Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 150


__ADS_3

Khaffi tergelak tawa saat mendengar pertanyaan konyol Farah. Ia tidak bisa menahan nya karena menurutnya ini pertanyaan yang lucu.


"Apa tidak ada pertanyaan lain, Far?" tanyanya, "Kau itu lucu sekali." ia masih tertawa geli sembari menahan perutnya.


" Aku serius Khaffi, kenapa kau tertawa seperti itu!" Farah mulai menggerucutkan bibirnya.


" Karena ini sangat lucu, mana ada perasaan untuk cewek itu! Kami hanya kenal dan bertemu beberapa kali saja, hanya itu. "


" Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis seperti dia karena dia bukan kriteria ku. "


" Cih! Sok ganteng lu!" cebik Farah


"Aku memang ganteng dan juga kaya." ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu, apa wanita itu tidak punya pacar hingga ingin kupacari." gurau nya


"Ish... bukan seperti itu, Dini memang jomblo tapi dia juga pilih - pilih dalam hal pacaran. Aku kira kau ada perasaan dengan nya."


"Sudah jelek pilih-pilih, seharusnya dia sadar diri." gerutu Khaffi, ia masih kesal karena wanita itu belum membayar ganti rugi mobilnya.


" Kenapa kamu seperti Keken, bicaramu sangat tidak sopan!"


" Memang kenapa, aku berkata benar. Dia itu seharusnya sadar diri kalau mau cari pacar kaya dan tampan perbaiki dulu casing nya."


Farah memukul lengan Khaffi dengan kesal. " Kamu belum tahu saja kalau Dini sudah dandan, artis saja lewat. "ucap Farah


" Iya lewat, artis itu lewat jalan tol sedangkan cewek gendeng itu lewat jalan pedesaan,yang artinya jauh dari kata CANTIK! " Khaffi menekankan kalimat terakhir.


" Ya sudah kalau tidak percaya, nyesel baru tahu rasa! Kelihatan nya aja Dini judes dan galak padahal dia lembut, putih dan tinggi lagi. Tidak seperti ku. "


" Memang kamu seperti apa? "


" Kopi item, gendut lagi kayak badut."


Dan mereka tergelak tawa hingga membuat Keken curiga apa yang membuat mereka tertawa lepas.


" Kalian akrab sekali. " Keken yang telah selesai membantu Michelle kini menghampiri istrinya sembari merengkuh pinggangnya.


" Jangan coba-coba merayu istriku!" Keken menatap tajam pada sahabatnya.


"Dih, PEA! Datang- datang cemburu buta, siapa juga yang mau merayu kopi hitam. Aku lebih tertarik dengan keju mozarella."


Dan Farah tergelak tawa lagi.


"Kalian ngomongin apa sih, ada kopi hitam dan keju mozarella. Aneh!" gerutu Keken.


"Sudahlah, kamu tidak akan mengerti. Yang tahu cuma aku dan Farah." jawab Khaffi

__ADS_1


"Ayo sayang kita pulang, teh Cucu nungguin di bawah. Mulai besok dia sudah mulai kerja."


" Jadi teh Cucu diterima bekerja disini?"


Dan Keken menganggukkan kepala.


"Alhamdulillah..." Tanpa sadar Farah memeluk Keken dengan erat, ia terlihat bahagia karena teh Cucu bisa mendapatkan pekerjaan dan itu artinya dia bisa membiayai sekolah anaknya.


Keken hanya mengulum senyum, tanpa sadar ia juga ikut bahagia karena Farah memeluknya tanpa sadar.


"Ayo kita pulang." Farah memegang lengan Keken dengan erat. Keken mengenyitkan dahi karena tidak seperti biasanya Farah bersikap manis seperti ini.


"Good luck Men!" ucap Khaffi sembari memukul bahu Keken.


"Ada apa?" lirihnya di telinga Khaffi. Dan pria itu hanya mengedikkan bahu seolah tidak peduli.


* **


Keesokan harinya,


"Aku akan pulang terlambat." ucap Keken sembari menata barang ke dalam tas nya.


"Jangan larut malam." pinta Farah. "Aku takut sendirian."


"Kan ada Dini, biasanya juga sama Dini." Keken


" Adek maunya sama ayah." ucap Farah.


"Akan aku usahakan pulang cepat." Ia membawa tas sembari mendekat kearah Farah, mengelus perut istrinya. " Papah kerja dulu, adek dan mama baik-baik di rumah."


