
Keken menatap tajam dua orang pengawalnya yang telah gagal mendapatkan apa yang diinginkan oleh istrinya. Dengan berkacak pinggang, Keken menatap mereka satu persatu.
" Baru minta makanan saja kalian tidak bisa! " ucapnya dengan kesal.
"Kalau begini aku tidak bisa pulang ke rumah, Farah pasti akan mengomel padaku." Keken meninju perut kedua pengawalnya. Sakit, tentu saja namun pengawal itu sudah terbiasa mendapat hukuman jika gagal melakukan sesuatu.
" Maaf tuan, kami menyesal karena tidak bisa menemukan makanan itu tapi kami janji besok kami akan membawanya. " ucap salah seorang pengawal.
"Aku butuhnya sekarang bo doh bukan besok!" ucap Keken dengan kesal. Dan kedua pengawal itu menunduk tanpa melihat wajah Keken
"Bagaimana kalau saya telepon nyonya besar, pasti beliau akan menyuruh para asisten untuk membuat soto dengan cepat, tuan."
"Mommy tidak akan membangunkan pelayan di malam hari seperti ini, walaupun dia galak, mommy tidak sekejam itu." Keken sangat tahu sifat ibunya yang sayang dengan para pekerjanya. Ia tidak akan menyuruh asisten pembantu untuk bekerja di dini hari. Walaupun Imelda terlihat dingin dan tak tersentuh, ia memiliki hati yang lembut dan penyayang.
" Sudahlah, kalian memang tidak becus dalam bekerja!" seru Keken. Ia pergi meninggalkan kedua pengawal itu dan menyusuri jalan dengan sepeda motor. Menepi sejenak sembari menghisap rokoknya dan berpikir bagaimana caranya agar Farah tidak marah.
"Ah, aku punya ide." ia dengan cepat mematikan rokoknya dan pergi ke minimarket terdekat yang buka dua puluh empat jam. Memilih - milih mana yang akan dibelinya. Memasukan ke dalam keranjang apa yang dibutuhkan dan berharap semoga istrinya bisa menerima dan memaafkannya.
" Aku pulang." ucapnya setelah masuk ke dalam kontrakan mereka. Terlihat Farah yang tertidur di sofa lipat yang tipis, tempat biasa Keken tidur.
"Sudah makan belum?" tanyanya saat melihat Farah yang menyipitkan matanya. Ia terusik saat mendengar suara Keken masuk.
"Belum, aku nungguin kamu pulang. Mana makanan yang aku pesan." dengan penuh harap Farah membuka bungkusan plastik yang dibawa Keken namun saat melihatnya ia terlihat kesal.
"Kok mie instan!" serunya, ia mengeluarkan semua mie instan yang berjumlah sepuluh dari dalam plastik kresek.
"Ini apaan sih, Ken!" Farah mendelik meminta penjelasan dari suaminya.
"Soto, mie aceh, sama kari ayam semua restoran sudah tutup makanya aku beli mie instan,kan yang penting bisa menghangatkan badan dan ada rasanya sesuai keinginanmu." ucap Keken sembari tersenyum tanpa rasa bersalah ia memberi istrinya mie instan sebagai pengganti.
" Aku juga beli rasa baso, soto lamongan, mie goreng spesial. Tinggal kamu pilih mana yang kamu suka, besok pagi aku belikan semua keinginanmu tapi tidak sekarang. " Dengan perasaan berdebar ia berharap istrinya tidak akan marah dan mau menerima mie instan sebagai pengganjal perut.
" Tega kamu! " Farah melempar mie instan kearah tubuh Keken.
" Aku tidak mau mie instan! " Farah merajuk sembari menangis, ia yang menahan lapar sampai ketiduran nyatanya hanya diberi mie instan bukan soto asli sesuai versinya.
"Ini juga rasa soto cuma dalam kemasan mie instan,sabar ya. Besok pasti aku beliin." Keken mendekat kearah Farah dan mengelus rambutnya namun Farah menepisnya.
