
Farah mengendarai motornya sembari berlinang airmata. Perkataan ibu tirinya begitu sangat menyakitkan. Cacian dan makian sering ia dapatkan sejak dulu dari ibu tirinya. Jika ayahnya tidak berada di rumah, ibu tirinya selalu berkata kasar.
" Dasar anak pembawa sial!! Seharusnya kamu sudah mati sejak dulu! "
Perkataan yang sering ibunya lontarkan, terlalu menyakitkan bukan. Entah apa yang menyebabkan Farah selalu dicaci seperti itu, yang dia tahu setelah kematian ibunya, semuanya menjadi berubah. Bapaknya menjadi seorang pria yang pendiam, tidak peduli dan ia merasa terbuang. Ditambah lagi setelah menikah dengan wanita itu, lengkap sudah penderitaan Farah. Tanpa kasih sayang kedua orang tuanya ia mencoba bertahan hidup dengan mandiri dan lepas dari bayang-bayang keluarganya. Kehidupan yang terlalu sulit membuat Farah seorang gadis yang kuat, keras kepala, pantang menyerah walaupun di satu sisi dirinya terkadang merasa rapuh dan hanya bisa menangis di dalam kamar.
Saat dia kehilangan arah tujuan hidup dan ingin mengakhiri hidupnya, hanya kedua adik dan sahabatnya yang selalu memberinya semangat.
# Flashback On#
Saat itu Farah kecil berumur enam tahun, dia hidup seperti anak lainnya yang selalu bermain dan tertawa riang. Ibunya yang seorang guru sekolah dasar dan bapaknya seorang karyawan swasta. Dia mendapatkan banyak kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Di pemukiman yang cukup padat mereka mengontrak di sebuah rumah kecil. Harga properti yang mahal di Jekardah tidak memungkinkan mereka membeli sebuah rumah tinggal. Gaji dari kedua orang tuanya hanya bisa menghidupi untuk sehari - hari.
Ibu Meli orang yang penyayang, disiplin dan tegas. Farah selalu dididik untuk melakukan hal sesuai dengan aturan.
Setiap hari, jika bapak dan ibunya bekerja Farah selalu dititipkan pada tante Eri, adik dari Meli. Rumahnya tak jauh dari tempat tinggalnya, masih satu komplek. Farah pun mendapatkan kasih sayang dari tantenya. Saat itu tante Eri sudah menikah namun dia belum diberikan keturunan hingga baginya Farah kecil seolah anugerah yang allah berikan padanya, dengan merawat Farah kecil yang saat itu begitu cantik dan imut membuat tante Eri merasa bahagia dan tidak kesepian. Farah selalu dihujani dengan banyak cinta dan kasih dari semua orang.
Siang itu, seperti biasanya matahari begitu terik dan udara terasa panas. Ibu Meri tidak mengajar karena sakit. Farah kecil sedang tertidur di kasur lantai yang cukup tebal. Rumah yang sempit tidak memungkinkan untuk mereka menggunakan ranjang karena hal itu akan memakan tempat.
Tante Eri saat itu pulang ke Bogor bersama suaminya untuk menjenguk mertuanya yang sedang sakit. Farah yang begitu dekat dengan tantenya ingin ikut ke Bogor namun ibunya melarang karena takut Farah akan menginap disana. Bagi seorang ibu, jauh dari anak adalah hal yang sangat menyakitkan. Saat Farah bermain terlalu lama pun ibunya akan selalu mencari apalagi jika sampai Farah menginap, ibunya pasti akan menangis.
Saat itu, Ibu Meli merasa mual dan pusing karena dirinya sedang hamil dua bulan. Sindrom morning sickness membuat dirinya terkadang malas untuk bekerja. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah untuk beristirahat dan bermain bersama Farah.
"Ibu kok nangis, kenapa?" tanya Farah kecil. Saat dia akan tidur siang, ia melihat ibunya menangis di sampingnya.
