
Keken membawa Farah ke tempat tidurnya, ia begitu bingung apa yang harus dilakukan hingga akhirnya menelepon Inha untuk datang ke apartemennya.
" Kamu apain dia hingga pingsan begini?" Inha mendelik kesal pada Keken.
" Mm... tidak aku apa-apain, dia aja yang langsung pingsan. Mungkin dia kelelahan." kilah Keken, ia tidak ingin Inha tahu tentang perbuatannya yang membuat Farah marah hingga histeris ketakutan.
" Ah, yang bener! Masa tiba-tiba pingsan begitu kalau tidak diapa-apain,Mas Keken kan ahlinya berdusta. "Inka yang sedang duduk di pojok kini ikut mengomel, menuduh Keken berbuat sesuatu pada sang gadis.
" Ini lagi si cerewet, ngapain lu ikutan kesini, sih! " Keken mendelik kearah Inka yang sedang ngemil di pojokan. Saat Inha datang, Keken begitu lega karena ada orang yang akan membantunya, namun saat melihat Inka di belakang mengikuti kembarannya, Keken lemas kembali. Ia berpikiran Inka pasti akan bercerita pada Fafa, kakaknya tentang gadis itu.
"Memangnya kenapa kalau aku ikut? Kita kan kembar dimana ada Inha disitu ada aku,bilang saja mas Keken takut aku aduin ke mommy Imel dan mas Fafa kan, hayo ngaku."
"Terserah lu deh, Ka! Pokoknya saat ini mas minta kamu jangan banyak bicara. Mas sedang pusing! Kalau kamu mau makan, sana makan saja semua isi kulkas
."
"Asyik! Nah gitu dong, aku kan kelaparan belum makan nih."
Inha melongo mendengar perkataan Inka, bisa-bisanya dia bilang belum makan padahal tadi Inka datang ke restoran untuk makan malam dan menghabiskan dua piring nasi. Inka yang datang sembari merengek pada kembaranya untuk dibuatkan nasi goreng spesial dan steak sirloin.
" Tadi aku buat nasi goreng dua piring, dan sirloin itu tidak dihitung makan!" sindirnya pada Inka.
" Makanan tadi cuma masuk di kerongkongan, kurang nendang. Ini perut masih bisa nampung lagi." Inka mengelus perutnya yang datar, badannya memang lebih berisi dari Inha namun masih dalam kategori sedang. Mewarisi gen ibunya yang selalu makan banyak tapi tidak gemuk.
" Kalau gue jadi Antoni ogah gue punya istri modelnya kayak lu Ka, rugi bandar. Makan banyak, bodi papan pengilesan." sindir Keken
"Oke fix, kali ini aku laporin mommy Imel sama mas Fafa karena mas Keken udah hina aku." Inka membuang wajahnya sembari bersedekap.
"Janganlah, ya ya janganlah. Ini rahasia kita saja. Mommy nggak boleh tahu, Inka cantik deh seperti bulan purnama." bujuk Keken sembari memuji kecantikan adik sepupunya.
"Maksudnya wajah aku bulat, dan penuh bebatuan gitu!" sembur Inka, ia mengingat akan cerita ayahnya untuk selalu berhati - hati dengan pria yang merayunya dengan mengatakan seolah wajahnya seperti bulan purnama. Ayah Davian pernah mengatakan bahwa di bulan itu gelap, penuh bebatuan dan terjal. Tidak ada kehidupan disana.
" Hahahaha... peace." Keken tertawa sembari menunjukan dua jari sebagai salam perdamaian. Gadis ini tidak mudah untuk dibod*hi.
__ADS_1
" Eh, tunggu dulu. Sepertinya aku mengenal gadis ini tapi dimana ya?" Inka mencoba mengingat - ingat. Wajah gadis yang sedang terbaring di ranjang Keken seperti tidak asing. Inka baru menyadari gadis itu saat tubuh sang gadis mulai mengeliat.
"Bukannya dia gadis yang hampir tertabrak di jalan ya." Inka sedikit mengenalinya.
"Kamu pernah ketemu dengannya?" tanya Keken
"Pernah, di jalan bagian Jakarta Utara. Saat itu aku bersama Khaffi. Gadis ini menangis, meraung dan ingin bunuh diri. Aku tidak tahu pasti, yang aku tahu Khaffi membantunya sampai bengkel." jelas Inka
"Lalu kamu dimana saat itu? Kenapa tidak membantunya?"tanya Keken kembali
" Aku lapar jadi aku nungguin Khaffi di warung makan. " Inka meringis tanpa bersalah. Sedangkan Keken dan Inha hanya menatap jengah. Sudah bisa ditebak kalau Inka tidak bisa jauh dari yang namanya makanan.
" Kalau Doraemon itu punya kantong ajaib, kalau lu perut ajaib ka! " sindir Keken
Dan disaat yang bersamaan Farah siuman kembali.
"Aku dimana?" tanyanya dengan mengerjabkan matanya, ia melihat ke sekelilingnya. Terlihat kamar megah dengan dominan biru langit dan putih. Kamar asing yang tidak pernah dia lihat, namun kesadarannya pulih saat melihat seorang gadis adik sepupu dari Keken.
