Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 141


__ADS_3

Farah terlihat gusar saat menerima sebuah pesan dan itu sangat jelas terlihat. Ia menyembunyikan ponselnya di bawah bantal agar Keken tidak curiga dengan nya.


" Jika kamu bertingkah seperti itu berarti si Hilman telah menghubungimu lagi!" ucap Keken sembari sibuk memasukkan laptop dan berkas ke dalam tas.


Farah menundukkan kepala, sulit rasanya ia berbohong pada Keken karena pria itu pasti tahu jika ia sedang berbohong.


"Lusa abang ingin bertemu denganku." ucap Farah


"Apa kau mengizinkan aku untuk bertemu dengan nya?"


" Memangnya kalau aku tidak mengizinkanmu, kau akan patuh dan menuruti perintahku, tidak kan?" Keken tahu Farah tidak suka di kekang dan dia pasti akan pergi walaupun Keken tidak menyetujuinya.


"Terserah kamu saja, aku percaya denganmu." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Keken sebelum ia berangkat kerja. Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya.


Dan tak lama kemudian Vania datang berkunjung ke rumah Farah. Ia datang sendirian dengan wajah kusut, tidak seperti biasanya ia selalu ceria.


"Masuklah, kau ingin makan?" Farah sengaja menawarkan makanan pada Vania. Gadis itu akan makan banyak jika dirinya sedang banyak pikiran.


"Aku mau pesan online saja agar kamu tidak capek." Vania masih dengan wajah datarnya dan diam.


"Aku jualan makanan, masa kamu tidak ingin beli makananku." gerutu Farah


" Kamu itu masih saja keras kepala, memangnya di br*ngsek itu tidak memberimu nafkah sampai kamu jualan begini!" ketus Vania, ia heran karena Farah masih saja repot-repot bekerja padahal Keken banyak uang dan orangtuanya kaya raya.


" Keken memberiku uang belanja tapi aku memang yang mau jualan kok daripada cuma diam dirumah, bosen. Dan alhamdulillah aku bisa bagi hasil dengan teh Cucu."


"Tapi kamu perlu istirahat Far, lihat kandunganmu semakin membesar. Empat bulan lagi kamu melahirkan, jagalah kesehatan."


"Kamu tenang saja, dia tidak rewel dan kuat." Farah mengelus perutnya dengan lembut. Tidak terasa usia kandungan nya memasuki bulan kelima dan dia memang terkadang cepat lelah namun jika harus berdiam diri Farah tidak bisa.


" Sekarang kamu menerima kehadiran bayi itu, aku ikut senang." Vania tahu dulu Farah sangat benci dengan janin itu dan berharap keguguran.


"Aku sudah bisa menerima takdir dan menyayangi bayi ini." Farah tersenyum bahagia dan beberapa kali ia mengusap perutnya lagi

__ADS_1


" Kamu menerima bayi itu pasti karena Keken juga perhatian denganmu dan bayinya, coba kalau si br*ngsek itu tidak peduli denganmu, aku yakin kamu tidak akan menerima bayi itu. " Vania pergi ke dapur dan mengambil banyak lauk dan sayur, seperti biasa makan banyak tanpa rasa bersalah bahkan porsinya bisa untuk tiga orang sekaligus.


Farah terdiam, memang benar selama ini Keken perhatian dan selalu memenuhi semua nyidam nya, bahkan sekarang Keken selalu pulang sore hari dan membantunya membersihkan rumah. Walaupun awalnya ia selalu payah dalam melakukan pekerjaan nyatanya sekarang Keken bisa melakukan dengan baik dan Farah tidak perlu mengomel lagi.


Sebelum bekerja Keken tidak pernah lupa mencium calon anaknya dan memeluknya dengan lembut. Keken pria yang bertanggung jawab. Beberapa kali ia tidak sengaja mendapati Keken membuka dompetnya dan mengisi beberapa lembar uang untuk belanja harian dan pria itu selalu pura-pura bod*h. Ia pun tidak pernah memaksa untuk berhubungan badan. Dan Perlakuan manis Keken yang selalu membuat Farah nyaman hingga terkadang wanita itu merasa bersalah karena belum bisa menjadi istri yang baik.


" Yaelah malah melamun, kamu sudah mulai cinta dengan nya?" Vania kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya. Ayam goreng serundeng ditambah sop dan sambal kecap, tak lupa bawal bakar yang membuat setiap orang menelan saliva karena aromanya begitu menggoda. Vania makan dengan lahap hingga menambah lauk nya lagi.


"Mana ada cinta, dia perhatian denganku karena anak ini bukan karena mencintaiku. Dan selama aku menjadi istri Keken, pria itu tidak pernah mengatakan cinta padaku!" Farah mengingat kembali, tidak satu kalipun Keken mengucapkan cinta padanya dan kemungkinan besar pria itu hanya menginginkan anak nya bukan dirinya.


" Kau itu masih dibutakan cinta oleh si Hilman makanya tidak bisa melihat cinta Keken. Cinta itu tidak perlu diucapkan tapi dengan tindakan. Jangan sampai kamu menyesal nantinya Keken direbut oleh wanita lain atau bisa jadi dia pergi jika kamu selalu mengabaikannya. "


" Kok kamu ngomong gitu! "Farah kesal karena Vania dan terutama Dini selalu menakut-nakuti dirinya jika Keken menyerah pada cintanya.


