
Farah sampai di rumah tengah malam dan dengan hati-hati dia membuka rumah kontrakannya agar Dini tidak terbangun, namun belum sempat dia memutar kunci rumahnya, pintu terbuka dari dalam.
"Nggak usah pulang sekalian!" hardik Vania sembari melipat tangannya di dada.
"Sudah bosan hidup rupanya, jam segini baru pulang." ucapnya lagi, ia terlihat seperti emak - emak yang sedang memarahi anaknya karena pulang terlambat.
Farah hanya tersenyum sembari memasukan motor ke dalam rumah.
"Nggak usah senyum - senyum, nggak ada yang lucu!" ketusnya lagi.
"Anak perawan jam segini baru pulang, nggak tahu emak khawatir gini. Mana handphone dimatiin, gimana emak mau telepon. Kalau emak tahu rumah si cowok songong itu, pasti sudah emak samperin!" Vania kembali mengomel tanpa henti, kekhawatiran dia pada Farah begitu besar, disaat malam minggu pasti banyak orang yang masih berada di luar rumah dan Vania takut Farah bertemu orang jahat.
Vania tidak ingin kejadian dulu terulang kembali, saat mereka masih bekerja sebagai SPG rokok, mereka harus pulang malam dan banyak lelaki hidung belang yang menggodanya, hingga akhirnya mereka menggunakan taxi agar lebih aman. Dan uang fee yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan biaya untuk membayar transportasi mereka hingga akhirnya mereka keluar dari pekerjaan. "
"Omelin Farah mak! Terus mak omelin sampai telinga dia panas!" Dini sengaja menyiram minyak ke dalam api.
" Maapin aye mak! Aye janji besok pulang tepat waktu." Farah cekikikan dengan ucapannya sendiri.
" Bohong dosa lu Dipta!" ucap Vania, " Kalau bohong hidung lu tambah panjang kayak pinokio, kalau yang onoh, noh idungnya mancung kedalem karena ketarik urat, abis kalau ngomong ngegas mulu nggak pake rem." sindir Vania sembari melirik kearah Dini yang sedang berbaring.
" Lah, ngapa gue jadi tumbalnya. Biarpun gue pesek tapi gue cantik, nggak ada lawan. "
" Terserah lu dah. "Farah langsung mendorong tubuh Dini agar mendekatkan kearah tembok. Ia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.
" Vania, lu masih punya obat tidur kan, gue minta satu. Kepalaku sakit banget, gue nggak bisa tidur. " pinta Farah. Dulu Vania pernah berkunjung ke dokter karena masalah insomnia yang mereka alami dan Farah beberapa kali meminta obat tidur padanya. Farah sering mengalami insomnia karena terlalu stres dengan masalah hidup dan pekerjaan. Dengan meminum obat tidur dari Vania, kualitas tidurnya menjadi lebih baik.
Vania segera mendekat kearah Farah dan mengecek suhu badannya. "Lu demam lagi?"
" Kurang istirahat saja, makanya beri aku obat tidur agar aku sehat kembali."
"Tadi aku habis dikerjain pria gila itu, dia pura-pura keracunan, pingsan dan seolah mati. Aku sangat takut, aku takut dia mati seperti ibuku, mati karena aku." Farah menundukan kepala, memorinya mengingat kembali tentang kenangan ibunya disaat terakhir. Farah menceritakan kejadian di apartemen tadi
"Bangs*t tuh orang!! Perlu dikasih pelajaran! ." umpat Vania
"Emang pria gila itu ganteng nggak, sih! Aku jadi penasaran sama dia" Dini
"Lu kagak usah ketemu dia, dia itu jelek banget baru pertama kali liat dia pasti lu muntah, item, pendek, burik, songong, nyebelin minta ampun, hidup lagi. Hihh... Nggak banget pokoknya." saking kesalnya dengan Keken, Vania sengaja berbohong dan menjelekan fisik Keken.
"Lah, item berarti kayak siluman cumi - cumi dong." kelakar Dini
"Apalagi dia bau ketek, botak, gendut, pokoknya lu nggak bakalan nyangka ada pria sejorok dia." timpal Farah, ia mengingat bau tubuh Keken yang selalu wangi namun Keken memiliki tabiat yang sedikit sembrono,dia suka dilayani oleh pelayan. Saat pulang kerja selalu membuang jas, sepatu, kaos kaki dengan sembarangan hingga terkadang membuat Farah kesal.