"Kamu pikir mie instan itu baik untuk ibu hamil!" ketus Farah, ia mengusap airmata yang mengalir di pelupuk mata.
"Aku tahu, tapi ini hanya untuk malam ini. Sisanya biar aku yang makan." Keken masih mencoba bernegoisasi agar Farah tidak marah lagi.
"Makan mie instan aja ya, nanti aku yang masak." bujuknya
__ADS_1
"Atau kau ingin makan telor dadar, nanti aku juga yang masak." ucapnya lagi, padahal Keken tidak tahu bagaimana caranya masak telur atau pun masak mie instan yang penting Farah tidak menangis lagi dan mau makan.
"Beneran besok mau beliin aku soto dan kari ayam?" tanyanya
"Iya sayang,pasti aku belikan bahkan restorannya aku beli juga untukmu."
"Tidak usah sok kaya, kamu sudah miskin Ken!" Farah menatap tajam pada suaminya yang masih saja sombong dengan dirinya sendiri padahal kenyataannya Keken tidak punya uang.
"Lupa, aku kira masih crazy rich!" Keken terkekeh sedangkan Farah semakin kesal.
"Aku mau mie instan soto pakai telor rebus. Besok tidak usah beli, aku mau kamu yang masak soto dan kari ayam untukku." pinta Farah, dengan senyuman licik ia mengerjai suaminya lagi.
"Aku akan masak mie instan untukmu, tapi aku tidak bisa masak soto maupun kari ayam nanti aku minta tante Navysah masak sesuai keinginanmu."
"Kok tante Navysah, sih! Kenapa kamu tidak minta mami Imel untuk memasak." Farah begitu bingung karena Keken lebih dekat dan selalu mengandalkan tantenya daripada sang mommy.
"Yang ada calon anakku keracunan sebelum dilahirkan!" ucap Keken,
" Mommy tidak bisa memasak, kalaupun memasak rasanya sangat aneh dan hambar. Memangnya kamu mau makan soto rasa lautan garam, atau makan kari, ayam yang sedang berenang."
Dan Farah menggelengkan kepala.
" Sudahlah, nanti tante Navysah saja yang masak. Masakan dia enak dan pasti kamu ketagihan. "ucap Keken lagi.
" Jangan menyesali hidup, walaupun mommy mu tidak bisa masak tapi dia selalu membelamu mati-matian saat kamu bermasalah. Aku tidak suka jika kamu berkata seperti itu, Ken!" gerutu Farah. Entah kenapa Keken kurang menyayangi mommy nya bahkan ia lebih sayang dengan tante nya.
" Ini bagaimana cara masaknya. "Keken membaca petunjuk yang tertera di bungkus mi instan kemudian ia mengisi panci dengan air hingga mendidih dan setelah itu memasukkan telor, sayur, irisan cabe serta mie mentah ke dalam air itu.
Ia memasukkan bumbu dan minyak bawang ke dalam mangkok sembari menunggu mie matang.
" Farah, besok kita ke rumah tante Navysah jam sepuluh. Kita harus pergi lebih pagi." Keken menghampiri istrinya yang masih berbaring di tempat tidur sembari memainkan ponselnya.
" Ah,a..apa?" Farah sedikit terkejut karena Keken tiba-tiba datang dan Farah segera menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Keken sedikit curiga kenapa istrinya begitu terkejut saat ia datang bahkan dengan cepat menyembunyikan ponselnya. Aneh.
" Besok kita harus kesana tepat waktu soalnya sehabis duhur tante Navysah pasti pergi ke butiknya." Keken menepis rasa curiganya dan percaya Farah tidak akan menyembunyikan sesuatu padanya.
"Oke." balasnya, namun sesaat kemudian terdengar suara dari arah dapur seperti air yang terpecik dari api.
"Astaga, mie rebus nya." Keken segera berlari ke arah dapur dan melihat air dalam panci tumpah ke sisi kompor bahkan buih - buih putih telur mengotori kompornya juga.