" Keken akan selalu ada denganku, dia tidak akan meninggalkanku sampai bayi ini lahir. "


" Memangnya setelah bayi itu lahir, kau ingin bercerai dengan nya? Apa kamu yakin?"


"Sudahlah jangan membahas Keken, dia sedang bekerja." Namun pikiran Farah mulai berkeliaran, ia membayangkan wajah suaminya yang selalu mengulas senyum walaupun sering dimaki olehnya. Keken pun jarang marah jika tidak terpancing emosi. Entah itu Hilman ataupun Keken yang terpenting saat ini ia tidak merasa stres dengan kehamilannya, emosi Farah stabil dan tidak banyak pikiran.


"Kenapa aku rindu Keken padahal pria itu baru saja berangkat kerja." gumamnya dalam hati sembari mengelus perutnya yang sempat berdenyut kencang. Farah hanya bisa menghela nafas kasarnya.


"Kamu ada masalah dengan chef Ardi?" tanya Farah setelah Vania menghabiskan makanan nya.


"Tidak mudah berhubungan dengan duda beranak satu, apalagi terkadang mantan istrinya terlihat tidak suka denganku dan anak bang Ardi entah kenapa sekarang menjauhiku." Vania meremas rambut panjang nya, sedikit pusing dengan masalah yang kini sedang dihadapi.


"Anak bang Ardi cowok umur delapan tahun, dia anak penurut kok aku pernah bertemu dengan nya saat di restoran, saat itu ia datang bersama ibunya. Mantan istri chef Ardi cantik, tapi entah mengapa mereka berpisah karena bang Ardi tidak pernah cerita, ia orang yang tertutup untuk urusan pribadi. "jelas Farah


" Mereka berpisah karena mantan istrinya tidak kuat karena bang Ardi selalu sibuk kerja, istrinya kurang perhatian dan sekarang anaknya seolah tidak setuju aku menjadi ibu tirinya. "


" Benarkah!!, lalu apa yang akan kau lakukan? "


" Entahlah Far, aku ingin hubungan ini serius tapi melihat anaknya yang tidak menyukaiku rasanya kepercayaan diriku hilang lima puluh persen. "

__ADS_1


Farah tergelak tawa mendengar penuturan Vania.


" Apa ada yang salah? " Vania kesal karena Farah masih saja tertawa.


" Kamu sangat lucu, apa ini Vania yang aku kenal. "Farah menggelengkan kepala.


" Vania yang aku kenal selalu percaya diri bahkan disaat terpuruk sekalipun, Vania selalu ceria dan punya banyak akal untuk mengatasi segala masalahnya. Aku yakin kamu bisa merebut hati Rasya, masa belum perang saja sudah menyerah." Farah memberikan semangat pada Vania agar lebih percaya diri


" Kau benar, aku Vania Rachelin yang selalu kuat dan mampu melibas segalanya. "Semangatnya mulai membara, kepercayaan dirinya kembali bangkit.


" Nah gitu dong, ini baru Vania yang aku kenal. Aku bangga padamu. "


" Makasih Farah, lu selalu menyadarkan dan memberiku semangat. "Vania memeluk Farah dengan erat.


" Sudah ah, pengap dipeluk lu. Jangan lupa ucapan terima kasih belikan aku mie ayam. "


" Oke oke bumil yang rakus, kamu minta apapun akan aku belikan." Sejak Farah hamil, gadis itu selalu minta makanan. Hanya makan, makan dan makan yang ada dipikiran nya.


" Aku juga mau! Belikan aku mie ayam juga. "suara Dini terdengar sangat keras. Ia juga ingin makanan yang sama seperti Farah.


" Kalau perkara makanan, cepet banget lu dengernya. Aji mumpung minta gratisan. "gerutu Vania, ia langsung memesan makanan online di aplikasi ponselnya


" Gratissssss...." Dini memperlihatkan barisan giginya yang rapi." Eh, Van gue dapet video baru. Ayo kita lihat. "


" Bagus tidak, ayolah aku sudah tidak sabar. "sahut Vania


" Gue kagak ikutan, mending tidur deh. "Farah beranjak dari duduknya namun segera ditarik Vania. Kedua teman nya suka menonton video me sum terbaru dan Farah tidak suka menonton nya karena jijik.


" Sudah lu ikutan nonton disini saja, kalau lu pengen tinggal praktek minta sama Keken. Lu kan sudah halal, emang kita cuma bisa nonton doang." Dini segera mengambil ponselnya dan memutar film panas.


"Kalian benar-benar sinting, aku tidak mau ah!" Farah takut berhalusinasi jika menonton film panas seperti itu. Setiap manusia pasti punya hasrat untuk hal itu.


" Sudah lihat saja, kalau lu mau ngomong sama Keken. Kalau dia tidak mau tinggal peluk guling saja." Akhirnya mereka bertiga nonton bersama dan sesekali pikiran Farah berkelana liar, membayangkan saat Keken menyentuhnya disaat hujan deras dan mati lampu. Farah membayangkan betapa nikm*tnya saat itu hingga ia tidak bisa berkata - kata lagi.Keken menyentuhnya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2