Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 16 ( Berdebat dengan Pria Songong)


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu dan Farah berjanji akan datang sore hari setelah pulang dari tempat kerjanya.


Farah begitu kesal ternyata alamat yang diberikan Keken begitu jauh, tepatnya di daerah Jakarta Selatan. Perjalanan memakan waktu satu jam lebih untuk bisa sampai ke apartemen tersebut.


Farah sedikit bingung saat berada di lantai apartemen paling atas. Ia mengetuk pintu sesuai nomer yang tertera di alamat itu.


" Cari siapa non?" tanya seorang pria berumur sekitar empat puluh tahunan.


"Assalamualaikum, pak. Saya mencari pak Keken, apa benar ini tempatnya?


" Walaikumm salam. " balas Amin, salah satu asisten rumah tangga Keken. Ia melihat Farah dari atas ke bawah, merasa aneh karena baru pertama kali ada seorang gadis datang ke apartemen Keken. Walaupun Keken seorang playboy, dia tidak akan memberikan alamat apartemennya ke sembarang gadis. Dan Mommy Keken begitu tegas, bahkan untuk urusan asisten rumah tangga ibunya sengaja memilih seorang laki-laki untuk menjaga rumah anaknya. Asisten rumah tangga sekaligus mata-mata untuk mommy Imelda.


"Pak, kok melamun?" Farah melambaikan tangannya tepat di wajah Amin


" Maaf nona, silakan masuk. Tuan Keken sudah menunggu anda."


"Panggil saya Farah pak, jangan nona karena saya hanya gadis biasa bukan orang kaya. " pinta Farah dengan tersenyum


Farah duduk di ruang tamu, ia begitu kagum dengan apartemen Keken. Apartemen mewah dengan barang - barang mahal dan interior yang bagus. Apartemen dengan nuansa warna putih yang menambah kesan mewah. Lampu cristal yang mengantung indah. Otak matematikanya mulai bekerja seolah menghitung berapa harga apartemen pria itu.


"Luar biasa! Aku bekerja sampai matipun tidak akan bisa beli apartemen seperti ini." gumam Farah dalam hati.


" Kau sudah datang." sapa Keken, ia terlihat begitu segar dengan rambut yang basah. Terlihat keren walaupun hanya menggunakan kaos dan celana pendeknya.


" Jangan terpesona denganku. " Keken melihat Farah diam hanya menatapnya.


" Aku keren dan tampan kan?" tanyanya dengan narsis


Farah hanya memutar bola matanya dengan malas, ia sempat terkesima beberapa detik saat melihat penampilan Keken dengan baju santainya namun Farah tersadar saat pria songong itu dengan bangganya memuji dirinya sendiri.


" Aku tidak punya banyak waktu, berikan nomer rekeningmu dan kembalikan cincinku sekarang juga."


"Hei, gadis gendeng!! Seharusnya yang tidak punya banyak waktu itu aku bukan kamu. Seharusnya aku yang mengucapkan kalimat itu!" seru Keken dengan kesal, gadis di depannya benar - benar selalu memancing emosi dan membuatnya kesal.


"Silakan diminum Farah." Amin menyodorkan segelas air mineral untuk Farah.


"Terima kasih pak Amin." ucap Farah dengan tersenyum


"Amin, siapa yang menyuruhmu memberikan dia minuman!" seru Keken dengan nada yang sedikit naik.


"Tapi tuan, saya pikir dia tamu dan harus dijamu. Maafkan saya tuan." Amin tidak berani membantah sang majikan. Ia masuk ke dalam dapur daripada dimaki sang majikan.

__ADS_1


"Ya ampun, cuma segelas air saja kamu memarahinya. Dasar pelit!!" gerutu Farah dengan lirih


"Ngomong apa kamu!" ketus Keken, ia mendengar Farah yang sedang menggerutu tentang dirinya.


Farah menghela nafas kasarnya, "Kamu itu tidak punya sopan santun, pak Amin lebih tua darimu. Seharusnya kamu memanggilnya dengan sebutan bapak!"


"Aku tahu kamu tuan rumah disini dan pak Amin bekerja untukmu, tapi setidaknya hormati dia. Jangan panggil namanya saja, panggil dia pak." Farah kembali berceramah, ia menatap tidak suka pada Keken yang bersikap kurang ajar.


"Suka- suka akulah,aku yang membayar gajinya!" Keken tidak terima dinasihati.


"Kamu memang menggajinya tapi perlu kamu tahu, pak Amin berjasa padamu dengan mengurus kebutuhanmu. Berilah dia penghargaan walau bukan dalam bentuk uang, tapi setidaknya panggil dia dengan nama yang sopan. Katanya bos tapi sifatmu tidak mencerminkan sebagai pemimpin. "


" Sudah ceramahnya! " sentak Keken," Aku menyuruhmu kesini bukan untuk ceramah tapi aku menyuruhmu untuk membantu pak Amin beres - beres Apartemen. "


" HAH...!! " Farah terkejut," Ini maksudnya gimana ini? "


" Masih belum jelas! " ketusnya," Maksudku, kamu harus bekerja dengan membantu pak Amin. "


" Aku tidak bisa, maaf. Aku bekerja di restoran dan tidak ada waktu untuk pergi kesini. Jaraknya terlalu jauh untuk." tolak Farah, " Aku tidak mengerti kenapa kamu mempersulit keadaan ini. Sebenarnya ini sangat mudah, tinggal kamu berikan nomer rekeningmu dan kau kembalikan cincin pertunanganku, beres kan. "


" Aku tidak mau, mudah sekali kamu bicara seperti itu. Setelah kamu melemparku dengan kain basah, kau akan melenggang pergi begitu saja. Enak sekali. "sindirnya


" Ya ampun, jadi kamu masih dendam dengan hal itu. Oke, aku minta maaf sekali lagi. Maafkan aku. "


Farah menggenggam erat tangannya, ia begitu geram dengan pria yang kini di hadapannya. Sepertinya bicara dengan pria ini tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada tekanan darahnya menjadi naik.


" Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. " Farah mengelus dadanya seraya menghembuskan nafas panjangnya.


"Kenapa kamu beristigfar?" tanya Keken, ia mendengar suara lirih Farah


"Karena aku sedang berhadapan dengan setan, ingin aku bacakan ayat kursi agar setan itu menghilang tapi sayangnya dia setan jadi-jadian!"


" Maksud kamu, aku setan nya! " Keken menunjuk dirinya sendiri, ia melihat sorot mata Farah melirik padanya saat mengucapkan kata setan." Wah, baru kali ini aku mendengar seorang gadis menyebutku dengan nama setan,kamu punya banyak nyawa untuk menantangku rupanya!" bentak Keken


" Nyawaku banyak seperti kucing dan aku tidak takut untuk mati!" ketus Farah.


Pak Amin yang sedang mencuri dengar kini hanya bisa menggulum senyum, baru kali ini ada seorang gadis yang berani menentang tuannya. Bahkan gadis itu tidak tertarik dengan pesona seorang Keken yang terkenal sebagai seorang playboy. Ia mengirim pesan pada nyonya besar untuk memberi tahukan keadaan saat ini.


" Masih kekeh dengan keputusanmu? Yakin cincinmu tidak ingin balik." Keken mencoba menggoyahkan hati Farah. Ia menunjukkan cincin Farah tepat di wajah gadis itu.


Farah memijit kepalanya yang sedikit pusing, perjalanan yang cukup jauh dan macet membuat dirinya sakit kepala apalagi ditambah dengan beradu mulut dengan pria gila di depannya. Farah mengingat saat pertunangan dengan Hilman. Cincin yang begitu dan sebagai tanda keseriusan Hilman padanya.

__ADS_1


"Kamu maunya gimana? " Farah tidak mempunyai nilai tawar lagi, dia sudah mentok tidak bisa berpikir saat kepalanya sakit.


" Amin akan bekerja seperti biasanya, jam tujuh malam dia akan pulang ke rumahnya. Dan setelah selesai bekerja kamu harus kesini untuk membersihkan rumah serta memasak untukku. Amin akan memberi tahu kamu apa saja yang harus dilakukan, Setelah itu kamu boleh pulang. Kamu harus datang selama tiga bulan, setelah itu lunas. "


" Tapi aku mau cincin itu sekarang, aku tidak ingin calon suamiku bertanya dimana cincinku. Beri aku kepercayaan, aku tidak akan mengingkari janjiku."


" Kalau kamu bohong gimana? "


" Aku Farahdila Dipta tidak akan mengingkari janjiku. Kamu bisa mencariku di restoran The Court. " ucap Farah dengan penuh keyakinan


" Baik, ini cincinmu ! " Keken menyerahkannya pada Farah.


Farah begitu berbinar mendapati cincinnya kembali, dengan cepat dia menyematkan cincin itu di jari manisnya sembari tersenyum lebar.


" Kenapa aku tidak suka dengan senyumnya saat ini, dia pasti sangat mencintai tunangannya itu." gumam Keken dalam hati, ia melihat Farah yang selalu tersenyum saat melihat cincin di jari manisnya.


"Aku punya satu syarat?" pinta Farah


"Apa?"


"Disaat aku membersihkan apartemenmu aku tidak ingin bicara padamu, anggap aku tidak ada. Kalau bisa kamu pulang ke apartemen setelah aku pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahmu."


"What..!!!" teriak Keken, ia tidak percaya dengan permintaan gadis di depannya, bagaimana bisa seorang gadis menolak untuk melihat wajah tampannya dan menolak untuk bicara padanya. Tidak masuk akal.


"Syarat macam apa itu! Aneh!, Ini apartemenku bukan apartemenmu, kenapa kamu yang atur."


" Ya sudah kalau tidak mau, aku tidak memaksa. Ini juga mulut dan mataku, jika aku tidak ingin bicara denganmu jangan salahkan aku nantinya." jelas Farah


" Sialan gadis ini, berani melawanku. Cukup menarik! "


" Deal. " Keken mengulurkan tangannya


" Kamu pikir aku mau berjabat tangan denganmu, saat di restoran kamu mengabaikan Hilmanku. "gumam Farah dalam hati. Ia tersenyum licik.


" Aku tidak ingin bersalaman sebagai tanda sepakat, aku hanya ingin... " Farah mendekat ke arah Keken dan mencubit dengan keras lengannya dengan sekuat tenaga.


" Awwww...sakit "Keken meringis kesakitan saat Farah mencubitnya dengan keras hingga memerah.


" Good bye. "Farah berlari dengan kencang dan meninggalkan Keken yang masih meringis kesakitan


" Dasar cewek gendeng!! Gila, lenganku sakit begini. " Keken mengusap-usap lengannya yang terasa panas. Kulitnya yang putih sangat kontras dengan warna merah akibat cubitan dari Farah.

__ADS_1


Sedangkan di sebuah lift, seorang gadis tertawa terbahak-bahak dan merasa sangat puas setelah mencubit pria yang membuatnya susah. "Akhirnya aku bisa balas dendam dengan pria gila itu. Dan sekarang cincinku kembali lagi. I love you, Hilmanku." Farah mencium cincin itu berkali-kali.


__ADS_2