
Keken masuk ke dalam apartemen dan seperti biasa tidak ada satu orang pun yang berada disana. Keken memang tipe yang tidak ingin diganggu saat berada di rumah, ia terbiasa sendiri dan bebas. Asisten rumah tangga seperti biasa akan pulang pukul tujuh malam kecuali jika Keken membutuhkan tenaga darurat maka Amin lah yang akan sibuk dan selalu siaga di apartemen Keken.
"Ternyata dia sudah pulang." Keken menyalakan saklar listrik, suasana sepi dan hening seperti biasanya. Ia merebahkan diri di sofa ruang tamu, tubuhnya terasa pegal setelah aktifitas panasnya bersama Wina tadi.
Keken menuju dapur untuk mengecek pekerjaan Farah, ia melihat semangkok ramen yang masih hangat, kue karamel dan sebuah pesan.
"Aku ingin mengirimkan pesan untukmu tapi aku takut menganggu, tugasku hari ini sudah selesai. Aku pulang."
"Dasar cewek aneh!"
Keken mencicipi masakan Farah, perutnya yang belum terisi kini mulai berbunyi.
Satu suapan, Keken mencoba merasakan kaldu ramen. Dua suapan, ia mencicipi mie dan toppingnya. " Not bad, pinter juga dia masak."
Keken mulai menikmati makanan buatan Farah hingga licin tandas. "Kok habis, cih! Aku kan masih lapar." Keken merasa kurang puas karena ramennya habis dimakan.
Ia beralih ke kue karamel, kue yang selalu mommy Imel buat untuknya kini Keken mencoba kue buatan orang lain. Satu potong, dua potong, tiga potong ia habiskan. " Ini enak,besok aku suruh dia membuat apa ya." Keken berpikir makanan apa lagi yang ingin dimakan.
Keken beranjak kembali ke dalam kamarnya dan tertidur dengan pulas.
* **
Farah datang ke apartemen Keken setelah pulang dari restoran. Suasana hati Farah begitu buruk karena hari ini ada salah satu pelanggan yang komplen dengan masakan nya karena rambut yang jatuh ke dalam masakan yang Farah buat, ia sudah meminta maaf namun pelanggan itu masih saja memaki nya, hingga mba Riri turun tangan untuk mengatasi hal ini.
Ditambah lagi saat ini Farah sedang datang bulan, membuat mood dia tidak stabil dan mudah marah.
Dan kali ini Keken sengaja pulang cepat untuk bisa bicara dengan Farah.
" Pak Amin hari ini tugasku apa? "tanya Farah, ia tidak mengira Keken berada di dalam rumah.
" Nanti Den Keken yang akan bicara dengan non Farah. "
" Panggil aku Farah, aku kan kerja disini juga pak. "
" Ya sudah, bapak permisi dulu masih ada yang perlu dibersihkan. "Pak Amin pergi ke kamar tamu itu.
" Kau sudah datang? " Keken datang dengan pakaian santainya, rambutnya terlihat basah dan segar serta aroma sabun tercium dari tubuhnya.
" Hari ini aku kerja apa Pak? " tanya Farah, ia masih berdiri dan Keken tidak mempersilakannya untuk duduk.
__ADS_1
"Jangan panggil aku bapak, aku masih muda. Panggil aku Keken."
"Oke, hari ini aku ngapain Ken?"
" Ngerjain aku mau?" goda Keken dengan tersenyum
"Maksudnya?!" Farah tidak mengerti ucapan Keken yang menurutnya terlalu ambigu.
"Dasar tulalit! Kamu sebenarnya b*doh atau benar-benar polos sih?!" maki Keken, namun ia tidak melihat wajah Farah yang berubah muram setelah dimakinya.
"Kenapa kamu hina aku seperti itu! Memangnya aku salah apa!" seru Farah dengan nada tinggi, " Iya aku memang bodoh dan tulalit hina aku sepuasnya. Kenapa sih! sejak kecil aku selalu dibentak,dimaki dengan sesuka hati, kenapa tidak ada orang yang bisa bicara dengan lembut padaku selain bang Hilman dan tante Eri " Mata Farah berkaca-kaca, air matanya hampir jatuh. Emosinya meluap saat Keken memaki dirinya.
Keken melihat wajah Farah yang sendu, terbesit rasa bersalah di hati Keken karena sudah membentaknya namun ia pantang meminta maaf, lebih baik meninggalkan Farah dan kembali ke dalam kamarnya.
"Ting... Tong..." suara bel apartemen berbunyi, Farah menghapus jejak air mata yang sempat jatuh dan merapikan riasannya.
