aku kerja dulu, kamu hati-hati di rumah. Cup, cup, cup." Keken pamit dan berulang kali mencium perut istrinya yang terlihat membesar.


"Siapa juga yang di rumah,hari ini aku akan bertemu bang Hilman." sahutnya lagi


"Apa!!!" Keken terkesiap. "Kan kamu penuh tanda begitu, memangnya tidak malu pergi dalam keadaan seperti itu."


"Aku bisa mengatasinya." Farah tersenyum licik.


"Si*l!! Dia masih saja ingin menemuinya." umpat Keken dalam hati. Ia mengepalkan tangan.

__ADS_1


"Terserah!!" Namun mata Keken menatap tajam. Dan Farah hanya menatapnya dengan malas.


"Coba saja kamu pergi, hadapi dulu pengawal mommy." gumam Keken dalam hati. Ia kerja dengan hati mengganjal karena istrinya sulit dinasehati.


* **


Dan benar saja saat Farah keluar dari rumah dan terlihat dua pengawal mommy sedang duduk tak jauh dari kontrakan nya. Mereka segera menghampiri saat melihat Farah.


"Maaf nona, anda tidak diijinkan keluar rumah." ucap salah satu pengawal dengan menunduk hormat.


" Siapa yang tidak mengijinkanku?!"


"Tuan muda tidak mengijinkan anda nona."


"Oh, ya ampun dia lagi padahal tadi dia hanya bilang terserah nyatanya aku diperlakukan seperti tahanan, tidak boleh kemana-mana." gerutu Farah dengan kesal.


Beberapa tetangga Farah sempat berbisik saat melihat gadis itu berbicara dengan orang asing. Namun Farah menyapa mereka sembari menjelaskan bahwa kedua orang ini adalah paman nya hingga membuat kedua pengawal itu saling menatap bingung. Paman.


Pakaian dan kacamata hitam yang mencolok membuat beberapa orang tetangga Farah menduga bahwa mereka penculik namun ternyata mereka keluarga Farah.


" Aku akan berangkat pengajian bersama ibu-ibu masa tidak boleh. Lihat kan aku memakai jilbab seperti ini "ucap Farah dengan berbohong. Ia memang memakai jilbab untuk menutupi tanda merah milik Keken. Dan saat ia melihat sekumpulan ibu-ibu sedang berjalan dan biasanya mereka akan pengajian, maka Farah berpikir dengan cepat inilah kesempatan nya untuk lari dari para pengawal.


"Pe.. Pengajian." ucap pengawal


"Kami tahu nona." jawab mereka serempak.


"Dengarkan aku, besok kalau jaga disini pakailah pakaian yang normal jangan pakai jas hitam dan kacamata hitam seperti ini. Kalian seperti penculik anak-anak saja!" gerutu nya


"A... apa!! Penculik anak-anak." mereka tergagap. Bagaimana bisa Nona Farah menganggapnya sebagai penculik padahal mereka terlihat keren ala-ala mafia korea.


"Ini pemukiman kelas bawah, sedangkan kalian para pengawal elit jadi sesuaikan dengan keadaan. Lebih baik kalian menggunakan kaos yang wajar bukan jas hitam. Memang nya kalian mau diteriaki penculik, semua orang pasti akan berbisik saat melihat penampilan kalian. "Farah mulai mengoceh seperti emak-emak, bukan nya apa-apa tapi ia juga merasa kasihan pada pengawal yang selalu dicurigai oleh warga sekitar. Beberapa kali Farah mendengar mereka berbisik tentang pengawal Imelda seperti seorang penjahat yang sedang mencari kesempatan untuk berbuat kriminal.


" Besok ganti baju, aku tidak mau tahu. Kalian pengawal baik bukan begal ataupun penculik anak-anak, bukan juga pencuri ku tang jemuran atau maling perhiasan."


"A... apa??! Ku... ku tang jemuran. Masa wajah kami terlihat seperti kriminal recehan." ucap salah satu pengawal.


" Daripada maling ku tang, aku lebih suka dengan isi nya." kelakar salah satu pengawal, namun sesaat kemudian ia menutup mulutnya. "Maaf nona, saya keceplosan."


" Kalian tidak jauh beda dengan tuan mudamu yang me sum itu. Sudahlah, aku mau pergi! "

__ADS_1


"Bu Joko, mpok Ane. Aku ikutan pengajian, yuk kita ngaji bareng." sapa Farah, ia mendekat kearah ibu-ibu dan mulai berakting.


"Neng Farah baru keliatan, tumben mau pengajian." tanya mpok Ane


"Iya teh, lagi pengen cari ilmu. Sekarang Farah tidak bekerja jadi banyak waktu luang." jawabnya.


"Tambah gemukan ya, neng Farah hamil berapa bulan?" tanya ibu lain nya.


"Lima bulan."


Dan benar saja, beberapa ibu-ibu mengernyitkan dahi, bingung. Mereka tahu Farah baru menikah hampir tiga bulan yang lalu, namun kehamilan nya sudah lima bulan. Aneh.


"Sudah ibu - ibu ayo kita mengaji, niatkan ibadah bukan berpikiran yang tidak - tidak." ucap bu Joko, ia merasa beberapa ibu-ibu berbisik lirih dan saling melirik. Farah sudah merasa kebal dan tidak peduli dengan gunjingan mereka, ia sudah pasrah karena memang benar adanya dia hamil diluar nikah.


Para pengawal masih saja mengikutinya dan memastikan bahwa Farah aman.


" Farah, mereka siapa?" tanya bu Joko


"Mereka paman Farah bu." jawabnya.


"Mereka aneh, panas - panas kok pakai jas, emang tidak gerah."


Farah hanya menggulum senyum, sedangkan kedua pengawal itu masih saja berwajah datar.


"Owalah ternyata paman kamu toh, mpok kira mereka debt collector yang mau ambil setoran motor yang macet di daerah kampung kita."


Farah tergelak tawa, sedangkan kedua pengawalnya hanya saling menatap satu sama lain.


" Aku sekeren ini dibilang debt collector,Mereka benar-benar tidak tahu model pakaian. "ucap salah seorang pengawal dalam hati. Sedih, itu yang mereka rasakan.


"Far, bolehlah kenalin mpok sama mereka." bisiknya pada Farah, " Mana tahu salah satu dari mereka jodoh mpok, maklum janda sudah tiga tahun Far, butuh pendamping lagi." bisiknya pada Farah


" Mpok mau dengan mereka?"


"Mau lah, paman kamu ganteng lagi." bisiknya


" Maaf nyonya, kami tidak tertarik dengan anda." kedua pengawal itu menjawab secara bersamaan.


"HAH...!!" mpok Ane terkesiap, bagaimana mungkin mereka bisa mendengar sedangkan jarak mereka sedikit jauh bahkan suaranya saat bicara pada Farah tergolong lirih.

__ADS_1


Farah hanya tergelak tawa, pengawal mommy benar-benar memiliki seribu telinga.


Mereka masuk dan mengikuti acara pengajian hingga akhir. Namun saat semua orang keluar, mereka tidak menemukan nona Farah.


__ADS_2