Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 99


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, berita tentang pernikahan Keken pun telah menghilang dan kembali aman. Pelaku yang telah membuat berita pun telah tertangkap dan dipenjara dengan dakwaan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.


Farah pun kini lega karena ia bisa kembali ke kehidupan yang seperti biasa, kehidupan sederhana yang selalu ia jalani. Semenjak di rumah Imelda, Farah merasa bosan dan jenuh. Setiap hari ia hanya bertanam dan berjalan - jalan di dalam mansion. Beberapa kali ia belajar table manner. Mommy selalu berpesan, sekarang ia bukan Farah si gadis sederhana,yang ada sekarang Farah istri dari Kendrew sang pewaris dari keluarga Feriansyah. Maka dari itu ia diharuskan belajar seperti layaknya seorang konglomerat. Melelahkan dan sulit, itu pasti. Namun Farah tidak mau mengecewakan ibu mertuanya, ia harus belajar agar tidak mempermalukan diri saat bergaul dengan kalangan atas.


Siang hari mereka tiba di kontrakan Farah di daerah Utara. Keken berjalan dengan malas, ia benar-benar tidak semangat untuk tinggal di kontrakan Farah. Dini pun kini menyambut mereka di depan pintu, begitu pula dengan teh Cucu. Ia sangat bersemangat karena tahu Keken akan tinggal disitu.


Keken menatap setiap ruangan, terasa berbeda karena saat ini cat tembok yang biasa berwarna putih kusam kini berganti dengan warna biru langit. Sebelumnya, Farah meminta tolong pada Dini agar merenovasi kontrakannya agar Keken betah. Ia tahu pria itu menyukai kebersihan dan jijik jika ada barang kotor.


"Selamat datang pangeran tampan semoga betah tinggal di rumah kontrakan ini." ucap Dini sembari mengambil tas yang Farah bawa.


Keken hanya menggulum senyum, mau bagaimana lagi ini konsekuensi yang harus ia tanggung dan sekarang inilah rumah barunya.


"Aa kasep mau minum?" Teh Cucu membawa nampan berisi es segar dengan rasa jeruk. Tanpa pikir panjang Keken meraih gelas itu dan meneguknya. Terasa nikmat dan segar apalagi di siang hari seperti ini ini, cuaca begitu terik. Jekardah bagian Utara terasa lebih panas.


" Jangan minum sembarangan nanti kamu sakit perut, aku yang repot." Farah mengingatkan Keken untuk tidak sembarangan menerima pemberian orang lain. Sebelum pulang, mommy Imelda mengingatkan Farah agar menjaga asupan makanan Keken. Anaknya tidak bisa makan dan minum sembarangan. Dan mommy berpesan agar Farah membiasakan diri untuk memasak.


"Maaf neng Farah, teteh lupa kalau Aa anak orang kaya. Teteh tidak bermaksud__"


"Tidak apa-apa teh, ini cuma minuman sachet kan. Perutku masih aman." potong Keken. "Makasih ya minumannya, aku benar-benar haus tadi."


"Iya kasep. Ih, ganteng banget sih suami neng Farah, teteh jadi basah." kelakarnya


"Apanya?!" Dini melotot kearah teh Cucu sembari berkacak pinggang. Teh Cucu memang suka bercanda namun terkadang ucapannya tidak mengenal tempat. " Mau aku keringin pakai hair dryer." ketusnya


Keken terbahak melihat Dini yang begitu emosional pada teh Cucu.


"Sudahlah jangan bertengkar, aku lelah." Farah meluruskan kakinya dan bersandar di dinding tembok. Sejak hamil dirinya sering merasa lelah dan cepat lapar.

__ADS_1


"Din, berikan aku air putih dan biskuit." pinta Farah. Dini dengan cepat membawa minuman dan biskuit coklat kesukaan Farah.


" Kau manusia atau onta. Cepat sekali menghabiskan minuman." sindir Dini sembari menggelengkan kepala saat melihat Farah minum. Seperti orang yang sedang kehausan di padang pasir, gelasnya kosong tak tersisa.


"Haus banget, di luar panas." keluh Farah


"Sini aku pijitin, capek ya yang." Keken dengan sigap memijit kaki Farah dengan lembut dan itu disaksikan Dini dan teh Cucu. Mereka saling bertatapan sembari menggulum senyum.


