
Tangan keken tak mau diam, ia menyentuh setiap bagian tubuh istrinya dan tidak mau melewatkan kesempatan emas ini. Entah apa yang merasukinya , Keken merasa ada sesuatu dari bagian dirinya menolak keras jika Farah pasrah dengan keadaan ini, pasrah bahwa apapun bisa terjadi setelah Keken sembuh dan ingatan nya kembali. Keken tidak bisa menerima nya. Farah harus selalu bersama nya sampai kapanpun. Harus menemaninya hingga akhir hayat, hanya dengan Farah tidak dengan lainnya.
Menyusuri setiap tubuh istrinya bahkan tanpa ragu membuka kancing bajunya. Farah pun melihat setiap aktifitas suaminya, tak bisa dipungkiri ia pun menginginkan nya.
"Ken... "Farah melihat suaminya terkekeh saat melihat tubuh polosnya. "Kenapa kau tertawa. "
Keken melihat tubuh Farah yang terlihat aneh baginya. Dulu ia selalu menjamah wanita sexy dan cantik dengan tubuh langsing, sedangkan kini ia akan menyentuh tubuh istrinya yang buncit.
"Kenapa dia seperti drum minyak. " Gumam keken dalam hati namun tidak berani mengatakan nya karena pasti Farah akan marah.
"Kenapa diam? Kalau tidak mau yasudah, aku pun sudah tidak menginginkan nya lagi. " Lagi-lagi Farah merasa malu karena keken seolah jijik dengan nya, tak ingin menyentuh nya.
"Kau bicara apa sih, aku hanya bingung apa aku akan menyakiti anakku tidak. " Keken mulai menciumi istrinya secara menuntut. Kenzi sudah tidak bisa mundur lagi, bersama wanita ini ia selalu bergelora dan ingin menyentuh nya.
Tak ingin tinggal diam, Farah pun melakukan nya dengan penuh cinta, menyalurkan semua hasrat yang ia pendam hampir dua bulan ini. Mereka pun terhanyut dalam gelora cinta yang begitu memabukkan.
***
Siang hari,
Kedua pasangan itu belum juga terlihat batang hidungnya. Untung saja Ais dan Fadil masih sekolah, ayah ke pabrik dan ibu sedang memasak untuk berjualan.
Farah sebenarnya sudah bangun sejak tadi namun ia malu saat melihat cermin karena jejak kepemilikan Keken begitu bertebaran di tubuhnya.
" Kau kenapa? "Keken hanya melirik istrinya yang kini bergelung di selimut.
" Mau ke kamar mandi malu sama ibu. "
Keken terkekeh, ternyata Farah begitu polos dan pemalu. Semalam ia pun menghajar Farah berkali-kali dengan cara membodohinya, wanita itu mau saja menuruti keinginan keken.
" Pakai syal Ais, mungkin ada di lemari. "Ujar keken.
" Kau benar, kenapa aku tidak kepikiran ya. " Farah bangun dan mencari syal milik adik nya dan pergi ke kamar mandi.
Tidak seperti di rumah keken , di rumah Farah hanya memiliki satu kamar mandi di luar kamar, maka dari itu Farah bingung.
"Kok cepet! " Keken melihat istrinya mandi dengan cepat ,sudah bersih dan wangi.
" Takut ketahuan ibu. "
"Kau itu aneh, kita sudah menikah bukan anak yang masih pacaran dan mesum hingga takut ketahuan ibunya. " Keken masih menutup matanya dan dengan malas meringkuk kembali.
"Tetap saja Ken, aku tetap saja malu. Dan kau, ayo bangun kenapa malas-malasan begitu." Farah mendekati suaminya yang masih menutup mata
"Aku masih ngantuk, memang siapa yang berani mengusik pangeran modosa! " Keken masih saja arogan
"Kau itu. " Dengus Farah
" Apa Ghani baik-baik saja? " Keken mengelus perut buncit Farah
__ADS_1
"Baik, dia aman. Kamu baru sekali nengok udah celamitan aja. " gerutu Farah
"Aku tidak tahu kalau senikmat ini. " Keken terkekeh, awalnya dia tidak berekspektasi tinggi karena istrinya hamil besar dan pasti tidak menarik tapi nyatanya Keken ketagihan dan mau lagi dan lagi.
" Otak memang hilang ingatan tapi hasrat masih saja sama seperti dulu. Emang ya si Kenzi tahu saja kalau masalah yang enak-enak. " Farah
Keken tergelak tawa melihat Farah yang masih saja dalam mode mengomel.
"Hari ini kita pulang ke mansion ya. "
" Iya tapi sore saja ya, aku masih ingin disini. "
"Ken... " Farah menelisik wajah suaminya yang masih malas-malasan.
" Ucapanku masih sama, ingin melahirkan disini di tempat orangtuaku. "
Keken membuka matanya, melihat Farah yang benar-benar menginginkan bersama keluarga nya saat ia pergi ke Singapura.
"Baiklah jika itu keinginan mu, yang terpenting kamu dan anak ini sehat dan akupun akan menyuruh asisten dan pengawal untuk jaga disini.
" Mau tidur dimana mereka? Kau tahu kan rumah ayah sederhana dan semua kamar sudah terisi penuh. "gerutu Farah
" Kau tenang saja, itu urusanku. Aku yang akan memikirkan itu semua. "
"Terserah." ketusnya, "Tapi yang terpenting aku ingin pergi ke mall dan membeli perlengkapan bayi kita. Masa hampir persalinan anak kita baru memiliki peralatan sedikit.
