Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 93


__ADS_3

Keken bersiul saat melewati lorong menuju kamar pengantinnya. Hari ini ia begitu bahagia karena impiannya menikah dengan Farah menjadi kenyataan. Saat Keken menarik handle pintu, ia begitu kesulitan.


"Sepertinya dikunci." gumam Farah


"Tok.. Tok.. Tok.." ia mengetuk pintu, "Sayang buka pintunya." panggilnya. Ia menggulum senyum saat memanggil Farah dengan sebutan sayang.


" Ceklek.." pintu terbuka dan terlihat Farah dengan baju kimononya. " Mau apa?" tanyanya dengan ketus


"Tidurlah." jawabnya dengan enteng sembari tersenyum lebar.


Farah mendelik saat melihat senyuman pria itu. Menyebalkan.


"Aku tidak mau satu kamar denganmu!" seru Farah


"Sewa satu kamar lagi untukmu."


"Tidak bisa, masa kita beda kamar yang ada mommy Imelda akan marah jika kita tidak satu kamar." Keken mulai berdusta, ia sengaja memakai nama ibunya agar dapat tidur satu kamar dengan istrinya.


"Diluar masih banyak tamu dan keluarga kami, masa kamu tega membuat mommy Imelda malu dihadapan keluarga besar. "


Farah mengenyitkan dahi dan mau tak mau ia mengizinkan Keken untuk masuk kedalam kamar.


"Ah, nyamannya." Keken meluncur ke dalam ranjang empuk dengan cepat. Menghirup wangi ranjang yang bertabur bunga mawar merah dan disisi nakas terlihat lilin aromaterapi yang begitu wangi.


"Ngapain disitu?" Farah kesal saat melihat Keken yang berbaring nyaman dan menutup matanya tanpa mengganti mengganti pakaian pengantin.


"Aku ngantuk mau tidur, sini sayang tidur denganku." ia tersenyum nakal


"Jangan macem- macem!" ancam Farah, " Jangan panggil aku sayang seperti wanita lain yang gampang untuk kamu rayu." Farah berjalan kearah sofa dan duduk disana sembari membaca pesan di ponsel.


"Kita sudah menikah, wajarlah kalau aku panggil sayang." Keken masih tak mau mengalah. Ia membuka pakaiannya tanpa rasa malu dihadapan Farah.


"Kamu gila ya!" teriak Farah, ia membuang wajahnya kearah lain karena melihat Keken bertelanjang dada dan hanya tersisa celana pendek saja." Kalau mau ganti pakaian di toilet sana,masukan baju kotormu di keranjang baju."


"Aku terbiasa seperti ini, nanti juga office boy yang beresin." sahut Keken, ia terbiasa dilayani dan sesuka hati membuang bajunya kemana saja.


"Oh, ya ampun." Farah dengan kesal memungut baju Keken dan memasukannya ke keranjang baju.


" Kau tidak ingin tidur?" tanya Keken dari arah ranjang. Matanya masih mengekori tubuh Farah yang berjalan kesana kemari.


"Aku tidak ngantuk." ketusnya. Ia kembali duduk di sofa dan memainkan ponselnya.


"Aku ingin tidur, aku tidur dulu." Keken memejamkan matanya, hari ini begitu melelahkan karena terlalu banyak tamu yang datang ke acara pesta pernikahannya. Maklum, ini pertama dan terakhir kalinya mommy Imelda menggelar acara pernikahan anak semata wayangnya.


" Keken, kau gila! "teriak Farah kembali, ia mendekat kearah Keken yang sudah memejamkan matanya.


" Kenapa kau tidak mengalah untuk tidur di sofa! Aku sedang hamil anakmu, masa kamu tega membiarkan aku tidur disana. "

__ADS_1


Keken tersenyum saat Farah mengatakan hamil anaknya. Membayangkan menjadi keluarga kecil yang bahagia membuat hatinya berdesir.


