Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 167


__ADS_3

Setelah makan jajanan Farah menaruh sisa makanan nya di dapur, begitu juga dengan baso yang sengaja ia hangatkan di dalam penanak nasi.


"Lebih baik sisa takoyaki dan seblak ya aq taruh saja disini." Farah menutupnya dengan tudung saji, perutnya sudah tidak muat lagi untuk menghabiskan makanan itu. Ia menelepon Keken dengan segera, menanyakan kapan ia pulang.


"Aku pulang tengah malam, jangan menungguku."


"Aku akan ke kantor Selatan dulu karena ada meeting penting bersama Fafa."


" Jangan lupa makan dan minum susu, jangan beberes rumah nanti


kecapaian."


Pesan dari Keken membuatnya tersenyum, suaminya begitu perhatian dan ini yang membuat Farah bahagia.


" Ada baso di penanak nasi, jangan lupa dimakan. " Pesan terakhir sebelum Farah tidur. Kakinya terasa sakit karena berjalan jauh tadi sore.


" Biasanya Keken yang pijitin aku." Farah mengingat salah satu kebaikan Keken yang selalu siap siaga disaat dirinya kelelahan.


Namun saat dirinya ingin tidur ponselnya kembali berdering. Ia membaca nama penelepon. "Bang Hilman." Farah menghela nafas panjangnya, ia benar-benar takut jika mengangkat telepon itu hingga akhirnya ia membiarkan nya,bahkan pria itu mengirimkan pesan dan Farah tidak berani membukanya. Ia menyimpan ponselnya di bawah bantal.


"Aku tidak mau ada kesalahan pahaman lagi." lirih Farah, "Jauh dari Keken membuatku frustasi."


Ia menerawang jauh, mengingat setiap perlakuannya terhadap Keken dari memakinya, berteriak, pembangkang bahkan mengusirnya secara halus dan pria itu hanya bersabar dan tersenyum. Farah menyesal dengan semua kejadian itu.


"Terlalu banyak kesalahan yang aku buat dan sekarang aku mulai mencintaimu, Ken." lirihnya. Ia mengakui bahwa saat ini ada rasa cinta untuk suaminya. Keken layak untuk dicintai.


Farah tertidur pulas. Dan tengah malam Keken pulang dan membuka pintu dengan hati-hati, ia tidak ingin mengusik ketenangan istrinya yang sedang tidur.


Semakin hari Keken kelelahan, bahkan saat ini tubuhnya terasa lemah. Pekerjaannya seolah tidak ada habisnya apalagi jika harus meeting bersama klien.


Ia membersihkan wajahnya agar terasa segar, tak lupa menjalankan salat isya yang belum ia tunaikan. Bukannya lalai tapi Keken memang benar-benar belum sempat untuk melaksanakannya.


"Tenggorokanku sakit dan kepalaku pusing." ia merasa kurang enak badan. Setelah merapikan baju koko dan sarungnya, Keken masuk ke dapur mencari makanan yang ditinggalkan istrinya.


"Lumayanlah pengganjal lapar." Keken menuang baso itu ke dalam sebuah mangkok. Tak lupa menambahkan nasi yang cukup banyak agar rasa laparnya menghilang. Ia membuka tudung saji dan melihat dua makanan yang tersisa.


"Apa ini." Ia menyendok makanan yang menurutnya aneh, tidak pernah melihat makanan itu. "Kenapa ini seperti kerupuk kisut yang direbus." gumamnya sembari mengaduk-aduk dan mencobanya.

__ADS_1


"Rasa pedas doang, aneh dan tidak enak!" Keken menaruh mangkoknya. Dan ia melirik makanan satunya.


"Ada takoyaki." Ia sangat familiar dengan makanan ini karena pernah memakan nya di restoran Jepang.


"Mmm... enak..." Ia memakan dua buah takoyaki.


"Kenapa yang ini rasanya aneh." Keken mencoba merasakan terlebih dahulu. " Ah, mungkin hanya perasaannku." ia menghabiskannya. Keken tidak tahu yang dia makan takoyaki isi seafood.


Keken keluar dari dapur dan menyalahkan televisi sembari memakan baso dan nasi putih. Sejak menikah bersama Farah ia mulai kurang menjaga asupan makanan,bahkan disaat tengah malam ia makan mie instan. Tidak seperti dulu saat masih lajang, Keken anti makan malam karena membuat tubuhnya naik drastis.


" Nonton bola sendirian, coba gawangnya Farah." ia terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Farah simpan obat sakit kepala dimana ya, aku ingin minum obat." Setelah selesai makan Keken mencari obat namun tidak menemukan nya hingga akhirnya dia tidur.


Pukul dua malam ia merasa sesak nafas, bahkan tubuhnya merasa gatal. Beberapa kali Keken menggaruknya hingga bentol - bentol. Tenggorokan nya kian sakit tercekat tak bisa bersuara, dadanya sangat sakit hingga nafasnya tersegal. Ia benar-benar kolaps.


"Far... Far..." lirih Keken, ia tidak mampu bersuara keras apalagi berteriak. Ia merasakan dadanya dihantam sebuah batu besar lalu meraba tubuhnya yang terasa aneh. Wajah Keken bengkak dan memerah. Alerginya kambuh.


