Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 128 (Kamu pihak ketiga, bukan dia!)


__ADS_3

Aura di mobil begitu mencekam saat Farah dan Keken saling diam di bangku penumpang. Beberapa kali Khaffi melirik sahabatnya yang terlihat sedang menahan emosi. Sedangkan Farah hanya diam dan sesekali melirik wajah suaminya yang terlihat memar di beberapa bagian, akibat baku hantam dengan mantan tunangan nya.


"Farah, tante Imelda memberikan beberapa barang untukmu." Khaffi memecahkan keheningan dengan mengobrol dengan Farah.


"Ada makanan dan dia menitipkan ini." Khaffi memberikan sebuah paperbag yang ia simpan dibawah kursi kemudinya.


Farah menerima paperbag itu lalu membukanya. " Buku resep dan beberapa buku bacaan tentang kehamilan."gumamnya. Buku resep dari salah satu chef terkenal dan Farah menyukai pemberian sang mertua.


" Iya kata tante Imelda bacalah saat senggang dan dengarkan musik klasik, itu sangat baik untuk kehamilanmu. "Khaffi meniru ucapan Imelda.


"Keken, tadi ada titipan dari Fafa sorry gue telat." ia melirik dari spion dalam mobil dan Keken masih terdiam membisu.


" Sudah tahu ada meeting penting malah telat, kau memang tidak bisa diandalkan!!" Keken memaki Khaffi untuk pertama kalinya dan pria itu hanya membalasnya dengan tersenyum.


" Mungkin Keken butuh seseorang sebagai pelampiasan amarah nya." gumam Khaffi dalam hati.


"Khaffi aku tidak suka kamu yang seperti ini!"sentaknya dengan menendang kursi penumpang Khaffi dari belakang.


" Oke sorry. "


" Baguslah jika kau meminta maaf berarti kamu tahu kesalahanmu tidak seperti seseorang yang keras kepala dan ingin menang sendiri. "Keken menyindir istrinya secara halus dan itu membuat Farah meliriknya dengan tajam, namun ia enggan untuk membalasnya karena masih di dalam mobil,malu pada Khaffi jika mereka bertengkar.


"Terima kasih Khaffi, maaf sudah merepotkan." Farah menghela nafasnya panjangnya saat melihat tumpukan barang yang begitu banyak, hadiah dari sang mertua. Dan beberapa makanan serta susu hamil. Pria itu dan para pengawal membantu membawa barang ke kontrakannya, sedangkan Keken hanya duduk di teras sembari merokok.


"Aku pulang dulu." Khaffi tidak ingin terlalu lama berada di tengah - tengah mereka. Ia tidak ingin ikut campur dan ini terlalu menakutkan baginya.


"Jaga emosimu, ingat Farah sedang hamil anakmu, masih ada apartemenku agar kamu bisa menenangkan diri." Khaffi menepuk pundak Keken dan berlalu pergi. Ia tahu Keken bukan pria pemarah namun saat ada orang yang memancing emosinya dia akan mengamuk tanpa pandang bulu. Keken mengerikan saat marah.


Keken masuk dan mengganti kemejanya dan membuangnya di sembarang tempat seperti biasa. Farah pura-pura tidak tahu dan hanya menyibukkan diri dengan mengecek semua pemberian mommy Imelda. Ia menata makanan di dapur dan memasukkan buah segar ke dalam kulkas. Stok makanan aman untuk dua minggu kedepan.

__ADS_1


Farah sempat melirik beberapa kali kearah Keken yang sedang sibuk dengan ponselnya, namun wajahnya masih tidak bersahabat dan luka hantaman dari Hilman belum juga dibersihkan.


" Mana cincin itu. "Keken menadahkan tangannya didepan Farah


" Biar aku yang menyimpan nya dan sebaiknya kamu bersihkan dulu lukamu itu. " Farah


" Mana cincin nya?! " Kali ini nada suara Keken sedikit naik namun Farah tidak mengindahkan.


Keken dengan cepat mencari tas Farah karena ia yakin istrinya menyimpan benda itu di dalam tas.


" Keken!! Apa yang kamu lakukan, tidak sopan! "sentak Farah dengan kesal saat melihat suaminya mengacak - acak tas pribadinya.


" Kamu bilang aku tidak sopan! "seru Keken," Seharusnya perkataan itu untuk mantan mu itu, dia yang tidak sopan karena mengganggu istri orang. "


" Aku hanya bertemu dengan nya, kenapa kamu semarah itu! "


Keken tidak menjawab dan kini ditangan nya memegang kotak cincin pemberian Hilman.


