
Hari berganti hari dan masalah kecelakaan kerja di Utara bisa Keken atasi dengan baik. Ia pun mendapat kabar baik dari sang ibu bahwa bulan depan ia bisa bekerja kembali ke perusahaan di daerah Selatan jadi Keken tidak perlu lagi repot-repot bekerja part time lagi.
"Bulan depan kita pindah ke apartemenku ya, mommy memberikan kesempatan padaku untuk masuk lagi ke perusahaan." ucap Keken
Farah terdiam, ia senang karena Keken bisa diterima lagi di perusahaan namun disisi lain ia sedih karena harus jauh dari kedua temannya dan rumah kontrakan kecil ini.
" Tapi minggu depan aku harus pergi ke Malang terlebih dahulu, ada beberapa proyek yang harus diselesaikan. Ini tugas dari mommy." sambung Keken
"Berapa hari?"
"Dua minggu."
"Apa!!" seru Farah, ia terkesiap saat mendapat kabar Keken akan bekerja di Malang selama dua minggu. Ini akan terasa sulit untuknya karena selama ini dia selalu bersama Keken.
"Kenapa? kamu takut kangen aku." goda Keken
"Jangan terlalu percaya diri, siapa juga yang akan kangen kamu!" Farah bicara ketus hatinya kesal karena akan ditinggal Keken. Walaupun pria itu menyebalkan namun Farah sudah terbiasa dengan nya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak kangen aku berarti aku akan tinggal di Malang selama satu bulan." Keken menambah rasa kesalnya hingga Farah pergi ke dapur sembari menggerutu.
"Nanti kamu tinggal di rumah mommy saja jangan disini." perintahnya, " Aku akan menelepon kamu setiap hari."
" Tidak telepon juga tidak apa-apa, aku tidak akan kangen kamu."
"Yakin?! Ah baguslah jadi aku tidak perlu membuang waktuku, aku bisa jalan bersama wanita cantik disana." Keken semakin membuat Farah bertambah kesal, hingga membuat wanita itu membanting pintu kulkas dengan sangat keras. Entahlah, Farah tidak suka dengan ucapan suaminya. Dan kini pikiran nya melayang jauh, membayangkan Keken bersama wanita lain.
Keken hanya tersenyum saat melihat wajah istrinya yang memerah karena kesal. Ia membuka ponsel nya dan menerima sebuah pesan.
"Oh ya ampun, aku hampir saja lupa kalau hari ini Wina akan pergi ke Singapore." Dengan cepat ia menghubungi wanita itu dan menelepon nya di teras rumah. Farah yang melihat merasa curiga karena Keken bicara secara diam-diam.
"Ada apa?!" Ia berdiri tepat di belakang Keken hingga suaminya merasa kaget dengan kehadiran nya.
" Aku ingin mengantar Wina dan ibunya ke bandara." ucap Keken, " Kamu mau ikut?"
Farah terdiam. Wina, ia pernah mendengar nama gadis itu dan setelah diingat - ingat ternyata dia wanita yang selalu menghangatkan malam Keken sebelum menikahinya. Selir malamnya.
"Aku ikut." Entah tanpa berpikir panjang Farah menerima ajakan suaminya untuk bertemu wanita itu.
"Kamu bersiaplah, kita pergi sekarang."
__ADS_1
Mereka pergi menggunakan mobil pengawal mommy dan melajukannya kearah apartemen K.
"Memangnya Wina mau kemana?" Farah bertanya sepanjang perjalanan, ia penasaran karena gadis itu menghubungi suaminya lagi.
"Singapore, ia akan hidup disana bersama ibunya."
"Kenapa tidak disini? Bukankah dia seorang mahasiswi?"
Keken hanya tersenyum tanpa membalas pertanyaan istrinya. Namun mata Keken terlihat sedih dan Farah tahu itu.
"Kau suka dengan nya?"
"Aku menyukainya sebagai teman tidak lebih, sayang." Keken. Dan Farah menatap malas.
"Tuan, kita sudah sampai di apartemen K." ucap pengawal yang kini menjadi sopir Keken untuk hari ini.
"Baiklah, terima kasih."
Pengawal itu terkejut karena ia mendengar Keken berterima kasih padanya. Ini tidak seperti Keken yang dulu yang tidak pernah mengucapkan terima kasih apalagi minta maaf.
"Kenapa wajahmu di seperti itu?!" Keken melihat mimik wajah pengawalnya yang kebingungan.
Mereka naik ke lantai lima dan masuk ke dalam apartemen Wina.
