Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 91.2 ( Biduan yang aneh)


__ADS_3

Khaffi membuang wajahnya kearah lain dan pura-pura tidak melihat ibunya.


"Ya ampun, kelar hidup gue sampai dirumah pasti diceramahin tujuh hari tujuh malam. Dompetku makin kayak kuburan,sepi tanpa penghuni. Ampun dah mama Ifa." gumamnya dalam hati


"Ho.. Ho.. Ho..."


Natata kembali bernyanyi


Keken pun ikut berjoget sembari menyawer biduan, seperti yang biasa ia lakukan. Farah hanya menatapnya dari jauh melihat suaminya bergoyang bersama biduan dan terlihat bahagia.


"Jangan cemburu, Keken memang seperti itu." bisik Imelda pada Farah. Sejak tadi Imelda melirik Farah yang selalu melihat Keken namun hanya terdiam.


"Keken suka dangdutan, mirip tantenya. Tuh liat." Imelda menunjuk kearah Navysah yang kini sedang berjoget ria, tanpa malu ia mengajak anak-anaknya untuk bergoyang meramaikan pernikahan Keken.


Farah hanya menggulum senyum, tidak ada pikiran untuk cemburu apalagi dengan seorang biduan yang terlihat seperti ulat bulu.


"Farah tidak cemburu mih." ucapnya


"Biduan itu aneh, rambutnya berwarna merah namun pakaian dan aksesorisnya berwarna hijau, dia terlihat seperti Hulk."


Imelda tergelak tawa saat mendengarkan candaan Farah.


"Dia lebih terlihat seperti lampu lalu lintas, tinggal ditambah warna kuning." kelakar Imelda sembari tertawa lagi.


Dan Farah kembali diam. Ia merasa lapar, perutnya mulai keroncongan minta diisi. Padahal saat istirahat di kamar, ia sempat makan dua roti untuk mengisi perutnya.


"Apa kamu butuh sesuatu?" Imelda melihat Farah duduk dengan gusar dan selalu gelisah.


"Mommy, aku lapar." Ia menunduk malu, mau tak mau ia memberitahukan bahwa dirinya memang sedang kelaparan.


"Oh, ya ampun.Maafkan mommy, Nak! Ayo kita makan, ambilah sesukamu." Imelda menyesal karena tidak peka, Farah yang hamil pasti sering merasa lapar.


"Tidak usah mom, aku hanya ingin roti tapi berikan aku tiga potong." Tanpa rasa malu Farah meminta roti lebih banyak.


"Akan mommy ambilkan, cucuku pasti sangat kelaparan." ia turun dan mengambilkan lima potong roti dan buah segar untuk Farah. Ia tidak mau menantunya kelaparan karena acara masih panjang.


Farah menerima makanan dengan senang hati, ia makan disaat semua orang sedang sibuk melihat biduan bernyanyi.


"Masih lapar tidak?" tanya Imelda


"Tidak mom, aku sudah kenyang. Terimakasih." Farah merasa beruntung karena mommy Imelda begitu sayang padanya, walaupun terlihat galak nyatanya dia mertua yang baik.


Dan setelah acara hiburan kini Keken mendapat kejutan dari semua mantannya yang terdahulu.

__ADS_1


" Prit... Prit.... "suara pluit terdengar dari seorang pria dan ternyata itu Fafa. Setelah ia meniup pluit itu terlihat keluarga dan para mantannya berbaris dengan rapi dan membawa perabotan rumah dan semua berwarna ungu.


" Para hadirin dimohon minggir, kami akan mempersembahkan hadiah untuk kedua pengantin." seru Fafa yang kini mengomandani pasukan.


" Apa-apaan ini! "Keken terkesiap melihat para mantan datang ke pesta pernikahannya. Ada yang datang dengan wajah ceria dan ada yang datang dengan wajah masam.


" Fa, apaan ini? " Keken bertanya pada ketua suku yang memimpin barisan para mantan.


" Lu kan nikah, mereka pada ngechat gue minta datang dan inilah surprise nya. " Fafa tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengerjai sepupunya.


" Bukan itu, masalahnya kenapa mereka bawa banyak perabotan dan semuanya warna ungu. Dan apa itu, kenapa ada anak kambing dua ekor pake acara dipita segala, lu kira dia si princess kembar."


" Lu kan sama Farah cuma nikah setahun doang. Warna ungu itu pantas untukmu yang sebentar lagi akan menduda dan kambing itu sebagai modal aqiqah anak lu nantinya, gue kan tahu setelah pernikahan ini selesai lu bakalan dimiskinkan oleh Ratu Medusa. Selamat menempuh hidup baru dari nol ya, hehehe... "lirih Fafa sembari tertawa puas.


" Calon duda, hehehe... "Fafa kian menggodanya dengan gaya cengengesan


" Sial*n lu!! umpat Keken, ia benar-benar kesal karena Fafa menggodanya dengan sebutan calon duda.


"Selamat menempuh hidup baru, semoga selalu bahagia." Michelle tersenyum bahagia, ia mengatakannya dengan tulus. Dan dibalas dengan anggukan kepala. Ia membawa dispenser mini berwarna ungu dan Keken menerimanya.


