Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 98


__ADS_3

Tubuh Farah merasa sesak dan seolah terhimpit oleh benda besar. Ia menggeliat dan pelan-pelan membuka matanya dan terkesiap saat melihat seorang pria tidur disampingnya dengan lelap.


"Akkhhhhh...." Farah menjerit dengan keras, "Dasar Ca bul!"


"Bugh..." ia menendang tubuh Keken dengan keras, sedangkan pria itu terjungkal ke bawah ranjang dengan wajah kebingungan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah polosnya. Nyawanya seolah belum sempurna untuk mengingat semuanya.


"Apa yang kamu lakukan?!" Farah bertanya dengan wajah kesal.


"Apaan, sih!" Keken bangkit dan kembali berbaring di tempat tidur, disisi Farah.


" Kok malah tidur lagi!" Farah menjewer telinga Keken dengan keras seperti yang mommy lakukan kemarin.


"Ishhh... Apaan, sih yang!" desis Keken ia memegang tangan Farah dan menciumnya. "Kalau kamu pengen nanti malam saja, aku ngantuk." Keken memejamkan matanya kembali


"Apaan, sih! Siapa juga yang pengen me sum denganmu.Nggak jelas!" ketus Farah sembari menarik tangannya. Namun, Keken membuka matanya kembali dan menggulum senyum.


" Yang bilang pengen me sum siapa." ucap Keken, " Aku hanya bilang kalau kamu pengen nanti malam saja. Apa jangan - jangan kamu mau aku me sumin. "godanya


" Nggak lucu! " Farah memalingkan wajahnya dan sedikit malu. Ia mengira sesuatu terjadi antara dirinya dan Keken tadi malam.


" Kamu tidak tahu, apa yang kamu lakukan tadi malam? " tanya Keken


Farah mencoba menajamkan ingatannya apa yang sebenarnya terjadi namun masih samar dan ia tidak mungkin mengakui sesuai hal yang memalukan untuknya.


"Aku tidak tahu, memangnya aku ngapain? Kamu pulang jam berapa?"


" Aku pulang jam dua pagi, tadi aku tidur disampingmu dengan sekat guling ini." Keken menepuk gulingnya " Tapi entah kenapa kamu semakin mendekat kearahku dan memelukku. Kamu kangen ya sama aku? " tanyanya


" Dih! Mana ada aku seperti itu, tidak mungkin!" elaknya


" Jangan mengada - ada ya, Ken. Itu tidak mungkin terjadi, aku juga ogah peluk kamu! " Farah beranjak dari ranjangnya dengan rasa kesal, masih mengingat kejadian tadi malam, benarkah seperti apa yang Keken katakan.


" Yakin tidak ingat? Atau pura-pura lupa karena malu? " Keken semakin menggoda sembari mengedipkan matanya.


" Keken!!! " teriak Farah, ia kembali kearah Keken dan memukul tubuh pria itu. Pria yang selalu membuat kesal dirinya setiap hari. Sedangkan Keken hanya tersenyum, baginya pukulan Farah tidak berarti. Tidak terasa sakit sama sekali.


Keken menarik tangan Farah hingga gadis itu terjerembab. "Jangan pukul seperti itu, yang ada aku semakin kangen." Keken memeluk Farah dengan erat.


"Ken, jangan seperti ini." lirih Farah sembari bergerak menolak pelukan suaminya, jarak yang dekat diantara mereka membuat Farah takut jika Keken hilang kendali dan Farah tidak siap untuk itu.


"Diamlah, sebentar saja seperti ini. Kalau kamu semakin bergerak aku tidak bisa menjamin kau akan selamat karena jika Kenzi akan bangun, dia akan sulit ditidurkan." ucap Keken.


Farah yang awalnya menolak pelukan Keken kini hanya bisa diam sesaat. Ia tidak mau bertemu dengan Kenzi si per kasa yang selalu dibicarakan oleh suaminya.


Sepuluh menit kemudian Keken mengurai pelukannya dan membalik tubuhnya dan hanya memeluk guling, bahkan ia tidak mengatakan apapun setelah mengurai pelukannya. Farah dengan cepat turun dari ranjangnya dan ingin segera mandi. Namun, saat membuka tas travelnya ia tidak menemukan daster pemberian dari tante Navysah. Farah masih ingat semua pakaiannya belum sempat dimasukkan ke dalam lemari karena belum ada ijin dari Keken untuk membuka lemari pribadi milik pria itu.


"Ken, kau tahu dimana pakaianku?" tanyanya. Namun tidak ada jawaban dari suaminya.


"Ken, kau dengar aku tidak!" Farah menghampiri suaminya yang masih memejamkan mata


" Sudah aku singkirkan! Pakaian model apa itu, tidak jelas! Mana ada tuan puteri pakai daster di istana, jangan coba - coba memakai pakaian itu di rumah ini."


"Tapi itu sangat nyaman." ucap Farah, ia merasa senang karena pakaian itu terasa nyaman dan adem saat dipakai.


