
Suara seseorang wanita menginginkan Farah untuk tinggal bersamanya.
"Tapi aku __"
"Farah kamu harus disini bersamaku, aku tidak mau kamu kenapa - napa dan saat mas Keken pulang aku tidak mau dimarahi." Inka masuk dengan membawa buah-buahan untuk Farah. Dia pun sudah tahu kalau Keken menghilang tak ada kabar,pantas saja kemarin dia diminta menemani Farah belanja seharian dan membuat wanita itu senang.
"Baiklah, aku akan disini. Tapi beneran ya Van, Din kalau kalian libur akan kesini."
"Iya."
"Farah, aku akan mengajakmu ke butik lusa. Kita live online lagi, aku ingin kau yang jadi host nya. Kamu mau kan?" Inka sengaja mengajak Farah agar tidak bosan berada di rumah.
"Memangnya aku boleh jadi host di online shopmu? Apa aku pantas? Nanti kalau aku gugup bagaimana?" Farah menyukai Inka karena gadis itu humble, cerewet juga mengasyikkan apalagi Inka bisa membuatkan cair suasana,setidaknya Farah bisa melupakan masalahnya sejenak.
"Kenapa belum apa-apa sudah pesimis, aku yakin kamu bisa. Nanti aku ajari saat live."
"Aku ikutan boleh?" tanya Dini
"Noooo!! Yang ada online shop ku rusak karena kamu ketus dan jutek." Inka
"Ba... bagaimana kamu tahu kalau aku jutek? Aku juga bisa ramah kok, siapa tahu aku bisa double job dapet ilmu bagaimana caranya jualan baju."
" Dari wajah kamu saja orang sudah tahu kalau kamu jutek, tapi jika kau ingin belajar ilmu per online nan maka aku akan mengajarimu tapi tidak gratis. "Inka
" Ya ampun, cantik - cantik juga pelit. Masa tidak boleh gratis, memangnya aku harus bayar berapa? "
" Kamu tidak usah bayar pakai uang tapi pakai tenagamu. Kalau mau cari ilmu jangan tanggung - tanggung,kerja di aku selama seminggu packing baju."
"Kalau masalah packing aku tidak masalah, tapi waktunya gimana ya kan aku kuliah sambil kerja."
" Ya terserah kamu, itu urusanmu." Lalu Inka pergi dari kamar itu.
"Kenapa dia perhitungan denganku dan ogah rugi." gerutu Dini
"Ya seperti kamu, kalian sama saja. Perhitungan! " Vania
"Tapi aku harus mendapatkan ilmunya, aku akan mengikuti keinginan dia." Dini sudah bertekad bahwa dia akan belajar jualan online karena tidak akan selamanya dia bekerja di restoran.
* **
Farah menelepon mertuanya namun Imelda kini sedang sakit dan berada dalam perawatan. Farah kian pusing, tidak tega melihat mertuanya yang sudah tua kini sibuk mencari keken, namun Farah tidak bisa berbuat apa-apa.
Kini Farah melamun seorang diri karena tante Navysah pergi ke butik, si kembar kuliah dan Alif masih belum pulang dari rumah sakit.
"Ada yang nona inginkan?" tanyanya
"Aku ingin melihat Keken bi."
"Den Keken pasti pulang." Bibi sengaja menenangkan hati Farah agar tidak melamun terus.
"Kapan bi?"
__ADS_1
"Mmm.. mmm.. mungkin besok dia pulang.Nona berdoa saja, bibi yakin den Keken akan segera pulang." Lalu bibi itu pergi ke dapur daripada memberi harapan kosong pada Farah.
Tak lama kemudian Kinan datang bersama putri kecilnya yang sudah bisa berjalan. Sebelumnya Navysah meminta Kinan untuk datang dan menghibur Farah agar tidak sedih.
" Tante Farah..." sapa Kinan dengan suara seperti anak kecil. Ia menggandeng putrinya dan duduk disisi Farah.
"Mbak Kinan, hai anak manis.." Farah langsung meraih tangan mungil Shifa untuk mendekat kearahnya dan anak itu tidak menangis malah terlihat senang bersama Farah.
"Anaknya mba Kinan anteng banget, nurut lagi." Farah menowel - nowel pipi gadis cilik itu dan tertawa senang.
"Iya, Shifa murah senyum dan nurut,sifatnya kayak mas Raffa kalau dia mirip aku pasti sudah reog kaya si kembar anaknya si Hanin." Kinan sangat bersyukur memiliki anak yang penurut, baginya gadis mungil ini anugerah besar yang dititipkan allah padanya.
"Perut kamu sudah besar, semoga mirip kamu jangan mirip Keken,reog juga dia." tanpa disadari ucapan Kinan mengingatkan pada suaminya.
"Keken... huhuhu..." Ia menangis lagi mengingat sosok Keken.
"Eh, kok nangis? Maaf bukan maksud aku mengingatkan tentang Keken tapi__"
"Tidak apa-apa mba, aku memang cengeng dan sedang kangen Keken." Farah masih terisak menangis
" Jangan menangis terus kasihan bayimu, dia juga akan sedih melihatmu seperti ini."
