
Sebulan kemudian,
Keken datang di bandara dengan dijemput oleh Khaffi. Ia datang tanpa memberi kabar istrinya,di sepanjang perjalanan hanya Keken lah yang mendominasi percakapan sedangkan sahabatnya hanya diam.
"Mampir ke toko bunga dulu, Fi. " pintar Keken.
"Dih!Sok-sok an romantis,si gembul itu lebih suka bunga bank daripada bunga mawar. " ucap Khaffi
"Kalau bunga bank sudah aku transfer setiap bulan. Dan bunga mawar ini sebagai tanda sayangku padanya. " Keken menggulum senyum,membayangkan wajah Farah yang selalu dirindukan nya.
"Kok aku jadi dejavu dan mual. Sudah berapa kali kau memberikan bunga seperti itu untuk para gadismu terdahulu."
Keken tergelak tawa,memang dulu dia sang cassanova yang hobi bermain dengan wanita. "Aku sudah insyaf dan apa kau tidak memberikan bunga juga pada wanitamu?
" Wanita siapa? Mana ada seperti itu. Aku jomblo bahagia. " Khaffi, ia menepikan mobilnya di depan toko bunga.
Keken membeli bunga kesukaan Farah dan ia beberapa kali mencium bunga itu.
"Kau sungguh aneh, seperti pria yang baru saja jatuh cinta padahal sudah punya anak satu. Si bapak-bapak tua . " goda Khaffi, melihat tingkah Keken yang senyum-senyum sendiri membuatnya geli.
"Aku memang selalu jatuh cinta dengan istriku maka dari itu selalu bahagia dan perlu kau catat aku memang sudah bapak-bapak tapi tidak tua! "
Khaffi tergelak tawa.
"Nanti kita makan siang bareng , ibu Farah sudah menyiapkan makanan. Aku sudah memberi kabar padanya. "
"Tidak! Aku hanya mengantarmu lalu pulang, lalu pergi lagi. Sibuk banyak kerjaan. " bohong Khaffi
"Cih! sejak kapan kau gila kerja. Itu hal yang aneh. " Keken tahu Khaffi suka bersikap seperti dirinya yang hura-hura dan kurang peduli dengan pekerjaan.
"Itu dulu, sekarang tidak karena mas Raffa galak apalagi bini nya langsung jambak aku dengan sekuat tenaga jika aku salah. "
"Mba Kinan masih sama seperti itu? "
"Iya." Khaffi mendengus kesal karena kakak perempuan nya begitu cerewet dan menyebalkan.
Akhirnya Keken sampai di rumah Farah dan langsung masuk ke dalam kamar setelah mendapat ijin dari ibu mertua. Ia melihat istrinya yang sedang tertidur dengan bayi mungilnya. Keken mencium kening dan bibir istrinya lalu menggendong bayinya walaupun terlihat kaku.
"Dia mirip denganku. " Keken berkaca-kaca melihat anaknya yang imut bahkan mulut bayi itu mengecap seolah ingin minum ASI.
"Kenapa kau lucu sekali, gemas. " Keken mencium pipi gembulnya.
Farah merasa terganggu saat mendengar suara keken namun ia masih belum sadar bahwa suami datang.
"Bahkan saat tidur aku mendengarkan suara Keken, aku kangen. " lirih nya
Keken terkekeh, istrinya ternyata mengigau.
"Aku datang sayang. " bisiknya di telinga Farah. Wanita itu tidak beraksi,lalu keken membisikan kembali di telinga nya. "Kenzi kangen denganmu. "
Farah menyipitkan matanya dan mengucek, memastikan bahwa keken yang duduk disisinya.
"Ke.. keken...! " Farah langsung terjaga dan dengan cepat memeluk suaminya. "Benarkah itu, kau?! "
Pria itu menganggukan kepala.
"Ken.... " Farah menangis bahagia akhirnya suaminya pulang.
