Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 67


__ADS_3

"Tante Farah, lagi ngapain? Main yuk!" suara Malika terdengar sangat nyaring, ia mengetuk ngetuk pintu Farah dengan tidak sabar.


Farah yang merasa terganggu kini membuka pintu dengan cepat. "Assalamualaikum..."


"Walaikumm salam..." balas Malika dengan tersenyum dan memperlihatkan beberapa gigi ompongnya.


"Nah gitu dong, kalau main ke rumah orang harus mengucapkan salam dan tidak boleh gedor gedor pintu takutnya ada yang jantungan.Mengerti?"


"Iya, malika mengerti tante.Maaf." sesalnya


"Bawa apa? Kok wangi banget." Farah melihat Malika membawa piring berisi makanan yang ditutupi dengan tisu putih dan sebuah kantong plastik berwarna hitam.


" Ini buah mangga aromanis sama kue pukis buatan mama." ucapnya sembari menyodorkan piring dan buahnya.


Air liur Farah hampir menetes mendengar kata mangga ia buru - buru mengambil makanannya. " Mau masuk tidak?" tanyanya


"Mau."Malika masuk dan seperti biasa tiduran di depan ruang pertama, ruang untuk menonton televisi.


" Nonton sinetron tan. "pintanya sembari bergulang guling, merenggangkan pinggangnya


" Anak kecil tidak boleh nonton sinetron, kamu itu nontonnya film kartun animasi saja bukan sinetron." Farah duduk dan menyuap satu pukis buatan ibunya Malika." Enak. " ia terus mengunyah dan menganti chanel televisi yang menampilkan film anak-anak.


"Kalau di nenek Halimah boleh nonton sinetron, cowok cowok ganteng tan."


"Kalau disini tidak boleh, Malika harus belajar menonton film sesuai usianya jangan menonton acara dewasa ya."


" Apa Malika mau belajar lagi sama tante, pumpung tante hari ini libur kerja." tawar Farah, ia menyukai anak-anak seusia Malika.

__ADS_1


Malika baru kelas dua sekolah dasar, Farah sering mengajaknya bermain dan belajar di kontrakan. Menurut Farah daripada Malika bermain terlalu jauh tanpa ada pengawasan orangtua, lebih baik ia mengajaknya ke rumah dan belajar. Orangtua Malika sudah bercerai, ibunya setiap malam bekerja di Cafe dan siang hari driver ojek online untuk menambah penghasilan. Malika hidup ngontrak tepat disamping Farah sehingga kesehariannya tak jauh seperti Farah, hidup sendiri saat ibunya kerja dan kesepian. Terkadang tetangga banyak yang iba hingga mengajaknya main di rumah dan memberinya makanan. Jika tidak main di kontrakan Farah, Malika biasanya main di rumah nenek Halimah, pemilik kontrakan Farah yang rumahnya tak jauh dari area itu. Nenek Halimah begitu sayang pada Malika seperti cucunya sendiri.


" Hari ini Malika tidak ada PR, nanti kalau ada PR pasti Malika minta bantuan tante." ujarnya


" Mama kerja atau libur?" Farah mengupas buah mangga yang sejak awal membuat dirinya menelan saliva berkali-kali.


"Hari ini mama libur makanya bisa bikin kue, katanya mama mau belajar jualan agar bisa kerja di rumah jadi Malika nggak sendirian dan bisa selalu dekat dengan mama." ucapnya dengan polos


Farah menghentikan acara mengupas buah, ia menatap Malika dengan berkaca-kaca, sungguh sangat beruntung Malika masih memiliki ibu walaupun mereka hanya tinggal berdua.


" Kok tante mau nangis, kenapa sedih? Memangnya buah mangga itu bikin mata tante sakit ya hingga tante sedih begitu." ucapnya dengan polos


"Tidak! Tidak apa-apa Malika, ini tante aja yang lagi cengeng." Farah dengan cepat mengusap jejak airmatanya dan kembali mengupas mangga. Ia makan dengan lahap karena mangga itu begitu ranum dan menggoda.


"Dapat mangga darimana?


" Dari wawa Amar, panen kemarin tan terus dibagi-bagi ke tetangga. Eh, mama dapat banyak jadi dibagi-bagiin lagi deh. "


" Bilang mama, makasih ya. " sambungnya


" Ia tan. " Namun matanya masih melihat kearah televisi yang kini menampilkan kartun dengan tokoh gadis cilik bersama beruang besar."