" Jangan nakal lagi! Semoga insyaf dan ini yang terakhir." ucap salah satu mantan Keken dengan menyerahkan baskom yang juga berwarna ungu.


" Dasar penipu! Bilang cinta padaku tapi nikah sama orang lain. " ujar lainnya dengan membawa piring plastik ungu.


" Pria jahat! Dapat segalanya dariku, tapi aku ditinggalkan begitu saja."


"Kamu menikah tidak kasih kabar, enak-enak denganku nikah dengan wanita lain!"


Dan Keken menerima semua perabotan serta umpatan dan do'a yang tulus dari para mantannya. Hingga yang terakhir Wina memeluk dirinya dengan erat.


" Terimakasih untuk semuanya, akhirnya kamu sudah memiliki wanita pilihanmu dan hubungan kita berakhir, aku bebasss.... " Wina terlihat bahagia serta mengerlingkan matanya pada Keken. Dan Farah bisa melihat itu.


" Maafkan segala kesalahanku." ucap Keken,sesaat kemudian ia melihat gadis itu menahan airmatanya.


"Ken..." Lirihnya, Wina berkaca-kaca dan berusaha untuk tidak menangis di depan kedua pengantin.


"Aku tahu, sudahlah jangan menangis."ucap Keken


" Aku yang seharusnya meminta maaf, kapan - kapan kita ketemuan ya. Selamat menempuh hidup baru, sekarang sudah halal tidak perlu mencari sumber mata air dari perempuan lain." lirih Wina di telinga Keken. Mereka tertawa hingga membuat Farah penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


" Selamat ya nona Farah, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warrohmah. "ucap Wina dengan tulus


Farah hanya terdiam dan melirik kearah Keken yang selalu tersenyum padanya.

__ADS_1


" Terima kasih karena sudah datang. " Farah hanya tersenyum kecut tanpa mengamini do'a Wina. Dan gadis itu tahu, Farah belum bisa mencintai Keken sepenuhnya.


Wina memeluk Farah dengan lembut sembari berbisik. " Keken pria yang baik, percayalah padanya apapun yang terjadi karena kamu wanita satu-satunya, selamat bertemu Kenzi si perkasa."


Gadis itu mengurai pelukan kemudian tersenyum kembali pada Farah, ia pergi setelah Farah membalas senyumannya.


"Gadis yang aneh." gumam Farah


"Kamu kenapa?" tanya Keken


"Tidak apa-apa,aku hanya lelah." Farah menghembuskan nafas panjangnya. Berdiri seharian menjadi pengantin membuat kakinya sakit. Keken yang melihat Farah kelelahan langsung berinisiatif untuk membawanya ke kamar hotel.


"Ayo, aku antar kamu ke kamar." bisik Keken, namun Farah mendelik sembari menutup dadanya dengan kedua tangan yang menyilang. Ia berpikir negatif pada Keken yang akan berbuat macam - macam.


"Kamu kenapa?" Keken tersenyum melihat Farah yang menyilangkan tangannya di dada.


"Jangan berpikiran macam-macam, aku sudah pernah melihat semuanya dan ini hasilnya." Keken mengelus perut Farah. Dan gadis itu segera menepisnya.


Bapak yang melihat Farah pundung kini menghampiri anaknya. " Kenapa, Nak!"


"Antarkan Farah ke kamar, aku ingin istirahat pak." pinta Farah


Bapak menganggukkan kepala dan menggandeng tangan Farah menuju kamar hotel. Sepanjang perjalanan menuju lantai atas, Farah hanya terdiam namun tangannya enggan melepaskan tangan sang bapak.


" Terimakasih. "ucap Farah setelah sampai di kamar hotel. Ia meminta bapak untuk masuk ke dalam dan minum teh sejenak.


" Farah sudah tahu kebenarannya. " gadis itu menggenggam erat tangan bapak. Pria yang selalu terlihat tidak peduli padanya dan selama ini Farah selalu salah paham.


" Bapak juga minta maaf karena banyak salah sama Farah." ia berkaca-kaca, melihat anaknya kini menikah dengan pria lain.


"Anak bapak cantik sekali, semoga kamu selalu bahagia ya Nak." ucapnya lagi dengan tulus


" Tanggung jawab bapak sudah berpindah pada Nak Keken, jadilah istri yang baik dan patuh dengan suami. Bapak akan tetap melihatmu dari jauh, jika kamu butuh sesuatu katakan pada bapak. "


" Bapak....huhuhu. "Farah memeluk bapaknya dengan erat sembari terisak, sudah lama ia tidak pernah memeluk seperti ini.


" Maafkan bapak karena tidak bisa tegas pada ibu tirimu. " Bapak pun berkaca-kaca.


Hutang budinya karena telah menyelamatkan hidup Farah hingga akh ia terjebak pada wanita licik itu dan mengharuskan dirinya bersikap seolah tidak peduli pada anaknya.


"Tidak apa-apa, Farah mengerti." balasnya.


Mereka saling memeluk dan mengulang kisah lalu, sedangkan Keken yang mencuri dengar percakapan mereka tanpa terasa meneteskan airmata. Ia kembali ke pelaminan dan membaur bersama keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2