Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 42


__ADS_3

Navysah berjalan melewati taman belakang yang begitu luas dan melewati sebuah pintu besi berukuran dua kali satu meter. Pintu sebagai pemisah antara mansion dan tempat usahanya.


Farah membantu Hanin dengan cara menggandengnya. Usia kehamilan yang memasuki masa persalinan membuat Hanin tidak bisa berjalan cepat. Namun Hanin tidak pernah malas untuk sekedar berjalan - jalan agar mempermudah proses melahirkan. Dokter menyarankan ibu hamil untuk berolahraga ringan seperti yoga dan jalan - jalan.


"Hati-hati jalannya, banyak kerikil dan licin."


" Iya, iya, terima kasih sudah mengingatkanku." ucap Hanin, ia masih dalam mode menggandeng lengan Farah dengan erat.


" Kenapa tidak duduk saja di rumah, lihat nafasmu berlarian begitu." Farah mendengar beberapa kali tarikan nafas panjang dari Hanin .


" Tidak boleh duduk kelamaan nanti kesemutan, enakan jalan biar si kembar cepat keluar."


" Mereka kembar?! Wah enak juga ya punya anak kembar sekali produksi dua. " Farah cekikikan


" Dua itu ekstra, harus kuat kayak mama Navysah. Kuat tenaga, kuat mengasuh, kuat mendidik. Tidak boleh mengeluh walaupun terkadang saat ini aku masih suka mengeluh, sekarang mau jadi ibu jadi harus lebih sabar. "


" Aku do'ain semoga lancar persalinannya. " ucap Farah dengan tulus sembari mengelus perut buncit Hanin.


" Aamiin... "


" Eh, Farah. Kamu tidak ada hubungan spesial kan dengan pangeran modosa? " tanya Hanin


" Maksudnya Keken, kita hanya berteman Nona."


" Jangan panggil aku nona, panggil aku Hanin." perintahnya


"Baik."


"Aku harap kamu tidak tertarik dengan si Modosa itu. Aku rasa kamu perempuan baik-baik jadi sudah sepantasnya mendapatkan pria yang lebih baik."


"Aku akan menikah dengan tunanganku dan sama sekali tidak tertarik dengan Keken, kami hanya teman Nin."


"Baguslah..." Hanin seolah tidak ingin Farah jatuh kedalam pelukan Keken yang notabene selalu berganti - ganti pacar. Dari gestur tubuh dan perilaku Farah, Hanin dapat menyimpulkan bahwa Farah gadis yang baik dan sopan. Dan Hanin tidak ikhlas jika Farah dipermainkan oleh Keken seperti gadis yang lain.


Navysah yang melihat kepedulian Farah kini hanya bisa menggulum senyum saat gadis itu selalu menggandeng menantunya.


"Masuklah..." Navysah mempersilahkan Farah masuk ke dalam sebuah rumah. Terlihat beberapa karyawan yang sedang memasang payet dan beberapa yang sedang menjahit.


"Indahnya...." satu kata yang keluar dari mulut Farah saat melihat gaun yang sedang dipayet oleh seorang wanita paruh baya. Gaun model sabrina berwarna dasar gold dengan kain ekor yang menjuntai indah. Ada juga gaun pengantin dengan model V neck berwarna putih, sangat elegant.


Beberapa karyawan Navysah menundukan hormat padanya.


" Ini tempat produksi khusus gaun dan kebaya pengantin. Kalau yang di Mall itu hanya showroom kebaya cabang pertama dan yang satunya di Utara showroom kedua ." ucap Navysah


"Sengaja ditempatkan disini agar lebih memudahkan tante bekerja, dan lebih efisien waktu, semakin bertambahnya usia tante semakin lelah. Terkadang badan cepat terasa pegal dan linu." ucapnya lagi


"Untuk yang di daerah Kemang anak tante yang pegang, si Inka. Dia juga produksi beberapa gamis dan hijab kekinian."