"Tidak tahu, ibu hanya ingin menangis saja." Bu Meli memeluk anaknya dengan erat.
"Ibu, Farah tidak bisa bernafas,uhuk..uhuk..." Farah terbatuk karena pelukan erat dari sang ibu.
"Oh, ya ampun. Maafkan ibumu ini Nak, Cup.. Cup... Anak ibu." ia memeluk Farah kembali namun kali ini pelukan lembut.
"Ibu sayang sama Farah." ia mencium pipi anaknya bertubi-tubi
"Farah juga sayang sama ibu." balasnya
"Farah, jadi anak baik ya, Nak. Ibu selalu berdoa kamu akan selalu bahagia, jadi orang sukses dan sayang sama ibu dan bapak."
"Mmm.. Farah akan selalu jadi anak baik dan sayang bapak dan ibu." ucapnya lirih, dirinya sudah mulai mengantuk saat ibu mengelus punggungnya seperti biasanya.
" Farah harus selalu bahagia dan ceria, ibu sayang Farah."
" Mmm.. Farah tahu ibu sayang Farah. Nanti kalau ibu sudah sembuh kita masak bersama ya bu? Minggu depan jadikan tengok adik ke klinik? Farah ingin lihat adik di layar televisi" Farah kecil selalu menyebut monitor USG dengan layar televisi.
" Iya, nanti kita masak bareng dan tengok adik minggu ini, Farah bobo ya sayang."
" Ibu sayang Farah, ibu sayang Farah, ibu sayang Farah...." ucapan lirih itu yang selalu Farah dengar hingga dirinya masuk ke alam mimpi.
Bu Meli yang melihat anaknya sudah tertidur pulas kini merapikan ruang televisi yang berantakan. Setelah itu dia melanjutkan kegiatannya di dapur. Perutnya terasa keroncongan karena sejak pagi ia tidak sarapan. Perutnya yang mual enggan memasukan sedikit nasi ke dalam perutnya. Biasanya ia menunggu siang dan membeli sebungkus gado-gado dengan lontong. Tak lupa ia membeli asinan buah yang selalu membuat air liurnya menetes deras.
"Aku lapar" lirihnya, namun dirinya enggan meninggalkan Farah sendirian di rumah. Bu Meli menengok anaknya yang sedang tertidur kemudian ia masuk ke dalam dapur kembali, membuka lemari pendingin miliknya mencari sesuatu yang bisa dia masak.
"Stok sayuran habis, aku lupa belanja." Ia menutup kembali lemari pendingin dan masuk ke dalam kamar Farah. Mengambil sebuah jaket dan beberapa lembar uang untuk membeli makanan.
Ia menghampiri anaknya yang sedang tidur dan menciumi pipi Farah lagi dan lagi." Anak ibu begitu cantik walaupun saat tidur." ia tersenyum melihat putri kesayangannya tertidur pulas, enggan rasanya ia meninggalkan Farah walaupun dia hanya sebentar untuk pergi ke warung makan.
"Ibu pergi dulu ya Nak, ibu pergi sebentar. Nanti ibu balik lagi, Farah bobo ya, anak baik. Cup.. Cup..."
Bu Meli pergi ke luar, tak lupa ia mengunci pintu rumahnya agar aman. Tingkat kriminalitas di Jekardah cukup tinggi, di siang bolong pun terkadang orang berani beraksi dengan merampok dan mencuri di rumah target.
Dengan tergesa - gesa bu Meli membeli gado-gado dan lauk untuk keluarganya, tak disangka saat ia membeli makanan ia bertemu beberapa tetangga dan mengobrol cukup lama hingga tak disadari beberapa warga sekitar berlari dan berteriak.
"Ada apa ini?" tanya salah seorang warga
"Ada kebakaran di gang ceremai, api gede banget udah merambat ke tetangga. Kagak tau ape penyebabnya, cepet amankan barang berharga kalian!! "
" Cepatlah pergi dari sini, selamatkan diri kalian!" teriak salah satu dari mereka
"Cepat hubungi pemadam kebakaran!" teriak lainnya
Kepala bu Meli terasa berdenyut, ia berhamburan dan berlari menuju rumahnya. "Farah...!!!" ia teringat anaknya yang sedang tidur di rumah dengan keadaan terkunci dari luar.
