Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 160


__ADS_3

Keken pulang ke mansion dengan menggunakan sepeda motor Farah, walaupun Keken tinggal di rumah Imelda ia tetap harus hidup sederhana. Dan ia pun tidak mendapatkan fasilitas mobil apapun. Menyedihkan.


Sejak Farah di rumah sakit, Keken pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dan ia ingin menyerah namun sang ibu selalu memberinya dukungan maka dari itu sekarang Keken tinggal di mansion. Dan ia mengira mommy nya mengantar Farah ke kontrakannya.


" Mas Keken..." Inha berlari dan ingin mengatakan sesuatu yang penting.


"Kapan kau datang?" Keken terlihat senang saat melihat Inha.


" Tadi sore."


"Mas Ken..." Inha memeluk lengan kakak sepupunya dan Keken merasa ada yang aneh. Ini bukan Inha yang selalu bersikap manja padanya bahkan gadis itu tidak suka saat ada pria yang menyentuh tubuhnya.


"Apa kau ingin bicara penting." Keken menatap Inha dengan intens.


Inha menganggukan kepala dengan cepat.


"Baiklah, nanti kita bicara. Saat ini mas lapar ingin makan dulu."


" Kau sudah pulang." Farah mendekat kearah Keken berharap suaminya akan mencium kening dan perutnya seperti biasa. Saat di ruang makan Farah mendengar suara suaminya maka dari itu ia bergegas menghampiri.


"Hm.." balas nya. Namun tidak menatap wajah Farah. Keken bingung ternyata ada istrinya di mansion.


"Kenapa pulang malam, aku menunggumu."


Ia tidak menjawab, bahkan enggan menatap istrinya lagi. Keken takut goyah.


"Keken benar-benar menyebalkan, tidak mengerti perasaanku."gumam Farah dalam hati


Inha yang mengerti ada sesuatu yang salah dengan Keken dan Farah, kini menatap secara bergantian kearahnya." Mereka masih bertengkar. "batin nya


" Mommy kemana? "tanya Keken


" Mommy sedang tidur, ia merasa lelah hari ini. " Inha


" Ayo kak kita makan. "Inha menarik kursi untuk Keken dan ia duduk disampingnya, Farah yang melihat hanya bisa berdiam diri, berpikir sejenak karena sejak menikah ia tidak pernah sekalipun memperlakukan Keken seperti itu dan sekarang ada Inha yang membuat Keken merasa dihargai.


"Aku memang pantas diperlakukan seperti ini karena tidak pernah menganggap Keken sebagai suamiku." gumamnya dalam hati.


" Farah, kenapa kamu melamun seperti itu, ayo kita makan." ajak Inha

__ADS_1


"Eh, iya." Farah duduk di sisi kiri Keken. Dan saat ia ingin menyendok nasi untuk suaminya, Inha dengan gerakan cepat mengisi piring Keken.


"Aku tahu mas Keken suka ayam krispi dan sop. Makanlah." Ia memberikan beberapa potong ayam dan sayur pada Keken.


"Terima kasih." Keken mengusap rambut Inha dengan lembut. Farah yang melihat kejadian itu, entah kenapa hatinya terasa sakit. Farah tahu mereka sepupu kakak beradik tapi perlakuan Keken begitu lembut pada adiknya, tidak seperti padanya saat ini bahkan Keken tidak sekalipun melirik kearahnya, dia hanya fokus makan sembari mengobrol bersama Inha. Ia diabaikan.


"Ken, kau ingin makan lauk lagi. Akan aku ambilkan." Farah hampir mengambil sepotong ayam untuk suaminya namun suara Keken menghentikan aktivitasnya.


"Tidak perlu!" Keken


"Tidak perlu melakukan hal seperti ini, karena aku bisa mengambilnya sendiri tanpa bantuanmu.


Deg. Hati Farah begitu nyeri karena sindiran Keken padanya.


" Ken, aku.... "Farah berkaca-kaca namun Keken tidak peduli bahkan ia kembali mengobrol bersama Inha.


" Mas, jangan lupa besok anterin aku ke kampus. Aku ingin menginap disini. "


" Tentu saja sayangnya mas, apa sih yang tidak untuk adikku tersayang. "Keken sengaja berkata demikian agar Farah mendengar.