"Kok cuma gitu." Farah menggerucutkan bibirnya, sedangkan Keken masih dalam mode bingung.


"Apalagi?" tanyanya, "Oh, aku lupa belum memberimu uang belanja." Keken membuka dompetnya dan memberi beberapa lembar uang untuk Farah.


"Dasar tidak peka!"


"Ya ampun apalagi ini, kamu mau apa? coba katakan padaku." Keken tidak mau bertengkar dengan Farah karena ini masih pagi, ia tidak mau mood nya hancur berantakan.


" Peluk aku." pintanya


"HAH...!" Keken terkesiap, sejak kapan Farah minta dipeluk biasanya hanya Keken yang memeluknya dan istrinya tidak pernah membalasnya. Dan sekarang Farah minta dipeluk secara sukarela,tentu saja Keken mau.


"Semalam aku mimpi apa ya, kok Farah kesambet minta dipeluk gini" gumamnya dalam hati.


"Aku kerja dulu." Keken mengurai pelukan nya.


"Hati-hati."

__ADS_1


"Hm..."


Farah melihat suaminya sampai tubuhnya tidak terlihat lagi.


"Sepertinya ada yang mulai jatuh cinta nih." goda Dini sembari menaik turunkan alisnya. Ia sempat mengintip Farah yang mengantar suaminya hingga depan pintu.


"Berisik!"


" Dih! kagak mau ngaku, bilang saja suamiku I love you gitu aja kok repot." Dini menghampiri Farah dan ikut masuk ke dalam kamar. Namun matanya melirik kearah kasur yang kini terlihat berantakan dan kaos Keken yang berserakan.


"Kalian sudah satu ranjang?" tanyanya seolah tidak percaya.


"Memangnya kenapa, kami kan suami istri."


Dini tergelak tawa saat mendengar jawaban Farah.


"Sejak kapan kamu menganggapnya suami?"


"Aku bahagia jika kalian ada kemajuan, cuma rasanya aneh saja karena dari dulu kamu tidak pernah menganggap Keken suamimu." Dini


Farah kembali menghela nafas panjangnya, begitu burukkah dirinya memperlakukan Keken hingga banyak orang yang tidak percaya bahwa dirinya ingin berubah menjadi istri yang baik.


" Kamu sudah mulai cinta dengannya?"


" Aku tidak tahu. "jawab Farah," Aku bersikap seperti ini hanya untuk berterima kasih pada Keken karena dia sudah berusaha keras untuk kami. Aku ingin berusaha menjadi istri yang baik tetapi aku bingung dengan perasaanku sendiri. "


" Mengelak terus. "ketus Dini," Kamu pasti akan menyesal jika suatu saat Keken pergi darimu. "


" Kok kamu ngomong gitu! "Farah tidak suka dengan ucapan Dini


" Sudahlah, aku sedang tidak ingin berantem denganmu. Yang terpenting kalian baik-baik saja dan pikirkanlah ucapanku. " Dini membuka lemari pendingin milik Farah dan melihat isinya.


" Kamu lapar? " tanya Farah sembari membersihkan tempat tidur.


"Aku baru saja makan nasi kuning mak Ijah, enak banget Far. Nasinya pulen rasa santan nya terasa gurih apalagi pakai telor balado dan sambelnya mantap." ucapnya


"Kok aku nggak dibeliin!" Farah hampir saja meneteskan air liurnya, membayangkan masakan mak Ijah yang selalu enak dan sedap.


" Aku kira kamu sudah makan sama di Keken jadi aku cuma beli tiga dan sudah habis dimakan teh Cucu dan Malika."


"Kira-kira jam segini masih ada tidak ya? Aku nyidam nasi kuning mak Ijah.


" Mungkin masih ada tapi kan beli nya jauh, nanti aku saja yang beliin daripada kamu jalan kaki. "


" Terima kasih tante Dini, adek mau nasi kuning. "Farah bersuara layaknya anak kecil


" Gue masih muda masa dipanggil tante. "ketusnya." Kulkasmu sepi dah kayak kuburan angker. Mau belanja sekalian tidak? "

__ADS_1


" Bolehlah, aku mau buah juga. "


Seperti biasa Dini selalu mengecek persediaan makanan Farah karena wanita itu selalu makan di malam hari. Ia tidak ingin Farah kelaparan.


__ADS_2