__ADS_1
Ia melihat rumahnya tersambar api.
"Jangan masuk bu, disana api sudah membesar. Rumah ibu pasti sebagian sudah hangus terbakar." ucap tetangga Bu Meli
"Tidak! Aku harus menyelamatkan anakku. Dia sedang tidur disana, Farah harus selamat!" dengan tergesa - gesa bu Meli merangsek dari kerumunan warga yang sedang menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Sebagian orang mencegah beberapa warga yang ingin mendekat seperti bu Meli.
" Jangan masuk bu, apinya terlalu besar. Sebagian rumah ibu terkena kobaran api itu." salah seorang warga menahan tubuh bu Meli agar tidak masuk ke dalam rumah
"Aku harus masuk, Farah ada disana. Aku harus menyelamatkan anakku! Huhuhu..." teriaknya dengan keras sembari menangis keras
" Tapi bu."
" Bu Meli mendorong pria tersebut dan masuk ke dalam rumahnya. Asap begitu pekat, pintu belakang rumah bu Meli sudah tersambar kobaran api. Pemukiman yang padat serta cuaca yang terik membuat api cepat berkobar dan melahap rumah warga.
"Farah.. Farah...!!!" teriak bu Meli saat membuka kunci rumahnya
"Farah, uhuk.. Uhuk..." ibunya terbatuk - batuk karena asap
"Ibu... Ibu... Huhuhu...." Farah kecil menangis di sudut kamar. Ia begitu takut saat kamar penuh dengan asap dan tidak menjumpai ibunya.
"Ibu.... Ibu... Huhuhu...."
"Farah....!!!" bu Meli mendekap anaknya begitu erat. " Jangan takut sayang, ada ibu disini. Maafkan ibu ya Nak, ibu lalai meninggalkanmu sendiri."
"Ibu, aku takut." Farah begitu ketakutan
"Jangan takut, ada ibu disini. Ayo kita pergi dari rumah ini. " bu Meli melepas jaketnya dan memakainya pada Farah.
"Farah, kamu bisa menahan nafas kan sampai keluar rumah? Jangan biarkan asap jahat ini masuk terhirup dirimu. Tahanlah sampai luar rumah, kamu sanggup kan Nak, tutupi hidungmu."
"Iya ibu." jawab Farah dengan segera menutup hidungnya.
"Anak ibu memang pintar, ibu sayang Farah." Ia menggendong anaknya disaat tenaganya semakin lemas, perut yang kosong sejak pagi membuat dirinya sedikit limbung, kepalanya terasa pusing kembali ditambah asap pekat yang masuk ke dalam rumahnya.
"Ibu sayang Farah, ibu sayang Farah, ibu sayang Farah." setiap langkah bu Meli, ia ucapkan rasa sayangnya pada sang anak. Farah hanya bisa mengangguk karena dia harus menutup hidungnya sendiri.
Namun, disaat tidak terduga api berkobar tepat di depan mata mereka hingga bu Meli langsung membalikan badannya dan melindungi anaknya. Dirinya tersungkur diatas tubuh Farah. Tenaganya habis tak kuat menggendong anaknya lagi.
"Ibu, aku mau sama ibu. Ayo bu, bangun!" Farah mencoba menggoyangkan tubuh ibunya agar cepat bangkit.
"Tidak bisa Farah, ibu tidak kuat perut ibu sakit. Cepatlah keluar!!" bu Meli mendorong keras tubuh anaknya untuk terakhir kalinya agar Farah menjauh darinya dan bisa selamat dari kobaran api.
