Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 179


__ADS_3

Khaffi menunggu di dalam gang sempit yang tak jauh dari kontrakan Farah, ia menunggu Dini melewati gang itu. Dan setelah tiga puluh menit menunggu, gadis itu datang dengan sepeda motornya.


"Akhirnya si judes datang, berani nya dia membuatku menunggu selama ini." gumam Khaffi dalam hati.Ia melihat jam tangan nya sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.


"Stop, berhenti!!" Khaffi berdiri di tengah-tengah gang sempit itu hingga akhirnya Dini membuka helm nya.


"Ngapain lu disini?"


"Nungguin lu."


Dini mengernyitkan dahi, ada apa gerangan Khaffi menunggu nya. "Ada apa? Cepetan gue mau pulang."


"Ayo kita bicara." ajak Khaffi


"Yasudah, kalau mau bicara di kontrakan. Ini sudah malam."


Ogah! Yang ada gue digerebek warga dan dinikahkan sama lu, kagak deh!" Khaffi tidak mau ke kontrakan Dini karena Farah pasti curiga dengan nya.


" Elu sih enak dapat cowok kaya gue, tajir melintir sedangkan gue apes dapet lu yang jelek!"


" Siapa juga yang mau sama lu! Awas minggir!" Dini kian kesal. Tenaganya sudah habis dengan pekerjaan dan kuliah, pulang malah diejek dengan pria menyebalkan ini.


"Minggir!!" serunya. Ia berharap sudah tidak mau bicara dengan pria yang songong ini.


"Tidak akan! Kita bicara dulu baru aku akan pergi." Khaffi masih saja berdiri di tengah jalan sembari menahan motor Dini agar mau tidak pergi.


" Minggir atau gue tabrak!!" ancam Dini sembari mendelik kesal


"Tabrak saja aku tidak takut, tapi ingat jika aku terluka sedikit maka kau akan ganti rugi dan bisa jadi berurusan dengan polisi." Khaffi balik mengancam


"Sial!!" umpatnya, " Ayo ikut aku, kita bicara di suatu tempat."


Dengan cepat Khaffi membonceng Dini dan tersenyum penuh kemenangan karena gadis itu mau menuruti keinginan nya, namun sesaat kemudian ia melolong saat tahu kemana Dini membawanya pergi.


"Kau gila ya! Kenapa membawaku kesini!" Khaffi melihat banyak kuburan, ternyata gadis sinting itu membawanya ke tempat pemakaman.


"Memangnya kenapa, katanya kau ingin bicara denganku dan ini tempat yang tepat untuk bicara." Dini turun dari motor nya dan duduk di kursi dekat kuburan tanpa perasaan takut sama sekali.


" Kau benar-benar gadis sinting!" umpat Khaffi, ia merinding melihat banyak pemakaman.


" Tunggu dulu, ini sebenarnya pemakaman atau rest area kenapa banyak orang duduk santai disini dan tidak terpengaruh dengan hawa mistis." Ia melihat banyak orang sedang bersenda gurau dan duduk di sekitar makam bahkan ada yang menyanyi sembari memetik gitar.

__ADS_1


" Mereka memang tinggal disekitar sini dan ini wajar karena mereka sudah terbiasa. "ucap Dini


" Bang sekoteng bang, dua ya. "Ia memesan minuman hangat di abang-abang keliling.


" Busyet...!! Mereka juga jualan disini. "Khaffi seolah tak percaya ada penjual yang berani berdagang di area kuburan.


" Sudah kubilang, disini rame bahkan ada beberapa orang yang pacaran disini. Noh lihat. "Dini menunjuk sepasang kekasih yang duduk tak jauh darinya.


" Sebenarnya mereka waras tidak, masih banyak Cafe dan taman kota kenapa mereka lebih memilih pacaran di pemakaman. " Khaffi menggelengkan kepalanya


" Tempat ini hemat biaya, tidak membutuhkan tiket masuk dan tempat disini cukup bagus untuk swafoto. Jajanan nya juga cukup murah. Lalu apa lagi yang dicari, kalaupun mau ke Cafe sangat mahal. Kau tahu, saat siang hari anak - anak kecil pun bermain disini, tempat ini selalu ramai. Kau mau makan apa saja pasti ada karena di depan pemakaman ini banyak pedagang asongan. "


" Gila! Yang benar saja beli makanan dekat sini, bisa jadi mereka kuntilanak yang menyamar menjadi penjual atau pocong jadi-jadian. Ih... Ngeri... "Khaffi bergidik ngeri


" Kamu terlalu banyak menonton film horor jadi otak mu itu selalu berpikiran negatif. "Dini


" Lihatlah, mereka menapakkan kakinya dan mana ada kuntilanak atau pocong jadi-jadian. "


Namun beberapa saat kemudian tukang sekoteng itu memberikan minuman nya." Silahkan neng,tumben pacaran disini neng. " Ia mengenali wajah Dini karena gadis itu pelanggan setia.