__ADS_1


Farah hanya menggelengkan kepala, tidak tahu lagi berapa banyak usaha milik keluarga tante Keken ini,dari restoran, properti, butik hingga konveksi. Luar biasa.


" Kamu ingin model yang seperti apa? "tanya Navysah


" Saya jadi takut tan, harganya pasti sangat mahal. "ucap Farah sembari tersenyum kikuk.


" Kamu tidak perlu khawatir tentang harga. "Navysah hanya menggulum senyum.


" Yang simpel aja dan tertutup serta penting warna putih untuk akad nikah nantinya agar terlihat lebih sakral. " pinta Farah


" Model sunda atau betawi? "tanya Navysah


" Farah dari betawi tan. "


" Oke, kalau begitu tunggu sebentar. Tante akan mendesain khusus untukmu. " Navysah masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia mencorat - coret dengan pensil warnanya.


Hanin yang sudah terbiasa datang ke tempat ini kini duduk di sudut ruangan dan memanggil Farah agar menghampirinya.


" Farah, kok perut aku sakit lagi ya. " Hanin menghembuskan nafas kasarnya, keringat mulai menetes di dahinya hingga membasahi beberapa anak rambut Hanin.


"Tunggu sebentar, aku panggilkan tante dulu." Farah sedikit panik melihat raut wajah Hanin yang mulai pias.


"Tidak usah panggil mama Navysah, aku hanya butuh teh hangat.Tolong ambilkan di ruang dapur itu." Hanin menunjuk kearah kanan, tempat dimana dapur berada.


"Baiklah, tunggu sebentar." Farah dengan sedikit berlari menuju dapur dan membuatkan Hanin teh hangat.


"Minumlah dulu Nin, dan ini kue makanlah tadi kulihat di dapur ada makanan, siapa tahu kamu lapar lagi.biasanya orang hamil cepat lapar."


Farah yang melihat Hanin berkeringat dengan sigap mengambil tisu yang tak jauh dari tempat duduknya, ia tanpa ragu membersihkan bulir keringat Hanin yang menetes di sekitar area wajah.


"Panas banget ya?" tanya Farah, " Apa perlu kipas angin agar kamu tidak kegerahan?" Dan tangan Farah dengan cepat mengambil majalah yang ada di meja, menggerakan majalah ke kanan dan ke kiri secara manual agar udara terasa sejuk.


" Tidak usah, aku sudah terbiasa mandi keringat apalagi kalau olahraga malam. " kelakar Hanin sembari tersenyum.


" HAH...! Maksudnya apaan sih." Farah sedikit bingung dengan candaan Hanin yang tidak ia pahami.


"Yah, kagak nyambung deh." sahut Hanin lagi , ternyata candaan nya tidak dicerna dengan baik oleh Farah.


"Sepertinya gadis ini masih polos, coba kalau suamiku atau si modosa, sudah pasti mereka akan membalas candaanku." gumam Hanin dalam hati


Navysah menghampiri Farah dan Hanin dengan membawa beberapa desain miliknya.


"Ini koleksi desain milik tante, coba kamu pilih yang mana?" ucap Navysah sembari memberikan beberapa lembaran desain, "Hanin, kamu kenapa Nak!" Navysah melirik Hanin yang sedikit pucat.


"Nggak apa-apa mah, cuma kepanasan tadi si dedek juga gerak terus." ucap Hanin membari mengelus perutnya.


"Apa perlu kita cek ke dokter lagi." Navysah khawatir dengan keadaan menantunya.

__ADS_1


"Tidak perlu mah, kan HPL nya juga dua minggu lagi. Hanin baik-baik saja kok."