"Assalamualaikum."
"Walaikumm salam." balas Farah, ia melihat seorang gadis cantik dan berjilbab berdiri di depan pintu apartemen.
"Maaf, cari siapa kak?" Namun Farah berpikir seolah pernah bertemu dengan gadis ini, wajahnya terlihat tidak asing.
"Aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?" Farah termenung sembari berpikir kembali, mencoba mengingat - ingat dimana ia bertemu dengannya.
"Saya Farah." jawabnya
"Maksud saya, kamu itu teman atau pacar mas Keken?" tanyanya lagi, Inha melihat Farah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya yang jernih terlihat indah namun tatapannya seolah menguliti sang lawan bicara.
"Saya bukan teman atau pacar Keken." jelas Farah, " Saya asisten sementara disini. Kakak pasti pacarnya Keken, nanti saya panggilkan sebentar."
Inha hanya diam tak menyahuti ucapan Farah.
"Non Inha, sudah datang." Pak Amin datang tergopoh-gopoh.
"Non Inha ingin masak apa, biar bapak siapkan."
" Maccaroni scotel, bawal goreng, capcay, sambel bawang, ayam bumbu bali."
"Ya ampun banyak sekali makannya." lirih Farah, namun masih bisa terdengar oleh Inha dan pak Amin.
__ADS_1
"Apa ada yang salah!" Mata tajamnya melirik Farah, seolah ingin menerkam targetnya.
"Maaf non, dia asisten baru. Kami akan memasak dengan segera." Pak Amin mendorong tubuh Farah agar segera masuk ke dapur dan membantunya untuk memasak.
"Tunggu dulu." suara Inha menghentikan langkah keduanya.
"Aku ingin dia yang memasak untukku.Pak Amin jangan sampai membantunya."
"HAH...!" Farah terkejut dengan perintah gadis itu, ia begitu penasaran siapa gadis yang berada di depannya saat ini karena yang Farah dengar dari Pak Amin, Keken adalah anak tunggal. Dan yang Farah bingung, ia tidak pernah masak maccaroni scothel, yang dia tahu masakan Indonesia.
"Baik Non."
Pak Amin kembali mendorong Farah ke dapur dan menyuruhnya untuk memasak.
"Aku tidak bisa memasak makanan western." bisik Farah pada Pak Amin
"Lihat di internet, ingat! Lakukan yang terbaik, masak yang enak dan lezat. Cepatlah,jangan sampai membuat non Inha menunggu."
"Memangnya dia siapa?" tanya Farah sambil berbisik, menengok ke kanan kiri agar gadis itu tidak mendengarnya.
"Dia princess Inha, adik Den Keken." bisik Pak Amin
"Kata bapak Keken anak tunggal." Farah
"Den Keken memang anak tunggal, non Inha itu adik sepupu Aden tapi sejak kecil sering diasuh Nyonya Imelda, bahkan Nyonya menyiapkan kamar khusus untuk non Inha di rumahnya. Non Inha sudah seperti adik kandungnya Aden." Pak Amin menjelaskan dengan berbisik
" Oh. " Farah hanya ber oh ria.
" Ada apa kalian berbisik - bisik di dapur. "Keken yang mendengar suara Inha sejak tadi ingin sekali keluar namun dia masih sedikit malu setelah memaki Farah. Keken melirik Farah yang pura-pura tidak melihatnya.
" Ini Den, saya cuma bantuin menyiapkan bahan agar Farah cepat selesai memasak. "
Farah yang sudah memakai apron, kini sibuk mengiris bahan makanan yang sudah dia bersihkan. Sesekali Farah melihat tutorial youcube bagaimana membuat maccaroni scotel.
"Masak yang lezat, jangan sampai mengecewakan non Inha. Dia mahasiswi dan seorang chef di restoran D & R, kamu tahu kan restoran itu."
"What!, dia seorang chef." Nyali Farah menciut setelah mendengar bahwa non Inha seorang chef di restoran terkenal. Farah menelan salivanya dengan susah payah.
Menghirup nafas dalam - dalam dan membuangnya berulang kali, mengontrol emosi dan menenangkan pikiran sejenak.Membuang rasa amarah dan sedih yang sempat dia rasakan tadi.
__ADS_1
Aku pasti bisa!" semangat Farah bertambah berkali-kali lipat. Ia mencoba melakukan yang terbaik untuk masakan yang akan disajikan untuk nona Inha.
"Aku akan belajar memasak darinya, agar ilmuku bertambah." gumam Farah dalam hati.