Tanpa terasa setelah mengobrol dan bercanda bersama Malika, Farah tertidur dengannya di depan televisi yang masih dalam keadaan menyala. Mereka melupakan sejenak rutinitasnya hari ini.


Di tempat lain,


Imelda meremas kertas dan foto Farah dengan kesal. Semenjak ia memerintahkan pengawalnya untuk mengawasi gadis itu, ia selalu mendapatkan info setiap harinya. Dan kini pikirannya kacau bukan karena dia tidak menyukai gadis malang itu, tapi dia begitu kesal setelah mendapatkan informasi yang membuat nya terkejut.

__ADS_1


" Dasar bocah tengik! Beraninya menabur benih pada gadis lugu itu. Perasaanku menjadi tidak enak sekarang." gumam Imelda.


Ia terkejut mendengar informasi bahwa Farah keluar dari pekerjaan dan salah satu dari temannya mencari keberadaan Keken.


"Apa jangan - jangan gadis itu hamil." pikiran nya mulai berkelana.


" Aku harus memastikan sesuatu. " Imelda memijit kepalanya yang mulai pening. Kali ini ia benar-benar kecolongan, Keken dengan berani merusak gadis baik-baik dan tidak menggunakan pengaman saat melakukannya. Berbeda dengan dulu, Imelda tahu anaknya suka bergonta ganti wanita seperti apa yang dilakukan dengan ayahnya saat muda. Ia selalu mengancam namun Keken seolah tidak pernah takut pada ibunya. Tapi Imelda tidak ambil pusing karena Keken selalu bermain aman dengan menggunakan balon penyelamat dan gadis yang Keken tiduri selalu berakhir dengan kompensasi uang. Namun tidak kali ini anaknya benar-benar mencari masalah, Keken benar-benar membuktikan bahwa ia mencintai gadis itu dan menjadikan dia miliknya walaupun harus merebut dengan cara yang salah.


" Keken benar-benar melewati batas." Ia kembali pusing dengan tingkah anaknya. Sejak di Malang memang ada sesuatu yang berbeda dari Keken, ia selalu menanyakan kabar Farah. Dan setiap hari nya Keken selalu merasa pusing, bahkan disaat pagi ia jarang sarapan karena mual dan itu persis seperti tanda-tanda morning sickness.


" Aku merasa gagal menjadi seorang ibu." Imelda menghela nafas panjangnya sembari menutup mata namun seseorang masuk ke dalam ruang kerja dan mengganggunya.


"Apa kau sedang banyak pikiran?" Feri mencium pipi istrinya berkali-kali, melihat Imelda menutup mata seperti itu sudah dipastikan ada sesuatu yang dipikirkan.


"Anakmu berbuat ulah lagi dan kali ini dia sangat keterlaluan."


" Dia juga anakmu sayang, semakin dia dikekang maka dia akan menggila dan melawan kita. Memang apa yang dilakukan Ken, sehingga membuatmu marah seperti ini?" Feri merangkul istrinya dari belakang, menciumi rambut yang mulai memutih karena dimakan usia.


" Sepertinya gadis itu hamil anak Keken. " Imelda menghela nafas panjangnya kembali," Dia sudah merusak kehormatan gadis itu. "


" Benarkah?! Aku akan memiliki cucu?? Yesss...hahahaha..." Feri begitu girang hingga tertawa bahagia, ia tidak menyangka sebentar lagi akan menyusul Davian menjadi Opah.


"Aku akan menjadi opah....!!!" teriaknya, "Aku akan pamer sama Davian dan Navysah, cucuku pasti lebih keren dari cucu mereka, Yesss..." ia begitu bahagia


"Dasar stres!! seru Imelda," Apa kau sudah gila?! Anak kita menghamili seorang gadis, kenapa kamu malah bahagia seperti itu! "ketusnya sembari memukul lengan Feri


" Aku bahagia karena akan memiliki cucu dan aku masih waras, mau bagaimana lagi ini sudah terlanjur dan Keken sudah menghamili nya. " dengan enteng Feri berkata seperti itu

__ADS_1


" Emang sulit ngomong sama kamu sebelas dua belas sama Keken, kalian tidak mengerti bagaimana perasaan gadis itu! " Imelda bangkit dari kursinya dan meninggalkan Feri yang masih tersenyum bahagia


" Sayang, ayolah. Jangan seperti itu, kita akan menjadi omah dan opah. Dan aku yakin gadis itu pasti mau dengan anak kita. Kamu tenang saja, sayang! "teriak Feri sembari mengikuti istrinya ke kamar.


__ADS_2