"Ya sudah sini tidur denganku." Keken menepuk bantal disebelahnya agar Farah mau tidur dengannya.


"Aku tidak mau! Yasudah kamu saja yang tidur di ranjang itu, terlalu banyak bunga mawar di ranjang dan itu seperti pemakaman saja." Farah terkesiap saat pertama kali melihat kamar pengantinnya yang begitu indah dihiasi dengan banyak bunga dan lilin. Namun saat melihat ranjang yang berbentuk lambang cinta dengan bunga mawar maka ia langsung mengacak-acaknya. Dan seperti inilah sekarang, ranjang bertabur bunga seperti pemakaman.


" Baiklah aku akan mengalah, kamu bisa tidur disini." Keken turun dari ranjang dan memakai kaosnya.


Farah tersenyum dan kini berbaring sembari berguling - guling di atas kasur. " Ah, nyamannya." ia begitu senang saat Keken mengalah untuknya.


" Tempat tidurnya begitu lembut, aku suka. " lirihnya, namun Keken mendengar apa yang Farah ucapkan.


"Kampungan. Memangnya ini pertama kali kamu tidur di kasur seperti itu?"


Farah cemberut saat mendengar Keken mengejeknya kampungan.


"Ini kali kedua aku tidur di kasur seperti ini. Yang pertama di rumah___" Farah menggantungkan kalimatnya. Ia hampir saja keceplosan bahwa pertama kali ia tidur sangat nyaman saat berada di kamar Keken.


" Pertama di rumah bang Hilman." ucapnya dengan bohong. Ia pun heran, entah kenapa nama pria itu yang keluar dari mulutnya.


Keken menengok sekilas kearah Farah namun ia hanya diam dan mengambil ponselnya. Membaca setiap pesan yang ia terima hari ini.


"Kenapa? Kamu marah karena aku menyebut nama bang Hilman." Farah melihat Keken yang kini diam dan hanya mengamati ponselnya.


" Bukankah kamu yang bilang tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Aku tidak memaksamu untuk melupakannya, tapi tolong hargai aku. " Keken masih sibuk dengan ponselnya, tidak seperti biasa Keken diam dan serius saat melihat ponselnya.


" Kau bilang ranjang itu seperti pemakaman, lalu kenapa kau begitu menyukainya dan enggan untuk bangun." sindir Keken tanpa mengalihkan pandangan pada ponselnya, ia menggulum senyum saat melihat Farah mencium bantal dan mengelus lembut bantal itu. Memalukan.


" Aku berbohong agar kamu turun dari ranjang ini. " sahutnya


" Kamu tahu, terkadang hotel itu menyenangkan dan terkadang menyeramkan. Pernah kan kamu dengar ada seseorang yang terbunuh di hotel dan menjadi arwah penasaran. Hantu ada dimana-mana apalagi hotel sebesar ini,menyeramkan" Keken sengaja menakut - nakuti Farah agar mengizinkan dirinya tidur satu ranjang.


"Apaan sih, Ken!" teriak Farah, ia begitu kesal karena Keken bercerita tentang hantu. Perasaannya kian tak menentu saat mendengar kata hantu. Takut.


" Yah, kagak percaya yasudah." Keken mengedikkan bahu. Ia masih fokus membalas beberapa chat, entah dari siapa.


" Tadi semua para mantanmu?"tanya Farah melirik Keken dari arah ranjang


" Sebagian, kenapa? Kamu cemburu? "Keken menggulum tersenyum


" Cuih! Siapa juga yang cemburu, aku hanya heran harga minyak goreng saja mahal kenapa su su dan pa ha murah! "


Keken tergelak tawa, memang saat pernikahannya tadi para sahabat dan mantan Keken banyak yang memakai rok mini dan baju yang seolah kurang bahan dan itu sudah terbiasa bagi mereka namun tidak bagi Farah.


" Memang mereka seperti itu, nanti kau akan terbiasa saat berteman dengan teman-temanku."