"Untung ada Farah yang bikinin Hanin teh hangat dan kue ini, dia juga kipasin dan lap keringat Hanin, baik bener dia mah." serunya lagi


"Terima kasih ya Farah." ucap Navysah dengan tulus


"Tidak apa-apa tante, ini hal kecil yang bisa Farah lakukan." ucapnya sembari melihat kembali desain gaun pernikahan, Farah begitu terpesona dan bingung memilih gaun yang akan ia pakai.


"Tante, ini bagus semua. Farah bingung pilih yang mana."


"Pilih semuanya saja." sahut Hanin


" Aku tidak punya banyak uang, cukup satu saja karena sudah dipastikan ini mahal, untung saja ada Keken aku bisa dapat diskonan, hihihi " Farah cekikikan


" Nggak nyangka ternyata dia baik juga mau ngenalin aku sama tante, padahal biasanya nyebelin, rese, suka bikin aku kesusahan dan kerepotan. "


" Keken memang anak baik, karena terbiasa di manja dia sedikit salah arah. " Navysah


" Tante, aku mau yang ini. "Farah menunjuk satu desain pilihannya, nanti aku akan bawa calon suamiku kesini agar dia bisa memilih desain mana yang ingin dia pakai."


"Baiklah, Mmm... Farah apa kau mencintai calon suamimu?" tanya Navysah dengan hati-hati, "Maaf jika pertanyaan tante sedikit pribadi."


" Tentu saja aku mencintai calon suamiku tan, dia pria yang baik." Farah tersenyum sembari membayangkan wajah Hilman, ah sudah seminggu lebih dirinya tidak bertemu hingga ada rasa rindu di hati.


"Lalu kenapa kata Khaffi kamu ingin bunuh diri?"


" Oh itu, hanya salah paham. Saat itu pikiran aku sedang kacau tan."


" Apa calon suamimu itu yang membuat pikiranmu menjadi kacau?" tanya Hanin, ia pun begitu penasaran dengan sosok Farah yang menurut Khaffi ingin bunuh diri padahal menurut Hanin, Farah gadis yang ceria sejak pertama kali bertemu tadi. Ia selalu tersenyum dan ramah.


" Tidak, justru dialah yang selalu membuat aku semangat disaat aku terpuruk." ucap Farah


" Dia selalu membuat aku tersenyum saat bersamanya, aku seolah memiliki segalanya meskipun sebenarnya aku tidak memiliki apa-apa."


" Aku yang tumbuh sendiri dan kesepian, hanya dialah yang selalu ada menghiburku. Dia pribadi yang hangat. "


" Disaat keluargaku tidak mempercayaiku, menghinaku bahkan tidak mengharapkan aku, hanya dialah orang yang peduli, selalu melindungiku dan menolongku jadi bagaimana bisa dia membuat kacau hidupku. " Farah tersenyum mengingat setiap kebaikan dan ketulusan Hilman saat dulu dirinya begitu terpuruk.


" So sweet, aku jadi meleleh mendengar kebaikan calon suamimu, pasti hidupmu terlalu sulit hingga tidak mau berbagi cerita dengan kami. " Hanin


" Hidupku memang sulit , terkadang orang lain seperti keluarga tapi keluarga sendiri seperti orang lain. Tapi bagaimana pun juga mereka keluargaku yang harus dilindungi. "


" Aku yakin Far, kamu akan bahagia bersama suamimu nanti. Kamu orang baik. " Hanin mengelus punggung Farah seolah memberikan kekuatan.


" Terima kasih Nin. "


" Farah, ku dengar kau pintar memasak. Aku ingin kau membuat cake untukku, ini si dedek minta cake katanya. " pinta Hanin, ia mendengar Farah gadis yang Keken sukai pintar memasak. Dan dengan memakai jurus andalan calon anaknya, siapa pun tidak akan menolak.

__ADS_1


" Baiklah ayo kita masak, tapi sama non Inha ya agar dia bisa menilai hasil karyaku. "


" Siap, urusan si judes gampang diakalin. " Hanin tersenyum menyeringai


__ADS_2