" Mana ada pengantin baru pakai daster! Dimana-mana pengantin baru itu pakai baju sexy, lingery atau baju tipis yang bisa merangsang suaminya. Lah ini pakai daster! "ucap Keken namun ia masih menutup mata. Rasa kantuk tidak bisa dihindari karena memang Keken baru bisa tidur pukul tiga pagi.

__ADS_1


" Ambil pakaianmu di lemari itu. " Keken menunjuk lemari pribadinya. Dan Farah dengan cepat membukanya, ia tidak mau berdebat dengan Keken lagi.


Farah terkesima saat melihat deretan baju wanita yang begitu tertata rapi. Mewah dan indah, dua kata yang menggambarkannya.


" Aku boleh memakai ini?" Farah memilih satu baju lengan pendek berwarna putih dengan aksen mutiara disekitar leher dan lengan.


"Semua itu untukmu, terserah kamu mau pakai yang mana yang penting tidak memakai daster emak-emak."


Farah hanya mendengus kesal namun saat ia melihat baju itu rasa kesalnya sedikit menghilang. Ia tidak pernah memiliki baju seindah dan semahal itu.


Dengan cepat Farah berlari ke kamar mandi. Membersihkan diri dan merias sedikit wajahnya agar terlihat segar.


"Ternyata aku cantik, memang benar ya kalau cantik itu perlu modal hihihi..." Ia bercermin dan memuji dirinya sendiri tanpa disadari pria itu mengintip di balik gulingnya. Ia menggulum senyum.


" Coba saja aku cantik seperti ini dari dulu, bang Hilman pasti akan menikahiku beberapa tahun yang lalu. "gumamnya


Namun pria yang kini sedang mengintipnya mulai meremas guling itu tanpa ia sadari. Senyuman yang beberapa saat lalu ia tampakan kini lenyap sudah. Sakit hati saat istrinya masih mengingat pria lain. Namun Keken pura-pura tidak mendengarnya.


Farah turun ke bawah dengan senyum merekah, menikmati pakaian barunya yang membuat penampilannya semakin sempurna.


Ia kembali satu jam kemudian dan melihat suaminya selesai mandi. Farah merasa gugup saat melihat tubuh Keken yang hanya membalut di bagian area bawah. Saat saling bertatapan Farah membuang wajahnya karena malu.


"Pakai bajunya di dalam kamar mandi sana?" ia mencoba mengalihkan pandangan pada setumpuk kado yang sebagian belum dibuka. Dan satu persatu ia membongkar hadiah dari para tamu undangan.


"Kenapa? Ini kamarku, aku bebas melakukan apapun disini." Keken membalut tubuhnya dengan kaos santai dan celana pendek.


Aroma wangi sabun Keken membuat Farah gelisah, entah kenapa hari ini suaminya benar-benar wangi dan Farah menyukai hal itu. Keken termasuk pria yang sangat menjaga kebersihan dan kesehatan maka dari itu tubuhnya putih bersih dan kekar.


"Banyak juga ya kadonya." Keken menghampiri Farah yang kini duduk sembari membuka kado. Ia pun ikut membantu Farah dan membuka satu persatu kado itu.


" Kok diberantakin!" Farah melihat Keken mengacak - acak kado, entah apa yang dia cari.


"Nyari kado dari keluarga wiro sableng. Mana tahu mereka membawa kado yang bermanfaat, siapa tahu uang segepok, lumayan kan untuk modal awal." ucap Keken


"Keluarga wiro sableng?" Farah mengernyitkan dahi, entah siapa yang Keken maksud.


"Keluarga tante Navysah." ucapnya. Ia masih mencari kado itu.


Keken menemukan kado dari Inka dan membukanya. "Kok cuma pakaian wanita, aku kira si cerewet itu memberiku uang ." keluh Keken. Inka yang notabene bekerja sampingan di butik ibunya memberikan beberapa setel baju wanita untuk Farah.


"Ini kan gamis bermerk, wah non Inka baik banget sama aku dapat baju sebanyak ini." Farah tersenyum bahagia melihat baju idamannya, tentunya baju branded dengan label Navysah.


Keken hanya menghela nafas panjangnya dan kembali mencari kado lagi. "Ini dari Inha." ucap Keken, ia membuka kadonya dan terlihat satu set pisau dengan merk terkenal. Pisau yang selalu dipakai seorang chef profesional untuk mengeksekusi bahan masakan. Keken lemas saat melihatnya.


"Ini pisau impianku." Farah memeluk dan mencium barang itu. "Non Inha benar-benar tahu apa yang aku inginkan." senyuman lebar selalu ia tampilkan saat melihat barang impiannya.


"Norak! Apa hebatnya pisau seperti ini." cibir Keken. " Kita butuh uang bukan pisau!" ucapnya lagi


Farah mendelik kearah Keken dengan kesal, ia tidak tahu betapa mahalnya satu set pisau itu. "Ini juga penting, jika kau macam-macam padaku siap-siap saja Kenzi yang kau banggakan akan berubah menjadi sup hangat!" ancamnya.


