Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 230


__ADS_3

"Permisi mpok, bisa kagak aye ikutan buang air kecil? "


"Eh, neng Farah. Boleh neng masuk aje belok kiri . " Mpok Ayus yang masih sibuk mengulek hanya memberi petunjuk dengan dagunya


Farah masuk kurang lebih lima belas menit, dia keluar dengan keringat dingin.


" Non, pulang saja ya kita ke rumah. Bibi takut Non kenapa-napa. " Ia melihat wajah Farah yang pucat, bahkan bulir keringat masih terlihat di wajahnya


"Iya tapi aku mau liat Fadil sebentar cuma lima menit habis itu pulang. Pinggang aku sakit banget ini bi... " keluh nya


"Nanti bibi pijitin lagi di rumah. "


Farah hanya menganggukan kepala, hanya bibi dan ibunya yang sering memijit punggung dan pinggangnya agar terasa nyaman.


"Non Farah mau beli gado-gado tidak? biasanya ibu Tami beli buat Non. "


"Boleh mpok, beli empat ya. " Karena sudah mengijinkan nya untuk numpang buang air kecil maka Farah membeli gado-gado empat bungkus untuk pengawal, bibi dan ibu di rumah.


"Tungguin ya neng, alhamdulillah akhirnya habis juga jualan mpok diborong neng Farah semua. " ia mengulas senyum


Farah beberapa kali menahan rasa sakitnya yang kian mendera hingga akhirnya pesanannya sudah siap. Ia berjalan melihat Fadil yang sedang bertanding, Farah berteriak kegirangan saat melihat adiknya menendang bola walaupun tidak masuk ke dalam gawang.


"Fadil... ayo semangat!! " teriak Farah


Fadil menoleh lalu tersenyum pada kakak nya yang berdiri tak jauh dari pinggir lapangan. Fadil mengacungkan jempol kearah kakaknya dan ia kian semangat bertanding. Namun sepuluh menit kemudian Fadil melihat kakaknya terkulai lemas dan terlihat cairan bening keluar diantara kedua kakinya.


"Bi... aku buang air kecil lagi. " lirih Farah


"Itu bukan air seni Non, itu air ketuban. " Bibi dengan cepat menopang tubuh Farah yang lemah


"Kakak.... !!! " Fadil teriak dan menghampiri kakaknya yang lemas. Dan beberapa orang berkerumun


" Den, kita ke rumah sakit saja seperti nya Non Farah mau melahirkan. " bibi sedikit panik


"Fadil, kamu mau kemana? " Pelatih melihat Fadil keluar lapangan


"Maaf Pak, kakak saya mau melahirkan. Aku harus membawanya ke rumah sakit. " Fadil begitu panik


"Yasudah kamu bapak ganti dengan personil lain nya, bawa kakakmu ke bidan Susi saja yang dekat, bawa mobil bapak. Ini kuncinya. "


" Ayo, saya antar kesana. "ucap salah satu tetangga Farah. Dengan sigap membawa Farah masuk ke mobil


Mereka membawa Farah ke klinik terdekat karena wanita hamil itu terus berteriak kesakitan dan air ketuban pun sudah pecah.


" Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja bi? "tanya Fadil, ia pernah mendapat pesan dari keken agar membawa Farah ke rumah sakit saat melahirkan


" Terlalu jauh Den, air ketuban nya sudah pecah takut calon bayinya keracunan maka dari itu harus segera ditangani. " Bibi, wanita paruh baya itu pun menelepon nyonya Imelda dan nyonya Navysah.


"Fadil, telepon ibu sekarang dan suruh bawa keperluan bayi. " pinta Farah


"Eh, baik kak. " Fadil menelepon ibunya agar cepat datang ke klinik

__ADS_1


Hanya tujuh menit mereka sampai di klinik dekat rumah Farah dan langsung mendapatkan penanganan.


" Farah, tenang dulu ya. Ibu bidan cek dulu. " Seorang paruh baya bernama susi mengecek alat kel*min dan tekanan darah Farah.


Tak berapa lama bu Tami datang dengan dua pengawal dengan membawa perlengkapan bayi .


"Bagaimana bu bidan, Farah siap melahirkan kan? "


"Iya bu, sebentar lagi, kami sedang menyiapkan kelahirannya. " bu Susi dan satu perawat memberikan infus karena keadaan Farah sedikit lemah, wanita itu menangis sembari meraung kesakitan.


"Ibu, sakit banget bu... aku tidak kuat..huhuhu... " Farah meremas sprei putih nya


"Tenang sayang, ini hanya sesaat sebentar lagi kita bertemu Ghani. "


"Tapi bu, ini sangat sakit! " teriak nya


" Fadil, telepon keken sekarang!! " Farah masih berteriak terus


"Iy.. iya kak. " Fadil ikut panik, dalam ruangan itu ada banyak orang dan dia bingung harus melakukan apa. Dengan cepat ia menelepon keken


"Kak, kak Farah... " Fadil sengaja memfokuskan ponselnya pada wajah Farah.


"Ken.... " lirih Farah, "Sakit sekali... "


"Sa... sayang kau bak-baik saja. Semangat sayang, sebentar lagi kita akan melihat Ghani. " Keken memberi semangat secara virtual.


"Kau enak tinggal beri semangat, aku yang kesakitan, mmpphh... akhhh... sakit. " Farah berteriak kesakitan lagi saat kepala Ghani terlihat di mulut rahimnya.


" Bu bidan, kepala bayinya. "Fadil sangat terkejut saat kepala bayi itu terlihat. Fadil bergetar bahkan lemas saat melihat darah. Namun tangannya masih bisa memegang ponsel walaupun dengan bergetar.


