Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 66


__ADS_3

Farah menerima pesan dari Vania bahwa Keken baru saja keluar dari rumah sakit di Malang, ia kecelakaan kerja hingga pria itu dilarikan ke rumah sakit. Dan dalam seminggu ini, Keken akan pulang ke Jakarta karena semua pekerjaannnya di Malang sudah selesai.


Setelah mendapat pesan itu hati Farah begitu berdebar, entah apa yang akan dia katakan saat bertemu pria itu. Tapi satu yang pasti, ia hanya akan memberitahukan bahwa dirinya hamil,namun ia tidak berharap Keken akan menikahinya karena Farah pun tidak ada perasaan cinta dengan pria itu.


Farah hari ini pergi ke restoran untuk resign dan mau tak mau ia harus istirahat di rumah karena tidak ingin merepotkan orang lain.


"Aku tidak menerima surat pengunduranmu!" ketus mba Riri, ia begitu kaget karena Farah datang dengan membawa surat.


"Apa gajimu kurang? Aku bisa bicarakan dengan big bos kalau kamu minta kenaikan gaji asalkan kamu tidak keluar." Riri begitu berharap Farah tidak mengundurkan diri karena selama ini kinerja Farah sangat bagus dibandingkan lainnya, baru kemarin saja Farah tidak fokus dan Riri memakluminya mungkin karena Farah lelah butuh hiburan dan istirahat.


" Tidak mbak, gajiku alhamdulillah cukup." Farah menundukan kepala


"Jangan resign dulu, belum ada orang yang menggantikanmu, kan pernikahanmu dua minggu lagi." Riri masih saja meminta Farah untuk bertahan di restoran, ia sangat berharap Farah mau menerima permintaannya.


" Maafkan aku mba." Farah berkaca-kaca, sungguh berat baginya untuk resign dari restoran tapi mau bagaimana lagi.


" Farah.... "Riri memeluk erat tubuh gadis itu, mereka sudah seperti keluarga dan Riri merasa kehilangan.


Dini yang kini mondar-mandir melayani tamu, sesekali melirik sahabatnya. Ia pun merasa kacau dan berkaca-kaca saat Farah mengajukan resign.


" Lalu apa, apa kau sudah tidak betah? Apa ada yang menyakitimu, katakan padaku? " Riri masih ingin mencegah Farah, baginya selama ini restoran ramai karena kerja keras satu tim. Dan tombak utama adalah para chef, termasuk Farah. Masakannya sangat enak maka dari itu banyak pelanggan yang datang ke restoran lagi dan lagi.

__ADS_1


" Aku sangat betah hanya saja aku akan menikah dan akan tinggal di Bogor." Mau tak mau Farah harus berbohong agar Riri mengizinkannya. Sangat sulit mencari alasan yang masuk akal karena Riri tidak akan melepaskan tambang emasnya.


" Kalau begitu aku ijinkan kamu, aku tidak bisa memaksa karena kamu akan menikah. Aku berharap kamu bisa kembali lagi kesini kapanpun yang kamu mau, kami menerima dengan tangan terbuka." Riri menghela nafas panjangnya, sungguh sangat berat melepaskannya. Ia memeluk tubuh Farah lagi. Empat tahun bekerja bersama menjadikan mereka seperti keluarga.


" Selamat ya Farah, aku berdoa kamu selalu bahagia bersama calon suamimu." ucap Riri dengan tulus


"Terima kasih mba, aku senang punya manager seperti mbak Riri. Aku pasti kangen kalian semua." Tak terasa ia meneteskan airmata lagi.


"Aku juga senang bisa bekerja sama denganmu. Nanti uang pesangon aku transfer setelah surat pengunduran dirimu diterima bos besar dan sudah pasti aku bakal kena omel karena salah satu aset restoran resign dari sini, hihihi."


"Terima kasih mba, saya permisi dulu." pamit Farah


Ia saling berjabat tangan dengan beberapa karyawan sebagai tanda perpisahan, namun saat ia bertemu dengan chef Ardi, Farah hanya bisa menundukkan kepala.


" Farah, a... aku__" suara Ardi seolah tercekik di tenggorokan


"Semuanya benar chef." potong Farah, ia mulai berkaca-kaca kembali. "Aku sudah hancur."


Ardi hanya menutup wajahnya, akhirnya rasa penasarannya kini terjawab sudah, Farah ternyata hamil.


"Calon suamimu pasti akan bertanggung jawab dan semoga kamu bahagia."

__ADS_1


Farah hanya tersenyum kecut, ingin rasanya ia berteriak bahwa bukan Hilman ayah dari janin yang kini dia kandung namun mulutnya hanya bisa terkunci rapat menyembunyikan kebenaran.


"Jangan lupa sering ke dokter cek kandunganmu." Ardi menatap intens wajah Farah


"Aku tidak tahu, rasanya hidup segan mati tak mau." Farah mulai meracau kembali.


" Aku kehilangan tujuan hidup, semuanya terasa gelap." matanya menerawang jauh, pikirannya kembali kosong.


"Jangan berkata seperti itu, semuanya sudah terjadi menyesalpun tiada arti, sekarang rawatlah anakmu baik-baik.belajarlah dari kesalahan, abang akan mengingatmu sebagai adik, jangan putus komunikasi kalau butuh sesuatu bilang sama abang. Kamu adik yang baik dan penurut." Ardi menyentuh pucuk rambut Farah, berusaha menenangkan Farah yang kini mulai menangis. Bekerja sama dengan Farah dengan waktu yang cukup lama hingga mereka mengetahui karakter masing-masing. Ardi tahu Farah butuh dukungan dari teman dekat.


" A... aku... aku ingin mati saja bang, sakit banget rasanya. Aku ingin menyusul ibuku saja, huaaaaa...." tangisan Farah pecah, beban dalam hidupnya begitu berat dan ingin segera mengakhiri hidupnya.


"Menangislah jika kamu ingin menangis." Ardi memberikan bahunya untuk bersandar, "Setiap orang pasti punya masalah termasuk aku, tapi perlu kamu ingat masih ada Allah tempat untuk mengadu, minta padanya jalan yang terbaik dan jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, dosa!"


"Terima kasih bang, sudah mengajariku banyak hal tentang memasak. Ilmu mu sangat berarti untukku." ucapnya dengan tulus


"Aku senang berpartner denganmu yang tidak banyak omong dan cepat dalam belajar. Maafkan abang juga kalau sering berteriak saat di dapur."


Farah tersenyum mengingat betapa galaknya chef Ardi saat sedang fokus bekerja,hingga ia mendapat julukan The Lion of kitchen.


Setelah mendengarkan saran dan petuah dari Ardi, Farah pulang ke kontrakannya dengan perasaan sedikit lega. Bercerita dan bercanda bersama seorang sahabat sedikit meringankan beban hidupnya.

__ADS_1


Tidak mudah bagi Farah keluar dari pekerjaan dan terpisah jauh dari para sahabat yang sudah banyak membantu dirinya saat bekerja di restoran. Ia berawal dari gadis pencuci piring, beralih ke bagian waitres dan sekarang asisten chef. Ardi lah yang selama ini membantu dirinya dalam memasak. Tantangan dari chef Ardi selalu Farah eksekusi dengan baik, maka dari itu Ardi sangat senang karena Farah cepat dalam belajar dan itu sangat membantunya di bagian kitchen.


"Akhirnya aku pengangguran." Farah meletakkan tas nya dengan sembarang dan merebahkan diri di kasur busa miliknya. Namun belum sempat ia memejamkan mata terdengar suara anak kecil yang berteriak.


__ADS_2