Keken menelan salivanya, ancaman Farah begitu mengerikan untuknya. Ia membuka kembali kado dari Raffa dengan harapan berisi uang yang banyak." Ini amplop, semoga sesuai harapanku,mas Raffa kan anak yang paling soleh dari semuanya. "Keken tersenyum puas sembari membuka amplop panjang itu. Namun, ia terperangah saat melihat tulisan yang tertera di dalam amplopnya.


" Anda belum beruntung. "Keken membaca tulisan yang terpampang sangat jelas.


" Apa - apaan ini! " teriak Keken.

__ADS_1


" Kenapa ini seperti undian berhadiah. Ini pasti mbak Kinan sableng yang ngamplop kayak gini kalau mas Raffa tidak mungkin! " Keken pundung, ia sudah semangat saat membukanya namun hanya tulisan yang ia dapatkan.


Farah mengulum senyum saat melihat Keken kesal. "Ayo buka lagi, mana tahu ada yang ngasih kamu uang satu milyar." godanya


"Ah, benar tinggal kado dari si Alif. Dia tidak mungkin kan ngasih abal-abal." Keken mencari kado terakhir dari keluarga Navysah. Ia mencarinya dengan bersemangat.


Ia dengan cepat membuka amplop tebal,berharap uang yang ia dapatkan. "Ini pasti uang kan, asyik." ucap Keken, dan lagi-lagi ia harus menelan pil pahit. Bukan uang yang ia dapatkan tapi lembaran kertas yang berisi artikel cara aman untuk berhubungan bad*n disaat istri sedang hamil. Keken dengan kesal meremas lembaran kertas itu.


"Sial*n si Alif, dokter ca bul itu! Ngapain ngasih ginian, kan nggak penting. Aku bisa saja browsing di internet." gerutunya, namun Ia melirik Farah yang kini merapikan lembaran kertas itu. Menatap setiap inci tubuh Farah dan membayangkan jika ia mendapatkan lampu hijau untuk menyentuhnya. Enak.


" Apaan ngiatin aku begitu!" seru Farah, ia merasa kesal saat Keken meliriknya dengan tatapan me sum. " Jangan berpikiran macam-macam Ken, aku tidak mau disentuh olehmu!"


Keken langsung mengalihkan pandangannya, ia tidak mau berpikiran me sum lagi karena Farah tidak mengijinkannya, ia dengan cepat menelepon Alif karena kesal dengan semua hadiah yang didapat, tidak ada satupun yang memberinya uang untuknya.


" Alif!! "teriak Keken," Ngapain ngasih artikel tentang ibu hamil dan begituan. Itu tidak penting lif! " ucap Keken dengan nada tinggi


" Itu penting agar anakmu tidak terganggu saat Kenzi menjenguknya. "kelakar Alif di ujung telepon


" Aku bisa mencarinya di internet dan lebih baik sekarang kamu transfer uang saja untukku sebagai uang kondangan."


" Dih! Crazy rich minta recehan, apa aku tidak salah dengar. "cibir Alif


" Eh, dokter me sum! Sekarang gue dimiskinkan sama mommy Imelda, buruan cepet transfer gue sekarang, gue butuh uang! "


" Berapa? "


" Nggak usah banyak - banyak seratus juta saja. "Keken dengan enteng meminta segepok uang pada Alif.


" Lu mau ngerampok gue! " ketus Alif," Kalau mau ngerampok di bank sana yang banyak duitnya. "


" Berisik, cepetan transfer gue! " perintah Keken


" Oke. "


" Tut... Tut... Tut... "belum sempat Keken melanjutkan ucapannya, terdengar sambungan telepon yang terputus.


" Dasar Alif ngeselin! " ucap Keken dan terdengar suara pesan masuk. Keken langsung sumringah dan ia langsung mengecek m bankingnya.


" Dasar Alif pelit!! "teriaknya, Farah sedikit terkejut karena Keken berteriak tepat di sampingnya." Masa cuma ngasih lima ratus ribu, emang rese banget dia!"


"Alhamdulillah, diterima saja. Bersyukur masih ada yang ngasih kamu uang." ucap Farah


"Uang segitu cuma buat jajan sore untukku ." gerutunya lagi


"Lebih baik kamu diam!" Keken masih dengan nafas yang memburu, " Aku sedang marah sekarang, buatkan aku roti bakar dan segelas susu sekarang juga!" perintahnya dengan menatap tajam


"Baiklah, aku akan membuat makanan sesuai pesananmu." Farah bangkit dan sengaja menggoda suaminya.


"Ken, kamu beneran sedang marah?!" tanyanya


"Iya, emang kenapa? Hari ini aku sangat marah!"


"Tidak apa-apa, aku baru tahu ternyata kamu bisa marah juga dan ekspresimu seperti bukan marah tapi seperti sedang mengejan." Farah buru-buru menutup pintunya dan lari menghindari Keken


"Farah!!!" teriak Keken kembali

__ADS_1


__ADS_2