__ADS_1
"Ih, ngeri juga ya. Berarti tuh cowok unik bin ajaib ya, no no no gue nggak mau kenal sama pria jorok seperti itu, iyuhhh...." Dini terlihat jijik dan mengedikan bahunya.
"Kamu jangan pergi kesana lagi, aku tidak ingin kamu seperti ini lagi. Kamu sering kelelahan Dipta!" timpal Dini lagi
"Aku masih punya hutang padanya, aku juga ingin mengakhiri ini semua tapi tidak bisa. Jika aku membayar dengan uang pun pasti tabunganku berkurang, aku butuh uang banyak untuk menikah, kamu kan tahu sendiri bagaimana perlakuan orangtuaku selama ini, dia tidak akan membantuku untuk urusan pernikahan." Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya.
" Nasib lu gini amat sih Dip, sedih aku liatnya. Dibilang yatim piatu lu masih punya orangtua tapi dibilang punya orangtua, mereka sama sekali tidak peduli denganmu. " Vania memeluk tubuh sahabatnya.
" Percuma dipeluk lu Van, dadamu rata nggak ada isinya. Angin doang. "kelakar Farah
" Ini lagi sedih malah ngelawak. " gerutu Vania, ia memberikan dua potong pizza." Makanlah, kamu pasti lapar. " Vania tahu kebiasaan Farah yang suka makan sebelum tidur.
" Jangan bicara yang sedih-sedih lagi,nanti aku nangis dan kepalaku tambah sakit. " pinta Farah
" Beri aku air hangat jangan lupa kasih madu, terus ambilkan obat sakit kepala dan obat tidurmu. Jangan lupa apel yang di kulkas sekalian bawain kesini." perintah Farah.
"Terus.. Terus... Lagi sakit kesempatan, ngelunjak nyuruh - nyuruh!" sewot Vania, " Inem, ambilkan semua yang Farah butuhkan sekarang." matanya melirik kearah Dini yang sedang melihat pesan masuk di ponselnya.
"Bangs*t emang! Lu yang disuruh kenapa gue yang jadi korban." umpat Dini, bagi mereka mengatakan hal kotor sesuatu yang biasa tapi tidak untuk Farah.
"Kalian kenapa sih! Katanya mau berubah nggak ngomong kotor lagi." ucap Farah, "Yasudah kalau nggak ada yang nolongin biar gue aja yang ambil sendiri." Farah pura-pura bangkit dan benar saja kedua temannya langsung menyuruhnya untuk tiduran lagi.
"Jangan turun dari ranjang biarkan Inem yang bekerja, ayo nem ambilin, kan ini kontrakan lu. Gue mana tau tempatnya." kilah Vania, ia menahan senyum setelah melihat Dini yang mengerucutkan bibirnya. Dengan cepat Vania membuka tas dan memberikan obat yang masih terisi penuh di dalam botol." Aku sudah tidak memerlukannya, ini untukmu saja. " Vania memberikan obatnya pada Farah.
Namun Dini yang mendengar kedua sahabatnya mengobrol, ia hanya bisa mendengus kesal.
"Berlagak nggak tau tempatnya, padahal Vanila tiap minggu nginep di sini, dasar pemalas! udah gitu nggak bayar biaya menginap lagi."
"Oh jadi sekarang perhitungan sama aku. Oke fix! Nanti biaya catering kalo lu nikah, gue nggak bakalan ngasih endorse. Kalo ada job di luar kerjaan, nggak akan gue kasih tahu!" ancam Vania.
"Jangan gitulah, aku kan sebentar lagi nikah masa lu nggak kasih endorse ke gue Van." Farah terlihat sedih, karena Vania dulu berjanji akan memberi endorse catering saat Farah dan Hilman menikah.
" Bercanda Van, ini gue dah ambil semua keperluan si Farah. Gue juga pengen nikah kali diendose sama lu. "kata Dini sembari memberi air hangat dan apel untuk Farah.
" Emang lu ada calonnya. Siapa? Emang keluarganya setuju dia nikah sama mulut pedes kaya lu! Sambel setan saja kalah pedes dari omonganmu. "sindir Vania
" Ya nanti kalau ada calonnya gue kabarin, kalau keluarga pihak pria tidak setuju ya gampang tinggal kawin lari. "kelakar Dini
" Uhuk.. Uhuk.. " Farah tersedak dengan ucapan Dini." Jangan kawin lari, capek. "
" Lari-lari bikin ngos - ngosan. " timpal Vania
__ADS_1
" Enaknya kalau kawin lari si Dini pakai baju apa ya? "tanya Farah, obrolan unfaedah kembali terjadi.