"Romantis banget ih, si AA kasep. Teteh kira neng Farah bakal nikah sama bang Hilman eh nyatanya sama si Aa ganteng yang baik hati ini."


Farah hanya tersenyum kecut dan melirik Keken yang sedang memijat kakinya.


" Belum jodoh teh, padahal bang Hilman baik banget tapi mau bagaimana lagi sudah begini keadaannya. " ucap Farah. Keken yang mendengar ucapan Farah kini hanya bisa merasakan nyeri di hatinya. Sakit ketika istrinya belum bisa menerimanya sebagai suami.


Dan Dini bisa melihat wajah Keken yang sedikit sedih. Ia pun tidak bisa berbuat banyak karena memang Farah belum bisa menerima suaminya sendiri.


Dan seperti biasa, Keken banyak bertanya dengan jenis makanan.


"Kenapa sambalnya bau. Ini seperti bau kaos kaki Khaffi."


"Ayamnya kecil dan kurus pasti dia puasa empat puluh hari."


" Sayurnya terasa asin pasti teh Cucu pengen kawin."


Dengan gemas Farah mencubit lengan Keken berkali-kali. Seharusnya dia bersyukur bukan nya berkomentar buruk. Namun Dini dan teh Cucu tahu, Keken butuh penyesuaian diri dan mereka memaklumi nya.


Mereka makan bersama dengan sesekali Keken yang mengeluarkan candaan dan ditimpali oleh teh Cucu.

__ADS_1


Tak terasa langit berubah menghitam, matahari pun kembali pada peraduannya. Keken yang kini sedang membereskan barang - barangnya kini mengecek ponsel. Tak ada satupun pesan masuk dari mommy nya,padahal Keken berharap mommy nya akan mengirim pesan dan mengajak mereka untuk pulang kembali ke mansion.


Namun tak berapa lama terdengar seseorang mengetuk pintu, Farah bergegas membukanya dan terlihat dua pengawal mommy Imelda yang membawa dua koper milik Keken.


"Maaf nona, kami hanya mengantarkan barang milik tuan muda." ucapnya. Namun mata Farah beralih kearah Keken yang kini sedang menutup wajah dengan bantalnya.


"Masuklah terlebih dahulu,kalian pasti lelah. Aku akan buatkan minuman untuk kalian." Farah kembali menatap kedua pengawal itu dan meminta untuk beristirahat sejenak karena perjalanan dari daerah Selatan ke Utara lumayan jauh.


"Tidak usah!!" Keken yang kini menjawabnya, " Jangan beri mereka minuman!"


"Katakan pada mommy kalau aku sangat kesal padanya." Tangannya dengan cepat menarik kedua koper dan menutup pintu rumah dengan kasar hingga terdengar bunyi sangat keras.


"Mommy memang ibu paling kejam." suara Keken terdengar begitu kesal. Membayangkan untuk tidur di ruangan sempit dan pengap serta tidak ada pendingin ruangan pasti sangat menyesakkan dada. Keken memang sengaja membawa baju sedikit agar ia bisa datang lagi ke mansion dengan alasan mengambil baju tapi nyatanya sang mommy tahu akal bulusnya dan mengirimkan baju dan barangnya ke rumah Farah.


"Mommy tidak seperti itu." bela Farah


" Mau makan apa?" tanya nya, hari ini ia selalu melihat Keken uring-uringan dan melamun.


"Terserah, yang penting enak!" Keken masuk ke dalam kamar mandi dengan berjalan gontai dan seperti biasa melempar bajunya ke sembarang tempat.


" Dasar pangeran sinting!" umpat Farah, mau tak mau ia selalu membereskan baju Keken yang tercecer.


"Aku beli makanan dulu." teriak Farah dan tak ada sahutan dari dalam kamar mandi.


Setelah membeli sate ayam dan sop, Farah pulang kembali ke rumah. Namun Keken tidak terlihat batang hidungnya hingga membuat Farah kebingungan.


"Kok sepi sih, Keken kemana? Rumah tidak dikunci lagi." ucapnya

__ADS_1


Ia masuk ke area dapur membawa piring untuk makan bersama Keken. Ia pun ingin mencuci tangan dan masuk ke dalam kamar mandi namun matanya membulat, melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


__ADS_2