"Iya ini aku, Farah tolong lepaskan pelukanmu karena Ghani terganggu denganmu. " Keken juga tidak bisa bernafas karena Farah memeluknya dengan kencang. Dan anaknya sekarang menangis karena lapar
"Nen dulu, Ghani nangis karena lapar. " Keken memberikan bayinya pada Farah agar disus*i
__ADS_1
Farah dengan cepat menyusui dan benar saja bayi itu menyesap kuat.
"Itu milikku, Ghani sangat curang. Dia mengambil jatahku. " gerutu Farah
"Kau itu, sama anak sendiri masih saja iri. " Farah
Keken tergelak tawa, "Aku masih dapat jatah dibagian lain nya. "
"Puasa! " ketus Farah
"Berapa hari? "
"Empat puluh hari. "
"Ya ampun lama sekali. " gerutu keken namun pria itu teringat kembali.
"Ini kan sudah sebulan dari kamu melahirkan, berarti aku hanya perlu menunggu sepuluh hari lagi. "
"No!! " tolak Farah, "Aku masih dalam pemulihan dan takut berhubungan seperti itu! "
"Baiklah nyonya Keken aku tidak akan memaksamu karena aku yakin nanti kau yang akan memaksaku. " goda keken
"Tidak akan! "
"Kau mau taruhan denganku. "
"Tidak! Kau itu percaya diri sekali. Menyebalkan. " gerutu Farah
"Aku memang menyebalkan maka dari itu setelah Ghani berumur enam bulan kita produksi lagi. " Keken
"What!! " Farah terkejut, ia mencubiti lagi suaminya. "Enak saja kalau ngomong, tidak akan ada seperti itu. Memangnya melahirkan gampang. "
"Aku tahu melahirkan sangat sulit tapi sekarang ada aku. "
"Harus mau, karena aku ingin punya anak setengah lusin. " Keken terkekeh
Farah kian mencubiti suaminya, geram dengan ucapannya. Mudah sekali berkata seperti itu.
Setelah selesai menyusui anaknya Farah kembali meletakkan nya di ranjang. Lalu ia memeluk Keken kembali.
"Aku kangen... "
" Aku juga. "
"Kau tidak mengabariku saat pulang, aku merasa ini seperti mimpi. Ken, berapa hari kau akan tinggal disini. "
"Besok aku akan pulang lagi ke Singapura. " Keken menggulum senyum
" Kalau begitu tidak usah pulang saja! Ngapain cuma disini sehari, ngeselin! "Farah mencubit suaminya karena kesal
Keken tergelak tawa lalu dia mencium pipi istrinya lagi dan lagi. " Aku akan selamanya disini. " bisiknya
Farah yang sempat kesal kini melihat kearah suaminya . " Beneran Ken. "
"Iya, ingatanku sudah membaik walaupun tidak sepenuhnya ingat tapi mulai sekarang aku hanya ingin mengukir kenangan tentang keluarga kecil kita. Kau tahu, mommy sudah memberikan aku dokter terbaik dan aku sangat bersyukur untuk itu. "
"Maukah kamu menemaniku disaat suka dan duka? " tanyanya
Dengan cepat Farah mengangukan kepala.
"Farah, aku sangat mencintaimu. " ucap Keken sembari menatap wajah istrinya dari dekat.
__ADS_1
Farah hanya bisa meneteskan airmata, ini tatapan keken yang dulu pernah menghilang dan kini pria itu menatapnya dengan penuh cinta. "Keken aku sangat bahagia. "
"A... aku akan selalu bersamamu dan anak kita. Aku pun mencintaimu, Ken. " Farah mencium bibir suaminya, bagian yang selalu ia rindukan.
Pelan tapi pasti Keken membalas perlakuan istrinya, ia pun tidak bisa bohong jauh dari Farah membuat dirinya rindu dan sekarang hasratnya kian melambung apalagi saat menyentuh dada istrinya yang semakin besar.