" Kita keluarga yang tidak akan saling menyakiti berbeda dengan wanita lain, mereka akan bertindak sesuka hati dan keras kepala tidak pernah berpikir tentang pasangan nya,setelah ada kejadian maka dia hanya akan meminta maaf dan hal itu akan terulang lagi. "Keken kian menyindir hingga membuat hati Farah sakit.


"Kau berhutang padaku karena membuat Farah kesal." ucap Inha


Keken tergelak tawa, ia sangat tahu dengan sikap Inha yang hari ini terlihat manis. Dan itu sengaja dilakukan agar Farah cemburu.


"Terima kasih adikku." Keken mencubit pipinya.


"Apaan sih mas, jangan sentuh sembarangan." Inha mulai ketus


"Nah, ini baru Inha yang mas kenal,judes dan ketus." Keken terkekeh dan mendapatkan cubitan dari gadis itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Keken tidak kunjung masuk ke dalam kamar. Farah tidak bisa tidur, ia selalu melirik jam dinding dan berharap Keken akan segera masuk kamar. Ada hal yang perlu ia jelaskan sekaligus ingin meminta maaf.


Habis sudah kesabaran Farah satu jam menunggu nyatanya Keken belum muncul juga batang hidungnya, ia benar - benar kesal karena Keken tidak kunjung datang hingga akhirnya ia turun ke lantai bawah dan mencari suaminya. Dengan nafas yang sedikit pengap ia berjalan mencari Keken di sudut ruangan.


"Nona, apa ada yang perlu dibantu? Apa nona lapar?" tanya seorang bibi


Farah memang lapar karena hanya makan sedikit saat makan bersama, namun yang lebih penting sekarang bertemu dengan suaminya.

__ADS_1


" Keken dimana bi?"


"Oh, den Keken sedang merokok di taman belakang bersama non Inha."


Deg.


"Keken, sial*n!! Aku menunggu diatas nyatanya dia asyik - asyikan ngobrol dengan Inha." geram Farah dalam hati. Ia bergegas pergi ke taman belakang dan melihat suaminya sedang tergelak tawa bersama Inha.


"Seru sekali sepertinya, sedang membicarakan apa?" Farah pura-pura tersenyum walaupun saat ini hatinya kesal.


Keken yang melihat istrinya datang segera menggilas rokok dengan kakinya, ia tidak mau asap nya mempengaruhi kehamilan Farah.


"Kami sedang cerita masa lalu dan bercerita perkembangan perusahaan, mas Keken kan sudah lama tidak kekantor jadi ada beberapa perubahan."


"Oh..." Farah hanya ber oh ria, ia sebenarnya tidak mau tahu tentang hal itu. Yang Ia mau hanya ingin bicara empat mata dengan Keken.


"Ken, ayo kita masuk kamar. Aku ingin tidur. " ajak Farah.


Inha melirik kearah Keken yang hanya diam saja lalu bergantian melirik kearah Farah. " Pasangan yang aneh." gumamnya dalam hati


"Aku masuk ke kamar dulu, aku mengantuk." Inha tidak mau ikut campur dengan urusan mereka. Ia pun tahu diri dan tidak ingin melewati batas.


"Ken..." Farah menatap wajah suaminya yang masih enggan untuk melihat kearahnya.


" Keken..."


"Apa." sekilas Keken menoleh kearah istrinya namun ia kembali membuang wajahnya. Keken takut goyah dan iba saat melihat wajah istrinya.


"Kita bicarakan di kamar." pintanya


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dan sekarang aku mengantuk ingin tidur." Keken menghindari istrinya namun Farah mengejarnya dan menahan tangan Keken.


"Beri aku kesempatan untuk bicara."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, aku sedang tidak ingin bicara padamu!" Keken menepis tangan istrinya seperti yang pernah Farah lakukan dulu. Bahkan Keken tidak masuk ke dalam kamarnya, ia pergi ke kamar tamu dan tidur disana.


Farah menahan laju airmatanya dan pergi kembali ke kamar pribadi Keken, menangisi semua yang telah terjadi.


"Apa yang harus aku lakukan agar Keken luluh dan mau memaafkanku." lirihnya

__ADS_1


"Kesalahanku kali ini benar-benar fatal. Apa mungkin Keken mau menerima maafku."


__ADS_2