Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 131


__ADS_3

Mommy Imelda benar-benar datang ke rumah kontrakan Farah, ia membawa beberapa bungkusan plastik berisi makanan.


Sebelumnya Farah dan Keken sepakat untuk bersikap layaknya suami istri yang romantis, mereka tidak ingin mommy Imelda curiga. Perban yang melilit tangan Keken pun sudah dibuang, lukanya sudah kering walaupun masih terlihat bekasnya.


" Ayo makan dulu mih, maaf kalau rumahnya sempit." Farah membawa beberapa makanan dan menyajikannya pada mertua.


" Apa kamu tidak ingin tinggal di mansion?" Imelda tidak mengindahkan ucapan Farah, ia balik bertanya.


"Tidak mih, kami sudah nyaman tinggal disini." kali ini Keken yang menjawab.


Terdengar gelak tawa dari ibunya, karena Keken pasti berbohong. " Apa kau yakin, betah disini?"


"Iya mih, kami betah dan akan selalu bersama. Jika kita pindah ke mansion yang ada mommy gangguin kita sedang kikuk kikuk." kelakar Keken lagi.


"Dasar bocah nakal!" Imelda begitu gemas dengan anaknya, namun disisi lain hatinya begitu sakit melihat Keken hidup di rumah kecil bahkan lebih kecil dari kamar Keken, apalagi anaknya selalu dilayani dan sejak dulu tidak pernah hidup susah tapi sekarang Imelda sedikit lega karena Keken mampu hidup dengan baik bersama sang istri.


"Mommy bawa steak kesukaan kamu."


"Benarkah." Keken dengan cepat membawa beberapa piring dan dengan segera membuka bungkusan plastik.


"Enak mih." ia begitu merindukan steak dari asisten mommy. Rasanya sungguh nikmat dan pastinya menggunakan bahan yang premium.


Saat mereka makan Imelda melirik tangan Keken yang penuh bekas luka yang sudah mengering.Terdapat bercak putih di punggung tangan nya dan ia tahu pasti Keken menghantam sesuatu, namun ia hanya diam tidak ingin banyak bertanya. Imelda hanya bisa mendo'akan agar anaknya bisa rukun dan saling mencintai.


" Kenapa kamu sekarang kurus, Ken. Apa kamu kelelahan?" Sejak pergi dari mansion tubuh Keken terlihat kurus hingga terlihat lingkaran mata yang menghitam. Rambut anaknya juga sedikit gondrong padahal Keken tidak menyukai itu, ia selalu tampil bersih dan rapi.


Farah menelan makanannya dengan susah payah, takut sang mertua menyalahkan karena tidak becus mengurus anaknya.


" Gimana aku tidak kurus, pekerjaan selalu menumpuk dan baru saja deal kerjasama dengan perusahaan Michael. Jarak antara Selatan dan Utara cukup jauh mom, terkadang aku kelelahan. " keluhnya.


"Mommy jangan berpikir aku kekurangan makan, Farah merawatku dengan baik. Dia selalu menyiapkan segala keperluanmu, dia istri yang baik mom." Disaat seperti ini pun Keken masih membelanya di depan mommy Imelda. Farah merasa terharu.


"Benarkah, syukurlah kalau Farah merawatmu dengan baik, mommy ikut bahagia." Namun Imelda merasa ada yang aneh, pandangan Farah seolah datar, tidak ada cinta dimatanya untuk Keken. Imelda hanya bisa menghela nafas panjangnya, mereka boleh saja terlihat baik-baik saja tapi perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi. Imelda tahu itu.


Mommy, kau akan menarikku ke perusahaan lagi kan?" tanyanya


"Tidak tahu, setelah rapat pemegang saham baru mommy pikirkan agar kamu bisa masuk kembali. "

__ADS_1


" Aku sudah bekerja keras mih dan kulihat nilai saham kita kembali normal."


" Mommy tahu, tapi tidak semudah itu untuk masuk kembali ke perusahaan. Mommy akan rapat terlebih dahulu dengan dewan direksi. "


" Beneran ya mih, Keken sebentar lagi punya anak. Keken harus mengumpulkan banyak uang agar anak Keken hidup nyaman. " Dan ucapan dari suaminya membuat hati Farah mencelos. Ia tidak menyangka Keken akan berpikir untuk masa depan anak mereka.


" Wah, ternyata anak mommy ada perubahan. Semakin dewasa dan sekarang tidak menghambur-hamburkan uang. " Imelda melihat Keken banyak berubah dari sikap dan cara berpikirnya.