"Sayang...." Wina dengan cepat memeluk pria itu dan menangis di pelukan nya. Menangis hingga terisak tanpa menyadari bahwa Keken datang dengan membawa istrinya.
"Deg!" Hati Farah terasa sakit saat melihat suaminya dipeluk begitu erat oleh seorang wanita, apalagi wanita itu dulu teman ranjang suaminya.
"Keken... A...aku akan pergi jauh darimu." lirih Wina sembari menangis terisak. Semalaman dia tidak bisa tidur, meninggalkan kota ini, terlalu berat untuknya namun Wina harus kuat dan kembali menata hidupnya.
"Kamu tenanglah, kita masih bisa saling komunikasi. Jika kau butuh sesuatu katakan padaku." Namun matanya melirik Farah yang hanya diam. Keken mengurai pelukan nya.
"Aku kesini dengan Farah." ucap Keken
"Eh! Maaf, aku tidak tahu jika kamu ikut karena tadi aku__?"
"Tidak apa-apa." Farah mengulas senyum palsunya.
"Bolehkah aku memeluk Keken untuk yang terakhir kalinya." pinta Wina. Dan ia mendapat anggukan kepala dari Farah. Mau tak mau ia harus menuruti permintaan Wina toh ini untuk yang terakhir kali dan ia tidak mau Keken salah paham jika dia cemburu pada gadis itu.
__ADS_1
" Kau tidak cemburu? "tanya Wina
" Tidak! "jawab Farah
Wina menyunggingkan senyum, namun matanya kembali melirik Farah yang sedang berwajah masam.
" Untuk yang terakhir kalinya, aku akan membuat istri Keken cemburu padaku. "gumam nya dalam hati. Ia memeluk lengan Keken dengan erat seolah tidak mau dilepaskan dan itu membuat Farah meliriknya dengan tajam.
" Wina, lepaskan tangan Keken. Istrinya pasti akan marah Nak! "ibu Wina kini keluar kamar dengan membawa koper.
" Ibu. "Keken mencium takzim ibu Wina sebagai rasa hormat dan diikuti Farah.
" Terima kasih karena sudah membantu kami. "ibu Wina memeluk Keken dengan hangat bahkan airmatanya mengalir begitu saja. Ia tahu anaknya menjadi selir Keken namun itu pilihan Wina,sedangkan Keken tidak pernah memaksanya sama sekali.
" Iya bu, Keken berharap ibu selalu sehat disana jangan lupa jaga kesehatan. "
" Iya Nak! "
" Ayo Wina kita berangkat sekarang." Keken membawa dua buah koper gadis itu, sedangkan Wina membawa satu koper milik ibunya. Farah hanya mengikuti langkah kaki suaminya, ia tidak diijinkan untuk membawa apapun karena hamil.
Dan matanya menatap jengah pada Wina karena gadis itu selalu menempel pada Keken bahkan ia selalu memegang lengan suaminya.
Tidak hanya itu saja, saat di mobil Wina menyuruh ibunya untuk duduk di kursi penumpang bagian depan sedangkan dia duduk di kursi tengah dan menempel pada Keken lalu bersandar di bahunya seperti kekasihnya sendiri tanpa memperdulikan perasaan Farah. Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia tahu Wina bersikap seperti itu untuk membuat Farah cemburu. Tapi ini berlebihan, pikir Keken.
"Sayang, aku disana pasti akan merindukanmu." Wina berkata lirih namun masih bisa didengar Farah. Ia menatap kearah jendela seolah tidak peduli melihat kemesraan mereka.
"Beraninya dia memanggil sayang pada Keken sedangkan aku berada di sampingnya." geram Farah dalam hati.
" Aku pasti merindukanmu juga se__." balas Keken, ia belum menyelesaikan perkataannya keburu Farah menatapnya dengan kesal.
" Sebagai adik." sambungnya lagi. Dan Wina terkekeh.
"Ahh... betapa nyaman nya bersandar seperti ini. Jadi ingat masa lalu denganmu." Wina tersenyum lebar dan menceritakan kebersamaan mereka tanpa ia tahu bahwa Farah saat ini meremas ujung bajunya, sangat kesal mendengar cerita masa lalu mereka.
"Wina, lupakan Nak, sekarang Keken sudah memiliki istri." ibunya memberi peringatan agar anaknya menjaga perasaan Farah.
"Ibu tidak mengerti padahal aku sedang bersandiwa dan ini permintaan dari Keken sendiri." gumamnya dalam hati.
Semalam Keken meminta Wina agar membuat istrinya cemburu dan ini sebagai pelajaran agar Farah juga bisa menjaga perasaan suaminya saat ia bertemu Hilman.
__ADS_1