"Aduh, Keken komporku jadi kotor begini, kan!" keluh Farah, " Mana mie nya lembek begini." ia mengaduk isi panci dan melihat mie yang terlalu matang.
"Maaf, aku tidak sengaja. Kan aku memang tidak bisa memasak dan aku sudah berusaha mengikuti keinginanmu.Maaf ya."
__ADS_1
"Sudahlah." Farah akhirnya yang membersihkan dapur dan menuang mie ke dalam mangkok.
"Dan seperti biasa aku lagi yang harus membereskan semua kekacauan yang kamu perbuat." sindirnya sembari membawa mie ke ruang tamu. Keken hanya meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Satu suap, dua suap Farah memasukan mie kedalam mulutnya dan itu membuat Keken menelan salivanya. Aromanya sangat menggoda dan terlihat enak, ia selalu menatap kearah mangkok berisi mie.
"Kamu mau?" Farah yang merasa risih selalu ditatap Keken akhirnya mau tak mau menawarkan mie pada Keken. Dan dengan cepat Keken mengangguk.
"Bikin lagi sana." perintah Farah, ia seolah tak mau berbagi makanan dengan suaminya karena porsi mie instan menurutnya hanya cukup untuk satu orang.
"Aku mau itu." Keken masih menatap mangkok mie itu dengan penuh harap. Aromanya begitu menggoda apalagi dengan irisan cabai dan sayur sawi hijau.
"Ini tinggal dikit Ken."
"Cuma satu suap." pintanya dengan penuh harap
Farah berdecak namun ia tetap menyodorkan mangkoknya. "Cuma satu suapan ya."
Keken menganggukan kepala.
"Memangnya kamu tidak pernah makan mie instan?" tanya Farah
"Pernah tapi itu dulu saat aku berusia sepuluh tahun,kata mommy mie instan tidak baik untuk kesehatan dan aku tidak diijinkan makan mie instan sampai sekarang." ucapnya sembari menyuap mie hangat ke dalam mulutnya. Enak, apalagi saat ia menyeruput kuahnya.
Farah melongo mendengar pernyataan Keken. Hidup suaminya sangat berbeda dengannya. Keken selalu makan makanan sehat sedangkan Farah makan seadanya, bahkan saat dia kelaparan di malam hari hanya mie instan yang bisa mengganjal perutnya. Selain murah, mie instan itu sangat enak walaupun tidak disarankan untuk pemakaian sehari-hari.
" Terus saja dihabisin, sekalian mangkoknya!" sindir Farah saat menatap mangkok mie nya kini licin tandas bahkan kuahnya tidak terlihat sama sekali, tak terasa Keken menghabiskan sisa mie instan miliknya.
"Maaf, aku khilaf." Keken meringis malu, tanpa disadari mie instan Farah habis olehnya.
Farah membuang wajahnya kearah lain. Kesal. Padahal ia yang ingin makan tapi kenapa Keken yang habiskan.
"Aku bikin lagi ya." Keken mendekat kearah Farah. Entah kenapa saat melihat mie instan Keken lupa pada istrinya.
"Tidak usah, aku sudah kenyang!" ketus Farah. Ia berjalan kearah kamarnya sendiri. Melihat Keken makan membuatnya kenyang dan ada rasa sedikit bahagia karena Keken begitu lahap menikmati mie instan yang sudah lama tidak ia makan.
"Beneran sudah kenyang, jangan marah dong yang." Keken masih berusaha merayu Farah agar tidak marah padanya. Dan tanpa disadari ia ikut naik ke ranjang Farah dan mengelus rambut istrinya.
"Ngapain disini!" sembur Farah saat melihat Keken menyentuh anak rambutnya dan berbaring di sisinya. Ia menepis tangan Keken dengan kasar
"Mau aku temenin." godanya sembari menggulum senyum
"Turun dari ranjangku, atau ku tendang Kenzimu!" ancam Farah sembari mendelik kearah suaminya. Keken mau tak mau turun dari ranjang Farah, ia tak mau asetnya akan cedera karena istrinya.
__ADS_1
"Gagal lagi." lirihnya