"Oa... oa..... Oa... " Ghani menangis kembali bahkan suaranya sangat kencang.
"Masih bayi sudah rese ya, ganggu papah lagi asyik-asyikan. " Keken menghentikan kegiatan nya dan kembali menggendong anaknya lalu menciuminya lagi
"Anakmu memperingatkan kita agar tidak melakukan hal lebih, jika tidak kau pasti akan menyentuhku. " Farah
Keken hanya tersenyum, bisa melihat Farah dan anaknya adalah hal yang paling membahagiakan.
"Ken, keadaan mommy bagaimana? "
"Dia baik-baik saja tapi masih di Singapura, sepertinya papih Feri menyukai negara itu. Mereka ingin honeymoon lagi
" What! Ho.. honeymoon tapi mereka sudah tua nanti kalau kau punya adik lagi bagaimana? "
"Kau itu aneh, mana mungkin mommy hamil lagi. Itu tidak mungkin karena dia sudah menopause."
Farah terkekeh benar juga, mommy tidak akan memberikan adik untuk keken lagi karena umurnya sudah tua.
" Hilman bagaimana kabar dia? "Keken
" Setelah seminggu melahirkan dia datang dan dia sudah ceria kembali dan aku sangat bersyukur. Dia sudah ikhlas melepaskan karena melihatku bahagia. "
" Tapi ada masalah yang perlu kamu tahu? "
"Apa? " Keken menjawab tanpa melihat istrinya, hanya Ghani yang selalu membuat dirinya tersenyum, bayi mungil itu yang selalu membuat Keken ingin cepat-cepat pulang.
"Khaffi dan Dini, mereka sudah tidak ingin berteman lagi. "
"Pantas saja saat Khaffi mengantarku dia menolak untuk berlama-lama disini. Apa penyebabnya? "
Farah bercerita tentang awal masalah itu terjadi dan keken hanya menggulum senyum.
" Kenapa reaksimu hanya tersenyum seperti itu, aku sudah bercerita dari A sampai Z. "
"Si brengs*k itu menyukai temanmu tetapi dia masih saja mengelak, dia enggan mengungkapnya karena gengsi. "
" Benarkah itu? Tapi aku melihat Khaffi biasa saja, pandangan dia pada Dini tidak hangat seperti saat kau menatapku. "
"Aku mengenal si brengs*k itu dari kecil, aku tahu apa yang ada di otak dan pikiran nya tanpa dia bicara. "
"Aku yakin dia masih bimbang dengan keluarganya karena tante Ifa bukan orang sembarangan yang mau menerima gadis biasa. "
" Kau tidak tahu keluarganya, Khaffi anak orang kaya sepertiku. Bedanya , aku pembangkang dan dia penurut dengan keluarganya. Kau mengerti. "
Farah menganggukan kepala
"Apa kita harus menyatukan mereka? " Farah
"Buat apa! Kayak nggak ada kerjaan saja. Mereka sudah dewasa dan jika jodoh mereka pasti akan bersatu. Sekarang kita hanya bisa memikirkan keluarga kita, sekarang dan nanti nya. "Keken kembali meletakkan anaknya di kasur setelah bayi itu tertidur lagi.
" Farah aku menyayangimu, sekarang dan untuk selamanya. "Keken kembali mencium bibir istrinya
" Aku juga menyayangimu, sayang. "Farah
..." TAMAT"...
__ADS_1
\*\*\*
Terima kasih sudah membaca novel Author yang ketiga ini, akhirnya kelar juga. Mohon maaf jika ada penulisan yang salah dan tidak berkenan di hati reader, semoga bisa dimaafkan. Jangan lupa like dan follow ya, InsyaAllah akan ada novel lagi selanjutnya. Hanya dirilis di noveltoon bukan yg lain. Terima kasih semuanya β€β€π€βΊππ₯°