"Astaghfirullah.... " Farah mengejan kuat.


"Ayo sayang dikit lagi. " seru keken diujung telepon


"Ayo, mengejan lagi yang kuat sebentar lagi keluar. " bu susi


"Ayo Farah, sedikit lagi. " Bu Tami


"Sakit bu, sakit sekali. Aku tidak kuat. " Farah terlihat lemas dan ingin menutup matanya, merasa mengantuk.


"Eh, tidak boleh tidur. Ayo dikit lagi, cepatlah! " bu Susi tidak mau terjadi apa-apa dengan pasien nya. apalagi saat seperti ini sangat krusial, si ibu bayi tidak boleh tidur.


"Kak Farah, Ghani sudah terlihat. Rambutnya hitam legam seperti kak keken, sepertinya dia sangat lucu dan menggemaskan. Ayo mengejan yang kuat, dia hampir keluar. " Fadil yang melihat kearah bawah kakaknya mencoba memberikan semangat walaupun kakinya saat ini sangat lemah dan ingin pingsan. Darah yang keluar dari bawah Farah semakin deras .


"Kak..... " Fadil berkaca-kaca karena Farah tidak merespon dirinya


"Kakak...!! teriak Fadil, " Kakak, Ghani mau keluar dan ingin main bola denganku ,cepatlah mengejan jangan tidur atau ku jambak rambut mu!!"teriaknya lagi


Farah seperti mendapatkan kekuatan, tidak pernah sekalipun Fadil berteriak keras padanya apalagi mengancam nya.


Farah dengan sekuat tenaga mengejan untuk kesekian kalinya hingga bayi itu keluar dan menangis keras. Fadil yang melihat jalannya persalinan kini berjalan lunglai dan duduk menjauh dari kakaknya yang kini sedang dibersihkan dan dijait dibagian bawah.

__ADS_1


"Hei!! Fadil kau dengar aku! " teriak keken


"Aku ingin melihat anakku. " Keken belum sempat melihat putranya karena keburu Fadil lemas


"Fadil sialan!! Kau dengar aku, kau sudah melihat mesin pabrik istriku dan sekarang aku tidak bisa melihat Ghani, mana Ghani ku!! " teriak keken diujung telepon


Tanpa menjawab pertanyaan kakak ipar nya Fadil dengan cepat mematikan sambungan telepon, ia masih syok dengan apa yang dilihatnya. " Aku melihat Ghani keluar dari tubuh Kak Farah. "


" Kenapa bayi sebesar itu bisa keluar dari lub*ng kecil itu. " Fadil


"Bahkan aku melihat kakak ku dibersihkan dan dijait seperti itu. " Fadil menelan salivanya dengan kasar saat melihat langsung kakaknya dijait bahkan tangan bu bidan bisa masuk ke dalam rongga, aneh sekali pikir nya.


Setelah selesai bayi dibersihkan, bu Tami menggendong bayi mungil itu dan Fadil pun tak mau kalah, ia melihat wajah Ghani yang gembul dan bersih.


"Kak, anakmu mirip sekali dengan kak Keken. " ucap Fadil


"Iya mirip Den keken saat bayi. " timpal bibi


"Mana bu. " Farah ingin sekali melihat anaknya dan benar saja Ia menangis saat melihat Ghani, buah cintanya dengan keken.


"Anakku... " lirih Farah, tidak menyangka Ghani akhirnya lahir juga. Bayi yang dulunya tidak diharapkan kini lahir dengan wajah tampan bahkan dulu Farah berharap keguguran.


" Fadil, kau adzan kan Ghani sekarang."pintanya


"Aku kak, beneran aku yang adzanin. " Fadil seolah tidak percaya karena ini pertama kalinya dia akan meng adzan kan bayi.


"Iya, memang siapa lagi pria disini . Kakak mau kamu yang adzanin. Masa keken, kan jauh disana. Kakak tidak mau Ghani diadzanin secara virtual. "


Bu Tami menggendong bayi itu lagi dan Fadil yang meng adzan kan karena Fadil belum bisa menggendong bayi.


"Kenapa nangis? " bu Tami melihat anaknya terisak dan mengusap air matanya dengan kaos bola. Ia menyerahkan kembali bayi itu pada Farah untuk disus*i


"Fadil terharu bu, ternyata melahirkan seperti ini. "


"Kakak menyuruhmu untuk berada di kamar ini agar kamu tahu betapa sakitnya melahirkan dan itu tidak mudah. Jadi jika kau ingin berbuat tidak baik pada perempuan maka ingatlah hari persalinan ini. "


"Iya kak, Fadil janji tidak akan berbuat tidak-tidak pada perempuan. "


Dan akhirnya Fadil menerima telepon dari keken lagi setelah berulang kali pria itu menelepon nya.


" Fadil sialan, kau ingin cari mati!! Mana anakku!! " umpat keken, ia begitu kesal karena adik ipar nya lama mengangkat telepon. Keken benar-benar ingin melihat wajah anaknya.


Seulas senyum bahagia terlihat di wajah keken, bahkan pria itu pun berkaca-kaca saat melihat perjuangan Farah melahirkan putranya.


"Ghani, mirip dengan ku. "


"Rambutnya hitam tapi matanya mirip kamu."


"Semuanya mirip aku, hanya matanya yang mirip kamu sayang. " Lagi-lagi keken terpukau karena malaikat kecil ini mirip dengan nya.


"Gimana tidak mirip kamu, dari dulu aku sangat kesal denganmu dan kini aku melahirkan tanpa kamu! " gerutu Farah

__ADS_1


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut suaminya


Mereka larut dalam obrolan dan suka cita karena kelahiran putranya.


__ADS_2