" Istirahatlah, kamu tadi pingsan dan sedikit demam." perintah Inha
"Kamu sudah baikan?" tanya Keken sembari mendekat dan duduk disisi Inha.
Farah hanya menganggukan kepala dan membuang wajahnya kearah lain. Melihat wajah pria itu membuat Farah kesal lagi.
" Apa sebaiknya kita panggil dokter saja?" Inka masuk dengan membawa satu toples nastar dan satu slice pizza di tangannya.
Farah memalingkan muka ke arah sumber suara dan melihat dengan bingung. Melihat ke arah Inha dan ke arah Inka secara bergantian.
"Kami kembar, kamu tidak usah bingung." Inha yang menatap Farah mencoba menjelaskan.
" Aku tidak menyangka nona punya saudara kembar, kalian berdua sangat cantik."
"Oh jelas, terutama aku yang paling cantik." Inka menaik turunkan alisnya. Hatinya melambung tinggi saat ada seseorang yang memuji kecantikannya.
__ADS_1
" Ada plester nggak, sih! Gemes aku sama mulutnya." Keken,
"Gigi udah rapi gitu masih aja dipagar besi sudah kaya penghalau masa demonstran lu Ka, rambut di cat coklat, nggak sekalian saja warna ijo biar dikira kolor ijo." cicit Keken. Sejak dulu Inka selalu menggunakan behel di giginya padahal gigi Inka termasuk rapi dan bersih. Dan pernah sekali Keken melihat rambut Inka yang terurai panjang dengan cat warna coklat yang sedang tren saat itu.
" Sirik aja lu mas! Ini tren masa kini." sahut Inka tak mau kalah
"Mas ngomong kayak gini untuk kebaikan lu. Emang lu mau saat cip*kan tuh bibir ayang nyangkut di behel. Enak kagak nancep iya! " kelakar Keken
"Itu behel ganggu banget tau, mas sudah ngerasain sama cewek yang pakai begituan. Ogah gue mah, nggak enak banget. Nggak bisa eksplor ke dalem-dalem." sambungnya lagi.
" Perlu lu tahu, Antoni tidak suka gadis yang bar-bar kayak lu. Dia suka gadis yang kalem dan sederhana, nggak banyak ngehabisin nasi dan cemilan. " Keken tahu adik sepupunya sejak dulu naksir dengan Antoni namun cintanya bertepuk sebelah tangan.
" Kenapa kriterianya tidak ada sama sekali di diriku. " gumam Inka dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Mas..... " Inha melirik tajam pada kakaknya, obrolan kedua manusia unfaedah itu harus segera dihentikan jika tidak akan berlanjut kemana-mana.
Farah hanya mendengarkan dengan raut wajah yang datar, ia teringat kembali saat Keken beradegan ah... Ah.. Ah.. dengan pacarnya yang membuatnya merinding. Ternyata sosok lelaki di depannya itu pria brngs*k yang sudah terbiasa bermain dengan banyak wanita. Jangankan sekedar cium*n, melakukan hal suami istri pasti sudah Keken lakukan, itu yang ada di pikirannya.
"Aku ingin pulang." Farah mengibaskan selimut. Ia melirik jam dinding dan waktu menunjukan pukul dua belas malam. Sudah berapa lama dia pingsan, dia pun tidak ingat.
"Biar aku antar." ucap Keken
"Tidak! aku tidak mau. Aku bisa sendiri." tolak Farah, ia sedikit takut dengan Keken yang menurutnya casanova.
" Ini sudah malam, sebaiknya kamu diantar, biarkan motor kamu disini." perintah Inha.
"Maaf nona, aku tidak bisa. Itu motor satu-satunya milikku, aku tidak ingin kehilangan motor itu."
"Hei, Cewek gendeng! Kamu pikir ada yang mau nyuri motor jelekmu itu! Ini apartemen mewah, semuanya bahkan memiliki mobil dan barang mahal. Kalau mereka ingin motor, mereka bisa membeli sepuluh bahkan seratus motor sekaligus bukan motor rongsokan seperti milikmu itu!" Keken begitu kesal karena kebaikannya selalu ditolak. Ia tidak sadar telah menghina kembali Farah.
" Mungkin bagi tuan motor aku itu rongsokan, tapi bagiku itu hartaku yang paling berharga. Terima kasih sudah menghinaku lagi untuk yang kesekian kali." Farah menunduk hormat pada Keken dan berlari dari apartemen yang membuatnya sulit untuk bernafas.
Entah kenapa sejak bertemu dengan Keken seolah Farah menjadi insecure, berada di tempat mewah tidak membuat hatinya bahagia, justru membuat dia ingin cepat - cepat mengakhiri segalanya. Saat bersama keluarga Vania yang tergolong kaya raya, Farah tidak pernah berkecil hati. Orang tua Vania begitu baik memperlakukan dirinya sebagai manusia, namun saat bersama Keken, pria itu selalu arogan dan terkadang mencaci maki dirinya. Pria songong yang selalu membanggakan kekayaannya dan berbuat sesuka hati. Farah menangis di tengah malam sembari mengendarai motor miliknya.
__ADS_1