" Oh ya ampun, aku sampai lupa dengan si Ghani, maafkan ayah sayang selalu melupakanmu. " keken mengelus perut istrinya
"Sudah siang, makanlah. " Bu Tami menyuruh anak dan menantunya makan terlebih dahulu. Melihat sepasang suami-istri itu dengan rambut yang basah dan Farah terlihat kelelahan sudah pasti ia mengetahui apa yang terjadi di kamar semalaman.
"Ibu cuma masak sop, ayam goreng dan sambal. Hanya ini yang bisa ibu sediakan. "
"Ini saja sudah cukup bu. " Farah
" Jangan lupa makan yang banyak Ken, semoga kamu suka dengan masakan ibu. "
"Iya, Terima kasih. "
Keken makan sembari memainkan ponselnya, entah menghubungi siapa Farah tidak peduli karena saat ini dia sangat lapar.
Setelah selesai makan Farah keluar lalu beberapa menit kembali masuk membawa semangkuk baso.
Keken mendelik melihat istrinya makan dengan porsi besar. Selera makan Farah menggila bahkan baso di mangkoknya termasuk untuk porsi dua orang.
"Kau itu bukan nya ngasih modal malah bikin tekor ibumu. Semua untung penjualan baso masuk ke dalam perutmu itu. "sindir keken
" Ini semua karena Ghani lapar, ayahnya membabi buta menyerang ibunya berkali-kali. " Farah tak mau kalah, ia pun menyindir suaminya
"Itu karena si Kenzi mengamuk dan minta ditenangin dengan caranya sendiri. " Keken terkekeh, obrolan mereka tak jauh dari hal mesum dan saling menyalahkan.
__ADS_1
"Ken, beri aku uang untuk ibu. Aku tidak membawa pakaian dan uang saat pergi. " pintar Farah
"Berapa? "
" Terserah kamu seikhlasnya, satu juta juga tidak apa-apa untuk mengganti makanan yang telah kita makan. "
"Kau itu pelit sekali , masa cuma ngasih uang jajan Aisyah. " Keken
" Uang jajan Aisyah sehari cuma dua puluh ribu bukan satu juta, memang kamu punya uang banyak? Kan kita dimiskinkan mommy dan itu masih berlaku. "
"Kata siapa itu masih berlaku! " Keken membuka dompet nya dan memamerkan lima buah kartu unlimited dan tiga kartu kredit pemberian ibunya. " Mommy sudah memberikan ini semua padaku, memangnya kapan aku dimiskinkan, tidak mungkin mommy sekejam itu. "
Farah terbelalak melihat deretan kartu Keken yang begitu banyak namun ia pun merasa kasihan karena keken masih belum ingat bahwa dirinya pernah dimiskinkan mommy nya dan hidup di kontrakan sederhana.
" Apa mereka tidak memiliki rekening bank? Aku malas jika harus ke ATM. "
"Ada tapi aku tidak tahu berapa nomor rekeningnya dan sudah pasti ayah akan menolak pemberianku. "
" Yasudah kau tenang saja. "
Keken pergi entah kemana tanpa memberi tahu pada istrinya namun setelah tiga puluh menit kemudian dia pulang ,keken membawa bungkusan plastik hitam.
"Ini." Keken memberikan bungkusan itu pada Farah yang sedang terbaring di kamar
"Kau itu malas sekali, baru saja makan mau tidur lagi. " Keken menggelengkan kepala, Farah hampir saja menutup mata nya lagi
"Aku ngantuk ken, terlalu kenyang. Dan apa ini? " tanya nya. Farah ingin bangun namun kesulitan hingga membuat Keken tertawa.
"Ya ampun, untuk bangun saja kau kesusahan . Lucu sekali, kau seperti kura-kura. " ejeknya
"Terus saja menghinaku, nanti kalau aku melahirkan dan langsing kembali jangan ngiler dengan bentuk tubuhku ya, aku akan ikut senam dan nge gym.
Keken kian tergelak tawa. " Jika kau melahirkan maka aku akan menghamilimu lagi agar kau selalu hamil dan kita banyak anak."
Farah mengenyitkan dahi, ucapan keken sama persis sebelum dia mengalami kecelakaan. "Ken, apa kau mengingat sesuatu? Dulu pun kau ingin memiliki banyak anak dariku. "
"Benarkah? " Keken tidak sadar saat mengatakan nya, entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja.
"Sudah lah jangan dipikirkan, aku tidak ingin kamu sakit Kepala. " Farah membelalakan matanya saat membuka bungkusan plastik itu dan melihat tumpukan uang.
"Setatus juta. " Farah melolong
"Lima puluh juta untukmu, lima puluh lagi untuk orangtuamu. Aku tidak tahu nomer rekening mu jadi ku ambil cash."
"Banyak sekali uangnya. "
"Tentu lah aku kan pangeran Modosa, crazy rich Jekardah. "
"Sudah amnesia masih saja sombong. " Gerutu Farah
__ADS_1
Sore hari ayahnya pulang Farah meminta ijin untuk pamit pulang dan memberikan uang pada mereka. Ayahnya menolak namun Farah meminta agar mau menerima nya dan mau mempergunakan uang itu untuk modal usaha. Ucapan tidak henti-henti nya keluar dari mulut bu Tami. Lalu Farah dan keken pergi ke mall untuk membeli segala keperluan bayi.