"Memangnya kamu mau anakmu berwajah masam?" tanya Kinan
Farah dengan cepat menggelengkan kepala
"Bagus, ayo kita masak. Mungkin dengan memasak akan membuat hatimu lebih tenang." ajak Kinan
Farah mengiyakan ajakan Kinan dan mereka langsung masuk ke dalam pantry untuk memasak.
Farah menganggukan kepala, ia melihat bahan-bahan yang di lemari dapur.
"Untung saja stok nya sudah aku isi tadi." Kinan yang tahu Farah suka memasak kini hanya bisa bernafas lega. Ini salah satu upaya agar Farah sedikit melupakan kesedihan nya.
Namun di sela-sela memasak nya, tanpa sadar Farah menitihkan airmata, bayang-bayang Keken terlintas dibenaknya.
" Sabar, mba tahu apa yang kamu rasakan. Kita semua sedang berjuang untuk Keken dan kamu harus yakin dia akan pulang." Kinan memeluk Farah dan memberinya kekuatan agar dia kuat menghadapi masalah ini.
"Aku yakin Keken akan pulang mba." Farah mengusap airmatanya dan kembali bersemangat. Setelah membuat cemilan itu Farah kembali ceria karena anak Kinan begitu menggemaskan dan pintar. Ia mulai dekat dengan Farah dan mau bermain bersamanya.
"Assalamualaikum..." Kini suara seorang wanita terdengar keras dan Kinan tahu itu siapa.
"Walaikumm salam,pasti si reog keluarga tarzan." ucap Kinan sembari terkekeh. Dan benar saja Hanin datang dengan kedua anak kembarnya serta dua baby sitternya.
"Mba Kinan kok makan cemilan tidak ngajak aku." Hanin yang sudah tahu berita Keken sengaja datang ke rumah mertuanya dan ingin menghibur Farah.
"Kalau ngajakin kamu pasti cemilan ini langsung habis." Sejak melahirkan si kembar Hanin kurang merawat tubuhnya. Ia doyan makan dan bertambah melar.
"Iya mba, pusing aku dengan si kembar nangis terus jadi aku makan sebagai pelampiasan. Walaupun ada baby sitter tetap saja nanti gantian, aku juga ingin merawat dan quality time bersama anak-anak."
"Farah, bagaimana kalau kita ke villa mba Kinan di Bandung, disana suasananya nyaman dan tenang." Hanin ingin sedikit mengurangi beban pikiran Farah untuk liburan.
__ADS_1
Farah menggelengkan kepala.
"Bagaimana kalau kita ke pantai dan mengajak anak-anak main pasir." Hanin lagi
Farah masih menggelengkan kepala
"Bagaimana kalau belanja, kau bisa belanja sepuasnya." Hanin
"Kemarin aku sudah belanja dengan Inka, malah belanjaan dia yang lebih banyak dariku padahal bayarnya pakai kartu mommy Imel."
"Kalau belanja sama Inka memang begitu, isi atm langsung ludes." jawab Kinan.
"Ratu belanja dilawan." celetuk Hanin
Farah sedikit terhibur dengan kedua anak Hanin yang saling mencakar dan menjambak, dua anak itu tidak mau akur. Raya lah yang sering usil dengan kakak lelakinya,Rain.
"Mereka lucu." Bahkan saat ini Farah tergelak tawa saat kedua anak itu bertengkar lalu menangis lagi.
"Pusing mah iya." Hanin hanya bisa menghela nafas panjangnya.
Dan tak lama kemudian Davian datang sendirian dengan menenteng tas raket.
"Opah, Rain dan Raya ingin main sama Opah." ucap Hanin sembari cekikikan.
"Cucu Opah datang semua, nanti sore kita jalan-jalan main ya ke komplek. Opah mandi sebentar." Davian
" Opah mau jalan-jalan ke komplek atau mau ketemu tante Jani yang sexy itu, Opah." canda Hanin. Davian terkekeh. Tante Jani penghuni baru di blok sebelah yang begitu sexy dan suka olahraga senam. Banyak bapak-bapak yang sengaja lewat untuk menyapa janda itu dan sekedar basa - basi
" Sambil menyelam minum air. "kelakar Davian
" Ingin minum air tapi kalau mama Navysah tahu yang ada kena banjir bandang. "Kinan.
Davian kian terkekeh.
" Ayah tidak akan melirik wanita lain selain mamamu itu. "
" Memangnya kenapa yah, kan cuci mata tidak dilarang. "Hanin
" Ya memang tidak dilarang, tapi karena ayah pengabdi rumah tangga bukan pengabdi setan. "kelakar Davian
Kinan dan Hanin saling menatap lalu tertawa karena sang mertua begitu menghibur tapi tidak dengan Farah, gadis itu tetap diam berwajah sedih.
" Kamu tenang saja, jangan banyak pikiran kami semua sedang berusaha mencari Keken. " Davian menyentuh lembut pucuk rambut Farah
" Iya Om, mm.. apa ada kabar perkembangan tentang Keken? "
Davian menggelengkan kepala. Farah berkaca-kaca kembali.
"Om yakin Keken masih hidup, doakan dia."
"Iya Om."
__ADS_1
"Om masuk ke kamar dulu." pamitnya.
Mereka akhirnya bercerita tentang masa kecil Keken dan anak-anak Navysah hingga Farah merasa terhibur dengan cerita itu.