" Pantas saja beberapa hari ini gelagatmu mencurigakan ternyata sembunyi - sembunyi bertemu dengan pria itu ." sindirnya


" Dan gila nya lagi kamu bertemu dengannya memakai dress pemberianku, sedangkan saat di rumah kamu hanya memakai daster seperti emak-emak. Apa dia begitu spesial hingga kamu sampai merias diri secantik ini sedangkan saat dirumah jangankan merias diri, yang ada kamu bau dapur. "Keken bicara begitu terang - terangan saat ini, ia begitu kecewa karena sikap Farah yang masih saja mementingkan sang mantan.


" Oh jadi kamu tidak ikhlas memberikan aku dress ini, kalau tidak ikhlas tidak usah beli untukku. "seru Farah dengan nada tinggi.


" Ini bukan masalah ikhlas atau tidak ikhlas, tapi seharusnya kamu tahu kalau aku memberikan dress itu agar kamu tampak cantik saat di rumah atau setidaknya kamu memakai dress itu saat kita pergi bersama ke dokter kandungan tapi nyatanya tidak!" Keken mulai terpancing kembali emosinya saat Farah tidak merasa bersalah dengan tindakan nya. Bahkan wanita itu tidak meminta maaf padanya.


" Akan aku buang cincin ini! " ancam Keken


" Jangan!! " Farah begitu berharap Keken tidak membuang cincin itu, sayang sekali jika dibuang karena harganya pasti mahal, pikirnya.

__ADS_1


Ia merebut cincin itu dari Keken.


" Kamu masih berharap dengan dia? Masih cinta sama dia?" mata Keken menyalang saat melihat istrinya ingin mempertahankan cincin itu.


Farah diam membisu tidak ingin memperpanjang masalah ini.


"Keken, cincin ini milikku dan kamu tidak berhak untuk membuangnya!"


"Aku suamimu, aku berhak denganmu!" sentaknya


"Dengar Farah, jangan pernah memberi ruang untuk orang ketiga diantara kita. Terutama dia!" sentak Keken dengan keras.


"Kenapa kamu masih bertanya saat kamu tahu jawabannya!" teriak Farah. "Dan perlu kamu tahu, bukan dia orang ketiga tapi kamu, kamu yang orang ketiga diantara kami. Jika saja aku tidak hamil maka aku pasti sudah menikah dengannya, pria yang aku cintai." Mata Farah tak kalah menyalang bahkan ia berteriak dengan keras dan tangannya menunjuk-nunjuk kearah suaminya, Keken kian emosi.


Sakit, itu yang Keken rasakan saat ini. Pengorbanan dirinya tidak pernah dihargai oleh sang istri bahkan dengan terang - terangan Farah mengatakan bahwa dialah pihak ketiga. Farah tidak pernah mencintainya.


"Bang Hilman mengajakku makan dan memberikan cincin ini untukku lalu kenapa kamu marah!"


"Kita memang menikah tapi tidak boleh mencampuri urusan masing-masing, apa kau lupa dengan perjanjian kita!"


"Jangan berharap lebih padaku, karena hatiku masih milik bang Hilman."


"Prang!!" Keken meninju kaca lemari dengan tangan nya. Hanya dengan ini ia bisa melampiaskan kekesalan nya.


"Ahhh..." Farah terkejut saat melihat kaca itu pecah berkeping-keping bahkan tangan Keken mengucurkan darah. Ia terkejut Keken seberani itu memukul cermin dengan tangan kosong.


"Sekarang aku tahu jawabanmu kalau kamu tidak pernah mencintaiku." ucap Keken, " Aku kira kamu bisa menghargai pengorbananku tapi nyatanya kamu masih terjebak di masa lalu dan ingin bersamanya." Keken segera memakai kaos miliknya dan memasukkan berkas penting ke dalam tas ransel nya.


Farah yang emosi kini tidak peduli jika Keken akan pergi dari rumah kontrakan. Ia tidak tahu kenapa ucapannya bisa sejahat itu pada Keken.

__ADS_1


" Dia pergi. " Farah meremas sprei miliknya. Keken benar-benar pergi dari rumah tanpa sepatah katapun. Akhirnya Farah menangis, airmata nya mengalir begitu saja saat Keken benar-benar pergi meninggalkan nya.


__ADS_2