"Maafkan Keken karena selalu membuat mommy repot, kini Keken sadar bagaimana rasanya hidup sederhana." Keken menghentikan makan nya dan memeluk ibunya dari samping. Imelda menahan sesak di dadanya karena Keken mengucapkan kata maaf lagi untuk kesekian kalinya.


"Keken sayang mommy."


"Mmm."


"Keken juga sayang papi."


" Mmm.." Imelda hanya menyahut singkat.


"Jangan lupa transfer untuk Keken ya mih." godanya pada sang ibu, ia terkekeh saat melihat mommy nya mendengus kesal.


"Duit lagi, duit lagi!" Imelda yang awalnya terharu kini melirik anaknya dengan kesal.


"HAH..!"


"Apa..!" Mereka terkesiap secara bersamaan.


* **


Tidak sesuai rencana, itu yang dirasakan Farah dan Keken. Mereka terlihat bingung karena sang mommy bersikeras untuk menginap.


"Tidak ada kasur lagi."


"Nanti mommy sakit pinggang jika tidur di busa tipis." Keken


"Pasti papi nyariin mommy, lebih baik pulang ya." sambung Keken lagi. Ia berusaha membujuk ibunya untuk pulang, namun Imelda tetap menolak bahkan ia melotot pada Keken karena bersikeras mengusirnya.


"Gimana ini?" Farah meremas tangannya karena bingung sang mertua tidur di ruang tamu, tempat biasanya Keken tidur dan secara otomatis suaminya harus tidur satu kasur bersamanya di ruang nomor dua.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus bagaimana." Keken


"Sudahlah kita tidur, semakin diusir mommy akan semakin curiga dan marah. Ratu Medusa tidak menerima penolakan." lirih Keken


"Iya seperti kamu." sindir Farah. Ia berbaring di kasur dan menyelimuti tubuhnya.


"Awas jangan macem- macem!" ancamnya


" Tanpa kamu ancam seperti itu, aku sudah tahu luar dalam dirimu." Keken membalas ucapan Farah dengan ketus. Ia tidur disisi Farah dengan hati risau. Bagaimana tidak risau, dengan berdekatan saja membuat Kenzi ingin terbangun. Sial!


" Tidurlah." ia melirik Farah yang sedang bermain ponsel.


" Sebentar. "


Keken menutup matanya agar tidak fokus dengan tubuh istrinya, namun saat Farah mengeliat, Keken bertambah resah.


"Sial, Farah sexy banget." ucap Keken dalam hati. Istrinya menggunakan baju hamil berwarna biru yang ia beli di mall.


" Jangan cari kesempatan saat aku tidur, awas!" ancamnya lagi.


" Bukan aku yang cari kesempatan tapi kamu." Keken membuka kaos hingga terlihat badan kekarnya. Farah mendelik kesal


"Pakai bajunya!"


"Tidak mau! Aku kan memang biasa tidur tel*njang dad* kamu terkesima dengan body sixpack ku." goda Keken sembari mengerlingkan mata.


" Dih! Kepedean lu!" Farah menarik selimut dan membalikkan badan menghadap tembok. Ia ingin memejamkan mata namun sangat sulit karena aroma parfum Keken begitu menggoda. Dan entah kenapa ia ingin sekali mengendus tubuh Keken.


" Ini aku kenapa, sih! Kok rasanya aku ingin dekat dengan dia. Masa aku nyidam aroma tubuh Keken, sial!" umpat Farah dalam hati. Ia begitu frustasi karena si jabang bayi menginginkan ayahnya.


"Aku bisa gila." gumam Farah dalam hati.


Keken mendengkur halus yang artinya dia benar-benar tertidur pulas, semenjak menikah dengan nya Farah mulai memahami karakter Keken. Ia tidak akan mendengkur jika tidak kelelahan.


Farah mulai mendekatkan tubuhnya kearah Keken bahkan ia melambaikan tangan di depan wajah pria itu sebagai tanda bahwa Keken benar-benar tertidur pulas. Bisa malu jika ia ketahuan nempel di tubuh suaminya.


Farah bernafas lega lalu ia merapatkan tubuhnya, mencium aroma tubuh Keken yang menenangkan. Menatap dari dekat pria yang menjadi suaminya.

__ADS_1


" Kenapa pria menjengkelkan ini menjadi suamiku." gerutu Farah sembari menghela nafas panjangnya. Namun lambat laun matanya mulai mengantuk, ia menguap sembari memeluk lengan Keken dan mencari kedamaian disana. Keken hanya mengulum senyum saat Farah menutup mata dengan merapatkan tubuhnya bahkan umpatan dari istrinya masih terdengar jelas. Keken ternyata pura-pura tidur.


__ADS_2