Farah tidak peduli, ia memainkan ponselnya sembari rebahan. Dan ponsel Keken kini berdering.

__ADS_1


"Drt... Drt... Drt..."


"Gimana Cell?" Keken berbisik lalu pergi kearah balkon. Ia menelepon secara sembunyi - sembunyi seolah tidak mengizinkan Farah untuk mendengarnya.


Farah hanya melirik sesaat lalu sibuk membuka galeri. Melihat foto pria yang pernah dicintainya.


Tak lama kemudian Keken datang dan merebut ponsel Farah. Gerakan tangannya begitu cepat hingga Farah kalah saat mempertahankan ponselnya.


"Kenapa merebut ponselku?!" Farah menatap tajam pada Keken karena tidak suka saat dia mengambil barang pribadinya.


Keken yang melihat foto pria itu di handphone Farah, kini hanya bisa diam.


"Aku sita sementara." Keken mengambil celana panjang di lemari dan memakainya di hadapan Farah.


"Kenapa disita, kamu tidak berhak mengambil ponselku!" ia benar-benar tidak terima dengan sikap Keken yang merebut ponselnya.


"Tidak ada penolakan!"


"Keken!" Farah menghampiri dan berdiri tepat di depan Keken, mencoba mengambil ponselnya yang sudah dimasukkan kedalam kantong celana Keken.


"Balikin nggak!!" pintanya sembari menadahkan tangan


"Tidak akan."


" Keken!" teriak Farah, ia merogoh saku celana Keken dengan cepat, tidak peduli pria itu akan berpikiran seperti apa tentangnya.


"Oh ternyata kamu tidak sabar untuk bertemu Kenzi si per kasa." goda Keken


"Siapa juga yang mau ketemu dia, aku mau ponselku kembali!" seru Farah, ia masih berusaha mengambil ponselnya walaupun tangannya dihalangi Keken


" Jangan merogoh yang itu, ah... Enak!" Keken berkelakar seolah Farah sedang memegang alat tempurnya.


"Ih, apaan sih! Siapa juga yang pegang itu!" Farah kian dongkol melihat lelucon Keken yang menurutnya tidak lucu. Ia menyerah, melepaskan tangannya dari kantong celana Keken sebelah kanan.


" Balikin nggak!" wajah Farah menatap tajam, kesal.


"Tidak akan!" ucap Keken, namun matanya melirik kearah pintu. "Apa itu?"


Farah mengalihkan pandangannya kearah pintu, menengok kearah sana. Tidak ada siapa - siapa. Namun sekian detik tangannya ditarik cepat oleh Keken dan menuntunnya memegang sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Tepat diantara sel*ngkangan pria itu. Besar.


"Keken!!!" teriak Farah saat sadar apa yang telah ia sentuh, tepatnya dipaksa menyentuh sesuatu yang membuatnya bergidik ngeri. Namun pria itu telah lari kearah pintu dengan tertawa keras tanpa merasa bersalah, menutup pintu sembari mengerlikan mata.


" Sialan! "umpat Farah, ia tidak berdaya Keken telah menghilang dari pandangannya. Nafasnya naik turun dan wajahnya memerah setelah bersalaman dengan Kenzi si per kasa.


Namun, Keken membuka pintunya kembali, hanya memperlihatkan kepalanya saja." Cie.. Cie... Kepikiran dengan si Kenzi sampai wajahmu bersemu merah seperti itu. Ini baru permulaan. Kapan-kapan kita kenalan lebih dekat dan hangat." Keken mengerlingkan matanya kembali dengan begitu menggoda. Dan menutup pintunya lagi.


"Kekeeeennnn...!!!!" teriak Farah dengan kesal, suaranya menggelegar di kamar pengantin. Rasa kesalnya terasa sampai ubun-ubun pada pria yang baru saja menikahinya. Dia membanting pintu dan menguncinya dari dalam,berharap pria itu tidak masuk ke dalam kamarnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2