"Ibu.....!!! teriak Farah, ia berlari ke luar rumah dan menangis keras. Saat ibunya melindungi dirinya dari runtuhan dan kobaran api, kepala Farah terbentur lantai hingga pelipisnya keluar darah segar. Dia tidak peduli tubuhnya terluka dan berdarah. Farah kecil berteriak pada orang - orang agar segera menyelamatkan ibunya.
"Paman, tolong ibuku. Dia ada disana, tolong dia paman!" Farah memelas pada salah satu warga sekitar. Ia meminta pertolongan pada setiap orang yang berkerumun.
"Eh, itu si mpok Meli terjebak di rumah. Ayo kita bantu."
" Ayo, kita coba dulu kira-kira bisa masuk tidak. Apinya gede banget!"
Mereka mencoba menyiram air dengan alat seadanya, mencoba melihat keadaan bu Meli dari luar rumah. Jarak yang tidak terlalu jauh dari luar rumah memudahkan ibunya untuk bisa diselamatkan walaupun dengan beberapa luka bakar.
" Mpok Meli untung di ruang tamu, jadi kite gampang angkut dia. Coba lu cek, masih nafas kagak?" salah satu dari mereka mencoba mengecek urat nadi bu Meli
"Ibu... Ibu... Bangun bu..." Suara Farah begitu keras, ia menangis melihat ibunya tak sadarkan diri.
"Masih nafas, tapi lemah. Kita harus telepon ambulans ini."
"Cepetan lu telepon." salah satu mereka menghubungi nomor darurat ambulans
"Udah."
"Ibu....huhuhu... Ibu... " Farah masih terisak karena ibunya tak kunjung membuka matanya
" Farah..." lirih bu Meli, sayup sayup terdengar suara anaknya yang menangis keras.
"Ibu..... Huhuhu..."
"Alhamdulillah, sudah sadar..." ucap salah satu warga
__ADS_1
"Farah anakku" lirih bu Meli,ia menyentuh tangan anaknya.
" Ibu sayang Farah. Farah harus kuat apapun yang terjadi. Ibu tidur sebentar, Farah jangan menangis ya." Farah kecil hanya mengangguk, ia merasa senang karena ibunya sudah sadar.
Bu Meli tersenyum, namun airmatanya menetes di sudutnya. Nafasnya mulai tersengal, seolah menahan sakit. Matanya kembali menutup dan ternyata itu untuk terakhir kalinya
" Eh, ini gimana ini. Bu Meli kagak bernafas lagi." ucap salah seorang warga, ia melihat kejadian terakhir bu Meli menutup matanya.
"Coba lu cek Man, ini beneran kan udah kagak ada dia." pinta salah satu warga pada Maman, temannya
"Iye, beneran ini mah. Kagak ada dia."
"Innalillahhi wainnalillahi rojiun." ucap mereka bersamaan. Farah kecil bingung dengan apa yang terjadi, ia mengira ibunya tidur sebentar namun nyatanya takdir berkata lain Farah ditinggal selamanya oleh sang ibu.
"Sabar ya Neng, mpok Meli sudah tidak ada." Bang Maman selaku tetangga menunduk lesu, ia tidak tega melihat anak sekecil Farah sudah ditinggal ibunya
"Ibu Farah sedang tidur bang, tadi ibu pamit sama Farah, mau bobo sebentar." ucapnya dengan polos
"Ibumu sudah meninggal, dia tidur untuk selamanya." ucap warga lainnya
"Tidak, ibu tadi bilang, ibu hanya tidur sebentar. Bang Maman denger kan, ibu ngomong kayak gitu ke Farah." ia meminta pembelaan pada bang Maman. Namun pria itu hanya menunduk dan hanya berkaca-kaca.
" Ibu kok lama bangunnya? Tadi dia bilang sebentar. Farah lapar ingin disuapi ibu. " ucapnya dengan polos, hingga satu jam berlalu bapaknya datang dengan berlari dan berlinang airmata.