"Far....." Nafasnya kian sesak bahkan ia tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Tubuhnya lemas tak berdaya. Berkali-kali Keken memanggil istrinya namun tidak ada balasan walaupun jarak antara ruang depan dan ruang tengah dekat namun suara Keken benar-benar lirih tak terdengar.


"Apa dia belum pulang." Farah bangkit dan mencoba mengecek ke ruang televisi. Menyalakan lampu dan berjalan mendekat. Matanya melotot saat melihat Keken terbaring dengan nafas yang tersenggal. Suaminya sesak nafas.


"Ken, Keken... kamu kenapa?"Ia melihat wajah suaminya begitu bengkak dan buruk. Kelitnya bentol sekujur tubuh bahkan Farah hampir tidak mengenalinya.


" A... aku... "Keken sudah tidak berdaya, bahkan suaranya tidak terdengar. Ia hanya menggerakkan tangan kearah hidung seolah ingin meminta nafas buatan.


" Ki...kita ke dokter sekarang." Farah begitu bingung dan panik. Keken seperti orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Ia menangis sembari mengganti pakaiannya.


"Keken, bertahanlah..." Farah kembali bingung. Ia tidak mungkin mengangkat tubuh Keken yang berat apalagi saat ini dia sedang mengandung. Ia sangat bingung.


"Apa yang harus aku lakukan, huhuhu... aku tidak bisa menggendongmu. Bertahanlah Ken...." Farah semakin terisak, otaknya seolah lumpuh tak mampu berpikir dengan cepat. Ia sangat panik melihat Keken yang sakit seperti ini.


"Mom.. Mommy..." Keken hanya bisa menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


" Mommy, ya kau benar. Aku akan telepon mommy Imelda." Farah dengan cepat menekan tombol ponselnya. Sepuluh kali tidak ada jawaban, wajar saja karena ini tengah malam dan pasti mertuanya sudah tidur namun ia tetap mencobanya.


" Hallo..." Suara serak khas bangun tidur dari seorang Imelda.

__ADS_1


" Mom... mommy, Ke... Ken... mih. " Farah terbata tak sanggup untuk mengatakan yang terjadi.


Imelda merasa ada yang aneh dengan menantunya, ia menelepon sembari menangis dan ini pasti keadaan darurat.


"Farah, tarik nafas terlebih dahulu. Jangan panik sayang, katakan apa yang terjadi."


Farah mencoba tenang dan menghirup nafas dalam-dalam. Lalu ia mengatakan bahwa Keken sakit.


"Keken sesak nafas, ia tidak bisa bersuara dan badannya seperti monster mih. Tubuh Keken bengkak."


"Apa yang harus aku lakukan mih, aku tidak bisa membawanya. Aku takut Keken kenapa - napa, dia seperti orang yang sedang sekarat mih,huhuhu...." Farah terisak


"Tenanglah, jangan panik. Mommy akan menelepon pengawal yang ada disitu untuk membawa Keken ke rumah sakit. Kamu jangan menggendongnya, mengerti!"


"Iya mih." Farah mengangguk mengerti


"Minta temanmu untuk menemanimu ke rumah sakit, jangan sendirian. Mommy tidak mau kamu kenapa - napa."


"Iya mih." Farah menutup telepon nya dan segera mengetuk pintu kontrakan Dini.


Dini yang sedang tidur kini terkejut setelah Farah menceritakan keadaan suaminya. Dan dengan cepat ia membantu Farah tanpa memperdulikan dirinya yang hanya menggunakan baju tidur. Dini ikut bergerak cepat dan mencoba untuk tidak panik.


"Jangan lupa bawa dompet dan siapkan kartu pengenal Keken." Dini mengingatkan Farah untuk membawa apa yang dibutuhkan di rumah sakit. Ia tahu saat Farah panik, wanita itu tidak bisa berpikir.


"Oh iya aku lupa." Farah mengambil dompetnya dan dompet Keken, namun saat mencari kartu identitas Keken di dompetnya kini Farah menemukan satu foto. Foto dirinya dan Keken saat berada di minimarket, ia masih mengingatnya dengan jelas. Namun dengan segera memasukkan dompetnya ke dalam tas.


"Farah, tenang. Tarik nafasmu." Ia melihat Farah kembali panik. Dan wanita itu menuruti perintah Dini dengan cepat menarik nafas panjangnya.


"Apa lagi, Din?"


"Sudah itu saja, yang terpenting kita bawa dulu Keken ke rumah sakit, jika butuh sesuatu barang ataupun sesuatu aku bisa pulang untuk mengambilnya."


Farah mengangguk setuju, ia bersyukur saat ini Dini mau membantunya.


* **


Note: Hati-hati ya gaes kalau makan seafood. Bab ini mengisahkan kakak aku yang mengalami penyempitan saluran nafas akibat makan seafood padahal beliau tidak pernah memiliki riwayat alergi seafood. Entah kenapa hari itu kolaps setelah makan kepiting. Wajah dah bengkak, sesak nafas, seluruh tubuh bentol, tidak bisa bicara sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Alhamdulillah dibawa tepat waktu jika tidak nggak tau apa yang akan terjadi. Semoga kita semua selalu diberi kebaikan dan keselamatan. Jaga kesehatan gaes. Salam sehat๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2