" Pakai celana training sama baju oblong bagus tuh buat kawin lari. " timpal Vania
" Jangan! itu mah biasa nggak out of the box. Pakai bikini saja, so pasti banyak yang lihat. "timpal Farah sembari tersenyum.
" Jangan pakai bikini, liat aja tuh kaki si Dini banyak logam recehan malu sama macan tutul. "kelakar Vania. Kaki Dini putih namun terlihat banyak bekas luka akibat dirinya jatuh dari motor dulu saat sekolah dan terkadang kakinya terlihat bercak merah akibat gigitan serangga.
" Emang beneran bangs*t kalian ini! " Dini menjitak kepala kedua temannya. " Ini bukan logam recehan tapi ini logam mulia. Banyak kenangan yang terjadi, kalau nggak kayak gini gue nggak bakalan bisa naik motor."
Farah meminum obat tidur milik Vania, obat yang cukup ampuh ketika dirinya merasa insomnia, kelelahan. Obat yang di resepkan dokter hingga aman dikonsumsi.
" Minggir! Gue mau tidur sama Farah. " Vania mendorong tubuh Dini agar sedikit memberinya ruang untuk merangkak ke atas tempat tidur.
"Perasaan ini kontrakan aku, kenapa lu yang merajalela." omel Dini
"Mau endorse nggak! Jadi lu harus nurut sama gue." ucap Vania sembari menarik selimut untuk Farah agar temannya merasa hangat. Dan Dini pun mengalah, ia tidur di bagian paling pinggir. Mau tidak mau, suka tidak suka demi endorse menikah dia akan menuruti keinginan Vania, sang putri pemilik catering ternama.
" Van, mommymu kira - kira butuh anak lagi tidak ya? Siapa tahu mau adopsi gue buat jadi anaknya?" gumam Farah di sela-sela kesadarannya yang sedikit berkurang, matanya mulai ngantuk efek obat tidur.
"Iya Van, mana tahu mommymu butuh dua anak lagi. Kita siap diadopsi." Dini
" Kalau yang diadopsi modelnya kayak lu, emak gue rugi bandar. Makanmu banyak Din!"
" Gue janji deh nggak makan banyak yang penting sering - sering aja,hihihi... " Dini terkekeh dan Vania hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.
"Kalau barter satu karton minyak goreng agar aku bisa diadopsi bisa tidak? Kita tukeran nasib, aku sangat lelah dengan semua ini." Farah mulai bicara meracau, matanya kian berat dan hampir menuju ke alam mimpi.
"Kamu pikir jadi anak orang kaya enak! Kita sama Far, aku punya tanggung jawab yang lebih besar harus menjadi seperti keinginan orangtua, bebanku jauh lebih besar tanpa kalian tahu, apalagi saat dibanding - bandingkan dengan yang anak lainnya, maka dari itu aku sering konsumsi obat tidur karena terlalu stres dengan keadaan. "
" Aku kira jadi anak orang kaya enak, ternyata kamu lebih menderita. " Dini merangsek ke tubuh Vania yang selalu terlihat kuat.
" Jangan peluk! Lu bau asem. "Vania ogah dipeluk Dini dan menghindarinya.
" Nggak kok, ini nggak asem cuma bau cuka dikit. "kelakar Dini dan mendapat pelototan dari Vania.
" Gue do'ain kita semua dapat jodoh yang terbaik. Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan seperti apa, tapi yang pasti kasihnya takkan pernah putus untuk kita. " Vania mengutip satu ayat dalam agamanya.
" Kamu sabar Far, sebentar lagi lu nikah. Kebahagiaan lu sudah di depan mata. Hilman begitu baik dan sayang sama lu, pasti lu hidup enak dengannya. Ini buah dari kesabaran dan kebaikan hati lu Far. " lanjut Vania
" Far... Far... "Vania melirik Farah," Yah, udah teler dia." Ia pun melirik Dini yang mulai menguap beberapa kali.
__ADS_1
" Good Night. " Vania ikut menguap dan menuju alam mimpinya.