Saat mendengar istrinya telah tiada pak Ilham ijin untuk pulang. Perasaannya hancur melihat istrinya terbaring di luar rumah tetangga mereka. Farah kecil masih tidak mengerti dengan situasi yang terjadi, ia terus menerus membangunkan ibunya. Memanggil nama ibunya tanpa lelah.
"Bapak, ibu tidur tapi Farah panggil, dia tidak mau bangun pak." ucapnya pada sang ayah
"Ibu bilang tidur sebentar, tapi ini sudah lama belum bangun juga."
Ayahnya hanya memeluk Farah, dan melihat jasad istrinya dari samping. "Ibu sudah meninggal, dia tidak akan pernah bangun lagi."
"Tidak, itu tidak mungkin pak. Ibu pasti bangun, ibu hanya bilang ingin tidur sebentar." Farah kecil masih bersikukuh bahwa ibunya hanya tertidur dan berharap akan bangun kembali.
"Ikhlaskan ibumu, Nak!"
Keesokan harinya, mereka menguburkan ibunya di tempat pemakaman umum tak jauh dari rumahnya. Farah kecil hanya bisa menangis di samping makam ibunya. Tante Eri begitu histeris, ia sangat menyesal karena kemarin sempat pulang ke Bogor hingga tidak sempat menolong kakaknya.
"Maafkan aku kak, huhuhu...." Eri begitu menyesal, kakak satu - satunya kini telah tiada.
"Aku janji akan merawat dan menyayangi Farah seperti anakku sendiri, aku harap kakak tenang disana." Eri mengelus batu nisan yang bertuliskan nama kakaknya.
"Ayo kita punya pulang Farah." ajaknya pada ponakan
" Farah ingin disini bersama ibu." Farah enggan bangkit dari tempatnya. Ia masih meneteskan air mata.
"Farah sayang kan sama ibu?"
Farah menganggukan kepala dengan cepat
"Kalau kamu sayang ibu, ayo kita pulang. Kita do'akan ibu di rumah, Farah anak baik dan soleha ibu pasti bahagia punya anak seperti Farah." Eri mengelus rambut Farah dengan lembut.
"Bapak, ayo kita pulang." ajaknya pada sang ayah yang masih diam termenung. Matanya begitu sembab, sesekali ia terlihat menyusut airmatanya.
"Kalian pergilah dulu, bapak masih ingin disini." ucapnya tanpa melihat kearah Farah dan Eri
"Aku pulang dulu bersama Farah, urusan kita belum selesai bang, kita perlu bicara." Eri menggandeng tangan Farah dan berlalu pergi.
Dan hingga kematian ibunya saat itu, semuanya berubah bapak tidak tidak terlalu peduli dengannya, tante Eri yang ingin membawa Farah untuk tinggal di Bogor pun ditolak sang ayah. Farah kecil tumbuh dengan kurang kasih sayang namun dia masih bisa bertahan hingga saat ini.
Flashback Off
Farah masih mengendarai dengan perasaan kalut, ia melamun mengingat setiap kejadian di masa lalu. Andai saja ibunya tidak menyelamatkan dirinya pasti ibu masih hidup dan dirinya yang meninggal.
"Ibu, andai saja waktu bisa kuulangi, biar aku saja yang mati saat itu daripada aku hidup seperti ini tanpamu, huhuhu...." Farah menangis tersedu-sedu, hidupnya terasa sangat berat tanpa seorang ibu disisinya.
Di persimpangan jalan Farah mengebut dan tanpa sengaja sebuah mobil hampir menabraknya. Farah kehilangan arah dan tersungkur di jalan bersama motornya.
" Cit......"suara decit mobil berhenti tepat di depannya. Seorang pria muda turun dari mobilnya.
* **
__ADS_1
Yuks yang masih punya orangtua jangan lupa berbakti. Yang jauh masih bisa komunikasi, tanyakan kabarnya. Kita tidak akan tahu kapan melihat mereka untuk terakhir kalinya. Jangan sia-siakan waktu bersama keluarga.
Jangan lupa like, Vote and comment. Love u all... 😘😘❤️