" Iya bang, ini temen bukan pacar, dia lagi pengen liburan cari angin malam. "


" Kita temen pak bukan pacar." ketus Khaffi


"Iya mas." Penjual sekoteng itu pergi dan menunggu beberapa pelanggan lagi yang ingin membeli dagangan nya.


"Di minum, ini enak dan hangat." Dini melirik Khaffi yang hanya diam dan tidak menyentuh minuman hangat itu sama sekali.


"Kenapa? kamu tidak suka, yasudah jangan dimakan kalau takut sakit perut." sambung Dini lagi.


"Kamu gadis menyebalkan yang pernah aku temui. Bagaimana aku bisa makan dengan nyaman saat di depanku hanya terlihat pemakaman." Khaffi mendengus kesal.


" Anggap saja kamu sedang belajar memperbaiki diri. Dengan melihat pemakaman seperti ini kamu bisa sadar bahwa hidup itu sementara dan jika disini terlihat gelap bayangkan saja jika kamu sedang berada di dalam kuburan itu tidak ada cahaya sama sekali dan hanya sendiri. Renungkan setiap keburukan yang kamu perbuat dan amal kebaikan apa yang sudah kamu lakukan. Kita hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan jika kamu takut mati itu wajar, tapi setidaknya kamu harus memperbaiki diri sebelum kematian menjemputmu. "Dini mulai berceramah seperti ustadzah.


" Aku masih muda jadi masih banyak waktu untuk bersenang-senang. "kilah Khaffi


" Kau tahu saat ini kita bisa bernafas dan hidup. Bisa jadi, satu menit kemudian kita bisa mati. Ajal itu tidak melihat muda dan tua atau kaya dan miskin. Sejauh apapun kamu pergi, sekuat apapun kamu menolak jika ajalmu sudah dekat kita tidak bisa melawan nya. Mengerti! "ketusnya


" Kamu apa-apaan sih! Kenapa kita membahas kematian, aku tidak suka!" Khaffi dengan cepat mengambil sendok sekoteng itu dan langsung memakan nya." Aduh, panas! " ia lupa bahwa minuman itu panas.


" Kamu itu bo doh atau apa sudah tahu panas langsung saja dimakan. "Dini

__ADS_1


Khaffi kesal karena ada gadis yang menyebutnya dengan kata bodoh." Sialan!! "gumam nya dalam hati.


" Apa yang ingin kau katakan? Kenapa menghalangi jalanku tadi? "Dini berkata to the point.


" Aku minta maaf karena sudah menghina prinsip ibumu saat itu. "


" Oh, sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Lalu apalagi? "


" Sudah, itu saja. Aku hanya ingin meminta maaf. "Khaffi


" Dasar kau pria aneh, jika kau ingin meminta maaf itu bisa kau lakukan sejak tadi di gang itu jadi aku tidak perlu membawamu kesini. Buang-buang waktuku saja! "ketus Fini sembari menghabiskan sekotengnya. Ia pergi dengan cepat dan membayar satu mangkok sekoteng.


" Aku bayar sendiri pak, nanti tuh cowok rese bayar sendiri juga. " Dini dengan cepat mengendarai motor nya dan pergi dari pemakaman meninggalkan Khaffi seorang diri.


" Hei gadis sinting!! "teriak Khaffi dengan kesal, ia yang baru saja menikmati sekoteng kini ditinggal pergi Dini." Aku belum selesai makan kau pergi! "teriaknya


Khaffi begitu takut dan mau tak mau ia meninggalkan makanan nya.


" Mas, mas belum bayar. "penjual itu mengejar Khaffi


" Bukan nya tadi sudah dibayar si Dini." Tadi Khaffi melihat gadis itu membayar sekoteng.


" Iya mas, tadi neng Dini sudah bayar tapi untuk dirinya sendiri, punya mas belum dibayar. "jelas si penjual


" Sialan si Dini pelit banget dia! " umpat Khaffi


"Berapa bang satu mangkok sekoteng?" Khaffi membuka dompetnya


"Sepuluh ribu."


"Berapa??" Khaffi menajamkan pendengaran nya, ia terkejut sekoteng dengan isi sebanyak itu hanya sepuluh ribu rupiah.


"Sepuluh ribu mas ." ucap si penjual. Khaffi membayarnya dengan uang lima puluh ribu. "Ternyata memang makanan disini murah." ucapnya dalam hati


"Ini kembalian nya mas." penjual itu memberikan uang Khaffi


"Tidak usah, bang. Ambil saja kembalian nya. Saya sedang marah!" ucapnya


"Ih berarti kalau marah mas tidak menerima kembalian ya, sering-sering marah ya mas agar bapak dapat uang lebih dari mas." ucapnya dengan terkekeh


Khaffi hanya mengelus dada dan pergi dari tempat itu, sepanjang perjalanan dia mengumpat dan mengomel tentang gadis itu." Sepuluh ribu saja tidak mau mentraktirku, dasar cewek pelit, medit. awas saja aku kerjain! "

__ADS_1


__ADS_2